Ayu PoV
"Kamu jadi, kan cuti hari ini?" tanya Ratih dengan picingan matanya. Ini pertanyaan ke sekian setelah berulang kali ia menanyakan hal yang sama. Bukan salahnya. Aku memang yang sedikit mengulur waktu hak cutiku.
Aku mengangkat bahu sebagai jawaban. Memilih menggodanya.
"Demi Tuhan Yu. kalau kamu lahiran di sini aku mending pergi. Gak akan aku tolongin kamu. Berat," celetuknya yang membuat aku terkekeh.
"Ya ampun. Iya, Tih, hari ini. Tadi siang aku malah udah ngomong sama pak Damar."
"Syukurlah." Ratih menarik nafas lega. Sungguh ke khawatiran yang berlebihan. Namun, aku menyukai caranya. Ketika dirinya seperti itu, rasanya seperti ada seorang kaka yang melindungiku.
Selama hidupku, aku tak pernah merasakan memiliki seorang kaka. Karena pada kenyataannya aku adalah anak tunggal. Orang tuaku meninggal dunia saat kecelakaan terjadi, hanya aku yang selamat dari insiden tersebut.
Pasca orang tuaku meninggal, aku di urus oleh tante dari Ibuku. Sayangnya itu tak bertahan lama, karena beberapa bulan setelahnya tante mengusirku setelah berhasil menguasai seluruh harta orang tuaku. Membiarkanku terlunta-lunta, hingga pada akhirnya takdir membawaku ke pada panti asuhan tempatku dibesarkan.
Jam sudah menunjukan pukul 17.00 WIB. Kami para sukarelawan yang berjaga siang hari akhirnya pulang, bergantian dengan beberapa petugas yang berjaga di malam hari.
Melangkahkan kaki dari dalam gedung yayasan setelah berpamitan kepada semua orang yang berada di sini. Termasuk pada Nek Odah yang terlihat sangat sedih mengetahui aku akan cuti.
"Kalau cucu Nenek lahir pokoknya Nenek pengen lihat." Nenek odah ngotot, dan mengancam tidak mau makan kalau sampai tidak dipertemukan dengan anakku. Aku tersenyum menimpali.
"Tentu saja, Nenek boleh nengok cucu Nenek."
"Jaga cucu nenek ya." Nek odah mengelus perutku seraya berkata, "Umar jangan nakal ya!"
"Ko umar Nek?"
"Nenek kasih nama Umar. biar tangguh kaya sayyidina Umar."
"Aamiin. Ayu pamit ya Nek." Nenek odah memelukku erat seolah ini adalah pertemuan terakhir kami.
***
Sebentar lagi jingga akan berganti kelam. Aku bergegas pulang setelah seharian bergulat dengan aktivitasku di yayasan. Ini hari terakhirku bekerja sebelum esok aku benar-benar beristirahat di rumah, menyiapkan segala keperluanku untuk menyambut bayi yang kutunggu kehadirannya sembilan bulan lamanya.
Berjalan menyusuri trotoar jalan. Ku hirup udara sore Bandung. Seperti biasa, terasa segar. Berbanding jauh dengan Jakarta yang apabila subuh saja sudah nampak kabut polusi di aplikasi gawai. Sekritis itu polusi di Ibu Kota.
Terkadang aku merasa beruntung terdampar di sini, setidaknya udaranya masih layak untuk dihirup.
Aku terus berjalan maju, memasuki gang pemukiman. Melewati kumpulan anak-anak yang ramai bermain kelereng, sebelum akhirnya sampai ke satu rumah di sudut gang.
Ada seseorang di sana yang membuatku hanya ingin bergeming.
Dia pulang?
Laki-laki berkulit sawo matang, mempunyai rahang yang tegas juga tubuh yang atletis tampak menyandarkan tubuhnya di sisi pilar. Sesekali pandangannya tertuju kepada jam di tangannya, juga dengan kaki yang dihentakan ke lantai beberapa kali.
Kutarik napas perlahan. Kuteruskan langkahku yang semakin terasa berat.
Di sebrang sana dirinya mulai menyadari kehadiranku. Netra kami bertemu. Ada pijar dalam tatapannya. Sesuatu mulai terasa menjalar meraba kalbu. Kami tertegun bersamaan, sama-sama terdiam, dan—
“Apa kabar?” tanyanya mendahului.
Ah demi apapun. Tubuhku seakan tersedot ke dalam pusara air. Tatapannya, aku benci tatapannya, tatapan mendamba yang membuat semua wanita menggila.
Apa aku bilang? Menggila? Bangun Ayu! Bangun.
Ah, Wanita kenapa mudah sekali terjebak ke dalam pusara cinta.
“Baik.” Baik jawabku kaku.
Lama kami bergeming. Hanyut dalam kecanggungan masing-masing.
“Bukankah harusnya kamu menawariku duduk?” tanyanya jenaka yang membuat kesadaranku kembali terjaga.
“A...ah...Ya. Duduk lah. Maaf. Biar kubuatkan teh hangat,” jawabku lalu berlalu meninggalkannya ke dalam.
Aku meraba d**a. Ada getar aneh yang tercipta kala laki-laki yang pernah menawarkan air telaga hadir di depan mata.
Inilah sebenarnya alasanku mengabaikannya? Karena aku sendiri tidak mampu membaca rasa?
Aku menggelengkan kepala cepat. Segera aku buatkan teh yang sudah kujanjikan tadi.
Membawa nampan berisikan minuman. Kuturunkan benda panas itu di meja tepat di sebelah tempat Roy mendudukkan pantatnya.
Dan Byur....
Drama pun terjadi kala teh itu justru tumpah ke bahu kiri Roy. Perut yang kian membesar lumayan menyulitkan gerakku. Aku tak mampu membungkuk sempurna hingga menyebabkan kecelakaan ini. Celaka, teh panas itu mengenai tubuh Roy.
“Maaf,” lirihku, sambil kutepuk-tepuk bahunya.
“Panas?” tanyaku. Dia menggeleng.
Bohong, kulihat kulit di sebelah leher bawahnya memerah
“Buka bajumu,” titahku.
“Hah? Secepat itu?” tanyanya menggoda. Aku memutar mata malas.
“Bukalah, aku ambilkan P3K dulu di dalam.” Dia terkekeh melihat aku yang melemparkan mata malas kearahnya.
Aku masuk mengambil kontak P3K yang kusimpan di atas nakas. Lalu keluar hendak mengobati kulitnya yang memerah.
Mula-mula kubersihkan lukanya dengan air es, lalu kuberikan salep untuk luka bakar. Namun saat tanganku sedang mengoleskan salep di kulitnya, seseorang datang dan berkata dengan sarkasnya.
“Oh, jadi begini? Cih kelakuanmu tak ada rubahnya.” Tubuhku membeku menyadari suara siapa dibalik punggungku.
Hal yang kutakutkan benar-benar terjadi. Laki-laki itu hadir kembali, laki-laki yang pernah menggores prasasti janji sehidup semati, tapi tak ia tepati.
Tolong, jangan saat ini. Aku belum siap. Menghadapi mulut bak siletnya, juga menghadapi diriku yang masih memintal rindu. Dirinya di hatiku bagai benalu yang terus menempel kepada inangnya. Ingin kulempar jauh, tapi tak bisa.
“Hai bung, kamu siapa?” Roy meringsek bertanya
“Tanyakan siapa aku kepadanya,” jawabnya. Jelas kepadanya yang ia maksud adalah kepadaku. Seketika mata Roy memutar ke arahku meminta jawabku.
Aku masih terus bergeming. Tatapanku berkabut saat hatiku kian kalut.
Seolah Roy mengerti, kini atensinya kembali ke arah laki-laki itu. Sedang aku masih setia memunggunginya.
“Awalnya aku ingin percaya padamu. Setelah dengan elegannya kamu pergi tanpa menerima uang dariku hari itu. Kupikir aku yang salah. Namun setelah semua ini, masihkah harus aku merasa salah?” cecarnya. Ingin rasanya kututup saja telinga ini dari ocehannya. Sialan, harusnya aku yang berucap seperti itu. Dia yang b******n, dia yang selingkuh dan menjadikan aku seolah orang yang bersalah.
Terkadang aku tak menyangka jika laki-laki juga bisa berkata bengis. Kupikir hanya Kami para wanita yang Tuhan berikan bakat macam itu.
Aku hanya bergeming, membiarkan dirinya terus mengeluarkan racun di dalam mulutnya.
“Semurah itu harga dirimu, Yu. Aku....”
Bug.
Suara bogeman mentah terdengar di balik punggungku. Suara Mas Adi menggantung di udara berganti dengan suara gulat dua gladiator.
Lekas aku membalikan tubuh kearah kedua manusia yang sedang sama-sama diterpa amarah itu. .
Bug.
“Ini untukmu pria b******k yang sudah menelantarkan istrinya.”
Bug,
“Dan ini untukmu yang menyebutnya sebagai w************n"
Kulihat Mas Adi tak mau kalah, ia meringsek maju menghantam Roy hingga mengenai rahang pria tersebut.
Aku memekik melihat pergulatan mereka. Mencoba meringsek masuk di antara keduanya. Namun kabut api di mata mereka seolah membuat keduanya buta akan kondisi di sekelilingnya.
Aku tersungkur, terhuyung karena pergerakan mereka. Tubuhku terpental, menciptakan rasa sakit yang luar biasa.
Perutku, kenapa rasanya keram. Semakin lama sakitnya semakin menggigit.
Aku memanggil lirih kepada dua orang tersebut. “Tolong.”
Dan lagi, mereka dibuat tuli oleh amarah yang kian membakar sukma mereka masing-masing.
Aku meraih kaki kursi di belakangku, berusaha agar bangkit dari lantai. Pasrah sudah membiarkan tubuhku digigit rasa sakit yang teramat.
“Kalian bodoh?” Seseorang dari jarak kurang dari 1 meter memekik. Membuat kedua orang itu berhenti seketika dari pergulatannya. Kulihat Roy menyeka darah di sudut bibirnya, pun dengan Mas Adi yang terlihat lebih parah.
Dilihat dari keduanya, Mas Adi bukanlah saingan Roy. Roy berperawakan atletis. Pekerjaannya lautan membuat ototnya terbentuk.
“Pantas saja pirasatku mengatakan aku harus ke sini. Rupanya dua manusia sok jagoan ini sedang melakukan pertarungan. Waw elegan sekali cara kalian. Tidak sekalian aja ikut MMA?” sarkas ratih ke arah mereka. Bersyukur Ratih datang menjadi penolongku. Aku semakin meringis kesakitan.
“Kalian bodoh? t***l? Bego? Atau buta? Kalian tidak lihat kondisi Ayu yang sekarat hah” ucapnya penuh dengan nada kesal. Kini mataku sudah terasa berat. Yang kudengar hanya sayup-sayup suara dari ketiga orang tersebut, juga pandangan yang mulai remang.
Entah apa ekspresi pasti mereka. Yang aku rasakan adalah tangan seseorang hendak meraih tubuhku.
“Lepas, biar aku saja.”
“Aku suaminya.”
“Suami yang bajingan."
“Hentikan!” suara ratih kembali menginterupsi perdebatan dua orang laki-laki tersebut.
“Biarkan dia, Roy.”
“Tapi, Tih.”
Pada akhirnya Mas Adi yang menggendong tubuhku. Tampak suaranya yang terasa khawatir. Benarkah ia menghawatirkan ku? Atau aku yang hanya terlalu berharap.
Selama perjalanan ke rumah sakit, dalam lemahku. Pikiranku berkelana pada masa-masa indahku bersamanya. Mungkinkah semua akan kembali membaik setelah buah cinta kami hadir ke dunia?
***