Yang Datang dan Pergi

1992 Words
Terapung di lautan lepas selama berbulan-bulan adalah rutinitas Roy setiap harinya, bergulir dengan waktu kesehariannya hanya memandangi angkasa lepas dan lautan yang menghampar, terlihat secara visual tanpa batas. Duduk di dek luar. Hari ini Roy boleh senang, karena beberapa radius lagi daratan akan terlihat, dan air yang berasa asin tepat di bagian bibir pantainya akan beriak. Hari yang ia tunggu akan tiba, bertemu dengan wanita yang ia rindukan berbulan-bulan lamanya. Roy sempat tidak percaya bahwa cinta akan kembali menyapa relung hatinya, setelah ia pernah gagal menahkodai sebuah kapal, kapalnya karam tak tertolong. Roy kira cinta akan cukup menjadi bahan bakar untuk membawa kapalnya sampai ke haluan, ternyata itu saja tidak cukup. Roy lupa untuk menyiapkan sekoci untuk bisa menyelamatkan penumpang dari kapalnya. Sejak saat itu dia tak lagi mempercayakan dirinya untuk kembali menjadi seorang kapten dalam pelayaran berhaluan akhirat itu. Tak dinyana, seorang wanita malang datang dan dengan mudahnya dapat mendobrak hatinya yang sempat ia kunci rapat. Roy bergidik ngilu, saat dirinya pernah menonton sebuah film, berisikan cerita seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang laki-laki pada pandangan pertama. Bak gayung bersambut pria itu pun menyukainya. Singkat cerita cinta mereka bersemi indah, tapi di tengah jalan mereka tidak direstui, membuat si wanita depresi berat hingga bersedia menjadi istri ke dua bagi pria itu yang ternyata sudah menikah terlebih dahulu. Wanita itu semakin bertambah sakitnya mana kala tidak menerima cintanya dibagi dua. Cerita yang memuakkan, cerita klise bagi merek kaum rasionalis. Bagaimana bisa... seseorang bisa sangat tergila-gila hanya dalam satu kali pandangan saja?. Bagaimana bisa ... seseorang bisa mengesampingkan logikanya? Bukankah hanya manusia yang bodoh yang mau diperdaya cinta. Sial seribu sial justru kini Roy adalah satu diantara banyak manusia bodoh yang diperdaya cinta. Mata bulat, surai indah itu dapat mengubah dunia Roy dalam satu jentikan saja bak jentik tangan Thanos. Berbeda dengan kisah di film. Ceritanya cintanya tak bersambut. Roy mengusap layar bercahaya di tangannya, Signal sudah mulai masuk ke dalam gawai-nya. Tanda bahwa sebentar kapalnya akan berlabuh. Ia buka histori chat-nya bersama dengan wanita itu [Apa kabar?] [Kamu baik?] [Aku merindukanmu] [Apa tidak ada kesempatan untuk kita bersama. Sungguh ,Yu. Apa yang aku minta bukan bualan sematan] Sekian banyak untaian pesan indah tercipta dari jemari tangan Roy, tidak satupun pesannya wanita itu balas. Roy hanya bisa tersenyum dan kemudian mentertawakan kebodohannya yang terus mengejar wanita yang masih bersuami tersebut. Norma memang tidak mengizinkan rasanya terus tumbuh bak pohon yang terus menerus rindang, tapi salahkah jika Roy ingin membawa wanita itu kedalam cinta mewahnya. Jahat, kah dirinya jika dalam sholatnya terucap doa agar wanita itu menjadi miliknya seutuhnya. Meninggalkan bayang-bayang laki-laki yang sudah membuatnya menderita dan menggantikan dengan dirinya dengan cinta yang lebih nyata. Atensi Roy kembali kepada benda pipih tersebut, kelasi kapal itu menghubungi seseorang yang menjadi kaki tangannya untuk mengetahui kabar tentang wanita yang ia damba itu. “Assalamualaikum.” “ Wa'alaikum salam. Hai jagoan, sudah berlabuhkah?” “Sebentar lagi. Bagaimana kabar dirinya?” “Kabar siapa?” “Yang pasti aku tidak menanyakan kabar dirimu.” Roy mendengkus kesal, sepupunya masih saja mengejek dirinya yang kini menjadi b***k cinta. “Jadi aku sudah tidak penting lagi?” “Kalau tidak penting tidak akan aku bersusah payah aku membawakan kamu oleh-oleh.” “Waw, benarkah? Oleh-oleh apa yang kamu bawa?” “Mermaid dari lautan Antartika.” “Sialan.” Roy tertawa renyah mendengar suara penuh kekesalan di sebrang sana. "Serius, bagaimana kabarnya?” “ Ayu baik, sebentar lagi dia akan melahirkan, cepatlah pulang.” “Aku pasti pulang, sebentar lagi berlabuh. Baiklah aku tutup dulu. Wassalamualaikum.” “Hanya begitu saja? Mana oleh-olehku sia—" Tut...tut..tut Dial telepon pun Roy matikan sambil dirinya cekikikan telah membuat sepupunya kian murka. Roy kembali menghela napas panjang, pandangannya lurus ke atas cakrawala luas sana, tepat di atas burung-burung yang berterbangan membentuk pola.. Sama dengan Ayu, pikiran Roy melayang ke delapan bulan yang lalu saat dirinya dan Ratih sedang ada keperluan ke Jakarta. *** Dari kejauhan Roy melihat sesosok perempuan sedang berjalan dengan tatapan kosong. “Roy, bantu wanita itu. Dia hendak menyebrang, tapi kenapa matanya terlihat kosong?" Roy pikir hanya dirinya yang berpikir demikian, rupanya Ratih Pun melihatnya demikian. Dengan cekatan Roy menghampiri wanita itu yang hendak menyebrang, kalau saja ia telat sedetik saja mungkin wanita itu sudah gepeng terlindas truk. “Astaghfirullah, Mbak sadar, mbak.” Wanita itu justru terkulai lemas, jatuh tepat di depan d**a bidang milik dirinya. Serta merta Roy dan Ratih membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat. Dokter memberi tahu Roy bahwa wanita itu sedang hamil muda. “Selamat ya Pak, istrinya hamil sudah 4 minggu.” Mendengar ucapan selamat dari Dokter Roy tercekat ‘Mati aku, kenapa jadi aku disangka suaminya si’ Roy hanya membalas ucapan Dokter dengan senyum kikuk. Besok harinya wanita itu yang baru ia ketahui namanya Ayu telah siuman. Namun ada yang salah dengan Ayu, pandangannya tetap kosong. Sesekali dirinya terisak entah menangisi apa. Sering kali Roy maupun Ratih mengajaknya berinteraksi lalu menggali informasi. Namun nihil, Ayu tetap saja terdiam dan terisak. Ratih mulai geram, berhari-hari ia di kota besar hanya untuk mengurus seseorang yang tidak terlalu mereka tahu siapa keluarganya. Di kartu tanda pengenalnya memang tertera nama serta alamat, tapi tidak mungkin mereka harus membawa pulang wanita itu saat itu mengingat kondisinya seperti itu, Dokter bilang kejiwaannya tergoncang, maka disarankan untuk Ayu masih tetap harus di rumah sakit agar bisa terpantau perkembangannya. Selain kartu tanda pengenal mereka tidak menemukan satu kontak pun karena ternyata di tas nya tidak terdapat ponsel. “Sudahlah Roy, kita pulang saja. Kita juga gak kenal dia.” Ratih mulai bersungut-sungut kesal ketika Roy menginginkan untuk tetap berada di rumah sakit ini sampai Ayu bisa kembali kepada keluarganya. “Kamu tega meninggalkan dia? Lihatlah kondisinya.” Ratih hanya mendengkus kesal, lalu kembali ke ruangan tempat Ayu dirawat. Sudut bibir Roy membentuk perahu meski samar, Roy tahu bahwa Ratih berhati lembut, meski sepupunya itu tipe orang blak-blakan, tapi hatinya lembut. Di dalam ruangan rawat Ratih mendekati Ayu yang masih setia dengan lamunannya, “Kamu tahu kamu hamil? Jika kamu begini terus bagaimana nasib anakmu. Bukankah itu hanya akan menyiksanya? Ayolah, seberapa berat pun masalahmu, janin itu tetap tidak bersalah, tidak seharusnya kamu menghadirkan jiwa yang mendung untuk dirinya. Lagipula aku pun sama punya anak, aku harus pulang ke Bandung, anakku menunggu. Namun si bodoh itu malah meminta kami untuk tetap menunggumu di sini. Sampai kapan? Segeralah sembuh. Kami tidak mungkin terus berada di sini terlalu lama. Jangan menjadi egois seolah kamu yang paling menderita.” Dari balik kaca ruangan Roy memperhatikan sepupunya yang terus bersungut-sungut, tapi ada yang berbeda, tatapan Ayu tidak lagi kosong. Ayu terlihat mengeluarkan anak sungai, bukan seperti biasanya. Kali ini tangisnya berbeda. Roy segera menyelinap masuk ke dalam ruangan. “Kamu sadar? Syukurlah. Kami yang membantumu kemarin,” ucap Roy “Terimakasih,” jawab Ayu pada saat itu, kata pertama yang keluar setelah sekian lama ia bungkam dan sibuk dengan alam bawah sadarnya. “Syukurlah, akhirnya kamu sadar jadi kami bisa membawamu pulang ke keluargamu. Baiklah aku akan memberi tahu dokter dan menyelesaikan administrasi semoga kamu bisa pulang hari ini juga,” ungkap Roy lalu pergi hendak melangkah ke luar ruangan. Tangan Ayu justru bertaut pada tangan Roy menahannya untuk keluar. “Bisakah saya ikut kalian, mungkin bekerja pada kalian. Saya tidak ingin pulang ke sana.” Tatapannya penuh dengan permohonan membuat Roy maupun Ratih saling melempar pandang *** Ayu tidak mengambil selembar pun uang yang di lemparkan Adi tepat di wajahnya, ia berlalu hanya membawa koper berisikan pakaian dan beberapa lembar surat-surat penting di dalamnya. Meninggalkan pekarangan rumah tempat di mana Adi masih berdiri garang. Terlihat Adi tersinggung saat gumpalan benda berwarna merah itu tak ikut serta dalam kepergian Ayu. Berbekal sedikit tabungan yang ia miliki, Ayu menyewa sebuah kontrakan petakan. Ia berada di tempat itu sambil mencari pekerjaan. Walau bagaimanapun ia akan bekerja, tidak ada pilihan lain. Menghubungi Adi saat itu hanya akan membuat Adi semakin yakin bahwa Ayu benar-benar menginginkan hartanya. Ayu pun tidak memilih untuk pulang ke panti asuhan. Sudah cukup sejauh ini dia hidup di sana, tidak ingin kembali merepotkan Ayu memilih untuk berdikari. Sebulan berlalu. Hidup di Ibu Kota tidaklah mudah, biaya yang melambung setiap tahunnya pun menjadi alasan betapa semakin sulitnya bersaing di tempat banyak polusi tersebut. Semua tabungan Ayu sudah terkuras habis untuk memenuhi segala keperluannya. Harapan terakhirnya adalah handphone yang ia miliki saat itu, Ayu berniat menjualnya untuk biaya hidup beberapa minggu ke depan. Ayu bergegas ke counter handphone di tempat terdekat. Berjalan di bawah sinar matahari yang semakin terik, menciptakan peluh di pelipisnya. Setelah selesai transaksi dan berhasil membawa beberapa lembar uang hasil dari penjualan gawai-nya. Ayu bergegas pergi ke swalayan untuk mengisi keperluan pokoknya di sana. Dari sebrang rak swalayan terdengar suara pria yang seperti ia kenal. Sedikit matanya menerobos ke sebrang rak sana dengan sedikit menggeser benda yang menghalangi. Mata Ayu terbelalak saat tahu siapa pria tersebut. Pria yang sedang berbelanja dengan seorang wanita cantik, sangat cantik, bahkan jauh dari dirinya yang sangat terlihat biasa. Pasangan itu sedang berbincang prihal apa saja yang akan mereka beli. Hati Ayu bagai diremas. Pria itu adalah Adi, begitu teganya Adi terhadap dirinya. Apakah ini rencana di balik diusirnya dirinya? Adi ingin hidup bersama wanita itu dan mendepak dirinya. Tak mampu terlalu lama melihat pemandangan menyakitkan itu Ayu segera berlari ke luar swalayan. Ayu terus berlari dengan rinai air mata yang terus membasahi pipinya. Membawa segudang rasa perih yang terus mengiris setiap detiknya. Terus berlari hingga ia tidak mengingat lagi apa yang motoriknya lakukan. Tatapannya kosong. Bagi sebagian orang berpikir bahwa mereka lemah iman apabila tidak sanggup menanggung sebuah ujian. Tapi bagi sebagian yang lain, ini bukan tentang iman, tapi tentang kerapuhan jiwanya. Umumnya wanita memiliki jiwa yang rapuh secara psikologis. Itu pula yang menjadikan Syetan semakin gencar menghasut para wanita. Ayu tidak sekuat itu, dia lemah. Jiwanya tak sekuat baja. Berhari-hari ia masuk ke dalam bawah alam sadarnya, mengikuti dan terhanyut lorong waktu tanpa muara hingga ucapan seseorang menggapai kesadarannya. “Kamu tahu kamu hamil? Jika kamu begini terus bagaimana nasib anakmu. Bukankah itu hanya akan menyiksanya? Ayolah, seberapa berat pun masalahmu, janin itu tetap tidak bersalah, tidak seharusnya kamu menghadirkan jiwa yang mendung untuk dirinya. Lagipula aku pun sama punya anak, aku harus pulang ke Bandung, anakku menunggu. Namun si bodoh itu malah meminta kami untuk tetap menunggumu di sini. Sampai kapan? Segeralah sembuh. Kami tidak mungkin terus berada di sini terlalu lama. Jangan menjadi egois seolah kamu yang paling menderita.” Deg Ucapan itu cukup menohok dirinya. Dirinya hamil? Benarkan? Dan dirinya egois?. Tidak! Tidak boleh begitu, anaknya tidak bersalah. Dia harus melawan, harus mencari jalan keluar dari lorong waktu yang mengikat jiwanya. Hingga pada akhirnya dia berhasil keluar dan tersadar. Hal pertama yang ia tatap adalah seorang pria yang di hadapannya, menanyakan kesadarannya. Ucapan terimakasih Ayu ucapkan pada mereka, kedua orang yang telah membantu dirinya. Namun manakala pria tersebut mengatakan bahwa mereka akan membawanya kembali ke rumahnya Ayu tercekat. Tidak! Ia tidak menginginkan. Ayu menolak untuk kembali ke neraka tersebut. Entah ide itu muncul dari mana, Ayu meminta tolong. untuk mereka membawanya ikut serta ke Bandung. Awalnya mereka terlihat bingung, saling bertatapan satu sama lain. Namun pada akhirnya mereka membawa serta Ayu. Di bandung Ratih membawa Ayu bergabung di yayasan panti jompo. Ayu tidak masalah dengan itu, karena sebelumnya Ayu memang terbiasa dengan yayasan panti asuhan tempatnya di besarkan. Sebulan sebelum pelayaran Roy kembali. Roy banyak membantu Ayu. Pernah satu pekan Roy meminta untuk mendampingi Ayu saat pemeriksaan kandungannya, meski Ayu menolak dirinya tetap saja bersih keras mendampingi. Banyak hal yang Roy lakukan untuk Ayu, bukan tanpa arti. Ya, Roy telah terpikat pesona wanita yang tengah mengandung itu. Menyadari apa yang Roy rasakan membuat Ayu mundur secara pelan-pelan, tidak banyak harapan yang Ayu sematkan untuk laki-laki bertubuh atletis tersebut. Tidak peduli, Roy terus mengembangkan perasaannya hingga perasaannya tumbuh semakin rindang. Dan hari ini mereka akan bertemu. Kira-kira apa yang akan terjadi kelak saat cinta segi tiga itu bertemu secara bersamaan? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD