"APA?" teriak Sinta kencang saat mendengar jawaban Indira.
Indira yang mendengar teriakan sahabatnya pun refleks menutup mulutnya. Matanya melotot saat menyadari kesalahan yang dia buat saat ini.
Bodoh! Dia sendiri yang tidak ingin rahasianya terbongkar, tetapi dia juga yang membukanya. Ya ampun, Indira tidak tahu harus melakukan apa setelah ini.
Meralat ucapannya? Jelas tidak akan mungkin. Sinta pasti bisa mendengar dengan jelas ucapannya. Sudah dapat dipastikan jika setelah ini Indira tidak akan lolos begitu saja.
Indira merasa dirinya benar-benar tidak beruntung hari ini. Pertama dia sakit, tetapi tetap memaksakan berangkat. Kedua dia datang terlambat dan diberi hukuman. Lalu sekarang dia dengan mudahnya mengatakan alasan dirinya datang terlambat.
Sudah jelas jika Sinta selalu mencurigainya memiliki hubungan dengan Ettan belakangan ini. Namun, kenapa dirinya masih saja ceroboh?
"Indira! Kamu habis ke rumah Ettan? Ngapain? Ada hubungan apa kamu sama dia?" tanya Sinta bertubi-tubi. Kecurigaannya memang benar-benar berdasar, tidak seperti tuduhan yang Indira layangkan padanya.
Sinta juga manusia waras yang tidak mungkin mengada-ada tentang kehidupan orang lain. Dia tidak mungkin mengarang hanya untuk mendapatkan sebuah berita hangat.
Sinta adalah sahabat sekaligus detektif untuk Indira. Indira mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia tidak ingin keceplosan lagi dan berakhir dengan Sinta yang membuat keributan.
Sudah cukup kebodohan itu dia lakukan satu kali, sisanya tidak lagi. Sinta yang melihat Indira mengunci mulutnya pun merasa gemas. Dia menatap dari dekat wajah Indira. Di matanya, Indira terlihat sangat ketakutan dan panik.
Sikap tenang Indira adalah alibi agar dirinya tak lagi bertanya jauh lebih dalam. Namun, bukan Sinta namanya jika menyerah mencari jawaban.
Sinta adalah gambaran wanita kuat yang pantang mundur sebelum keinginannya terkabul.
"Aku udah curiga kalau selama ini kamu ada hubungan sama Ettan. Kelihatan tahu enggak, sih, walau kamu sama Ettan selalu ngelak. Kalian kayak kerja sama untuk nutupin hubungan kalian satu sama lain!" beber Sinta membuat Indira membulatkan matanya.
Ettan mengelak? Itu berarti Sinta sudah bertanya pada Ettan? Ya ampun! Sinta berkali-kali lebih cepat dibanding dirinya.
Kalau begini jadinya, mau mengelak pun dia tidak akan bisa. Namun, mau menjawab pun Indira merasa belum siap.
Seharusnya Indira tahu jika Sinta sudah bertindak maka rahasia sekecil apa pun tak akan terlewat. Sinta mungkin terlihat biasa, tetapi rasa penasaran perempuan itu bisa membuatnya melakukan apa saja.
"Si—Sin," ucap Indira tergagap. Tenggorokannya tercekat saat melihat tatapan tajam yang Sinta layangkan padanya.
Sinta menaikkan sebelah alisnya. Dia mengacungkan jari telunjuknya dan menyipitkan matanya. "Kamu mau jujur atau enggak soal hubungan kamu sama Ettan?" tanya Sinta telak.
Sinta tahu jika dia sudah bertanya mengenai kejujuran Indira maka sudah dapat dipastikan jika Indira tak akan mengelak.
Sekeras apa pun Indira menutupi rahasia itu darinya, Indira akan takut jika Sinta sudah menyerahkan keputusan kepada Indira. Indira akan berpikir jika dia menolak, Sinta akan kecewa padanya.
Sinta bukanlah orang yang selalu serius. Dia bahkan banyak sekali bergurau. Namun jika dirinya sudah serius, orang sekeras Indira pun tak akan mampu bebas.
"Kalau kamu enggak jujur, aku yang akan cari tahu sendiri jawabannya. Ouh, salah. Sebenarnya aku tahu jawabannya, cuma aku butuh penjelasan. Kalau ada jawaban, tapi enggak ada penjelasan itu enggak lengkap rasanya. Mereka satu paket!" ancam Sinta.
Dia tak akan pernah menyerah untuk memojokkan Indira. Dengan sikap Indira yang tertutup seperti ini, Indira tidak akan mudah mendapat jalan keluar. Perempuan itu terlalu mengandalkan dirinya sendiri tanpa membutuhkan pendapat orang lain.
Indira tidak menyadari jika kebimbangannya selama ini hadir karena dirinya sendiri. Indira berpikir jika dia bisa menampung seluruh keluh kesahnya.
"Dengan kamu yang tertutup kayak gini, itu enggak akan memberikan untung apa pun. Aku kalau saat ini kamu lagi kebingungan. Kamu merasa enggak ada yang ngertiin kamu!" tebak Sinta membuat Indira lemas.
Indira rasanya benar-benar pasrah saat Sinta terus saja menyerangnya dengan kenyataan.
Indira masih setia mengunci mulutnya, tetapi tidak dengan Sinta. Perempuan itu justru terus saja memojokkan Indira dengan kenyataan yang Indira sendiri tidak ingin menerimanya.
Sinta tahu itu, sangat tahu. Dia dan Indira telah lama berteman dan hal seperti ini tak hanya terjadi kali ini. Peperangan batin seorang Indira seakan tak pernah menemui kata selesai.
"Kamu selalu—"
"Sinta! Indira! Kenapa kalian ngobrol terus? Gosip aja! Udah, cepet kerjain tugas kalian. Kalian digaji di sini bukan untuk ngerumpi, ya!" tegur Bu Citra yang sudah berdiri di dekat bilik Sinta dan Indira.
Matanya menatap tajam pada dua orang bawahannya yang justru asik berbincang. Di jam kantor yang sedang sibuk-sibuknya ini, Indira dan Sinta justru sibuk dengan obrolan mereka.
Mereka bersikap seolah perusahaan membayar mereka secara cuma-cuma. Bu Citra semakin kesal saat melihat wajah Indira. Perempuan itu datang terlambat hari ini dan justru mengobrol di jam kerja.
Indira seperti tidak tahu diuntung kendati dia sudah memberikan keringanan. "Dan kamu Indira, jangan seenaknya bersikap. Kamu datang terlambat hari ini dan berani menawar hukuman. Seharusnya kamu sadar kalau kamu itu udah mengecewakan," sindir Bu Citra kejam.
Indira langsung menundukkan kepalanya. Dia menyadari kesalahannya, tetapi sungguh Indira tak dapat mengendalikan dirinya. Apalagi setelah dimarahi Sinta menekannya terus-terusan tadi.
Indira merasa dirinya ingin bolos kerja saat ini juga. "Maaf, Bu."
"Maaf aja enggak cukup. Buktikan! Kerja yang bener!" sentak Bu Citra membuat Sinta dan Indira terperanjat.
Sinta menatap jengkel pada Bu Citra yang mulai meninggalkan dia dan Indira. Sinta merasa tidak terima dengan sikap bu Citra yang semena-mena pada Indira.
Memang apa salahnya jika mereka mengobrol? Hal itu tak pernah ada di peraturan kantor. Kantor membolehkan karyawannya untuk berbincang dengan syarat tugas selesai sesuai target.
Lagipula obrolan mereka bukanlah obrolan murahan. Ini berkaitan dengan hidup seseorang. Bu Citra memang keterlaluan.
Wanita itu seperti tidak punya hati. Mulutnya selalu saja mengucapkan kata-kata pedas yang akan membuat orang lain sakit hati.
Setelah bu Citra benar-benar pergi, Sinta pun memastikan keadaan Indira. Wajah sahabatnya itu terlihat sangat lesu dan pucat.
"Kalau kamu mau pulang, pulang aja. Mukamu pucet," ujar Sinta dan langsung kembali sibuk pada pekerjaannya.
Indira tak merespon apa pun. Dia juga mulai mengerjakan tugas-tugasnya yang tertunda. Bu Citra benar.
Dia tidak boleh sesuka hati dalam mengerjakan tugas. Di sini perusahaan membayar hasil kerjanya, bukan kemalasannya.
Jam makan siang telah tiba.
Sinta berjalan keluar lebih dulu meninggalkan Indira yang melongo melihatnya. Biasanya mereka akan istirahat bersama-sama di kantin.
Sinta pasti akan mengajaknya untuk makan dan mengobrol bersama. Namun, saat ini Sinta bahkan tak menyapanya. Sahabatnya itu melenggang sendirian di lorong kantor tanpa mempedulikan kondisinya.
Badannya sudah tak karuan ditambah hari ini dia ditimpa banyak masalah. Jelas saja Indira sedih merasakannya. Dia merasa benar-benar sendirian.
Di kantor ini, dia hanya mempunyai Sinta sebagai sahabatnya. Sisanya hanyalah teman formalitas yang sering membicarakannya.
Akhirnya, Indira memilih untuk bangun. Dia berjalan menuju kantin sendirian. Dia lupa membawa bekal tadi pagi karena berangkat terburu-buru.
Perutnya sudah sangat lapar sehingga Indira memutuskan akan membeli di kantin. Menurut Indira, harga makanan di kantinnya cukup mahal, padahal makanan yang dijual sama saja.
Indira sebenarnya sayang mengeluarkan uangnya, tetapi dia harus makan agar bisa meminum obatnya.
Setelah selesai makan, Indira beranjak ke kamar mandi. Dia mencuci tangan dan mulutnya dari sisa makanan.
Saat berada di kamar mandi, Indira tanpa sengaja bertemu dengan Sinta. Indira yang merasa tidak nyaman saat Sinta mendiamkannya pun memilih untuk mengalah.
Indira berharap jika Sinta mampu mengerti dirinya. "Aku sama Ettan memang ada hubungan. Aku akan cerita ke kamu, tapi enggak sekarang," ucap Indira membuka pembicaraan.
Kemudian, Indira langsung pergi meninggalkan Sinta yang termenung. Sinta bergegas mengikuti Indira menuju bilik kerja mereka.
Jam istirahat sebentar lagi habis. Lebih baik jika mereka berada di tempatnya sebelum terkena teguran lagi.
Saat Sinta ingin melanjutkan pekerjaannya, dia justru melihat Indira yang meminum obat. Rupanya Indira sedang sakit.
Pantas saja sejak tadi wajahnya pucat dan tampak tidak b*******h. Sinta segera mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin jika Indira memergokinya.