Adi PoV
Beruntung, proses pindah tangan antara aku dan Om tidak berjalan lama. Kini aku sudah berada di Bandung. Bertugas mengurusi cabang perusahaan di daerah ini.
Setelah paripurna mengurus semua perpindahan dari Jakarta ke Bandung. Akhirnya sampai lah aku di sini.
Namun maksud hati ingin menemui, tapi lagi-lagi dia menyakiti. Dia bersama laki-laki, pemandangan yang kubenci terlihat di depan diri. lagi-lagi Ayu dengan teganya berduaan dengan seorang pria tepat di depan mataku. Hawa panas menjalar di sekujur tubuh. Mengembangkan kembali angkara yang susah payah dipadamkan. Padahal sebelumnya, aku memerlukan kesiapan mental untuk bertemu dengannya. Mencari solusi yang terbaik untuk kita berdua. Namun nyatanya pemandangan ini membuatku lupa pada tujuan awalku.
Saat perih menyengat, seketika berubah saat Ayu berada dalam situasi emergency.
Harusnya kami tidak menderita andai dirinya bisa setia. Wanita ini, wanita yang wajahnya menyambangi ku di setiap sunyi, dan masih terpatri nyata di sanubari. Kini tubuhnya ada dalam dekapanku, Tergolek lemah dan terpaku. Rasa iba kembali menyusup di dalam jiwa, kala melihat dirinya yang kini terluka.
Ayu, dirinya mampu memporak porandakan pertahanan jiwa, membawa diri ke dalam nestapa.
Sesampainya di rumah sakit, Ayu langsung masuk ke ruangan UGD. Tubuhnya sudah terkulai lemas. Rasa iba kian mengembang. Jika dia tak setega ini, ingin rasanya aku memeluknya, mentransfer energi cinta kepada wanita yang sedang berjuang itu.
Setelah brankar masuk sempurna ke ruang UGD. Dokter langsung memeriksanya dan mengabarkan kepadaku.
“Ketubannya sudah hampir habis Pak. Pasien harus melakukan persalinan caesar,” jelas dokter yang menangani Ayu.
“Namun tetap saja ini high risk. Jika harus memilih, mana yang bapak selamatkan. Ibunya atau anaknya?”
“Ibu-nya” ungapku kilat, tanpa butuh waktu berpikir. Bukan karena aku ingin mendepak jauh bayi itu. Siapa lah diri ini yang dapat menolak ciptaan sang khaliq. Namun, beginilah cara kami kaum pria. Logis dan cekatan. Saat di ambang pilihan maka kami akan memilih secara rasional. Sama dengan hal nya hari itu saat fakta Ayu tidak mengeluarkan darah. Apalagi yang bisa kupercaya selain fakta dan logika?.
Anak, Ayu bisa mendapatkannya lagi nanti, jika sang khaliq menghendaki. Namun dirinya? Jujur hatiku masih mendamba meski berulang kali Ayu menoreh luka.
Maaf jika Ayu terluka. Caraku memang berbeda, ucapanku yang setajam silet adalah cara alamiku menjaga harga diri saat diri tak dihargai. Ayu sudah kadung banyak mengoyak harga diriku sebagai seorang lelaki.
***
Waktu terus melapuk, bergulir bersama khawatir. Setengah jam berlalu. Proses Caesar itupun paripurna. Bayi laki-laki dengan berat 3 kg itu pun hadir ke dunia, membawa bahagia juga duka.
Ya, duka untukku yang masih belum bisa menerima bahwa Ayu melahirkan bayi yang bukan anakku.
Aku masih terpaku memperhatikan wajah bayi itu. Sampai perawat menginterupsi lamunanku.
“Silahkan adzanin Pak.” Aku gelagapan. Haruskah aku yang mengazaninya? Sedangkan bapak biologisnya bukanlah aku. Harusnya laki-laki tadi yang mengadzani anak ini. Bukan aku.
Ayu melihatku pilu saat aku masih saja bergeming.
“Biarkan bapak dari anak ini yang mengadzani, aku tidak punya hak,” tegasku. Para petugas saling bertukar pandang. Aku tahu apa yang mereka pikirkan. Aku datang bagai sebagai suami, tapi bukan sebagai bapak. Konyol memang.
Ayu membuang wajahnya saat kalimat itu keluar dari mulutku. Bukan salahku, aku memang tidak memiliki hak. Laki-laki yang sedang menunggu di luar sana adalah bapak biologisnya. Harusnya dirinya yang mengadzani.
Aku tetap bergeming. Membiarkan semua petugas medis membereskan alat perangnya. Sedang Ayu masih enggan melihat ke arahku. Tatapannya tertuju pada bayi kecil yang wajahnya di d******i dirinya.
Kini Ayu sudah berada di ruangan rawat inap. Aku keluar. Di luar kucari laki-laki berkulit sawo matang itu, dan kulihat dirinya dengan bersandar di sebuah pilar.
“Masuk, adzani anakmu,” titahku padanya.
Entah apa yang salah, kulihat matanya kembali memerah. Sudahlah, aku lelah. Pelipisku masih lukanya masih basah, aku malas kembali bergelut dengannya.
“Kamu belum mengazaninnya?" tanyanya, kudengar nada suaranya menahan geram. Tangannya mengepal sempurna. Namun sebelum kepalan itu kembali melayang, wanita yang ada di sampingnya terlebih dahulu mencegahnya.
“Untuk apa aku mengadzani anak itu jika Bapaknya saja ada di sini,” kilahku padanya.
“Aku pastikan dirimu menyesal." Lelaki itu menjawab lugas penuh penekanan, sebelum dirinya benar-benar pergi berlalu melewati diriku.
Tidak peduli. Aku memilih untuk pergi ke kantin. Meregangkan otot-otot yang sedari menegang. Kusesap teh hangat yang tadi ku pesan.
Tertawa, aku ingin tertawa. Mentertawakan diri sendiri. Untuk apa sebenarnya aku di sini. Seharusnya aku pulang. Wanita itu telah bahagian bersama selingkuhannya. Lalu aku? Hanya menjadi penonton yang gigit jari.
“Boleh aku bergabung?” Suara seorang wanita tepat di sampingku terdengar. Aku mendongak. Wanita tadi, wanita yang sedari tadi bersama dengan pria b******k tadi.
“Silahkan.”
“Seharusnya bukan teh, tapi coklat hangat”
Kedua alisku beradu. Apa maksudnya datang-datang membandingkan antara teh dan coklat.
“Coklat mempunyai senyawa serotonin yang berfungsi sebagai anti depresi. Kurasa anda sedang butuh itu.”
“Bagaimana aku tidak depresi saat istriku memiliki laki-laki idaman lain. Parahnya sampai memiliki anak dari laki-laki itu.”
“Laki-laki mana yang anda maksud?”
“Yang bersamamu."
“Dia sepupuku.”
“Baguslah. Bisakah kau nasehati dia agar tidak keluar dari norma.” Aku memutar mataku jengah.
“Mana bisa Roy menghamili wanita yang saat pertama bertemu saja sedang hamil."
“Maksudmu?”
Wanita itu tidak langsung menjawab. Dia memilih untuk menyesap minumannya sekejap sebelum akhirnya membuka suara.
Tatapan wanita itu terlihat tenang namun dalam.
“Saya dan Roy berjumpa dengannya saat saya dan Roy pergi ke Jakarta. Di sanalah kami menolong wanita malang itu. Cih, kasian. Jiwanya terguncang. Yang sialnya saat itu aku dan Roy justru harus menungguinya beberapa hari di rumah sakit. Jadi menurut anda, bisakah wanita yang sedang hamil lalu dihamili?”
Deg
Aku masih terpaku, mencerna untaian kalimat yang keluar darinya.
“Anda orang pintar dan berduit. Dari pada terus bergelut dengan prasangka, kenapa anda tidak tes DNA saja.”
“Maksudmu?”
Dia mengangkat bahu, “Siapa tahu itu anak anda,” jawabnya.
“Wanita itu selingkuh. Sekalipun pria itu bukan sepupumu. Faktanya hubungan ini hancur karena dirinya," ucapku tegas.
***
Aku berjalan dengan menyusuri koridor dengan d**a yang kian sesak. Ucapan wanita tadi memenuhi pikiranku. Jika bukan anak pria tersebut lalu anak siapakah itu? Tidak. Aku yakin itu bukan anakku. Masih teringat jelas di memoriku bagaimana seseorang berucap rindu.
Seseorang jelaskan padaku, salahkan aku bila memiliki amarah menggebu saat rumah tanggaku ditempeli benalu.
Kubuka handel pintu ruangan tempat Ayu terbaring lemah. Kulihat wajahnya yang pucat pasca berjuang melahirkan. Tega kah aku menginterogasinya saat ini, tapi...
Ayu menoleh ke arahku, tatapannya kian sendu.
“Anak siapa itu?” Duh mulut, sudah ditahan tetap aja lolos juga
Ayu bergeming, tidak menjawab. Ia banting wajahnya ke sudut yang lain dan mengabaikanku. Terlanjur, semakin kuserang dirinya dengan rentetan pertanyaan.
“Anak siapa itu. Jika pria itu bukan ayah biologisnya. Lalu anak siapa itu? Kemana pria yang menyetubuhimu sebelum aku? Dia kah ayahnya?” cecarku sengit.
“Yang pasti ini bukan anakmu.” Akhirnya wanita itu menjawab juga. Terbuka sudah tabir ini. Wanita di kantin tadi bilang aku perlu melakukan DNA. Untuk apa? Wanita itu kini mengakui itu bukan anakku.
“Ke mana laki-laki b******k itu. Meninggalkanmu? Malang sekali nasib anak itu mempunyai ayah yang b***t," sarkasku.
“Kamu benar. Ayahnya b***t, sangat b***t hingga aku berharap tidak melihatnya lagi di dalam hidupku.”