"Kamu enggak pulang?" tanya Sinta sembari membereskan perlengkapan kerjanya.
Indira bergumam pelan sebagai jawabannya. Dia harus lembur selama tiga hari karena datang terlambat tadi. Setidaknya, Indira merasa bersyukur karena hukumannya tidaklah berat. Tak masalah jika dia harus pulang terlambat.
Sinta mengernyitkan dahinya. Seharusnya jika Indira lembur, dirinya pun sama. "Hukuman dari bu Citra?" tanya Sinta memastikan.
Indira mendongakkan kepalanya dan langsung mengangguk. Memangnya siapa lagi yang akan menghukumnya selain bu Citra?
"Loh, tapi kamu lagi sakit. Jangan lembur dulu seharusnya," ujar Sinta setengah khawatir.
Indira sedang sakit dan seharusnya dia istirahat di rumah. Menurut Sinta, pilihan Indira untuk tetap masuk adalah langkah yang salah.
Indira setidaknya harus mempedulikan dirinya sendiri. Indira tidak bisa memaksakan dirinya seperti mesin.
Indira menghela napasnya panjang. "Kalau bisa diminta, aku juga maunya gitu, Sin. Tapi kamu tahu sendiri gimana bu Citra. Aku udah buat masalah sama dia pagi tadi. Cari masalah lagi sama dia sama aja cari mati," keluh Indira.
Sinta menatap kasihan pada sahabatnya. Kemudian, dia kembali duduk dan membuka peralatan kerjanya. Sinta akan membantu Indira mengerjakan tugasnya.
"Ya udah, aku ikut lembur aja. Aku bantuin kamu. Bahaya kalau kamu kenapa-kenapa, tapi enggak ada yang tahu," putus Sinta.
Indira langsung melongo. Dia merasa tidak enak jika harus merepotkan Sinta. "Jangan, Sin. Kamu enggak usah ikutan lembur. Ini tugasku, jadi aku yang harus ngerjain," tolak Indira tak enak hati.
Sinta menggeleng sebagai penolakan. Dia dengan lancang mengambil beberapa berkas yang harus Indira kerjakan.
Tak perlu khawatir akan salah. Mereka bekerja dalam hal yang sama. Tugas mereka pun tak jauh berbeda.
"Udah, pokoknya aku akan bantuin kamu!" tegas Sinta. Indira tak dapat mengelak lagi. Dia hanya bisa mengangguk pasrah sebagai jawabannya.
Beberapa jam berlalu, Indira dan Sinta pun selesai dengan pekerjaan mereka. Segera saja mereka membereskan barang-barangnya dan bergegas untuk keluar kantor.
Suasana kantor yang sepi dan gelap sedikit membuat bulu kuduk mereka berdiri. Apalagi saat mendengar dering telepon dari ponsel Indira. Berhasil membuat dua perempuan yang sejak tadi berada dalam keheningan itu berteriak kaget.
Sinta menatap Indira dengan gahar. Sementara Indira bergegas membuka ponselnya dan mendapati nama Ettan di sana.
Ya ampun, rupanya anak itu yang menghubunginya saat ini. Indira mematikan ponselnya. Dia tidak ingin menjawab panggilan Ettan di saat ada Sinta di sebelahnya.
Ettan rupanya tak menyerah. Dia terus saja menghubungi Indira hingga Sinta yang mendengar hal itu pun merasa kesal. "Angkat aja kenapa, sih? Enggak usah dimatiin lagi, Indira!" sungut Sinta.
Indira langsung mematuhinya. Dia langsung mengangkat panggilan itu tanpa peduli dengan Sinta yang bisa saja mendengar pembicaraannya.
"Wa'alaikumussalam! Aku baru mau pulang karena tadi lembur," jawab Indira sembari memajukan bibirnya.
Dia kesal dengan Ettan yang mengajukan banyak pertanyaan padanya. Apakah Ettan tidak tahu jika dirinya saat ini sangatlah lelah bahkan untuk menjawab sebuah pertanyaan?
Selain itu, kenapa Ettan bisa menanyakan keberadaannya? Seharusnya anak itu diam di rumah agar segera pulih!
"Jangan banyak tanya, deh. Aku capek. Udah, kamu balik lagi ke rumah. Aku bentar lagi juga pulang sama Sinta," putus Indira langsung mematikan ponselnya.
Indira memasukkan ponselnya dengan kasar ke dalam tas. Emosinya naik ke ubun-ubun saat tahu jika Ettan berada di rumahnya, bahkan sejak dua jam yang lalu.
Indira benar-benar tidak habis pikir dengan Ettan. Jika anak itu ingin membuatnya berubah pikiran, seharusnya Ettan mau menuruti seluruh ucapannya.
Indira tidak suka jika ada orang yang membangkangn perintahnya. Apalagi yang jauh lebih muda dari dirinya.
Sinta yang sejak tadi hanya mengamati pun paham. Tanpa Indira beri tahu, Sinta bisa menebak jika yang menghubungi Indira barusan adalah Ettan. Terlihat dari cara bicara Indira yang sedikit kasar.
"Ettan, ya?" tanya Sinta pura-pura tidak tahu. Indira hanya menatap sahabatnya dengan malas.
Indira tahu jika saat ini Sinta tengah memainkan dramanya. "Tanpa aku kasih tahu, kamu pasti udah tahu duluan!" jawab Indira setengah kesal.
Sinta selalu membuatnya menjadi manusia bodoh yang tidak bisa menjaga rahasia. Sinta memiliki ribuan cara untuk mengintip kehidupannya.
Sinta terkekeh pelan. Dia tahu secara tidak langsung Indira tengah menyindirnya. Tak masalah, Sinta akui itu. Dia cocok diberi gelar detektif tanpa pamrih.
"Ya emang, sih. Tapi aku cuma mau kamu jujur, makanya sampai sekarang aku masih nunggu kamu cerita." Sinta berucap sembari memainkan ponselnya.
Dia menyindir Indira yang terkesan mengulur waktu. Indira berdehem sebentar. Sebelum dia bercerita, pasti Sinta akan terus mengejarnya. "Aku mau cerita sama kamu, tapi bingung!" ujar Indira.
Dari mana dia harus menceritakan semuanya? Dari kedatangan Ettan? Atau dari awal mula Ettan memilihnya?
Hey, itu terlihat sangat melankolis dan Indira merasa malu menceritakannya. Harga dirinya bisa saja jatuh tiba-tiba.
Sinta berdecak kesal. "Susah kenapa, sih? Tinggal cerita aja sama aku. Cerita aja dari awal mula hubungan kamu sama Ettan. Misal Ettan ngajak kamu keluar gitu untuk PDKT," paksa Sinta.
"Atau dimulai saat Ettan ngajak kamu pacaran," sambung Sinta.
Indira meneguk ludahnya kasar. Pacaran? Jadi selama ini Sinta mengira jika dia dan Ettan berpacaran? Bukan hal lainnya?
Ya ampun, Indira bingung harus merespon bagaimana. Sepertinya Sinta tak pernah mengira jauh tentang hubungannya.
Lalu bagaimana reaksi Sinta saat tahu jika Ettan mengajaknya menikah? "Itu enggak seperti yang kamu pikirkan. Lebih jauh dari pacaran," sanggah Indira.
Sinta menyentuh dagunya. Dia seperti tengah bermain tebak-tebakan. Namun, tak masalah. Mungkin cara inilah yang membuat Indira nyaman.
"Tunangan?" tebak Sinta lagi. Indira spontan menggeleng.
Merasa jawabannya salah, Sinta pun meminta waktu pada Indira. Dia bahkan membuka internet untuk mencari jawabannya.
Setelah dapat, Sinta pun berteriak kegirangan. "Nikah? Kamu diajakin nikah sama Ettan, kan?" tebak Sinta senang.
Sinta seperti memenangkan undian lotre. Wajahnya terlihat sangat girang.Namun, sedetik kemudian Sinta membulatkan matanya horor.
"Sejauh itu?" gumamnya tak percaya.
Indira menganggukkan kepalanya pasrah. Maka dari itu dia bingung ingin bercerita dari mana.
"Sejak kapan? Kapan dia ngajak kamu nikah?" tanya Sinta heboh.
Mereka berhenti sejenak untuk mengobrol. Hari ini Sinta membawa motor sehingga Indira bisa pulang bersamanya.
"Beberapa minggu lalu dia dateng ke rumah. Aku juga kaget dia dateng dan tiba-tiba dia ngomong langsung sama orang tuaku," cerita Indira.
Indira ingat betul bagaimana seriusnya Ettan saat itu. Sinta mendengarkan dengan baik. Di dalam hatinya dia hanya bisa memuji keberanian Ettan. Entah bagaimana anak itu mempersiapkannya. Yang jelas Ettan patut diacungi jempol.
Sinta merasa jika lelaki sejenis Ettan hanyalah satu banding seribu keberadaannya. Sulit untuk ditemukan. Namun, ada yang terasa mengganjal. Datang ke rumah? Bukankah Ettan tak tahu tempat tinggal Indira?
"Tunggu, Ettan kenapa bisa tahu alamat rumahmu? Kamu ngasih tahu dia?" tanya Sinta bingung.
Indira bukanlah orang yang dengan mudah menunjukkan tempat tinggalnya. Dulu saja saat mereka baru berteman, Indira menolak keinginan Sinta yang ingin bermain ke rumahnya.
Bukan karena malu, tetapi Indira takut jika orang tuanya akan dihina. Indira berusaha melindungi orang tuanya.
"Kamu itu bukan orang yang gampang kasih alamat rumah, loh!" tambah Sinta.
Indira membenarkan ucapan sahabatnya. "Iya, kamu emang bener. Tapi sebelum dia ngelamar aku, dia sempet nganter aku pulang. Aku enggak sengaja ketemu di pinggir jalan gitu," jawab Indira.
Sinta mengangguk beberapa kali. Sekarang dia telah paham. "Ouh, paham-paham."
"Kamu terima dia enggak?" tanya Sinta lagi. Dia benar-benar penasaran.
Ettan masih sangat muda, tetapi dia lelaki yang berani. Rasanya akan sangat sayang jika lelaki seperti Ettan dibiarkan begitu saja.
Indira menggeleng sebagai jawabannya sehingga kehebohan kembali terjadi. "Hah? Enggak?" tanya Sinta memastikan isyarat dari Indira.
Indira sepertinya sangat sulit membuka mulut hingga Sinta harus lebih aktif bertanya. Indira hanya membenarkan.
Sinta langsung menatap lekat pada Indira. Dia tidak tahu apa yang Indira pikirkan sehingga lamaran Ettan ditolak. "Kenapa? Kamu tahu, kan, kalau Ettan itu anak baik-baik?" tanya Sinta dramatis.
Dia menatap Indira dengan aneh. Kalau Sinta yang berada di tempat Indira, dia pasti akan langsung menerimanya tanpa berpikir dua kali.
Indira sempat terdiam. Dia bingung ingin memberikan alasan apa mengenai lamaran Ettan yang ditolak.
Ada terlalu banyak alasan di balik itu semua. Rasanya tak mungkin Indira menyembutkan semuanya, bukan?
"Alasannya banyak dan kebanyakan datang dari aku. Tapi yang jelas, ada satu alasan fatal yang buat lamaran dia ditolak," jawab Indira.
Sinta hanya mengernyitkan dahinya. Dia yakin Ettan datang dengan persiapan yang tidak main-main, tetapi kenapa masih saja ditolak?
"Apa?" tanya Sinta tak sabar.
Indira menghela napasnya. "Dia datang sendiri. Orang tuanya bahkan enggak tahu kalau anaknya mau melamar aku," jawab Indira sendu.
Satu hal yang hingga saat ini membuatnya salut dengan Ettan hanyalah ketabahan lelaki itu. Ettan begitu sabar menjalani hidupnya walau dia hanya sendirian. Indira tidak dapat membayangkan akan seperti apa hidupnya jika kedua orang tuanya meninggalkannya.
Sinta merasa kebingungan. Otaknya tidak dapat memproses ucapan Indira dengan baik. Mana ada orang tua yang tidak tahu apa-apa di saat anaknya akan membawa calon menantu ke rumah? Secuek apa pun orang tua, pasti akan tetap ikut serta.
"Hah? Gimana maksudnya?" tanya Sinta tak paham.
Indira menghela napasnya. Yang rumit di sini bukan hanya dirinya, tetapi juga hubungan Ettan dengan keluarganya.
Indira sendiri tak mengerti kenapa bisa ada orang tua seperti ayah Ettan. Jika istrinya meregang nyawa setelah melahirkan Ettan maka sudah sepantasnya dia merawat Ettan dengan penuh cinta. Itu artinya ibu Ettan sangat menyayangi anaknya.
"Ibu Ettan udah meninggal dan ayahnya ada di luar negeri. Ettan enggak mau ganggu ayahnya karena ayahnya udah menyiapkan wali untuk mengurus semua kebutuhan Ettan di sini. Kalau aku jelasin, susah banget. Aku sendiri masih kurang paham, tapi aku enggak mau banyak tanya sama Ettan. Aku enggak enak," tukas Indira.
Sinta menutupi mulutnya dengan tangan. Hatinya langsung terasa nyeri saat tahu jika nasib Ettan tak seindah yang dia bayangkan.
"Jadi, dia kayak hidup sebatang kara, gitu?" tanya Sinta. Indira menganggukkan kepalanya.
Walau Ettan memiliki banyak pelayan di rumah, tetap saja berbeda. Ettan pasti ingin merasakan indahnya berkumpul bersama keluarga. Anak itu pasti sangat rindu dengan orang tuanya.
"Terus kalau lamarannya udah ditolak, kenapa sampai sekarang kamu masih kayak gini? Katanya udah ditolak, berarti udah selesai urusannya, kan?" tanya Sinta.
Kalau lamaran Ettan langsung ditolak saat itu juga, kenapa Indira harus repot-repot memikirkannya? Kenapa Indira menjadikan hal itu seperti beban dan membuat kehidupannya terganggu.
Walau jawaban untuk Ettan patut disayangkan, tetapi Indira seharusnya tak perlu berlarut dalam kesedihan. Dia tidak perlu menyesal karena mungkin saja Ettan memang bukan jodohnya.
"Kamu, kan, enggak suka sama Ettan. Seharusnya bagus kalau Ettan udah ditolak. Kamu enggak perlu urung-uringan terus kayak gini!" tandas Sinta heran.
Meski Indira tak mengatakan alasan dirinya menolak Ettan, Sinta tetap dapat memahaminya. Dari gerak-geriknya, Sinta tahu jika Ettan bukankah pria yang Indira inginkan.
"Justru itu. Ayah kasih kesempatan ke Ettan untuk ngelamar aku lagi dengan bawa walinya yang bernama om Burhan untuk ketemu sama ayah. Selagi lamaran kedua itu belum datang, ayah sama ibu minta aku pikirin baik-baik jawabannya."
Indira meremas tali tasnya. Beban pikirannya sangatlah banyak. Indira sampai bingung ingin memikirkan yang mana. Yang Indira tahu saat ini dia butuh teman bicara. Dia butuh saran, dia butuh sandaran. Namun, yang jelas bukanlah Ettan.
"Aku bingung harus kayak gimana. Ibu sama ayah selalu kasih nasihat untuk nerima Ettan. Aku enggak mau nerima Ettan karena dia jauh lebih muda dari aku. Terus dia juga bisa aja bohong dan sengaja mau nipu aku," keluh Indira.
Sinta masih setia mendengarkan. Namun, tidak setelah Indira mengungkapkan isi hatinya. Dia bisa memberikan jalan keluar langsung, bahkan sebelum Indira bercerita lebih jauh.
"Aku sama Ettan sering disuruh ketemu. Katanya biar aku sama Ettan bisa akrab. Beberapa kali ketemu aku memang masih enggak mau nerima lamaran dia, tapi setelah kemarin pikiranku agak berubah. Aku ngera—"
"Kamu ngerasa dia enggak seburuk yang kamu pikirkan? Kamu mulai ada rasa sama dia?" tebak Sinta yang langsung dibenarkan oleh Indira. Indira menekuk bibirnya untuk menggambarkan semengenaskan apa dirinya saat ini.
Jujur saja, sebenarnya Indira sangat malu. Indira malu dengan dirinya yang dahulu menolak Ettan dengan keras. Pada saat ini, Indira seperti memakan omongannya sendiri.
Indira sedikit takjub dengan Sinta yang bisa menebak isi hatinya dengan mudah. Sahabatnya itu bahkan tak merasa kesulitan sama sekali. Sementara jika dipikir-pikir, Indira yang menjalaninya saja merasa pusing tujuh keliling.
"Kalau begitu, penolakan kamu sebelumnya bisa aja berubah?" tanya Sinta cepat.
Indira hanya tersenyum paksa sebagai jawabannya. Entah kenapa waktu terasa begitu cepat. Mental dan hati Indira serasa belum siap, tetapi lamaran Kedua sudah ada di depan mata.
"Sekitar dua minggu kurang, dia bakal datang ke rumah dan siap enggak siap, aku harus kasih jawaban." Indira memberitahu.
Sinta tersenyum lebar. Dia langsung memeluk bahu sahabatnya itu dan menunjukkan wajah bahagianya. "Dia udah jelasin alasannya melamar kamu?" tanya Sinta.
"Udah. Dia bilang untuk menemani hidupnya. Dia enggak mau kesepian, tapi dia juga enggak mau menjalin hubungan yang enggak jelas. Dia mau hubungan yang terikat sampai mati," jawab Indira dengan wajah bersemu.
Sinta terkekeh melihatnya. Ternyata Indira bisa merasa malu juga. "Ettan itu laki-laki yang baik. Dia mungkin masih muda, tapi kedewasaan dia bisa diacungi jempol. Dia juga bertanggung jawab."
Sinta memandang jalanan di depannya. Dia merasa bahagia saat sahabatnya menemukan orang yang akan membahagiakannya.
"Mungkin kita belum tentu nemuin orang seperti Ettan di belahan dunia lain, tapi kamu bisa dengan mudah mendapatkan Ettan. Usia Ettan mungkin jauh di bawah kamu, tapi pengalaman hidup dia mungkin lebih pahit dari kita. Kepahitan itu yang buat dia berpikir dewasa."
"Dan menurutku, laki-laki seperti Ettan enggak punya alasan untuk ditolak. Kamu harus mikirin isi hati kamu, Indira. Tekan ego kamu dan aku yakin kamu akan sependapat sama aku."
"Terima Ettan karena dia datang untuk menjaga kamu!"
***
"Silakan masuk, Pak!" ujar Farhat mempersilakan.
Pria yang berada di belakang Farhat pun langsung mengangguk sopan. Dia berjalan pelan menuju kursi yang Farhat sediakan.
Setelah itu, dia duduk dengan tenang berhadapan dengan Farhat. Matanya mengamati sekeliling dan mengangguk beberapa kali.
Jika dilihat-lihat, rumah ini bahkan lebih kecil dari rumahnya. Bukan bermaksud sombong, hanya saja dia merasa tidak percaya jika anak dari majikannya akan jatuh cinta pada gadis yang berasal dari keluarga sederhana.
Majikannya sangatlah kaya. Biasanya, orang kaya akan mencari menantu yang sederajat dengan mereka.
Kemudian, matanya melirik pada seorang lelaki yang duduk di sampingnya. Anak itu adalah anak yang dia urusan sedari kecil. Anak itu juga yang selalu membutuhkannya jika ada kegiatan orang tua dan anak di sekolah.
"Udah siap, Tan?" tanyanya. Laki-laki yang tak lain adalah Ettan itu mengangguk mantap. Dia memakai kemeja biru muda dengan celana bahan hitam.
"Ettan udah siap, bahkan dari jauh-jauh hari udah Ettan siapkan semuanya. Ettan harus siap, apa pun itu jawabannya!" jawab Ettan.
Om Burhan yang berstatus sebagai wali dari Ettan pun mengangguk bangga. Dia senang saat Ettan menerapkan ajaran-ajaran yang dia berikan. Ettan tak pernah membangkangnnya dan selalu menuruti ucapannya.
"Laki-laki itu harus berani. Kalau ditolak, mungkin memang ada yang kurang dalam diri kita!" ujar Om Burhan yang langsung disetujui oleh Ettan.
Jika dilihat-lihat, mereka tak seperti majikan dan pelayan pada umumnya. Om Burhan lebih cocok disebut sebagai ayah bagi Ettan.
Om Burhan telah banyak berjasa untuk Ettan. Dia yang mengajari Ettan banyak hal sedari kecil hingga sang anak berani melamar seorang perempuan.
Meski tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya, Ettan tetap bisa merasakan figur seorang ayah melalui Om Burhan. Rasanya memang berbeda, tetapi Ettan tetap mensyukurinya.
Tak lama dari itu, Mirnawati datang dengan membawa minuman dan cemilan. Dia menaruhnya di meja dan langsung undur diri.
Setelah selesai dengan tugasnya, Mirnawati segera menghampiri Indira di kamarnya. Mirnawati mengernyit heran saat sampai di depan kamar.
Kamarnya sangat hening, padahal ada Sinta yang turut menemani Indira. Perasaan Mirnawati menjadi tak enak. Dia takut jika Indira kabur begitu saja dari rumah.
Akhirnya, Mirnawati pun membuka pintunya dengan sedikit keras hingga membuat Sinta dan Indira terkejut. Setelah membuka pintu, Mirnawati bisa bernapas lega.
"Bu, buka pintunya pelan-pelan!" ujar Indira memperingatkan. Dia menatap Ibunya malas.
"Ayo keluar. Ettan dan omnya udah datang," ajak Mirnawati tanpa mempedulikan teguran Indira.
Mendengar hal itu, Indira langsung membulatkan matanya. Waktunya telah tiba dan hal itu membuatnya tak karuan. Tangannya dingin dengan detak jantung yang tak berirama.
Mirnawati memberi kode pada Sinta untuk menggandeng Indira. Sinta menurutinya dan langsung menggandeng sahabatnya. Di hari bersejarah sahabatnya, Sinta tentu saja ingin ikut serta.
Langkah Indira terasa sangat berat. Dia seperti membeku. Apalagi setelah sampai di ruang tamu dan melihat Ettan yang duduk dengan gagah. Matanya tiba-tiba saja tak bisa dikendalikan. Ettan terlihat sangat berbeda hari ini.
Indira langsung didudukkan tepat di hadapan Ettan. Sementara di sisi kanan dan kirinya diisi oleh orang tuanya.
Untuk Sinta, dia duduk di pojok ruangan. Ukuran ruangan yang kecil membuatnya tidak bisa leluasa duduk.
"Baiklah, langsung saja." Om Burhan mulai membuka suaranya.
"Sebelumnya saya meminta maaf apabila Ayah Ettan tidak bisa datang. Ayah Ettan bernama Panji dan dia tinggal di luar negeri. Seluruh urusan Ettan diserahkan kepada saya. Maka dari itu, saya harap kalian tidak keberatan dengan keberadaan saya. Dan saya harap kalian mau memaafkan kesalahan Ettan kemarin."
"Tujuan saya datang ke sini adalah melamar putri kalian untuk menjadi pendamping hidup putra saya yang bernama Ettan." Om Burhan telah menyampaikan tujuannya. Dia tidak ingin berasa-basi terlalu lama karena yang dia butuhkan di sini hanyalah jawaban.
Farhat mengangguk pelan.
"Saya dan keluarga sebelumnya berterimakasih atas lamaran yang Ettan ajukan untuk putri kami, Indira. Kami juga memohon maaf karena lamaran pertama Ettan kami tolak. Jawaban dari lamaran tersebut hanya bisa diberikan oleh putri saya sendiri. Maka dari itu, saya menyerahkan jawabannya kepada Indira!" ujar Farhat.
Semua orang langsung menatap Indira. Batin mereka sama-sama merasa was-was dengan jawaban yang akan Indira berikan. Mereka takut jika Indira masih tak berubah pikiran.
Mirnawati dan Farhat pun merasakan hal yang sama. Hingga saat ini Indira belum memberikan bocoran apa pun mengenai jawabannya.
Sinta ikut penasaran dan khawatir. Rasanya dia ingin memberi kode pada Indira agar segera membuka mulutnya.
Indira menatap semua orang. Dia menggerakkan kakinya gelisah. Dia malu untuk mengatakan jawabannya.
Karena Indira terlalu lama menjawab, Farhat pun menegur Indira. "Indira apa jawabanmu?" tanya Farhat. Dia menoel tangan Indira agar putrinya tak lagi mengulur waktu.
Indira hanya bisa menurut. Dia langsung membuka mulutnya. "Saya menerima lamaran Ettan," cicit Indira sangat pelan.
Ettan terkejut mendengarnya, tetapi dia tak yakin itu benar. Suara Indira sangat kecil.
"Yang keras suaranya!" ujar Sinta keras membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Indira.
"Saya menerima lamaran Ettan!" ucap Indira dengan tegas. Semua orang langsung mengucap syukur. Mereka merasa lega dan bahagia atas jawaban Ettan.
"Baiklah, kapan pernikahan akan diadakan?" tanya Burhan. Ettan dan Indira langsung menjawab bersamaan.
"Tiga bulan lagi!"
Ettan dan Indira saling pandang. Mereka langsung memalingkan mukanya karena malu yang mendera.
Apa-apaan ini, kenapa jawaban mereka bisa sama? Semua orang yang berada di sana hanya bisa tertawa. Entah kenapa hal itu terlihat lucu di matanya.
"Kalau begitu, satu bulan lagi."