NAYM 11 - Kedatangannya

2095 Words
"Maksudnya?" tanya Ettan bingung. Dia menghentikan mobilnya di tepi jalan dan memusatkan perhatiannya pada Indira. Indira menunduk sejenak. Jika boleh dikatakan, dia merasa sedikit tertekan dengan keinginan ayah Ettan. Dia merasa menjadi perempuan yang memanfaatkan keadaan Ettan. Ettan berasal dari keluarga kaya dan dirinya berasal dari keluarga miskin. Perbedaan yang sangat kontras. "Maksudku, apa ayah kamu mau punya menantu dan besan yang miskin? Aku tertekan, Ettan!" ulang Indira lebih jelas. Ettan terdiam sebentar. Dia berusaha memahami maksud dari Indira. Indira tertekan karena banyaknya permintaan yang diajukan oleh ayah Ettan. Indira memang belum pernah bertemu dengan calon mertuanya, tetapi dia yakin jika mertuanya adalah orang yang hidup dalam kemewahan. Pasti ayah dari Ettan itu menginginkan menantu yang bisa membuat resepsi besar-besaran. Bukan menantu seperti dirinya yang bahkan tidak memiliki cukup uang untuk membiayai resepsi. "Kakak kenapa tertekan?" tanya Ettan perhatian. Ettan menatap wajah lesu Indira. Beberapa saat yang lalu wajah Indira baik-baik saja. Dia tampak tenang meski cenderung diam. Namun, Ettan berpikir itu adalah hal yang biasa. Indira memang sering diam, bukan? Indira mengalihkan pandangannya. Dia ingin mengatakan ini, tetapi tak ada yang mendengarnya bahkan orang tuanya. "Kamu tahu aku berasal dari keluarga yang kekurangan. Aku nabung, tapi uangnya untuk bayar hutang. Sekarang aku mau nikah dan aku enggak punya cukup uang." Indira menghentikan ucapannya. Dia bingung harus mengatakan apa pada Ettan. Indira takut jika dia melanjutkan ucapannya, Ettan akan merasa tersinggung. Ettan dengan sabar menunggu Indira untuk melanjutkan ucapannya. Ettan tak akan menyela. Dia akan mendengarkan Indira hingga calon istrinya merasa benar-benar lega. "Kak, kenapa berhenti? Ayo cerita. Jangan dipendam sendiri. Mulai sekarang, kita harus belajar terbuka satu sama lain. Pernikahan kita udah dekat," tanya Ettan lembut. Indira menatap wajah Ettan yang tengah tersenyum hangat. Hatinya sedikit tenang meski hanya diberi sebuah senyuman. "Aku enggak suka Kakak nyembunyiin sesuatu dari aku. Aku mau setelah kita nikah nanti, kita harus selalu jujur satu sama lain!" tambah Ettan membuat Indira tersenyum tipis. Di dalam hatinya, Indira mulai bersyukur mendapatkan pria seperti Ettan. Sifat lembut dan sabar lelaki itu bisa membuatnya nyaman. Mungkin memang benar jika Ettan adalah orang yang ditakdirkan untuk dirinya. Buktinya saja sekarang. Ettan seperti memberinya kenyamanan tersendiri. "Aku sedikit keberatan kita mengadakan resepsi. Uangku enggak seberapa dan kamu masih kuliah. Menurutku, sayang kalau uangnya dibuang-buang. Lebih baik kita tabung untuk masa depan kita nanti," ujar Indira mengeluarkan pendapatnya. Indira menatap wajah Ettan yang langsung berubah. Ettan mengangguk kecil. Rupanya, hal inilah yang membuat Indira risau. Dia memikirkan biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan resepsi. "Aku enggak mau kalau semua biaya malah ditanggung sama keluarga kamu. Minimal kita bagi dua biayanya, tapi aku enggak ada uang sebanyak itu. Ibu sama ayah kerjanya serabutan, mana mungkin punya uang segitu dalam waktu sekejap." Indira melanjutkan ucapannya. Indira menyadarkan tubuhnya dan menatap ke luar. Ettan masih diam. Dia menunggu gilirannya untuk berbicara. Yang Indira pikirkan tidaklah benar seratus persen. Ada beberapa hal yang memang Ettan rahasikan. Namun, dia akan mengatakannya pada Indira saat ini. "Aku cuma enggak mau ngerepotin ibu sama ayah. Aku juga enggak mau jadi bahan gunjingan tetangga yang bilang kalau keluargaku matre," tutup Indira. Indira menekuk bibirnya saat mengingat gunjingan dari tetangganya beberapa hari yang lalu. Ada seorang tetangga yang sering melihat Ettan bertamu ke rumahnya. Tetangga itu menyebarkan gosip jika Indira mengincar pria yang berasal dari keluarga kaya raya. Mereka menuduh Indira menjual dirinya demi menutupi hutang-hutang keluarganya. "Kak, aku boleh ngomong?" tanya Ettan hati-hati. Indira langsung menengok dan menatap Ettan aneh. Kenapa Ettan harus meminta izin terlebih dahulu? Dia bisa langsung berbicara tanpa membutuhkan izin siapa pun. "Enggak usah nanya. Itu hak kamu. Kamu boleh ngomong, asal jangan menghina orang lain!" jawab Indira setengah ketus. Ettan terkekeh mendengarnya. Jika Indira sudah ketus seperti ini, itu artinya beban yang Indira rasakan telah hilang. Tak masalah jika terdengar menyakitkan. Yang terpenting Indira bahagia dan Ettan senang bisa membantu Indira meringankan bebannya. "Sebenarnya, uang yang aku pakai untuk biaya pernikahan itu uangku sendiri, Kak. Ayah memang kirim uang sekitar setengah milyar untuk pesta pernikahan, tapi aku enggak gunakan itu," ucap Ettan membuat Indira membulatkan matanya. Sebanyak itu? Hanya untuk pernikahan? Gila. Indira bahkan tidak memiliki tabungan setengah dari itu sama sekali. "Uang sebanyak itu dipake buat bikin pesta? Apa enggak sayang? Cari uang itu susah, loh!" tanya Indira histeris. Kerisauan yang dia rasakan mendadak hilang. Digantikan dengan rasa tak percaya. Entah sekaya apa keluarga calon suaminya itu. Yang jelas Indira tak dapat menyainginya sama sekali. "Kak, bagi ayah uang segitu enggak ada apa-apanya. Ayah punya lebih banyak dari itu. Dan karena aku ini anak satu-satunya yang kelak akan memegang perusahaan ayah juga, ayah mau semua kolega ayah di penjuru dunia tahu kalau anaknya udah nikah," jelas Ettan. Indira menggeleng tak percaya. Uang sebesar itu bagi keluarga Ettan mungkin hanyalah debu di pinggir jalan. Berbeda sekali dengan keluarganya. Hilang dua puluh ribu saja sudah geger, apalagi seratus ribu. Mereka pasti akan uring-uringan seharian. "Kamu kaya banget!" komentar Indira. Dia menatap Ettan dengan kagum. Kelihatannya Ettan sama seperti remaja pada umumnya. Dia juga tak pernah bergaya macam-macam. Namun, tidak disangka jika Ettan adalah anak dari keluarga berada. Ettan terkekeh sembari menggeleng. Menurutnya hal itu terlalu lucu. "Aku enggak kaya. Yang kaya itu ayah, Kak. Bukan aku. Selain itu, ayah juga mengelola bisnis keluarga turun-temurun dan bisnisnya sendiri. Jadi, enggak heran kalau ayah bisa punya banyak penghasilan," elak Ettan. Ettan menatap Indira yang mengedipkan matanya lucu. "Terus kamu dapat uang dari mana? Biaya pernikahan itu enggak murah, loh!" tanya Indira bingung. Jika Ettan tak menggunakan uang orang tuanya dan dia sendiri tidak bekerja, lantas dari mana Ettan mendapatkan uang-uang itu? Ettan tertawa kecil. Indira terlalu berpikir keras. "Aku kerja, Kak. Aku juga punya bisnis kecil-kecilan dan keuntungannya itu lumayan. Ditambah aku sering disuruh ngerjain tugas perusahaan dan nanti dibayar. Katanya, hitung-hitung latihan sebelum dikasih wewenang," jawab Ettan enteng. Meski Ettan selalu di rumah dan terlihat seperti pengangguran, Ettan nyatanya memiliki penghasilan. Dia menghabiskan hari-harinya dengan bekerja dan kuliah. Anggap saja mengisi rasa bosan sekaligus menabung. Karena jika memenuhi kebutuhan, Ettan jujur merasa sudah terpenuhi. Ayahnya menyiapkan banyak hal untuk dirinya. "Bisnis? Bisnis apa?" tanya Indira penasaran. "Sejauh ini aku bisnis pakaian dan pariwisata. Aku bangun beberapa penginapan sederhana di tempat wisata," jawab Ettan. Indira melongo mendengarnya. Ini yang dimaksud Ettan bisnis kecil-kecilan? Indira rasa matanya dengan Ettan memang berbeda. Dari sisi mana bisnis pariwisata disebut bisnis kecil? Indira yakin sekecil-kecilnya penginapan yang Ettan bangun, itu akan terlihat seperti hotel bintang lima di matanya. "Ada yang mau ditanyain lagi, Kak?" tanya Ettan bergurau. Indira tampak kebingungan sekaligus takjub di saat bersamaan. Wajahnya terlihat sangat lucu dan hal itu membuat Ettan ingin melihatnya lagi dan lagi. Indira mendengus kesal. Dia memalingkan wajahnya dengan tangan yang bersidekap. Rasa penasarannya tak bisa ditahan. Terlalu banyak hal mengagumkan yang Ettan sembunyikan selama ini. "Enggak." Ettan mengangguk mengiyakan setengah mencibir. Dia yakin masih ada banyak pertanyaan di dalam benak Indira. Hanya saja, Indira malu mengatakannya. Tak masalah. Setidaknya, hari ini ada interaksi berarti selain pembicaraan formal yang mereka lakukan. Ettan dan Indira semakin dekat. Ada banyak ekspresi wajah baru yang Ettan dapatkan dari calon istrinya. Hal itu menandakan jika Indira membuka hati untuknya. "Kak, lusa kita belanja perhiasan dan seserahan, ya." *** "Ettan, jangan cincin ini. Cincin ini terlalu besar untuk kamu," ujar Indira saat melihat sepasang cincin pernikahan yang indah. Indira akui cincin itu sangat cantik dan indah dibanding cincin lainnya, tetapi Indira tak ingin memilihnya. Cincinnya cukup besar di tangan Ettan. Indira khawatir jika cincinnya hilang saat dipakai nanti. Ettan menurunkan bahunya sedih. "Kak, ini bagus, loh. Cincin ini cuma kebesaran sedikit di aku, kok!" bujuk Ettan. Mereka telah lama berkeliling mencari perhiasan, tetapi tak kunjung menemukan yang cocok. Model perhiasannya terlalu rumit dan menyebalkan di mata Ettan. Ettan ingin model yang sederhana, tetapi elegan. "Kalau kegedean, nanti bisa hilang kalau kamu pakai. Kalau hilang, kan, sayang!" ujar Indira mencoba memberi pengertian. Ettan menekuk bibirnya. Dia akan mengeluarkan bujuk rayunya. "Kak, katanya kalau habis nikah itu nanti badan bisa membesar, loh. Aku yakin nanti badanku akan membesar. Apalagi Kakak jago masak dan aku suka banget masakan rumah. Kalau beli cincin yang ukurannya pas sama aku sekarang, enggak bisa dipakai lama." Indira menatap Ettan dengan cengo. Suara Ettan sangatlah keras hingga membuat pembeli lain menatap ke arah mereka. "Ettan!" tegur Indira malu. Bisa-bisanya Ettan berkata seperti itu. "Ayolah, Kak. Kalau sekarang masih kebesaran, kan, bisa aku jadikan kalung sementara. Yang penting kita tetep pakai cincinnya, kan?" bujuk Ettan lagi. Ettan menaik turunkan alisnya hingga membuat Indira jijik melihatnya. Karena tak tahan, Indira pun menurutinya. Selain cincin pernikahan, Ettan juga membeli satu set perhiasan untuk Indira. Ettan bilang itu akan menjadi hadiah pernikahan dari dirinya. Indira hanya bisa pasrah. Mereka langsung berbelanja barang seserahan dan memberikannya pada pihak WO untuk dikemas dan dihias. H-2 Pernikahan. Ettan dan Farhat bertemu di depan minimarket di dekat rumah Indira. Ettan bilang ada yang harus dibicarakan sehingga Farhat pun menyarankan untuk bertemu di minimarket yang tidak jauh dari rumahnya. "Ayah, besok dekorasinya akan dipasang dan tolong bantu Ettan mengawasinya, ya?" pinta Ettan dengan memelas. Farhat yang mendengar hal itu pun mengangguk senang. "Jangan pasang muka kayak gitu, ah. Ayah pasti bantu, kok. Kamu udah Ayah anggap kayak anak sendiri," ujar Farhat menenangkan. Farhat tahu seperti apa gugupnya menjelang pernikahan. Dia pernah merasakan hal itu, tetapi itu dulu dan ia beruntung ada orang tuanya yang menenangkan. "Besok, kan, kamu udah enggak boleh keluar sama ibu. Nanti kalau kamu butuh apa-apa, kabari aja, ya!" pesan Farhat. Ettan mengangguk lesu. Dia harus mengikuti adat istiadat yang ada. Dirinya tak boleh keluar sama sekali. Bahkan Ettan tak boleh bertemu atau menghubungi Indira sebelum pernikahan. Jadi, dia dan Indira akan terpisah. Mereka hanya akan bertemu di pelaminan nanti setelah akad selesai dilakukan. Hal itulah yang membuat Ettan sedikit risau karena dia tidak bisa mengawasi secara langsung persiapan pernikahannya. "Ayah enggak keberatan, kan, kalau ngawasin persiapannya cuma sama om Burhan?" tanya Ettan. Jika calon mertuanya keberatan, Ettan akan meminta bantuan tambahan. Dia takut jika om Burhan dan Ayah Farhat merasa kewalahan. Meski ada pihak WO yang bertanggung jawab, Ettan tetap harus mengawasinya. Dia juga harus mengontrol seluruh aspek dalam pernikahannya nanti agar tetap berjalan baik. "Tenang aja. Semua aman. Ayah sama om Burhan akan mengawasinya dengan baik." Ettan menghela napasnya tenang. Dia merasa sedikit lega. Setidaknya, dia bisa antisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ettan takut ada beberapa pihak yang tidak menjalankan kewajibannya dengan benar. "Ouh, iya. Ayah kamu udah sampai atau belum?" tanya Farhat tiba-tiba. Dia belum mendapati kehadiran besannya sama sekali, padahal pernikahan akan berlangsung dua hari lagi. Seharusnya, ayah Ettan sudah datang dan membantu putranya. "Ayah kehabisan tiket minggu kemarin dan katanya beberapa hari ini di sana lagi badai. Kalau badai, kan, enggak bisa dilakukan penerbangan!" jawab Ettan bohong. Tentu saja bukan itu alasannya karena nyatanya dia sendiri tidak tahu kenapa ayahnya belum datang. Namun, Ettan tak ingin membuat Farhat curiga. "Ouh, ya udah. Kamu jaga kesehatan. Jangan lupa makan sama tidur yang cukup." Farhat memberi pesan pada Ettan. Ettan pun mengucapkan terima kasih karena telah diperhatikan. Setelah selesai dengan urusannya. Ettan segera pamit untuk pulang. Dia menyempatkan diri mampir ke rumah makan dan memesan beberapa menu untuk dirinya makan di rumah. Seperti pesan Farhat, dia harus menjaga kesehatannya. Ettan sudah tak makan sejak pagi dan sekarang sudah menjelang malam. Dia tidak ingin jatuh sakit menjelang pernikahannya. Setelah sampai di rumah, Ettan langsung masuk ke kamar. Dia membersihkan dirinya setelah nyaris seharian berada di luar. Ettan merasa tubuhnya sangatlah berdebu. Ettan bergegas turun untuk memakan makanan yang telah dia beli setelah memakai pakaian. Sebelum turun, Ettan membawa sebuah foto yang akhir-akhir ini menjadi pemandangan favoritnya. "Cantik!" puji Ettan sembari tersenyum lebar. Matanya menatap penuh puja pada seorang gadis yang tersenyum hangat di dalam foto. Saat Ettan makan, foto itu pun dia taruh di atas meja. Ettan memakan makanannya sembari memandangi wajah cantik calon istrinya. "Kak Indira, aku bersyukur banget bisa dapat perempuan kayak kakak. Kakak mungkin galak dan judes, tapi aku tahu hati kakak itu lembut. Semoga setelah menikah nanti, kita bisa membina keluarga yang bahagia, ya, Kak." Ettan tak langsung masuk ke kamar setelah makan. Dia justru bermain ponsel dan menjawab pesan dari teman-temannya. Hampir seluruh temannya terkejut mendengar kabar pernikahannya. Ettan menanggapi dengan santai. Puas bermain ponsel, Ettan pun berjalan ke kamarnya. Dia mengantuk dan ingin segera tidur. Tengah malam, Ettan merasa tenggorokannya haus. Dia langsung pergi ke dapur untuk mengambil minum. Saat memasuki dapur, Ettan dikejutkan dengan perawakan seorang pria yang duduk di dapur. Ettan berjalan degan ragu. Dia takut jika orang itu adalah penyusup di rumahnya. Namun saat akan mengeluarkan suaranya, pria itu jauh lebih dulu berbalik. "Ettan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD