NAYM 10 - Persiapan Pernikahan

2581 Words
"Apa enggak kecepatan, ya, kalau satu bulan lagi?" tanya Indira sembari membereskan ruang tamu. Sejak tadi dia terus saja memikirkan hal ini. Dia telah setuju untuk menerima lamaran Ettan, tetapi bukan berarti secepat ini. Dia harus menyiapkan jiwa dan raganya terlebih dahulu. Tugas menjadi seorang istri itu berat dan Indira takut dia tidak bisa menjalankannya. Setidaknya, beri waktu untuk Indira berlatih. Ettan juga meminta hal yang sama. Namun, kenapa para orang tua justru mengambil keputusan yang berbeda? Sinta yang berada di sebelah Indira pun menepuk bahu sahabatnya. "Indira, lebih cepat lebih baik," ucap Sinta menenangkan. Kalau orang tua sudah memutuskan, berarti mereka yakin bisa melewatinya. Tentunya keputusan itu tidak dibuat begitu saja. Ada pertimbangan yang mereka lakukan. Mirnawati masih saja diam. Dia merasa senang dengan jawaban Sinta. Sinta adalah teman yang baik. Dia bisa menengahi permasalahan yang ada. Indira tampak tak setuju. Dia mendudukkan dirinya dengan lesu. "Masalahnya bukan itu, tapi aku belum siap untuk nikah. Nikah itu enggak gampang dan ilmuku ini nol besar." Mereka pikir menikah itu hanyalah akad dan tinggal bersama? Tidak, kan? Menikah lebih dari itu. Indira memiliki tanggung jawab besar untuk mengurus dan mematuhi suaminya. Dia juga harus menjadi istri yang siap mendukung suaminya. Sementara semua hal itu mungkin akan sulit dilakukan jika tak ada cinta. Ouh, tidak. Indira menyayangi Ettan, tetapi untuk cinta sendiri dia masih harus menumbuhkannya. Mirnawati yang mendengar hal itu merasa gemas. Dia mendekat pada Indira. Sementara Sinta memilih untuk mengepel lantai. Sinta rasanya sudah malas menghadapi kelabilan Indira. Misinya hanyalah sampai lamaran kedua Indira dan hal itu telah selesai. "Ya, kan, kamu bisa belajar. Kamu pikir Ibu bakal biarin kamu gitu aja sebelum nikah? Enggak. Ibu akan kasih kamu banyak ilmu yang berguna buat kamu!" tandas Mirnawati. Mirnawati tidak mengerti dengan isi kepala anaknya. Bisa-bisanya Indira berpikir seperti itu di saat dia memiliki orang tua yang lengkap. Orang tua memiliki kewajiban untuk membimbing anak mereka ke jalan yang benar. Menjelang pernikahan, pasti orang tua akan mempersiapkan banyak hal untuk pernikahan. Tak terkecuali bekal untuk anak mereka membina rumah tangga. "Kalau itu aku tahu, tapi waktunya tinggal sebulan lagi, Bu. Apa bisa? Indira bakal sibuk ini itu," keluh Indira. Mirnawati menyentil pelan dahi anaknya. Indira meringis pelan. Dia menatap jengkel pada ibunya yang tidak merasa bersalah. "Kenapa pakai kekerasan sih, Bu?" dumel Indira. Dia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur. Padahal Indira berusaha mengungkapkan kekhawatirannya. Dia berusaha meminta nego agar waktu pernikahan diundur. Indira bersumpah jika waktu tiga bulannya terkabulkan, dia tidak akan bersikap seperti ini. Dia akan dengan suka cita menyambut pernikahannya. "Ya ampun anak itu, ya. Heran Ibu sama tingkahnya. Kalau udah nerima lamaran orang, ya, harus siap kapan aja nikah. Orang mau nikah cepat-cepat, dia malah mau sebaliknya. Aneh banget," gerutu Mirnawati. Sinta yang mendengarnya tertawa keras. Jangankan Mirnawati, Sinta yang berstatus sahabatnya saja merasa heran. Kenapa ada manusia sejenis Indira? Indira hobi sekali mempersulit dirinya sendiri. "Kayaknya dia gugup, deh, Bu. Dia takut enggak bisa jadi istri yang baik buat Ettan," tebak Sinta setengah mengejek Indira. Kemarin saja Indira yang bersikeras menolak Ettan. Namun, hari ini dia menjadi saksi di mana Indira ingin menjadi istri yang sempurna untuk Ettan. Ya ampun, ini benar-benar lucu. Sinta cekikikan setelahnya dan diikuti oleh Mirnawati. Mereka menertawakan orang yang saat ini tengah memandang mereka dari kejauhan. Indira mendengus kesal. Dia mengentakkan kakinya sembari mencuci piring. Dia diejek habis-habisan! Meski yang diucapkan Sinta ada benarnya, tetap saja Indira malu. Dia terlihat seperti remaja yang tengah kasmaran. "Ouh, iya bener kamu, Sin. Dia enggak mau mengecewakan Ettan!" timpal Mirnawati. Sinta dan Mirnawati semakin senang. Mereka tak sabar menantikan pernikahan Indira. Tidak terbayang akan seperti apa Indira nanti setelah menikah. Yang jelas Ettan benar-benar hebat. Mampu membuat seorang Indira memilihnya hanya dalam sekejap. "Belum jadi istri aja udah enggak ada harga dirinya di mata mereka. Apalagi kalau udah sah?" lirih Indira pasrah. Ia hanya berharap setelah menikah nanti Ettan tidak akan melakukan hal yang sama. Laki-laki itu tidak boleh menindasnya! Beberapa jam kemudian. Sinta masuk ke dalam kamar Indira. Dia berencana menginap di rumah sahabatnya. Sebentar lagi Indira akan segera menikah dan dapat dipastikan mereka tak akan seperti dulu. Pertemuan mereka mungkin lebih terbatas. Waktu Indira akan tersita oleh Ettan yang berstatus suaminya. Hal itu setidaknya membuat Sinta sedih karena dia akan kesepian. Indira dan dirinya terbiasa menghabiskan waktu bersama. Mereka bahkan sering sekali keliling kota hanya untuk mencari angin. "Udah mandinya, Sin?" tanya Indira yang tengah membaca buku. Sinta mengangguk sebagai jawabannya. Dia langsung duduk di samping Indira dan mengintip buku yang Indira baca. "Buku baru?" tanya Sinta. Sinta baru melihat buku ini meski sering sekali bermain ke rumah Indira. Selain itu, Indira juga pasti bercerita jika dia memiliki bahan bacaan baru. "Dari Ettan," jawab Indira. Sinta langsung memutar bola matanya malas. Pantas saja tidak bercerita. Rupanya itu dari calon suaminya. "Seneng pasti baca buku dari calon suami," goda Sinta jahil. Indira yang mendengar hal itu pun langsung menutup bukunya. Indira menatap Sinta yang terkejut dengan tindakannya. "Enggak usah ditutup juga kali. Aku enggak bakal minjem, kok!" ujar Sinta. Indira menggeleng tidak setuju. Bukan itu tujuannya. "Enggak usah sebut Ettan begitu juga kali. Sebut aja namanya. Aku ngerasa agak gimana gitu dengernya," protes Indira dengan mata yang tajam, tetapi wajah yang merah. Sinta yang mendengar hal itu pun tertawa keras. Pasti Indira merasa geli mendengarnya. "Ya ampun, baru segini aja kamu udah geli? Apalagi nanti kalau udah jadi suami? Kamu harus manggil dia mas! Mas Ettan!" kelakar Sinta. Indira refleks melebarkan matanya. Otaknya langsung dipenuhi dengan panggilan dirinya kepada Ettan setelah menikah nanti. Mas? Ya ampun! Indira bergidik ngeri membayangkannya. Sinta tertawa keras, tetapi tidak dengan Indira yang langsung mendidih mendengarnya. "Berhenti!" teriak Indira keras. Kepalanya terasa akan pecah saat membayangkan kehidupan pernikahannya nanti. Dia tidak dapat membayangkan semenggelikan apa dirinya nanti. "Jangan ketawa terus!" sentak Indira. Dia menatap wajah Sinta garang, tetapi yang ditatap masih saja terkekeh geli. "Kenapa?" pancing Sinta. Dia ingin melihat Indira lebih marah lagi dari ini. Andai saja ponselnya tidak sedang isi daya, dia pasti sudah merekamnya. Setelah itu, Sinta akan mengirimkannya kepada Ettan. Dia akan membuat Ettan bahagia dengan tingkah lucu Indira. Sayang sekali, hanya ada ponsel Indira di dekatnya saat ini. Tidak mungkin dia menggunakan itu, bukan? Bisa mengamuk Indira nanti. "Kalau kamu tetep kayak gini, pulang aja sana!" usir Indira membuat Sinta cemberut. Indira kemudian langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan membelakangi Sinta. Dia merasa benar-benar kesal dengan Sinta. Sementara itu, Sinta yang diperlakukan seperti itu pun hanya bisa terdiam. "Iya, yang lagi salting!" "SINTA!" *** "Loh, Ettan?" gumam Mirnawati tak percaya. Dia mengusap-usap matanya saat melihat Ettan yang tengah berdiri di depan pagar. Setelah memastikan penglihatannya tak bermasalah, Mirnawati pun segera beranjak. Dia meninggalkan sapunya begitu saja dan langsung membuka pagar. Ettan yang berada di depan pun merasa terkejut. Dia belum memanggil orang rumah sama sekali. Keadaan rumah yang masih sepi membuat Ettan memilih untuk menunggu. Dia takut mengganggu ketenangan keluarga calon istrinya. "Kamu dari tadi?" tanya Mirnawati saat Ettan menyalami tangannya. Ettan tersenyum hangat. "Mungkin udah ada setengah jam, Bu!" jawab Ettan cengengesan. Mirnawati sontak mengucap istigfar di hatinya. Selama itu dan Ettan tetap menunggu pasrah di luar? Ya ampun. "Kamu kenapa enggak masuk?" tanya Mirnawati setelah dia berada di depan Ettan. Ettan yang ditanya seperti itu pun menggaruk kepalanya. "Enggak mungkin Ettan masuk gitu aja, Bu. Nanti dikira maling," jawab Ettan masuk akal. Mirnawati mengangguk pelan. Benar juga. Di lingkungan rumahnya belum banyak yang tahu jika Ettan adalah calon suami Indira. Mereka bahkan cenderung menggunjing Indira yang beberapa kali pergi bersama Ettan. Alasannya adalah karena Ettan terlihat seperti orang kaya. Mereka menuduh Indira ingin mencari laki-laki yang bisa membiayai hidupnya. "Ouh, iya. Bener juga. Tapi kenapa kamu enggak manggil? Kan, kalau manggil pasti ada yang keluar," tanya Mirnawati lagi. Calon menantunya ini polos atau bagaimana? Ettan pasti tidak nyaman menunggu di luar. "Masih sepi tadi, Bu. Makanya Ettan tunggu di luar aja. Takutnya masih pada tidur, nanti malah ganggu lagi!" jelas Ettan tak enak hati. Meski keluarga Indira sangat terbuka padanya, bukan berarti dia bisa bertindak seenaknya. Kemudian, Mirnawati pun langsung mengajak Ettan untuk masuk. "Ayo masuk. Udah pada bangun sebenarnya, cuma masih pada diem di dalam rumah." Setelah duduk, Mirnawati pun meninggalkan Ettan. Dia akan memanggil suaminya. Sementara Ettan melongokkan kepalanya ke arah kamar Indira. Dia ingin melihat wajah cantik calon bidadarinya itu. Pasti sangat bersinar di pagi hari. "Tumben pagi-pagi ke sini, Tan. Ada apa?" tanya Farhat yang datang ke ruang tamu. Dia berjalan pelan dengan pakaian sederhananya. Ettan yang belum mendapati kehadiran Indira pun menengok. Dia menyalami tangan Farhat dengan sopan. "Mau jemput kak Indira sekalian mau kasih kabar kalau ada kemungkinan ayah datang nanti," jawab Ettan. Farhat sedikit terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka jika besan yang selama ini tidak pernah bertemu dengannya itu akan datang ke pernikahan Ettan dan Indira. Farhat tak pernah memikirkan ini sebelumnya mengingat Ettan adalah anak laki-laki yang tak mengharuskan ada wali di pernikahannya. Namun, Farhat menyambut dengan senang kabar itu. Farhat bahagia jika bisa bersilaturahmi dengan besannya. Meski ada rasa malu karena berbeda kasta, tetapi Farhat berusaha menepisnya. Farhat berpikir jika ayah Ettan tak berbeda jauh dari Ettan sendiri. Dilihat dari bagaimana baiknya Ettan, pasti itu berasal dari ayahnya. "Wah, Ayah seneng kalau ayahmu mau datang ke pernikahan kamu. Kapan ayah ngasih kabarnya?" tanya Farhat penasaran. "Semalam pas Om Burhan bilang lamaran Ettan diterima, ayah bilang diusahakan datang," cerita Ettan. Farhat mengangguk pelan. Namun, dia sedikit heran dengan cerita Ettan. "Yang nelepon pak Burhan? Bukan kamu, Tan?" tanya Farhat bingung. Kenapa harus melalui Burhan, sementara Ettan bisa menghubungi ayahnya sendiri? Lagipula hal seperti ini seharusnya Ettan sendiri yang memberitahukannya. Ettan yang harus mengatakan keinginannya pada ayahnya. Ettan yang ditanya seperti itu merasa gelagapan. Dia bingung ingin menjawab bagaimana. Hubungannya dengan sang ayah sangatlah rumit. Namun, Ettan berusaha untuk mengendalikan dirinya. Tak boleh ada yang tahu jika dirinya pun tidak memiliki kebebasan untuk berinteraksi dengan ayahnya. "Ettan sama om Burhan bagi tugas. Om Burhan semalam nelepon ayah dan Ettan mencari WO," jawab Ettan canggung. Farhat mengangguk mengerti sebagai jawabannya. Mereka berencana untuk melakukan resepsi. Sebenarnya bukan mereka karena itu adalah keinginan ayah dari Ettan. Ayah Ettan sempat berpesan kepada Burhan untuk mengadakan resepsi pernikahan Ettan jika lamaran anaknya diterima. Meski awalnya tidak bisa datang, ayah Ettan tetap akan melakukannya. Ayah Ettan ingin orang-orang tahu jika dia menyayangi Ettan. "Terus udah nemu WO-nya?" tanya Farhat lagi. Dia ingin mengetahui perkembangannya. "Udah, tapi—" "Indira, ayo cepetan! Nanti kita telat lagi!" teriak Sinta kencang mengejutkan Ettan dan Farhat yang tengah berbincang. Tak lama dari itu, Indira pun keluar dari kamar dan segera menggandeng tangan Sinta. Mereka bangun kesiangan hari ini. Indira berjalan begitu saja tanpa menyadari ada Ettan yang bertamu ke rumahnya. Dia baru menyadari hal itu saat akan menyalami tangan Ayahnya. "Kamu mau berangkat sama Sinta?" tanya Farhat bingung. Indira mengedipkan matanya dan langsung mengangguk lucu. Tentu saja dengan Sinta, memangnya dengan siapa lagi? "Loh, Ettan gimana? Dia datang ke sini mau nganter kamu!" tanya Farhat bingung. Indira langsung menengok dan mendapati Ettan yang menatap ke arahnya. Sejak kapan anak itu datang? "Aku bahkan enggak tahu kalau ada dia." "Ibu enggak ngasih tahu?" tanya Farhat. Seharusnya, istrinya itu memberi tahu Indira jika Ettan datang. Indira menggeleng. Farhat menghela napasnya panjang. Ya ampun, dia kira Indira sudah tahu Ettan datang. "Yah, Indira berangkat dulu, ya?" pamit Indira. Farhat mencegahnya. Dia melirik ke arah Ettan yang terdiam. "Kamu berangkat sama Ettan!" titah Farhat. Indira melirik ke arah Sinta dan menaikkan sebelah alisnya. "Aku berangkat sama Sinta. Ayah enggak lihat aku udah siap begini?" tolak Indira. Indira telah membuat janji terlebih dahulu dengan Sinta. Jadi, tentu saja Sinta yang harus didahulukan. Takut akan terjadi pertengkaran, Ettan pun mengeluarkan pendapatnya. "Kak Indira berangkat aja sama Kak Sinta, enggak apa-apa. Nanti aku kawal dari belakang!" putus Ettan. Indira dan Sinta langsung mengangguk setuju. Tak masalah. *** "Pakai mobil?" tanya Indira sembari melirik ke arah mobil yang Ettan pakai. Ettan mengangguk sebagai jawabannya dan langsung membukakan pintu untuk Indira. Indira masuk dengan ragu. Entah kenapa dia lebih suka menggunakan motor dibanding mobil. Mobil terasa sangat mewah baginya. "Kita pakai mobil. Aku mau memberikan yang terbaik untuk Kakak. Lagian juga mendung, kalau pakai motor kita bisa kehujanan lagi!" jelas Ettan setelah dia masuk ke dalam mobil. Ettan menjalankan mobilnya dengan hati-hati Indira mengerti. Ucapan Ettan memang ada benarnya. Hanya saja dia merasa tidak nyaman. Saat berada di perjalanan, mata Indira tak bisa bekerja sama. Dia terus saja melirik ke arah Ettan yang terlihat sangat gagah. Baru kali ini dia melihat Ettan menyetir mobil. Ternyata Ettan berkali-kali lipat terlihat lebih dewasa dan tampan. Terlebih lagi kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, menambah kadar ketampanannya. Rasa tidak nyaman yang sebelumnya Indira rasakan pun perlahan hilang. Dia terlalu asik dengan dunianya sendiri hingga tak sadar jika Ettan pun memantaunya. Jalanan sedang lenggang sehingga Ettan dan Indira sampai dengan cepat. Ettan bergegas turun dan membukakan pintu untuk Indira. Tangannya terulur untuk membantu Indira turun dari mobil. Setelah turun, mereka bergegas masuk ke dalam kantor WO. Langkah Indira sempat terhenti. Dia menatap ragu pada kantor besar di depannya. "Ettan, tempatnya besar banget," ujar Indira. Ettan melepas kacamatanya dan mengangguk. "Apa enggak cari WO lain aja? Baju di sini kayaknya mahal-mahal," tanya Indira memelas. Ettan tersenyum paksa. Sebenarnya dia juga tak menginginkan hal ini, tetapi dia juga tak dapat menentang keinginan ayahnya. "Ada beberapa WO yang ayah kasih sebagai pilihan dan ini salah satunya. Aku mau ngajak Kakak ke sini karena aku rasa ini yang paling pas untuk kita. WO ini biayanya relatif murah dan bagus," ucap Ettan membuat Indira pasrah menerimanya. Murah bagi keluarga Ettan itu sangatlah mahal bagi dirinya. Ettan dan Indira pun masuk bersamaan. Mereka langsung mengatakan tujuan mereka. Sang WO langsung menawarkan beberapa paket untuk mereka. Indira dan Ettan mendengarkan dengan baik dan langsung memilih salah satu paket yang dirasa cukup untuk mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Ettan dan Indira menyiapkan pernikahan mereka. Paket yang mereka pilih sangatlah lengkap. Selain itu, Ettan dan Indira pun sangat kompak sehingga tak ada perdebatan di antara mereka. Mereka memiliki jalan pikiran yang sama. Setelah selesai, Ettan dan Indira pun langsung beralih menyiapkan hidangan. Mereka mendatangi salah satu katering terkenal dan memesan menu untuk pernikahan mereka. Indira menginginkan menu yang sederhana dan cocok di lidah masyarakat umum. Ettan pun langsung menurutinya meski ayahnya berpesan untuk menyuguhkan hidangan Barat. Selesai dengan urusan katering, Indira dan Ettan pun bergegas pulang. Mereka akan menyiapkan daftar tamu yang akan diundang nanti. Pihak WO meminta mereka untuk segera mengirim daftar tamu agar undangan bisa dicetak. Di perjalanan pulang, Indira mengingat biaya yang dia butuhkan untuk pernikahannya. "Ettan, biaya pernikahannya mahal juga, ya!" ucap Indira membuka pembicaraan. Ettan mengangguk sebagai jawabannya. Dia sendiri sebenarnya terkejut, tetapi masih bisa ditutupi. Menurutnya, itu mungkin yang paling murah. Ayahnya menyarankan untuk menggelar pesta besar-besaran, tetapi Ettan menolaknya. "Kalau boleh jujur, sebenarnya ayah itu mau pesta yang lain. Dia enggak mau acara resepsi yang kita pilih." "Ayah mau menggelar pesta di hotel. Ayah mau semua tamunya bisa menginap di hotel. Ayah—" "Loh, terus gimana? Kita, kan, cuma nyewa gedung aja. Itu juga sampai jam lima sore. Udah gitu kita langsung pulang ke rumah," potong Indira panik. "Enggak gimana-gimana. Aku akan nego sama ayah. Toh, semuanya udah siap. Urusan di kantor agama juga hampir selesai dan tinggal menunggu hari H." Keadaan seketika hening. Indira sibuk dengan pikirannya. Mendengar semua keinginan ayah Ettan, Indira menjadi sanksi. Dia merasa jika ayah Ettan sangatlah mementingkan kasta. "Ettan, kira-kira ayahmu malu enggak dapat besan yang enggak sederajat?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD