NAYM 07 - Rasa Khawatir

2218 Words
"Assalamu'alaikum!" salam Indira sembari menekan bel. Dia berjinjit sebentar untuk melihat ke dalam. Pagar rumah Ettan sangatlah tinggi dan hal itu membuatnya kesulitan untuk memastikan apakah ada orang. Selain itu, pos satpam pun kosong. Indira jadi tidak tahu harus melakukan apa. Indira harap ada seorang pelayan yang akan keluar sehingga dia bisa menjenguk Ettan. Indira tidak berharap jika Ettan yang akan membukakannya pintu. Indira takut jika Ettan justru akan semakin sakit karena harus menyambutnya. Lima menit Indira menunggu, tibalah seorang wanita paruh baya di depan rumah Ettan. Wanita itu datang menggunakan motor. Dia merasa keheranan saat melihat ada seorang wanita yang memakai pakaian rapih tengah menunggu di depan rumah. Indira yang melihat kedatangan wanita itu pun sama bingungnya. Dia merasa sedikit canggung dan takut saat mendapat tatapan tak biasa. Wanita paruh baya itu langsung turun dari motornya. Dia mendekati Indira yang tiba-tiba mengeratkan tangannya pada tas selempangnya. "Mbak siapa, ya?" tanya wanita itu bingung. Matanya menelisik Indira dari atas ke bawah. Selama dirinya bekerja di sini, baru kali ini ada seorang tamu perempuan yang datang ke sini. Jelas saja dia merasa keheranan karena tamu tersebut datang di pagi hari. Sementara siang dan malam saja jarang sekali ada tamu. "Saya Indira, Bu. Saya mau ketemu sama Ettan. Ettannya ada?" jawab Indira sembari menanyakan keberadaan Ettan. Indira tebak jika wanita yang saat ini berada di hadapannya adalah pelayan di rumah Ettan. Meski Indira tahu jika wanita paruh baya itu baru saja tiba, tetap saja dia harus bersikap ramah. Mau tidak mau, basa-basi pun menjadi pilihan Indira. Wanita paruh baya itu terdiam sejenak. Dia langsung membuka pagarnya tanpa menjawab pertanyaan Indira. Indira yang merasa diabaikan pun hanya bisa tertawa canggung. Dirinya semakin bingung saat wanita itu memasukkan motornya tanpa mengajak Indira untuk masuk. Indira tak berani mengintip ke dalam saat pagar dibuka lebar. Dia justru berdiri diam di depan gerbang dan membalikkan tubuhnya. Kepalanya tertunduk karena berpikir sangat sulit menemui Ettan di rumahnya. Di saat Indira tengah berkutat dengan pikirannya, wanita itu pun kembali keluar dan langsung menepuk punggungnya agar berbalik. "Ayo masuk. Den Ettan sepertinya ada di dalam. Saya lihat motornya masih ada di bagasi," ajaknya membuat Indira terkesiap. Indira mengira jika dirinya tidak akan diizinkan untuk masuk saat mengingat reaksi yang Indira dapatkan. Indira takut jika wanita itu pun tahu hubungannya dengan Ettan dan memusuhinya. Setelah kemarahan ibunya, Indira mulai menyadari satu hal. Di sini mungkin dia bermaksud benar, tetapi semua orang menganggapnya salah karena memang cara yang dia tempuh tidaklah benar. Saat baru memasuki halaman rumah, Indira sudah dibuat kagum. Halaman rumah ini sangat luas meski tidak seluas istana-istana yang dia lihat di dalam film. Jalan menuju pintu utama bisa dibilang cukup jauh. Pemandangan yang disuguhkan memang luar biasa. Indira dapat melihat taman yang di tengahnya terdapat kebun bunga mini serta air mancur. Selain itu, terdapat sebuah kolam ikan sebagai pelengkap di dekat teras. Wanita yang berjalan di samping Indira pun hanya bisa tersenyum maklum. Rumah majikannya memanglah besar dan mewah, tetapi sekalipun tak pernah membuatnya ingin memilikinya. Selama bekerja di sini, dia menyadari jika sesuatu yang terlihat mewah dan dipenuhi uang belum tentu memberikan kebahagiaan. Rumah ini memang dibangun dengan dana yang besar, tetapi tak ada kasih sayang di dalamnya. Rasanya sudah belasan tahun dia bekerja di sini dan sama sekali tak merasakan perubahan apa pun. Rumah ini memang masih berdiri kokoh, tetapi suasana rumah ini jauh lebih menyedihkan dan mengerikan daripada rumah hantu. "Panjang banget jalannya," ujar Indira kelelahan setelah dia sampai di pintu utama. Indira menunduk sebentar dan mengatur napasnya yang terasa berat. Sejak tadi dia hanya berjalan tanpa berlari sedikitpun, lantas mengapa dia merasa sangat lelah? Hal ini bahkan lebih melelahkan daripada lembur di kantor. Indira merasa kakinya sakit. Ya ampun, Indira tak menyangka jika rumah Ettan sebesar ini. Pantas saja sejak tadi tak ada yang meresponnya. Wanita itu pun kemudian membuka pintu dan langsung meminta Indira untuk duduk di ruang tamu. Dia pergi ke dapur meninggalkan Indira dan kembali dengan segelas jus di tangannya. "Diminum dulu, ya. Saya akan panggilan den Ettan dulu," ujarnya mempersilakan. Indira hanya mengangguk. Dia tidak ingin berbicara apa pun lagi untuk menghemat tenaganya. Indira pun langsung meminum jus itu dengan rakus. Dia merasa sangat tergoda dengan penampilan dari jus itu. Lupakan dirinya yang minum teh pagi tadi. Yang jelas saat ini Indira hanya ingin menuntaskan dahaganya. Belum sempat pelayan itu memanggil Ettan, sang empu justru telah datang tanpa diminta. Ettan berjalan dengan pelan menuju ke arah dapur tanpa menyadari tatapan mata dari dua orang yang kini membeku dengan kehadirannya. Indira yang semula masih memegang gelas jusnya pun sontak menaruhnya dengan kasar di atas meja. Dia langsung berjalan mengikuti Ettan yang terbungkus dengan jaket tebal. Ettan tak menyadarinya sama sekali. Sehingga saat Indira memanggil Ettan pelan, lelaki itu pun membanting gelasnya dengan kencang. "Ya ampun! Kak Indira!" teriak Ettan kaget. Dia terkejut saat membalikkan tubuhnya dan langsung mendapati Indira di belakangnya. Demi apa pun, kenapa dia tidak menyadari hal itu? Jika Indira sudah berada sedekat ini dengan dirinya, itu artinya Indira sudah cukup lama berada di rumahnya. Bodoh! Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga mengabaikan permata cantik di rumahnya. "Kamu—" "Mundur, Kak. Jangan deket-deket. Ada pecahan beling, nanti Kakak bisa terluka!" perintah Ettan memotong ucapan Indira. Indira mengernyitkan sebentar, tetapi tetap menuruti ucapan Ettan. Dia mundur dengan hati-hati, tetapi tak sendiri. Tangannya dengan lihai menarik lengan Ettan dan mengajaknya untuk mundur. Ettan terkesiap sebentar. Dia merasa bingung sekaligus terharu dengan tindakan sederhana Indira. Indira memang tak mengatakan apa-apa, tetapi Ettan tahu jika Indira tidak ingin dirinya terluka. Indira melirik pada kaki Ettan yang hanya menggunakan sandal rumahan. Sandal rumahan umumnya tipis dan belum tentu bisa melindungi kaki dari pecahan beling. "Bibi, tolong bersihin ini, ya!" mohon Ettan sembari menatap orang yang selama ini telah mengurusnya. Wanita itu mengangguk pelan. Dia segera melakukan tugasnya agar tak ada yang terluka. Setelah itu, Ettan justru mengajak Indira untuk pergi ke halaman depan. Dia mengajak Indira untuk melihat ikan. Indira hanya menurutinya meski sebenarnya ada keinginan untuk melihat-lihat rumah Ettan. Namun, Indira tidak bisa mengungkapkan keinginannya. Dia tidak ingin dicap sebagai w************n. "Yang tadi itu bibiku, namanya bi Sani. Dia yang ngurus aku dari kecil. Katanya, dulu dia itu pembantu di rumah orang tua ayah, tapi pindah ke sini saat aku lahir!" jelas Ettan tanpa diminta. Ettan tersenyum hangat menatap Indira yang hanya bisa mengedipkan matanya. Indira merasa sedikit kaget karena Ettan memberikan jawaban tanpa dia minta sama sekali. Sebagai balasannya, Ettan terkekeh kecil. Wajah Indira terlihat sangat imut di matanya. Setelah mendengar kekehan Ettan, Indira pun menganggukkan kepala. Dia berusaha memahami Ettan. Indira melihat ke sekeliling. Taman rumah Ettan sepertinya terlalu luas. Indira perkirakan jika luasnya bahkan mencapai dua kali dari luas rumahnya. Tiba-tiba saja timbul sebuah pertanyaan di benak Indira. "Rumah sebesar ini yang mengurus cuma bi Sani?" tanya Indira tak percaya. Indira tak dapat membayangkan selelah dan seberat apa tugas yang diemban wanita paruh baya itu. Membayangkan bi Sani membereskan taman sendirian saja sudah menyeramkan. Apalagi membereskan satu rumah tanpa bantuan siapa pun. Indira rasa jika dirinya yang berada di posisi itu, dia akan langsung keluar. Ettan membulatkan matanya dan tertawa setelahnya. "Enggaklah! Kasihan bi Sani ngerjain semuanya sendirian. Rumah ini luas banget. Di depan ada taman, di belakang juga ada taman dan gazebo. Belum lagi rumah ini tingkat," jawab Ettan sembari terkekeh geli. Unik juga pemikiran Indira. Kenapa wanita yang biasanya terlihat dewasa itu justru tampak seperti anak-anak pagi ini? Ettan masih waras untuk tidak menyiksa orang lain dengan embel-embel gaji besar sebagai imbalannya. "Jam sembilan nanti datang pelayan yang lain. Sengaja aku suruh jam segitu karena aku enggak nyaman sama mereka. Mereka lebih banyak gosip daripada kerja. Apalagi mereka suka banget godain aku. Jadi, saat mereka datang, aku pergi kuliah. Aku enggak pengen ketemu mereka." Ettan menjelaskan lagi. Ettan tahu jika saat ini ada banyak pertanyaan yang ingin Indira ajukan. Namun, perempuan itu merasa terlalu segan untuk bertanya. Ettan tak ingin ada kecanggungan lagi di antara mereka. Ettan ingin mereka akrab seperti sedia kala meski tak dapat ditampik jika status mereka mulai berubah. "Ouh, mereka cantik?" tanya Indira asal. Ettan mengernyitkan dahinya sebentar dan tersenyum jahil setelahnya. Dari nada bicaranya, dapat Ettan tebak jika Indira tengah cemburu. "Kakak cemburu, ya? Takut karena calon suaminya ganteng dan banyak yang suka?" tanya Ettan balik dengan jahil. Ettan enggan menjawab pertanyaan Indira. Menjahili Indira jauh lebih menyenangkan. Mendengar pertanyaan Ettan, Indira pun berdecak malas. Dia memutar bola matanya. Tangannya mengambil segenggam makanan ikan dan menebarkannya di kolam. Tak ada jawaban dari Indira rupanya membuat Ettan semakin senang. Itu artinya Indira benar-benar cemburu. Indira tidak suka jika ada wanita lain yang berdekatan dengan dirinya. Hening beberapa saat di antara mereka sebelum Indira mengeluarkan suaranya. "Kamu kenapa pakai jaket?" tanya Indira. Matanya melirik Ettan yang sejak tadi menggosokkan kedua tangannya. Ettan hanya menggelengkan kepalanya. Ettan tidak ingin membuat Indira khawatir dengan keadaannya. "Jangan pake bahasa isyarat! Aku enggak ngerti! Kalau ditanya itu jawab yang bener, Ettan!" tukas Indira kesal. Jawaban Ettan terlalu berbelit-belit. Ettan terdiam sebentar, tetapi memilih untuk menjawab. Dia masih sedikit takut jika Indira marah. "Badanku rasanya enggak enak, Kak. Aku ngerasa kedinginan, tapi setelah aku cek ternyata suhu tubuhku tinggi. Aneh banget," jawab Ettan diakhiri dengan dumelannya. Pagi tadi dia mengecek suhu tubuhnya dan mendapati angka 39 derajat. Namun, Ettan merasa tubuhnya sangatlah dingin hingga dia mengenakan jaket. Indira mengangguk paham. Hal itu juga yang dia alami sekarang. Beruntung dia sudah merasa lebih baik saat ini. Kemudian, Indira merogoh isi tanya. Dia menyerahkan sebungkus obat untuk Ettan. Ettan menerima hal itu dengan bingung. "Itu obat untuk demam dan sakit kepala. Aku yakin kamu sakit kepala juga saat ini. Jadi, kamu harus minum obat itu. Kalau enggak ada perubahan, kamu harus pergi ke dokter!" ucap Indira. Ettan terdiam dan mengangguk setelahnya. Dia paham maksud kedatangan Indira ke sini. Rupanya perempuan itu tidak hanya sekedar singgah, tetapi Indira bermaksud untuk mengetahui keadaannya. "Kakak juga meriang, kan?" tebak Ettan telak. Tidak mungkin Indira bisa mengetahui dirinya sakit sementara ia tidak memberitahu siapa pun. Sudah pasti Indira juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Indira membuang wajahnya. Dia merasa sangat malu saat ini karena Ettan bisa dengan mudah menebak keadaannya. Melihat Indira yang tak menjawab, Ettan pun berinisiatif untuk berterimakasih. Dia merasa sangat bahagia dengan perhatian kecil yang Indira berikan. Meski Indira hanya memberikan sebungkus obat, hal itu sangatlah berharga bagi Ettan. Dia merasa jika ada orang yang mencintainya dan khawatir dengan keadaannya. "Kakak enggak kerja?" tanya Ettan tiba-tiba. Indira langsung membulatkan matanya. Dia melihat jam di tangannya. "Ya ampun! Aku telat!" pekik Indira histeris. Dia menatap Ettan dengan panik. Ettan yang ditatap seperti itu pun ikut panik. Dia meminta Indira untuk menunggu sebentar karena Ettan akan mengantarnya. "Enggak usah! Kamu enggak usah nganter aku. Kamu lagi sakit gitu, nanti malah kenapa-kenapa di jalan!" tolak Indira. Ettan terdiam mendengarnya. Dia sedang memikirkan cara agar Indira bisa segera sampai di tempat kerja. Ettan segera membuka ponselnya dan menemukan aplikasi untuk memesan ojek secara digital. Segera saja Ettan memesannya dan mengajak Indira untuk menunggu di luar pagar. Indira hanya bisa menurut. Yang dia inginkan saat ini adalah segera sampai di kantor. *** Indira memasuki kantornya dengan terburu-buru. Dia bahkan menabrak beberapa orang yang lewat di depannya. Indira hanya bisa meminta maaf. Di jalan tadi, dia mendapat telepon dari atasannya yang menanyakan keberadaannya. Indira tentu saja menjawab dengan jujur jika di masih ada di perjalanan. Indira diancam jika tak segera datang, gajinya akan dipotong. Indira tentu saja menolak. Dia memaksakan dirinya masuk agar gajinya tetap aman. Atasan Indira mengabulkan keinginan Indira dan sebagai gantinya, Indira akan diberi hukuman. Atasannya sangat tidak suka dengan orang yang tidak disiplin. Sekarang, Indira harus masuk ke ruangan atasannya. Dia harus menjelaskan alasan keterlambatannya hari ini. Selain itu, Indira juga harus siap menerima hukumannya. Saat akan memasuki ruangan, Indira berpapasan dengan Sinta. Sinta menatap wajah lesu dan panik sahabatnya. Sinta ingin memanggil Indira, tetapi sepertinya Indira tak melihat keberadaannya. Sejak tadi dia memang mengkhawatirkan Indira yang belum datang ke kantor. Dia merasa khawatir karena tak biasanya Indira terlambat. Indira lebih sering datang setengah jam sebelum jam kerja dimulai. Karena takut terkena masalah, Sinta pun kembali ke dalam bilik kerjanya. Dia mengerjakan tugas-tugasnya dan akan mengajukan pertanyaan saat Indira telah datang. Kebetulan sekali bilik mereka bersebelahan. Lima belas menit Sinta mengerjakan tugasnya, Indira tiba-tiba saja datang dengan wajah yang masam. Indira menaruh tasnya dengan kasar dan segera duduk di kursinya. Sinta mengintip melalui celah-celah bilik. Wajah Indira sangat tidak bersahabat. Kalau begini jadinya, Sinta semakin khawatir. Sepertinya ada masalah yang tengah dialami sahabatnya. "Indira, kamu kenapa? Ada masalah? Atau kamu dimarahin bu Citra?" tanya Sinta perhatian. Indira menengok sebentar dan langsung mengangguk. Dia memundurkan kursinya agar bisa melihat wajah Sinta. "Iya. Aku bertengkar sama bu Citra tadi. Dia enggak cuma kasih aku hukuman, tapi juga ngomong pedes ke aku. Aku sampe sakit hati dengernya. Aku datang telat, kan, bukan kemauanku. Biasanya juga aku datang cepet, kok! Sekalinya telat aku diomongin ini itu seolah aku biasa terlambat!" kesal Indira. Wajahnya terlihat ingin menangis sehingga Sinta dengan cepat beranjak ke arah Indira. Dia memeluk Indira untuk menenangkan sahabatnya itu. Indira tampak sangat frustrasi dan tersakiti. Sinta jadi penasaran apa saja yang atasnya mereka katakan. "Emangnya kamu telat itu kenapa? Enggak nemu kendaraan umum?" tanya Sinta pelan. Indira menggelengkan kepalanya. Dia melepaskan pelukan Sinta dan menatap wajah Sinta. "Aku dari rumah Ettan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD