Langit sudah menunjukan lembayung senjanya, berbalut dengan langit gelap yang sudah siap memuntahkan isinya.
Aku masih berdiri di depan jendela, menyambut senja yang bergegas pulang. Netraku menatap lurus ke atas cakrawala sana. Titik-titik air yang jatuh dari langit mencumbu telapak tanganku. Hari itu sama dengan saat ini, delapan bulan yang lalu. Saat pertanyaan itu kerap kembali menyapa. Kenapa? Ada apa? Apa yang salah
Malam itu, malam pergerumulan kami. Semua terasa indah. Mas Adi memperlakukanku bak guci langka berharga fantastik. Sentuhan lembutnya masih terasa di antara permukaan kulit tubuhku. Mas Adi membuat aku dimabuk kepayang, hingga lupa melepas bayang-bayang. Kenangan indah yang sulit aku lupakan sampai kapanpun.
Tidak untuk pagi hari setelahnya, Mas Adi bagai manusia tak tentu arah. Wajahnya murung. Seperti sedang menyimpan selaksa pertanyaan yang tak mampu ia kemukakan. Jangan pertanyakan lagi apa yang sudah aku lakukan untuk membuka mulut suamiku yang terkunci rapat. Rentetan pertanyaan macam, ‘Kamu kenapa?’, ‘Kamu sakit?’ dan lain sebagainya sudah aku lontarkan kepada orang yang baru seminggu menyandang menjadi suamiku itu.
Mas Adi bungkam, bak orang sakit gigi. Anehnya semenjak saat itu, Mas Adi tak lagi menyentuhku. Kabar bersiul, katanya pengantin baru tidak cukup sehari. Lalu apa yang dilakukan Mas Adi? Jangankan sehari tiga kali, satu hari sekalipun tidak. Demi apapun, Mas Adi tidak impoten, tubuhnya perkasa.
Hanya malam itu pertama dan terakhir kalinya selama sepekan itu, Mas Adi menyentuhku. Lalu setelahnya membiarkanku membeku.
Mas Adi sering pulang malam, alasannya lembur. Tak jarang pulang dini hari dalam keadaan kusut masai dan tentu aku sudah tidur dengan posisi duduk, menunggu sang pujaan hati. Setiap aku menyambutnya pulang, mulutnya selalu bau alkohol, sesuatu yang hampir tidak pernah Mas Adi sentuh sebelumnya. Pagi harinya Mas Adi akan berangkat pagi-pagi sekali, bahkan sering kali ia tak menghiraukan menu sarapan yang tertata rapih di meja makan, yang semua itu hasil karyaku.
Tentu juga hatiku perih teriris melihat suaminya berbeda laku, yang membuat hatiku di dera pilu.
Ada yang berbeda siang itu , tepatnya hari ke tujuh pernikahannya. Mas Adi mengeluarkan suaranya setelah beberapa hari belakangan bak orang mati suri.
Mas Adi duduk di meja makan untuk sarapan, hal yang tidak pernah dia lakukan selama menyandang status suami.
“Boleh aku bertanya?” Mas Adi mulai membuka percakapan.
“Tentu." Bukan hanya pertanyaan, segala titahnya akan aku patuhi. Setidaknya itu yang aku pelajari dalam petuah menjadi istri idaman.
“Jika ada yang memberimu barang bekas, apa kamu akan menerimanya?” Pertanyaan itu meluncur mulus di bibir Mas Adi.
“Ya, tentu.”
“Kenapa?" Seolah tidak puas terhadap jawabanku, ia kembali melontarkan pertanyaan.
“Selama barang itu masih bisa berfungsi, kenapa mesti ditolak? Jika sudah rusak, minimal di daur ulang. Tidak baik menolak pemberian orang, dikhawatirkan orang yang memberi tersebut tersinggung,” jawabku dengan tangannya yang sedang sibuk mengisi sup hangat ke mangkuk Mas Adi.
Aku, Ayu Lestari, memilih untuk hidup bersahaja, sedari kecil aku dibesarkan di panti sejak kedua orang tuanya tiada. So, atas dasar apa aku harus hidup dengan cara hedonisme sedangkan kemampuanku saja hanya seukur kuku di jariku.
“Kamu tentu tahu bahwa tidak semua orang bisa menerima barang bekas, bukan begitu?"
“Hem, kamu benar Mas. Tadi itu hanya jawabanku. Berhubung pertanyaan itu kamu lontarkan kepadaku, maka itulah jawabanku.” Setelah selesai mengisi penuh mangkuk Mas Adi, aku mendaratkan pantatku di kursi makan. Lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutnya sendri, dan mulai memfokuskan pandanganku ke piring makanan.
“Bukankah barang bekas seharusnya dibuang, bukan malah diberikan?!” Masih dengan topik yang sama. Aku sedikit bingung. Seminggu ia bungkam, setelah dirinya siuman kenapa pembahasan kita justru hanya seputaran barang bekas saja. Tidak ingin, kah dirinya menjelaskan apa yang menderanya sepekan ini.
“Mungin kedepannya kita harus begitu, memberi barang yang masih baru bukan bekas. Barang bekas akan kita daur ulang di rumah saja. Tapi, kenapa Mas tiba-tiba bertanya tentang itu?" tanyaku penasaran. Melihat bagaimana Mas Adi sedari tadi terus membahas topik yang sama membuatku sedikit tergelitik.
“Tidak, hanya saja ada yang memberiku barang bekas, menurutmu apa yang harus aku lakukan?”
“Terima saja.” Jawabku lugas.
“Begitu?"
“Hem,” jawabku dengan anggukan. Lalu kembali menyantap makanan di meja.
***
Rinai langit masih menciptakan suara gemericiknya, aku masih setia termenung di atas balkon kamarku, menghirup aroma petrichor yang tercipta dari hujan sore ini. Suara deru mobil menyeret kesadaranku untuk kembali terjaga.
Mobil berwarna merah menyala itu telah terparkir sempurna di bagasi terbuka tanpa atap penutup, membuat aku dapat memandangi seseorang turun dari mobil itu dengan gagahnya.
Bergegas aku turun dari lantai atas menuju depan teras rumah, sang raja telah pulang. Wajah kusut masainya terlihat meski dari jarak kejauhan. Sebagai istri yang baik,menyambut suami adalah hal yang wajib aku lakukan setiap kali pemilik sepatu pantofel bermerek mahal itu menginjakan kakinya di rumah itu.
Belum sempat langkah aku sampai di teras rumah, aku sudah mendapati laki-laki berkemeja biru navy lengkap dengan dasi yang sudah longgar dari kerah bajunya itu sedang meneguk segelas air putih di dapur.
Dia menyadari kehadiranku yang melihatnya dari jarak tidak kurang dari lima meter dari tempatnya berdiri. Manik itu, manik yang selama sepekan itu tak mampu aku baca kini berubah menjadi manik yang membara, ada api yang berkobar-kobar di matanya.
Dadanya terlihat naik turun, seakan sesak menguasai rongga dadanya. Aku bergidik ngeri, baru saja pagi tadi kami bercengkrama. Apa lagi ini? Drama apa lagi yang akan tersaji sore ini. Hati-hati aku mendekati suamiku.
“Sudah pulang Mas?” Aku beranikan mendekati manusia yang ekspresinya saja tidak bisa aku baca.
“Mana handphone-mu?” Alih-alih menjawab, Mas Adi justru menanyakan keberadaan benda berbentuk pipih tersebut.
“Ada di atas kamar Mas,” jawabku. Tanganku hendak terulur hendak meraih tas kerja yang sedang dibawa Mas Adi. Namun, Mas Adi jutsru menepis tanganku. Lagi-lagi Mas Adi memperlihatkan sisi lain dirinya. Hal yang tidak pernah Mas Adi lakukan meskipun satu pekan ini dirinya membisu.
Tanpa ba-bi-bu lagi Mas Adi langsung menaiki tangga,Meninggalkanku dengan tangan yang masih mengambang di udara. Di bergegas naik ke lantai atas. Aku mengikutinya dari belakang. Jalannya sangat cepat seperti kesetanan, sehingga untuk mengimbangi langkahnya aku sedikit tergopoh.
Membuka handel pintu, dirinya mencari benda berbentuk pipih itu, di atas nakas kamar kami. Saat ia tidak menemukannya. Suaranya kembali melengking tinggi
“Di MANA AYU?" Suara Mas Adi memekik, menggema hingga membuat suaranya memantul ke segala penjuru ruangan. Aku mendekat ke arahnya dengan napas yang masih tergopoh-gopoh karena mengimbangi langkah Mas Adi yang lebar barusan.
Tidak ingin membuat suamiku kian murka segera aku menunjukan di mana keberadaan gawai-nya berada. Di atas laci almari baju, ku serahkan benda itu ke arahnya.
Entah apa yang ingin Mas Adi cari di gawai-ku. Semenjak tadi siang aku tidak sama sekali menyentuh benda pipih berwarna hitam tersebut. Aku bukan tipe orang yang selalu menempel pada gawai. Aku hanya akan membuka gawai jika diperlukan saja.
Menelisik jauh ke dalam manik Mas Adi yang memerah, sedang tangannya sibuk mengusap-usap layar bercahaya itu. Beberapa saat kemudian, terlihat d**a Mas Adi mengembung, rahangnya mengerat. Atensinya dari layar itu berubah ke Arahku.
“b******k,” umpatnya, seraya iris matanya menghunus tajam ke arahku.
“Kenapa Mas? Ada apa?,” Aku semakin mendekat, penasaran tentang apa yang ada pada gawai-ku.
“Jalang!!!!”
Satu tamparan mendarat di pipiku, menyisakan rasa panas yang menjalar hingga ke ulu ati. Pedih, itu yang aku rasakan. Bukan!, bukan pedih dari gesekan kulit tangan Mas Adi dengan kulit pipiku, tapi pedih karena perlakuan kasar Mas Adi. Hal yang tidak pernah Mas Adi lakukan sebelumnya.
Tidak terasa ada air yang merembes di sudut mataku. Ini teramat menyakitkan untukku, lebih menyakitkan di banding dengan perlakuan satu satu minggu itu, kala ia mendiamkanku.
“Beraninya kamu bermain api di belakangku, apa yang kamu rencanakan hah? Menguras harta keluargaku. Begitu?" Suara Mas Adi menggelegar penuh emosi. Terlihat dadanya naik turun tak beraturan.
“Astaghfirullah. Maksudmu apa Mas. Siapa yang main api? Sumpah demi Allah aku tidak mengerti maksudmu.” Suaraku parau. Hatiku bagai ditikam sembilu, pilu.
“Masih memakai topeng rupanya, apa setelah aku perlihatkan bukti ini kamu masih bertahan dengan topengmu?” Tangan Mas Adi mengacungkan layar gawai tepat di depan wajahku.
Mataku seketika membulat sempurna, tanganku menutup rapat mulutku yang menganga saat melihat satu kalimat menjijikan yang aku baca di gawai-ku, “Demi Allah Mas, aku tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu.” Aku mengelengkan kepala ke arahnya.
Ya Rabb, fitnah keji apa ini? Aku sama sekali tidak mengenal nomer yang tertera di layar handphone tersebut. Nomer yang memberi pesan ucapan rindu kepadaku.
“Lalu siapa? Setan? Untung saja aku menyadap handphone-mu, jadi aku bisa membongkar kebusukanmu. Kamu wanita jahat Ayu. Tidak aku sangka wajah polosmu nyatanya hanya topeng belaka. Apa yang kamu rencanakan, hah?!” Mas Adi melangkahkan kakinya ke tempat aku berdiri, mata penuh bara api itu seolah siap melahapku hidup-hidup. Aku yang tidak ingin mati konyol, memilih memundurkan langkah seiring dengan langkah Mas Adi yang kian mendekat.
“Kenapa? Takut?” tantangnya mengintimidasi, Aku hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Kurapalkan doa dalam hati, berharap bara api nya padam tersiram.
“Demi Tuhan Mas, ini fitnah. Aku tidak mengenal kontak itu.” Suaraku semakin mencicit. Lututku gemetar, ketakutan melihat transformasi Mas Adi yang berubah menjadi singa yang siap menerkam musuhnya. Semakin memundurkan langkahku. Namun- sial! Langahku justru terhenti saat punggung ini menubruk dinding kamar. Melihatku yang terpojok membuat Mas Adi menyeringai smirk.
Aku terpojok, Mas Adi kini ada tepat di depan tubuhku. Jarak kami tidak kurang dari 30cm, membuat aku kian bergidik ngeri. Pemikiran buruk kembali menerpa. Bagaimana jika ia berani merisakku lebih dari tamparan tadi. Manik mataku beredar mencari celah melarikan diri.
Belum sempat aku keluar dari Kungkungannya. Mas Adi sudah terlebih dahulu mendaratkan jemari tangannya di leherku.
“Aw, ampun, Mas,” suaraku parau saat rahangku dalam cengkraman kuat tangannya. Gerakannya cepat hingga tak sempat aku menangkasnya.
“Katakan apa rencanamu?!" Bukan menjawab, aku justru memilih menggelengkan kepala. Memang apa yang harus aku jawab. Demi apapun, tidak ada aku rencanakan selain rencana menjadikan rumah tanggaku menjadi rumah tangga yang bahagia.
Mendapati aku yang hanya menggeleng membuat Mas Adi semakin murka. Dibantingnya tubuhku hingga daksa ini tersungkur ke lantai. Aku memekik. Percuma, pekikanku kalah besar dengan bara api yang menyulut dirinya.
“Beraninya kamu membohongiku, bahkan di saat aku benar-benar sudah jatuh cinta kepadamu. Jika hanya harta akan aku berikan Kepadamu, tidak usah kau jadi p*****r begini.” perih, ucapannya kian tajam, menghujam. Namun kali ini sedikit lebih parau. Jika tak salah melihat, kulihat ada kabut di pelupuk matanya.
“Awalnya aku ingin berbaik sangka terhadapmu, tapi entah kenapa rasanya sulit sekali untuk percaya. Di mulai dari malam itu, aku mencium bau amis yang keluar rencanamu. Kamu! Sudah tidak gadis lagi! Kamu tidak mengeluarkan darah di malam penyatuan. Kamu! Memberikan barang bekas kepadaku. Dan apa yang kamu katakan? Aku harus menerima barang bekas itu, cuih. Aku tidak sudi," ungkapnya dengan sarkas dan nada suara yang semakin menggebu-gebu.
Mendengar ungkapan Mas Adi membuat aku semakin tertohok, p*****r? Darah? Tidak gadis? Hatiku terasa teremas mendengar segala tuduhan suamiku itu.
“Demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan dengan siapapun.”
“Begitu? Hahhahahaha." Mas Adi tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Di mataku kini dia tampak seperti psikopat.
“Sayang sekali faktanya kamu memang sudah tidak gadis lagi. Pergilah dari sini sebelum aku membunuhmu.” Tangan Mas Adi sigap memapah tubuhku keluar dari dalam rumah lalu mendorong tubuhku keluar rumah, hingga tubuhku terhuyung ke lantai.
“Mas, aku mohon jangan seperti ini." Aku merangkak menghampirinya yang berdiri dengan angkuhnya. Merengkuh kaki suamiku, berharap dirinya bermurah hati memberikannya waktu untuk meluruskan segala kesalahpahaman ini. Lupakan harga diri.
Katakanlah aku wanita bodoh. Namun begitu, adakah di dunia ini yang menginginkan pernikahannya hancur seketika. Bahkan saat asa yg baru dibangun itu belum tumbuh rindang.
“Ambil barang-barangmu!” Mas Adi semakin menjadi, melemparkan satu koper hingga koper itu membentur lantai teras. Harga diriku makin terkoyak. Sesingkat ini mahligai kami.
“Aku tidak akan menceraikanmu. Kamu pikir hanya kamu yang jahat? Aku juga bisa jahat. Kita lihat siapa yang paling jahat di sini, kamu? Atau aku? Kita lihat sejauh apa kamu bertahan dalam kilatan rasa sakit, wanita yang berstatus menikah, tapi tak ada suami di sampingnya. Kita lihat sejauh apa stigma masyarakat menggerogotimu hingga ke sendi-sendi tulangmu.” Aku terbelalak mendengarnya. Stigma bagai unusan tajam yang paling menakutkan yang tak ingin kembali aku alami. Teringat bagaimana kami anak panti asuhan hidup. Teringat bagaimana sekelompok anal orang kaya merundung kami. Adalah karena stigma kami di mata mereka hanya seperti cacing yang bisa mereka injak kapanpun.
Mas Adi orang kaya. Siapa menyangka, sosok yang kuharap berbeda dari orang kaya lainnya. Rupanya sosok itu sama saja. Menganggap kami hanya seonggok kotoran.
“Demi Tuhan, aku tidak ridha kau perlakukan seperti ini.” Isak tangisku masih setia menemani suaraku yang semakin parau. Rupanya lelehan anak sungai di pipiku tidak mampu menahan gemuruh hatiku yang sedari tadi kutahan. Luber sudah api kawah yang sedari tadi bersemayam di dalam hati
Tak menghiraukan ucapanku. Mas Adi memilih masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Meninggalkanku yang masih duduk tersungkur di pelataran rumah.
Namun tidak lama dirinya kembali keluar, hampir saja aku mengukir harap bahwa suamiku masih berbaik hati terhadap diriku.
Lagi-lagi aku salah kira. Laki-laki berkulit bersih itu justru melemparkan satu gepok uang ke hadapanku, jatuh tepat di depan wajahku.
“Ambil itu! itu yang kamu inginkan dariku. Pakai untukmu bersenang-senang bersama kekasih sialan. Ya ampun, lihatlah! Betapa dermawannya aku. Suami yang memodali istrinya untuk bermain hina. Sekarang pergi.” Aku masih bergeming. Andai dia melihat, kedua tanganku sudah mengepal sempurna. Sakit ya Rabb.
“Aku bisa berbuat lebih dari ini Ayu! Kamu mau aku memanggil para tetangga. Aku bisa mempermalukanmu lebih dari ini.”
Mau tidak mau, akhirnya aku memilih untuk angkat kaki dari rumah itu. Menyelamatkan harga diri yang sedikit tersisa pasca penghinaan. Membawa segumpal rasa perih.
Maka sore itu adalah mimpi burukku, mimpi buruk yang membawaku bertemu dengan Roy dan Ratih, juga dengan Yayasan Panti Jompo.