NAYM 05 - Isi Hati

2284 Words
"Ettan, bukunya mana?" tanya Indira panik saat menyadari kantung belanjaan mereka tak ada di meja. Ettan yang semula tengah sibuk meminum air pun langsung tersedak. Dia menatap Indira terkejut karena tiba-tiba berteriak. "Buku apa, Kak?" tanya Ettan kesulitan. Tenggorokan dan mulutnya terasa sangat panas, terlebih lagi setelah tersedak tadi. Dia menaruh terlalu banyak saus dan sambal di baksonya. Ettan menengok kanan dan kiri. Dia masih belum paham dengan ucapan Indira. Buku yang mana? Seingatnya mereka datang ke sini tidak membawa buku apa pun. "Buku yang dibeli di toko tadi. Buku ceritaku, mana?" ulang Indira lagi. Ettan memelototkan matanya. Dia langsung berdiri dan berlari keluar menuju tempat di mana motornya diparkirkan. Saat sampai, Ettan menghela napas lega karena kantung belanjaannya masih berada di motor. Langsung saja Ettan mengambilnya dan memeriksa isinya. Lagi dan lagi Ettan bersyukur karena isinya masih seperti sebelumnya. Tidak ada yang berkurang. Beberapa saat Indira menunggu hingga akhirnya dia melihat Ettan datang dengan napas yang tak beraturan. Lelaki itu tampak berkeringat dan kelelahan, tetapi di tangannya membawa dua kantung belanja. Seketika Indira merasa bersalah. Demi mengambil bukunya, Ettan rela mengorbankan dirinya sendiri. Indira tahu jika tadi Ettan tidak dalam keadaan baik. Bibir dan wajah Ettan merah. Belum lagi wajahnya yang basah karena berkeringat. Bakso yang dia makan terlalu pedas. Indira sudah memperingatkan Ettan. Namun, Ettan tak mendengarnya. Ettan justru berkata jika dia sudah terbiasa. "Ini bukunya, Kak. Maaf aku lupa bawa tadi. Alhamdulillah masih ada di motor," ujar Ettan sembari memberikannya pada Indira. Indira menerimanya dengan cepat dan meminta Ettan untuk segera duduk. Kemudian, Indira memanggil seorang pelayan dan meminta tambahan minum. Dia melirik ke arah Ettan yang sepertinya kehausan. "Pesen minum lagi buat siapa, Kak?" tanya Ettan bingung. Dia menatap Indira yang kini tengah melihatnya dari atas ke bawah. Tanpa memberi aba-aba, Indira pun menyodorkan sekotak tisu kepada Ettan. Indira merasa gatal dan gerah dengan keringat Ettan. Pasti Ettan sendiri merasa tidak nyaman. Indira berdecak sebentar. "Buat kamu. Lihat keringetnya banyak banget. Panas sendiri aku ngelihatnya. Sambil nunggu minumnya dateng, lap dulu pakai tisu, nih!" jawab Indira sedikit ketus. Indira baru saja menyadari jika dirinya perhatian kepada Ettan. Indira ingin menarik semua ucapan dan perbuatannya, tetapi tidak akan mungkin. Namun jika dibiarkan, Ettan bisa berharap lebih kepadanya. Ettan tersenyum hangat. Dia menatap wajah Indira yang terlihat sangat cantik di matanya. "Makasih, Kak. Aku enggak tahu kalau Kakak bisa perhatian kayak gini sama aku," ucap Ettan tulus. Indira yang mendengar hal itu pun membuat gestur seakan dirinya ingin muntah. Seperti tebakan Indira, Ettan pasti merasa melayang saat ini karena diperhatikan olehnya. "Ya. Anggap aja sebagai ucapan terima kasih dari aku karena kamu udah ajak aku jalan-jalan dan beliin semua buku yang aku mau," balas Indira lebih lembut dari sebelumnya. Indira melirik pada kantung belanjaannya. Dia tahu jika total harga buku yang dia beli tidaklah murah. Mungkin harganya setara dengan sebuah ponsel bekas. Sebenarnya, Indira hanya ingin membeli dua buku saja. Dia pun membawa uang yang pas-pasan. Namun, Ettan memaksanya untuk membeli lebih dari dua buku. Ettan mengatakan jika buku yang Indira beli kali ini bisa dianggap sebagai hadiah darinya. Ettan ingin Indira mempunyai kenang-kenangan darinya di saat pertama kali mereka pergi berdua. "Buku itu enggak ada apa-apanya. Kalau Kakak minta lebih dari itu, pasti aku kasih. Aku akan selalu usaha untuk membuat Kakak bahagia sama aku. Apalagi kalau Kakak pengen aku halalin secepatnya, aku pasti dengan senang hati menurutinya," ucap Ettan setengah menggoda. Matanya menatap intens pada sosok yang dicintainya. Meski Indira terus saja bersikap buruk padanya, tetap saja Ettan merasa harapannya memiliki Indira justru semakin besar. Ettan merasa jika pertengkaran yang sering terjadi justru mendekatkan mereka satu sama lain. Walau Indira tetap dingin dan menjual mahal, Ettan merasa perubahan pada sikap Indira. Indira yang mendengar ucapan Ettan pun termangu. Dia terkunci di dalam pandangan indah Ettan. Matanya bahkan tak berkedip sama sekali, tetapi dapat Indira rasakan jika ada sebuah rasa yang menyusup di hatinya. Perlahan-lahan tanpa Indira sadari, pipinya mulai memerah. Dia bahkan tak bisa berpikir jernih saat ini. Ettan yang sedang menggoda Indira pun mengedipkan sebelah matanya sehingga Indira terkejut. Indira langsung menggelengkan kepalanya pelan. Dia mengalihkan pandangannya pada seorang pelayan yang datang membawa minuman yang telah dipesan. Indira langsung memberikan minuman itu kepada Ettan. Demi apa pun, Indira benar-benar malu saat ini. Beruntung pelayan itu datang dan bisa mengalihkan situasi. "Minum dulu, habis itu kita pulang!" titah Indira yang merasa jengkel karena Ettan masih saja menatap ke arahnya. Lelaki itu bahkan membiarkan minuman yang telah dia pesan begitu saja. Ettan seperti tak menghargainya, padahal dia telah menahan malu setengah mati. "Iya, habis itu pasti kita pulang untuk minta restu ke ibu sama bapak, ya?" goda Ettan lagi. Indira mengepalkan tangannya kesal. Semakin ditanggapi, semakin gila juga seorang Ettan. Kalau begini, Indira lebih dari kata menyesal. Dia seperti sudah mulai memupuk penyesalan sejak bersedia menerima ajakan Ettan. Seharusnya, dia tahu jika ajakan Ettan tak perlu dia ikuti. Ini pasti hanya jebakan Ettan untuk merayu dirinya agar mau menerima lamarannya. "Jangan mimpi!" sarkas Indira. Indira membuka ponselnya dan memainkannya. Saat ini, hanya ponsel yang dapat mengalihkan rasa malunya. Ettan benar-benar berhasil membuatnya tak berkutik. Indira bahkan tak dapat membalas ucapan menyebalkan Ettan. Dia seperti kehabisan bahan. Bocah ingusan itu membuatnya mati kutu hanya dengan ucapannya. Ettan tak mempedulikannya. Dia justru meminum minumannya dengan santai sembari sesekali menaik turunkan alisnya. Wajahnya terlihat sangat puas setelah berhasil membuat Indira diam hanya dengan kalimat sederhana. Meski sekarang Indira seperti memusuhinya, tetapi Ettan tahu jika Indira tengah menahan rasa malunya. Pujaan hatinya itu terlihat jelas sedang salah tingkah. Ah, Ettan tak menyangka jika Indira bisa semanis ini. Beberapa saat kemudian, Ettan pun selesai dan mengajak Indira untuk pulang karena hari semakin malam. Selain itu, petir mulai bergemuruh. Ettan tidak ingin Indira terkena hujan. Dia tidak ingin Indira sakit karena dirinya. Indira tentu saja dengan senang hati menerimanya. Dia dengan cepat bangun dan bergegas menuju motor terlebih dahulu. Dia meninggalkan Ettan yang tengah membayar pesanan mereka. Indira tak peduli jika dia dicap sebagai perempuan tidak tahu diri. Pada intinya, Indira ingin segera pulang. Doakan saja agar hujan turun setelah dia sampai di rumah. Indira tidak ingin memberi celah Ettan untuk membuat drama di dalam hidupnya. Ettan menyusul tak lama kemudian. Dia langsung mengeluarkan motornya dan meminta Indira untuk naik dengan hati-hati. Sebelum naik, Indira sudah memberi peringatan pada Ettan. "Jangan minta aku pegangan lagi!" tekan Indira. Ettan tak membalas, tetapi sebuah senyuman misterius terukir di bibirnya. Di tengah perjalanan, hujan turun dengan sangat deras. Ettan langsung mencari tempat berteduh. Dia berhenti di sebuah ruko yang sudah tutup dan meminta Indira untuk turun. Mereka pun berlari kecil agar terhindar dari hujan. Tak lupa Indira membawa buku-bukunya. Dia memeluk bukunya dengan kuat. Indira bahkan tak peduli dengan dirinya sendiri yang mulai basah kuyup dan menggigil kedinginan. Ettan yang menyadari hal itu pun lekas memberikan jaketnya untuk Indira. Lalu, dia berlari kecil menghampiri penjual jagung rebus yang ikut meneduh di sana. Ettan membeli sebuah jagung dan memberikannya untuk Indira. "Kak, dimakan jagungnya. Lumayan bisa hangatin badan," ucap Ettan. Indira mengernyitkan dahinya dan menggeleng pelan kemudian. Dia merasa perutnya sudah kenyang. Dia baru saja memakan bakso dan sekarang Ettan memintanya memakan jagung? Yang benar saja! Indira tidak serakus itu pada makanan. Lagipula yang Indira butuhkan saat ini adalah pulang secepat mungkin, bukan jagung yang ukurannya tidak bisa dibilang kecil. "Kenapa? Ini masih panas, loh. Bisa buat Kakak ngerasa enggak kedinginan lagi," tanya Ettan menuntut. Dia tidak dapat berpikir apa pun lagi selain membeli sebuah jagung untuk Indira. Ettan tahu jika Indira mungkin saja sudah kenyang, tetapi makan sediki lagi tidak akan bermasalah, bukan? Indira tidak akan gemuk hanya dengan makan jagung. Ettan takut jika Indira kedinginan, dia akan dianggap tidak bertanggung jawab oleh orang tua Indira. "Aku kenyang masalahnya dan jagung ini besar banget. Kamu kenapa maksa, sih?" jawab Indira setengah sewot. Ettan menghela napasnya pasrah. Dia memotong jagung itu menjadi dua bagian dan menyerahkannya satu kepada Indira. "Udah aku potong. Sekarang Kakak makan, enggak ada alasan!" titah Ettan mutlak. Suaranya terdengar lebih berat dan tegas dari biasanya. Indira menganga sebentar, tetapi langsung menuruti ucapan Ettan. Entah kenapa dia mudah sekali menuruti Ettan kali ini. Indira merasa terintimidasi dengan Ettan kali ini. Tak butuh waktu lama untuk Indira dan Ettan menghabiskan jagung mereka. Bersamaan dengan itu, hujan mulai sediki reda, tetapi masih cukup besar. Ettan memutuskan untuk menunggu sebentar lagi. Dia tidak ingin mengambil resiko. Jangan sampai Indira merasa trauma jika diajak pergi lagi olehnya. Saat sedang sibuk memperhatikan hujan, tiba-tiba saja Ettan mengeluarkan suaranya. "Kak, Kakak tahu bedanya Kakak sama hujan?" tanya Ettan pelan. Matanya masih fokus menatap rintik-rintik hujan yang membasahi jalanan di depan mereka. Indira memutar bola matanya malas. Pasti ini bagian dari rencana busuk Ettan lagi. Indira tak akan jatuh ke dalam rencana Ettan lagi. "Enggak tahu dan enggak mau tahu!" dengus Indira kesal. Ettan yang mendengar jawaban itu pun langsung menatap wajah Indira. Matanya menatap penuh cinta pada Indira. "Kenapa Kakak kayaknya benci banget sama aku? Aku salah apa sama Kakak?" tanya Ettan sendu. Sejak pertama kali melamar Indira, dia selalu saja diberi bendera perang. Ettan memang selalu bersabar, tetapi dia juga penasaran dengan alasan Indira. Seharusnya, Indira merasa senang karena ada yang melamarnya. Itu artinya, ada sosok laki-laki yang siap menemani hidupnya. Indira langsung menengok. Dia menatap wajah Ettan dengan bingung. "Aku enggak ada masalah sama kamu. Aku juga enggak benci sama kamu. Cuma aku enggak suka dengan lamaran kamu untuk aku," aku Indira jujur. Indira memanglah tidak membenci Ettan. Selama dia mengenal Ettan, Ettan selalu bersikap baik dan sopan kepadanya. Mereka pun tak jarang berbincang akrab jika sedang berkumpul bersama. Namun, pandangan Indira berubah total setelah Ettan melamarnya. Indira selalu ingin menjauhi Ettan. Dia selalu saja mencari-cari kesalahan Ettan agar nanti bisa mengadukannya pada orang tuanya. Indira juga berusaha untuk membuat Ettan tidak menyukainya. Indira berpikir jika Ettan berani melamarnya karena lelaki itu selalu merasa diperhatikan olehnya. Selain itu, Indira juga berpikir jika Ettan hanyalah mempermainkannya. "Kenapa Kakak enggak suka? Apa masih ada yang kurang sama aku?" tanya Ettan lagi. Dia akan mengulik jawaban Indira hingga ke dasarnya. Setidaknya, rasa penasarannya akan hilang dan dia bisa tahu langkah selanjutnya yang akan dia ambil. Jika Ettan tetap ingin bersama Indira, tentu dia harus menanyakan perasaan Indira terlebih dahulu. Sebenarnya bisa saja Ettan memaksa Indira menikah dengannya, tetapi Ettan tak akan tega. Dia tidak ingin Indira menderita di dalam pernikahannya. "Justru itu, kamu terlalu sempurna untuk aku sampai aku sendiri selalu meragukan kamu. Di umurmu saat ini, kamu udah melamar aku. Kamu bahkan belum dua puluh tahun, tapi kamu berani mengajak aku untuk menjadi pendamping hidup kamu selamanya. Ini semua enggak bisa aku terima dengan mudah," jawab Indira tegas. Zaman sekarang mana ada lelaki seperti Ettan? "Sikap kamu yang dewasa dan berani kayak gini justru bikin aku sanksi kalau kamu bener-bener serius sama aku. Aku enggak suka dipermainkan," sambung Indira. Matanya menatap tajam ke arah Ettan yang justru balas menatapnya teduh. Ettan mengusap-usap lengannya karena dingin yang menusuk. Ucapan Indira sedikit menyakiti hatinya. Ettan merasa kurang nyaman saat Indira menuduhnya hanya bermain-main. "Kak, kalau boleh jujur. Aku sedikit tersinggung, loh. Aku tegaskan sekali lagi sama Kakak, aku serius. Aku enggak akan bermain-main mengenai hal seperti ini. Walau kelihatannya aku masih bersikap kayak anak-anak, tapi aku akan bersikap dewasa jika dibutuhkan." "Hidupku ini sudah cukup untuk bermain-main, Kak. Aku mau merasakan kebahagiaan yang sebenarnya," tegas Ettan mengelak tuduhan Indira. Dia menatap Indira yang tampak memperhatikannya dengan serius. Indira menggelengkan kepalanya. Dia merasa kurang setuju dengan ucapan Ettan. "Kamu punya segalanya, Ettan. Kamu bisa beli apa pun yang kamu mau. Hidup kamu itu mudah. Semua udah tersedia dan kamu tinggal gunakan." Indira menjeda ucapannya. Dia menyadari raut wajah Ettan berubah. "Kehidupan pernikahan itu berat, bukan hanya mencari orang untuk menemani hidup, tapi juga mencari orang yang bisa diajak kerja sama untuk membangun masa depan," balas Indira. Indira berpikir jika mungkin saja pengetahuan Ettan tentang pernikahan masihlah kurang. Ettan terkekeh kecil. Dia mendongak menatap langit yang terlihat sangat gelap saat ini. Hujan telah berhenti, tetapi tidak dengan obrolan mereka. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Kesempatan seperti ini jarang sekali datang. "Uang enggak bisa membeli kebahagiaan, Kak. Banyak uang bukan berarti bahagia," sanggah Ettan. Suaranya sedikit bergetar. Entah kenapa jika membahas tentang hidupnya, Ettan selalu saja lemah. "Selama ini aku hidup sendiri, Kak. Aku selalu kesepian. Aku juga sering iri sama orang yang hidupnya dikelilingi kasih sayang. Aku mau kayak mereka, tapi enggak bisa. Takdir udah menggariskan hidupku untuk berjalan tanpa seorang Ibu." Ettan menahan air matanya. Dahulu ketika dia masih anak-anak, Ettan selalu saja mencari ibunya. Dia merasa heran karena sekalipun tak pernah melihat ibunya, tidak seperti teman-temannya. Temannya bilang jika mereka selalu menghabiskan waktu bersama ibu mereka. Ettan kembali menatap Indira. Dia berusaha membuat perempuan itu terkunci di dalam pandangannya. Setidaknya, melalui mata Ettan bisa menggambarkan seluruh isi hatinya. "Aku tahu kehidupan pernikahan itu berat, tapi bukan berarti Kakak bisa meremehkan orang lain. Sebelum melamar Kakak, aku udah mengukur sejauh mana aku mampu membina rumah tangga. Aku berpikir akan lebih baik kalau aku langsung menikah, dibanding berhubungan dengan banyak perempuan tanpa ikatan yang jelas." Ettan tak ingin jika dirinya akan terluka saat dia berada dalam hubungan tanpa status yang jelas. Ettan tak ingin melihat orang yang dia cintai bertahun-tahun justru berakhir membina kehidupan dengan orang lain. Ettan ingin hubungan yang dia bina memiliki kesepakatan dan kejelasan sejak awal. Maka dari itu, hanya pernikahan yang Ettan pilih sebagai jalan hidupnya. Ettan tidak ingin menggantungkan harapan pada orang yang bahkan belum tentu menjadi miliknya. "Aku mencari tahu sejauh mana aku siap. Sejauh mana aku bisa dewasa mengatasi masalah yang mungkin aja datang di dalam pernikahanku nantinya. Ada banyak pertimbangan yang aku lakukan sebelum memilih untuk serius pada satu hubungan, Kak." "Termasuk mempertimbangkan siapa yang akan menjadi istriku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD