"Pelan-pelan dong, Tan! Hampir aja aku jatuh gara-gara kamu. Kalau enggak ikhlas, mending enggak usah nganter aja!" dumel Sinta kesal.
Ettan menghentikan motornya secara tiba-tiba dan hal itu tentu saja membuat Sinta terkejut setengah mati. Sinta tidak memakai helm saat ini dan Sinta tidak ingin mati muda. Sinta harus menikah terlebih dahulu!
"Aduh, maaf. Aku kaget soalnya. Kak Sinta kenapa nanya kayak gitu, sih?" ujar Ettan tak enak hati.
Ettan merasa bersalah karena biasanya dia akan membawa motor dengan hati-hati. Apalagi jika Indira yang dia bonceng, Ettan tak akan berani mengendarai motornya dengan kencang. Namun, sekarang dia justru nyaris mencelakakan sahabat calon istrinya.
Akan menjadi bahaya jika Sinta mengadukan perbuatannya pada Indira. Kemungkinan besar Ettan akan semakin sulit mendapatkan hati Indira. Wanita pujaannya itu benar-benar selalu mencari celah kesalahan dari dirinya.
"Ya enggak apa-apa. Cuma penasaran aja. Soalnya belakangan ini Indira sedikit beda. Dia gampang ngambek dan sensitif banget. Apalagi pas kamu lihatin tadi. Indira itu seolah-olah ngibarin bendera perang," jawab Sinta santai.
Ettan terdiam sebentar. Dia tidak tahu jika Indira akan membawa masalah pribadinya di mana saja dia berada. Ettan kira Indira akan menyimpan masalahnya sendiri tanpa membuat orang lain curiga sama sekali. Kalau sudah begini, Ettan merasa sedikit bersalah. Sepertinya dia terlalu memaksakan kehendaknya.
"Ah, enggak. Aku ngerasa baik-baik aja sama kak Indira. Kita, kan, emang dari dulu enggak deket-deket banget," bohong Ettan sembari menjalankan motornya lagi.
Dalam hati Ettan meminta maaf. Semoga saja Indira mau memahami pilihannya saat ini. Ettan tak bisa memberikan jawaban apa pun karena hubungannya dengan Indira pun masih abu-abu.
"Ouh, gitu. Ya udah, turunin aku di halte depan aja. Aku enggak jadi ke rumah Indiranya. Aku mau belanja bulanan," pinta Sinta.
Ettan langsung menurutinya, tetapi Ettan tak langsung pergi setelah menurunkan Sinta. Dia membantu Sinta mendapatkan kendaraan umum agar keselamatan wanita itu terjaga. Setelah memastikan Sinta dalam keadaan aman, Ettan pun langsung pergi.
Di dalam perjalanan, Sinta masih belum berhenti memikirkan hubungan yang terjalin antara Ettan dan Indira. Sikap Indira sangatlah berbeda dan baru kali ini dia melihatnya. Meski Indira selalu serius, tetapi tak pernah seperti ini. Indira terlihat sangat membenci Ettan.
"Kenapa Indira tiba-tiba kayak gitu sama Ettan, ya? Emangnya Ettan buat salah apa?"
***
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu!" ucap Ettan setelah membuka pintu pagar. Matanya menatap hangat pada kedua orang tua Indira yang tengah duduk di teras rumah menantinya.
Ettan langsung masuk dengan cepat dan menyalami tangan Ibu dan Ayah Indira. Ettan merasa tidak sopan karena membiarkan orang tua calon istrinya menunggu di teras.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ibu dan Ayah Indira bersamaan. Mereka tampak senang dengan kedatangan Ettan yang selalu membuat mereka kagum.
Ettan bisa menempatkan dirinya sesuai keadaan. Bagi mereka, lelaki seperti inilah yang dibutuhkan untuk menjadi pendamping hidup Indira. Sifat Indira yang keras kepala perlu sedikit lonjakan.
"Udah makan, Tan?" tanya Mirnawati penuh perhatian.
Mirnawati hanya memiliki anak perempuan dan itu pun satu-satunya. Ketika Ettan datang, Mirnawati merasa dirinya memiliki anak laki-laki. Kebahagiaannya terasa lengkap.
"Udah makan mie instan sebelum ke sini, Bu!" jawab Ettan sembari cengengesan.
Mirnawati menaikkan sebelah alisnya. Dia tahu jika mie memanglah enak, tetapi tidak baik dikonsumsi secara terus-menerus. Seingatnya setiap dia bertanya tentang makan, Ettan selalu menjawab jika dia makan mie.
"Kamu itu, loh, kalau ditanya udah makan apa belum pasti jawabannya udah, tapi makannya selalu sama mie. Mie itu enggak baik buat tubuh, loh! Enggak sehat," sindir Mirnawati membuat Ettan menggaruk kepalanya. Itu semua memang benar. Namun, apa lagi yang ingin dia makan?
Ettan tinggal sendiri di rumah. Pelayan hanya datang setiap pagi dan pulang di sore hari. Makanan yang dimasak pun biasanya hanya bisa bertahan sampai sore karena memang dimasak dalam porsi yang sedikit. Ettan lebih suka dengan makanan yang baru dimasak, dibanding makanan yang telah dihangatkan.
"Hehehe, enak soalnya. Praktis dan mengenyangkan," balas Ettan sembari bergurau.
Mirnawati menggelengkan kepalanya. Anak zaman sekarang memang suka hal yang berbau praktis, tetapi bisa mencukupi kebutuhan dengan biaya yang murah.
"Kenapa enggak beli makanan aja di restoran?" tanya Farhat. Jika Ettan adalah keturunan orang kaya, kenapa harus makan mie? Dia bisa membeli makanan di restoran kapan pun dia inginkan.
"Malas, Pak," jawab Ettan ringan. Farhat menghela napasnya. Memang pada dasarnya Ettan yang malas. Anak itu terlalu banyak mencari alasan, padahal pada intinya dia hanya ingin makan mie instan.
"Dasar kamu itu."
"Bu," panggil Indira tiba-tiba sehingga mereka kompak menengok ke belakang. Dapat mereka lihat jika Indira berdiri dengan kepala yang disembulkan di belakang pintu. Dia menutupi tubuhnya dan memanggil sang Ibu dengan malu-malu.
"Kenapa, Ira? Kok, kamu di belakang pintu? Ke sini, dong. Ini Ettan ada di sini," tanya Mirnawati heran. Anaknya selalu bertingkah aneh, bahkan saat tahu jika ada calon suaminya di rumahnya.
Indira memilih tak menjawab. Dia bahkan mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu tatap dengan Ettan. "Sini dulu," pinta Indira memohon.
Mirnawati menghela napasnya pasrah. Dia berdiri dan langsung berjalan menghampiri Indira. Setelah sampai di depan pintu, Indira langsung menariknya masuk dan menutup pintu dengan sedikit kencang.
"Tenang, Indira pasti luluh nanti!" ujar Farjat menenangkan saat melihat Ettan yang terkejut dengan sikap Indira barusan.
Sebagai balasannya, Ettan mengangguk pelan. Ettan harap dia mampu bersabar hingga Indira benar-benar dia dapatkan.
Setelah sampai di dalam, Mirnawati memarahi Indira. "Kamu itu kenapa minta Ibu masuk? Ettan udah nungguin dari tadi. Kamu tahu enggak?" semprot Mirnawati. Indira benar-benar sulit dipahami.
Indira yang mendengar hal itu hanya memutar bola matanya malas. Dia menatap Ibunya yang kini selalu saja membela Ettan.
"Jangan marah-marah dulu, Bu. Indira minta Ibu ke sini cuma mau minta pendapat aja," ucap Indira pelan. Indira terlalu malas bertengkar dengan Ibunya.
Setelah mendengar ucapan anaknya, Mirnawati pun tampak lebih tenang. "Pendapat apa?" tanya Mirnawati.
Indira tak langsung menjawab. Dia justru melirik pada pakaiannya saat ini. Seakan paham, Mirnawati pun mengikuti arah pandang Indira. Senyum menggodanya terukir saat sadar apa yang Indira maksud.
"Udah bagus, kok. Cantik kamu pakai tunik itu," puji Mirnawati dengan senyum lebarnya.
Indira langsung salah tingkah. Dia keluar lebih dahulu meninggalkan ibunya tanpa mengucapkan terima kasih. Mirnawati tak merasa marah. Dia justru merasa dengan geli tingkah anak semata wayangnya.
"Ettan, Indira udah siap. Ayo cepet berangkat, nanti pulangnya kemalaman, loh!" ujar Mirnawati memberi instruksi saat melihat Indira yang berdiri diam di belakang Ayahnya dan Ettan.
Dua laki-laki yang tengah sibuk mengobrol itu pun langsung menengok. Mata mereka sama-sama tertuju pada Indira yang berdiri kikuk. Ditatap seintens itu membuat Indira malu. Dia bahkan terus memainkan tali tasnya agar rasa grogi yang dia rasakan dapat hilang.
"Waduh, cantik banget anak Ayah!" goda Farhat sembari melirik Ettan yang menganga melihat Indira.
Indira semakin malu. Dia bahkan membuang wajahnya agar tak lagi menjadi pusat perhatian. Ettan yang mendengar hal itu pun berdehem pelan. Dia kemudian tersenyum canggung dan langsung berdiri dari duduknya.
"Kayaknya Ettan sama Kak Indira berangkat sekarang aja, deh!" ujar Ettan dengan mata yang tertuju pada Indira.
Ettan tidak tahan terus berada di situasi seperti ini. Ettan merasa dirinya dan Indira menjadi objek gurauan saat ini. Ya ampun, Ettan tak dapat menahan debaran jantungnya!
"Wah, kayaknya udah enggak sabar mau berduaan, ya!" goda Mirnawati. Ettan semakin kikuk. Sementara Indira, wajahnya benar-benar ditekuk. Dia merasa dipermalukan dengan sengaja.
"Ayo, cepetan!" ajak Indira ketus. Dia kemudian menyalami kedua orang tuanya dan bergegas keluar rumah lebih dulu.
Ettan yang ditinggal oleh Indira pun merasa panik. Dia segera berpamitan dan berjanji akan membawa Indira pulang dengan selamat dan secepat mungkin.
Mirnawati dan Farhat hanya dapat memaklumi. Selagi Ettan tidak macam-macam, Ettan akan selalu aman. Nama Ettan tidak akan diblokir dari daftar calon menantunya.
"Pegangan, Kak!" ujar Ettan memberitahu sebelum menjalankan motornya.
Indira berdecak kesal. Dia menyentuh pundak Ettan dengan sedikit kasar hingga sang empu merasa kesakitan. "Lain kali jangan pakai motor kayak gini. Modus!"
***
"Kita mau ke mana?" tanya Ettan membuka pembicaraan.
Indira yang berada di belakang Ettan pun mengernyitkan alisnya. Ettan ini lupa ingatan atau bagaimana? Ettan yang mengajaknya pergi, tetapi Ettan juga yang bertanya tujuan mereka pergi.
Karena malas dan tak paham, Indira pun memilih diam. Biar saja Ettan berpikir pendengarannya bermasalah.
"Kak, Kakak ada keinginan jalan-jalan ke mana? Mampir ke cafe gitu misalnya," ulang Ettan lagi. Kali ini, Indira tak dapat menahan dirinya lagi. Tangannya dengan ringan memukul pundak Ettan pelan.
Wajahnya tertekuk saat Ettan hanya menoleh singkat. Menyebalkan! Indira bahkan tak diberi kesempatan untuk membuat Ettan takut dengan tatapan tajamnya.
Tanpa Indira sadari, Ettan melihat pantulan wajah Indira di spion. Dia merasa keheranan karena wanita itu masih saja belum berdamai dengan dirinya.
Wajah Indira sangat masam dan hal itu membuat Ettan gemas. "Kakak kenapa tadi mukul? Masih marah karena aku ajak jalan-jalan?" tanya Ettan perhatian.
Indira tak ingin mengikuti gengsinya lagi. Emosinya telah berada di ubun-ubun saat ini. "Ya! Kamu itu ngajak jalan-jalan, tapi enggak tahu harus ke mana. Kamu yang ngajak, berarti kamu yang tahu tempat tujuannya, dong. Masa tanya aku yang kamu ajak secara paksa!" jawab Indira dengan sedikit berteriak.
Setelah mendengar jawaban Indira, Ettan pun menghela napasnya. Ouh, rupanya karena itu calon masa depannya masih saja memberinya wajah yang masam. Baiklah, Ettan salah langkah lagi kali ini.
"Bukan gitu maksud aku, Kak. Maksudku mungkin aja Kakak mau berkunjung ke suatu tempat yang Kakak sukai. Aku ada tempat tujuan, tapi belum tentu Kakak suka." Ettan menjeda ucapannya. Dia menatap lampu yang sudah berubah menjadi merah.
Sementara itu, Indira masih setia mendengarkan. Sesekali tangannya memainkan jaket yang Ettan kenakan. Tanpa Indira ketahui, Ettan menyadari itu semua.
"Maka dari itu, aku nanya sama Kakak biar nanti Kakak bisa santai jalan-jalan sama aku. Aku mau, kok, nurutin ke mana pun Kakak mau," jelas Ettan sabar.
Dalam hati Ettan tersenyum hangat saat melihat wajah polo Indira dari kaca spion. Dapat Ettan tebak jika Indira terkejut mendengar jawabannya.
"Bohong! Enggak perlu dilebih-lebihkan! Bilang aja kamu mau nyogok, kan?" tuding Indira sarkas.
Hati Ettan yang semula mulai berbunga pun mendadak layu seketika. Kenapa sulit sekali meyakinkan Indira? Ettan bahkan sampai merasa jika di dalam hati Indira hanya ada kebencian untuk dirinya.
"Enggak. Aku enggak bohong tentang apa pun, aku enggak melebih-lebihkan apa pun, dan aku juga enggak berniat menyogok Kakak," jawab Ettan singkat. Dia merasa sedikit kesal dengan Indira yang selalu menuduhnya.
Ettan tak bohong mengenai ucapannya. Itu memang benar-benar datang dari hatinya sendiri. Ettan memang berencana membawa Indira ke tempat di mana perempuan itu akan merasa sangat bebas.
"Ouh!" balas Indira singkat. Ettan hanya mengedikkan bahunya dan kembali menjalankan motornya.
Di saat Ettan sibuk menyetir motor, Indira justru sibuk mencuri-curi pandang ke arah Ettan. Dia berusaha melihat raut wajah Ettan, tetapi tertutup dengan kaca helm yang dikenakannya.
Setelah mendapat respon singkat dan sedikit berbeda dari Ettan tadi, Indira merasa sedikit bersalah. Indira berpikir jika Ettan tersinggung dengan ucapannya. Terbukti dengan mulut Ettan yang tidak mengeluarkan sepatah kata lagi setelah ia tuduh.
"Aku mau ke toko buku," ucap Indira tiba-tiba. Ettan menangkap hal itu dengan baik. Dia mengangguk samar sebagai balasannya.
Ettan merasa senang karena Indira mau mengatakan keinginannya. Kemarahan yang semula mulai meratapi hatinya pun hilang seketika.
"Siap!" balas Ettan. Dia langsung melajukan motornya guna memenuhi keinginan sang pujaan hati. Ettan tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Lima belas menit kemudian, mereka pun sampai. Indira turun dengan antusias. Dia bahkan tersenyum lebar dan melambaikan tangannya agar Ettan segera turun dari motor.
"Ayo, cepetan! Aku mau beli buku yang baru terbit dan katanya buku itu laris banget," ujar Indira dengan menggebu-gebu.
Ettan terdiam sejenak. Dia terkejut melihat Indira yang terlihat sangat bersemangat. Berbeda berkali-kali lipat dari awal mereka berangkat. "Iya!" balas Ettan sembari berjalan di samping Indira.
Indira tersenyum riang saat pintu toko terbuka. Dia dengan cepat mengambil sebuah keranjang untuk menaruh buku yang akan dia beli. Ettan yang melihat hal itu pun merasa tidak percaya. Dia tidak mengira jika Indira akan semaniak itu terhadap buku.
***
"Kak, laper enggak?" tanya Ettan setelah mereka selesai berkeliling. Di tangannya kini terdapat dua kantung belanjaan milik Indira yang dia bawa.
Mereka berjalan beriringan, sesekali bergurau ringan. Indira dalam mode yang baik saat ini dan Ettan sangat menikmati hal itu. Mereka bahkan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Selain itu, Indira sejak tadi terus cerewet menanyakan pendapat Ettan mengenai buku yang akan ia beli. Ettan tentu saja dengan senang hati memberikan sarannya walau pada akhirnya Indira membeli semua buku yang ia inginkan.
"Sedikit, kamu laper?" jawab Indira sekaligus bertanya pada Ettan.
Ettan menyentuh perutnya. Berkeliling toko buku sembari berbincang rupanya menguras energi. Dia sudah makan dua bungkus mie instan di rumah. Namun, sekarang perutnya terasa sangat lapar.
Ettan melirik jam tangannya. Sepertinya belum terlalu malam. Dia bisa mengajak Indira makan terlebih dahulu.
"Iya, kita makan dulu, yuk!" ajak Ettan. Indira terdiam sebentar, tetapi mengangguk tidak lama kemudian.
Setelah sampai di parkiran motor, Ettan pun bergegas mengeluarkan motornya dan meminta Indira untuk menunggu sebentar. Setelah keluar, Indira pun naik dan mereka segera pergi untuk mengisi perut.
Otak Ettan bekerja keras. Dia sedang memikirkan tempat makan yang sekiranya cocok dengan Indira. Kemudian, Ettan tanpa sengaja melihat warung bakso di seberang jalan.
Ettan pwrn diberitahu oleh temannya jika perempuan umumnya menyukai bakso. Maka dari itu, Ettan akan mencobanya kali ini. "Kak, mau makan bakso enggak?" tanya Ettan pada Indira yang langsung mengangguk antusias.
"Mau. Aku suka bakso!"