Indira membalikkan tubuhnya. Sejak tadi dia tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang. Berbagai posisi telah Indira coba, tetapi tak kunjung membuatnya nyaman.
Indira ingin segera tidur karena besok dia harus berangkat kerja, tetapi sekarang kepalanya justru terasa sakit. Selain terkena hujan dan tidak bisa tidur, Indira juga terus memikirkan ucapan Ettan padanya.
Indira merasa dia selalu melihat bayang-bayang Ettan di kepalanya. Demi apa pun, Indira benar-benar tidak tahan seperti ini. Dia merasa dihantui dengan wajah sendu Ettan dan ketulusan hati pria itu. Indira sadar jika dia telah banyak menyakiti Ettan, tetapi Indira pun melakukannya bukan tanpa alasan.
Indira merasa masih ragu, tetapi hatinya bekerja keras untuk terus membujuk Indira menerima Ettan. Hati Indira tahu apa yang seharusnya dipilih oleh sang empu. Dia tahu jika Ettan memanglah lelaki yang pantas untuk dicintai oleh Indira. Namun, Indira selalu menolak hal itu.
Indira adalah perempuan dengan ego yang tinggi. Dia selalu mempertimbangkan banyak hal kendati hati kecilnya sudah yakin pada satu pilihan. Indira terlalu sering mengabaikan kata hatinya.
Merasa tak ada perubahan, Indira pun bangun dari tidurnya. Dia memejamkan matanya saat merasa dunia seperti berputar. Indira meringis pelan karena nyeri yang dia rasakan.
Indira memaksakan dirinya untuk bangkit meski sempoyongan. Dia berjalan ke dapur untuk mencari obat sakit kepala di kotak obat.
Setelah menemukan obatnya, Indira pun langsung meminumnya. Dia berdoa agar sakitnya segera hilang karena besok dia harus pergi bekerja hingga larut malam.
Selain itu, akan sangat tidak nyaman jika Indira bekerja dalam keadaan sakit. Indira bisa saja izin, tetapi gajinya akan dipotong. Dibanding gajinya dipotong, Indira lebih memilih untuk menyakiti dirinya sendiri.
Setelah selesai, Indira pun kembali ke kamar. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Indira memijat kepalanya pelan dengan mata yang terpejam.
Mau tidak mau, Indira harus bisa memejamkan matanya dan tertidur. Setengah jam kemudian, Indira mulai mengantuk. Dia langsung memiringkan tubuhnya dan memeluk guling kesayangannya.
Keesokan harinya.
Indira mengedip-edipkan matanya. Telinganya sayup-sayup mendengar suara adzan yang berkumandang. Dengan mata yang terpejam, Indira langsung bangun dari tidurnya dan berjalan keluar kamar. Dia masuk ke kamar mandi dan bersuci. Setelah itu, Indira kembali ke kamarnya. Dia bersiap untuk sholat shubuh.
Setelah sholat, Indira langsung membereskan kasurnya dan pergi untuk mandi. Dia mandi dengan cepat karena ingin membantu ibunya menyiapkan sarapan. Indira tak langsung memakai pakaian kerja. Dia takut pakaiannya akan terkena noda nanti.
Indira masuk ke dapur dan menemukan ibunya yang tengah memasak nasi. "Bu, mau bikin sarapan apa?" tanya Indira sembari mengambil gelas untuk membuat teh.
Mirnawati yang tengah memasak nasi pun menengok. "Tumis sama telur dadar," jawab Mirnawati pelan. Dia menatap ke arah Indira yang sejak tadi terlihat berbeda. Kemudian, Mirnawati sedikit terkejut saat melihat Indira yang meminum teh.
"Loh, kamu minum teh?" tanya Mirnawati terkejut. Indira bukanlah penyuka teh. Dia lebih suka meminum air putih biasa dibanding teh.
Indira yang ditanya seperti itu hanya mengangguk. Dia meminum tehnya sedikit dan mendesah lega setelahnya. Dia merasa badannya yang mulai tidak enak itu sedikit membaik.
Teh hangat yang Indira buat rupanya benar-benar bermanfaat. Semoga saja saat dia berangkat kerja nanti, tubuhnya benar-benar sembuh.
"Kenapa? Badannya enggak enak?" tanya Mirnawati perhatian. Dia melihat bungkusan obat di tempat sampah dan sangat yakin jika Indira yang telah meminumnya.
Indira tak mengelak. Dia langsung menganggukkan kepalanya dengan lesu. Setelah mendapat jawaban dari Indira, Mirnawati pun bantu memijat kepala anaknya.
"Kamu tadi malam enggak nurut, sih. Coba kalau kamu mandinya pakai air hangat, pasti badannya jauh lebih enak!" tukas Mirnawati sedikit kesal.
Saat Indira telah sampai di rumah, dia menyuruh Indira untuk mandi dengan air hangat, tetapi Indira menolak. Indira justru mandi dengan air dingin dan langsung tidur setelahnya.
Indira bahkan lupa jika Ettan masih berada di rumahnya. Anak itu terlihat sangat kedinginan sehingga Mirnawati meminta Ettan untuk menetap sebentar dan menghangatkan badannya.
"Capek, Bu. Dingin juga. Jadi, Indira mau langsung selimutan di kamar," balas Indira setengah berbohong.
Sebenarnya, bukan itu alasannya langsung masuk ke kamar tanpa mempedulikan Ettan. Dia hanya ingin menghindari Ettan karena setiap menatap wajah Ettan, Indira merasa dirinya goyah. Indira merasa jika hati dan otaknya tak dapat sejalan sehingga sikapnya selalu berubah-ubah. Indira benci dirinya yang labil!
"Seharusnya kamu jangan gitu. Kasihan Ettan, dia juga kedinginan. Apalagi jaketnya dikasih ke kamu dan dia cuma pakai kaos aja," ujar Mirnawati menasehati Indira.
Indira memejamkan matanya. Lagi dan lagi dia menjadi pihak jahat yang selalu menyakiti Ettan. Bagaimana Indira bisa melupakan hal itu? Indira merasa sangat bersalah saat ingat jika jaket Ettan ada padanya.
Lelaki itu hanya memakai kaos oblong biasa dengan bahan yang lumayan tipis. Ettan pasti merasa sangat kedinginan. "Maaf, Bu."
Indira menundukkan kepalanya setelah Mirnawati selesai memijatnya. Dia langsung dirundung rasa khawatir pada kondisi Ettan. Indira tidak tahu apa yang Ettan rasakan saat ini, tetapi dia takut Ettan sedang sakit seperti dirinya.
Jika memang benar, Indira tidak dapat membayangkan sejahat apa dirinya. Dia yang memakai jaket saja badannya terasa tak karuan. Kepalanya sakit dan badannya terasa demam pagi ini.
Belum lagi tubuhnya yang lemas dan hidungnya yang sedikit tersumbat. Indira berharap Ettan baik-baik saja. Dia yakin jika Ettan adalah orang yang kuat.
Mirnawati meminta Indira untuk memotong sayuran. Indira langsung menurutinya dan memotong sayuran dengan cepat.
Indira merasa dirinya harus menjenguk Ettan pagi ini sebelum bekerja. Kebetulan sekali rumah Ettan dan tempat kerjanya sejalan.
"Semalam kamu beli buku? Uangnya dari mana?" tanya Mirnawati. Dia melihat ada dua kantung belanjaan yang berisi buku di ruang tamu. Mirnawati yakin jika itu adalah buku milik Indira. Anaknya itu pasti membeli buku saat pergi bersama Ettan.
Mirnawati tak masalah jika Indira membeli buku, hanya saja dia merasa terkejut saat melihat jumlah harga buku milik Indira. Mirnawati berpikir jika mereka tak memiliki banyak uang untuk membeli buku semahal itu.
"Iya. Bukunya dibayarin Ettan, Bu!" jawab Indira santai.
Mirnawati langsung terkejut. Dia menepuk bahu Indira keras hingga sang anak memekik sakit. Indira menatap Ibunya dengan bingung.
"Ibu kenapa mukul Indira?" tanya Indira bingung sekaligus kesal.
Mirnawati yang melihatnya merasa marah. Dia menatap garang pada Indira yang sama sekali tak merasa bersalah. "Kamu sadar enggak kalau harga buku itu mahal?"
"Sadar." Indira menjawab dengan cepat. Dia bingung kenapa Ibunya bertanya seperti itu kepadanya. Indira merasa hal itu wajar.
"Itu mahal, Indira. Kamu kenapa tega minta dia bayarin buku kamu, sih? Kamu jangan kayak gitu sama Ettan. Kalau kamu enggak mau nerima dia, kamu enggak usah nyiksa dia. Kamu dikasih waktu bukan untuk nyiksa dia, tapi untuk mastiin hati kamu sendiri. Jangan sampai kamu nyesel saat udah kehilangan dia nanti!" geram Mirnawati. Dia langsung pergi dari dapur dan meninggalkan Indira yang terkejut mendengar ucapannya.
Indira langsung terdiam setelah kepergian ibunya. Dia merasa sangat tertohok dengan ucapan sang ibu yang mengatakan jika dia menyiksa Ettan.
Sungguh, Indira tak bermaksud menyiksa Ettan, meski tindakannya seolah mengatakan iya. Indira hanya berusaha mempertahankan pendiriannya. Dia juga berusaha meyakinkan hatinya dan memikirkan keputusannya. Namun, kenapa tak ada yang pernah mengerti dirinya?