Tujuh

1057 Words
Malam ini Devan dan Siska sudah berbaring bersama di ranjang mereka. Sedangkan Dicka dan baby Shahia sudah tidur nyenyak di tempat mereka masing-masing. Devan tidur dengan posisi membelakangi Siska. Mata Siska hanya berkedap-kedip karena tak bisa tidur. “Mas Devan?” Panggil Siska. “Eemmmm.” “Kau sudah tidur?” “Ini baru mau tidur.” “Apa kau sangat mengantuk?” “Iya, kenapa?” “Emmm… anu… eemm.” Mendengar jawaban Siska yang tak jelas, Devan mengubah posisi badannya menjadi terlentang. “Ada apa? Apa ada masalah?” “Tidak. Tapi…. Eemm…” “Haish, kenapa aaa… eemmm… aa... emm… aja sih? Katakan ada apa?” Devan menatap Siska. “Aku pengen itu mas.” Ucap Siska dengan tatapan mata yang mengarah ke bagian junior Devan. “Pengen apa?” “Pengen itu kamu.” Siska menunjuk ke bagian aset berharga Devan. “Hah? Maksudnya?” Goda Devan yang sebenarnya mengetahui maksud Siska. “Aku pengen kamu jamah mas. Aku pengen kamu masuki.” Ucap Siska terus terang karena kesal. Devanpun menggesarkan tubuhnya mendekat pada Siska. Devan memeluk Siska, dan jarak wajah mereka sangat dekat. Devan menatap tajam mata Siska dan kemudian turun ke bibir Siska. Tanpa basa-basi Devan menempelkan bibirnya di bibir Siska. Devan melumat pelan bibir Siska dan tangan Devan melepaskan kancing baju piyama Siska. Setelah semua kancing terbuka, bibir Devan mengecup dan perlahan semakin turun sampai di bagan d**a Siska. Devan melepas pengait bra Siska. Devan bermain di d**a Siska. Tanpa aba-aba, Siska mendorong tubuh Devan dan Siska berada di atas tubuh Devan. Siska sudah tidak sabar karena Devan bermain openingnya terlalu lama. Siska melepas celana Devan, sehingga junior Devan yang sudah tegang dan berurat menyembul keluar. Siska dengan semangat memainkan junior Devan dengan tangannya, kemudian beralih dengan mulutnya. Devan yang menerima perlakuan Siska sangat menikmati dengan desahan-desahan kecil yang keluar dari mulutnya. Setelah puas bermain dengan tangan dan mulutnya, Siska memasukkan junior Devan kedalam area kewanitaanya dan menggerakkannya perlahan tapi pasti.   Devan hanya diam pasrah sambil mendesah. Malam ini Siska yang bermain dominan. Devan hanya menikmati permainan Siska. Tapi entah mengapa Devan merasa seperti ada yang berbeda dengan permainan malam. Bukan tentang Siska yang menjadi dominan, tapi Devan merasa kurang b*******h malam ini. Setelah puas dan mencapai klimaks, akhirnya Siska beralih dari atas tubuh Devan dan berbaring di samping Devan. “Apa kau sudah puas sayang?” Tanya Devan. “Iya mas. Aku juga sudah sangat lelah.” Jawab Siska dengan nafas yang masih belum teratur. “Kau sangat bernafsu sekali malam ini.” “Hehehe. Iya mas. Entah kenapa malam ini aku sangat menginginkan itu.” “Tidak papa sayang. Aku sangat menyukainya.” “Tapi mengapa mas Devan hanya diam saja tadi.” “Karena aku hanya ingin menikmati permainanmu saja malam ini.” “Haish, mas Devan.” Siska tersipu malu. Mereka kembali memakai pakaian dan kembali berbaring tidur dengan posisi Siska memeluk Devan dengan berbantalkan lengan Devan. ***** Sang mentari telah menampakkan wujudnya dengan sinar yang menghangatkan pagi. Pagi ini Devan sudah sampai di kantor setelah mengantar Dicka ke sekolah. Devan sedang melamun di meja kerjanya. Devan masih memikirkan kejadian semalam. Yaitu saat ia bercinta dengan Siska. Entah kenapa Devan merasakan ada yang berbeda saat itu. “Woy, ngelamun aja lo.” Tiba-tiba Riko datang memasuki ruangan Devan dan mengagetkan Devan yang sedang termenung. “Sialan lo. Dasar anak buah nggak ada akhlak.” “Lagian, lo pagi-pagi udah ngalamun aja. Kurang jatah bos?” “Entahlah, ada sesuatu yang sedang gue pikirkan.” “Apaan? Ada masalah apa?” “Nggak papa. Kenapa lo kesini?” “Nih, gue mau minta tanda tangan lo.” Riko menyodorkan berkas ke hadapan Devan. Devan segera menandatangani berkas itu. “Jangan lupa nanti setelah jam makan siang kita ada janji sama Risa untuk mensurvei lokasi buat cabang baru kita.”Ucap Riko. “Iya inget gue. Tadi juga udah diingetin sekretaris gue.” “Baiklah.” Riko pun meninggalkan ruangan Devan. Oh ya sekretaris Devan baru ya, karena semenjak Siska mulai mengandung anak pertamanya, Siska sudah tidak bekerja lagi. Begitu juga dengan Sinta. Setelah Riko keluar dari ruangan, Devan mencoba menyibukkan dirinya. Dia tak mau memikirkan hal yang tak jelas dan tak tentu. Mungkin semua yang Devan rasakan itu hanya perasaan karena kelelahan saja. Devan dan Riko telah selesai makan siang. Saat ini mereka sedang perjalanan menuju lokasi tempat Devan akan membuka cabang baru yang bekerja sama dengan Risa. Riko sedang fokus menyetir, sedangkan Devan sejak tadi hanya melamun. “Dev, gue yakin kerjasama kita dengan Risa kali ini akan sukses dan berkembang. Karena gue ngerasa kalau Risa orangnya juga sangat kompeten dan bisa diandalkan. Kalau menurut lo gimana? Lo kan yang udah kenal Risa lebih lama.” Satu detik, dua detik, sampai beberapa menit tak ada jawaban apapun dari Devan. Riko pun menatap kearah Devan. Riko melihat Devan melamun lagi. Dengan sengaja riko mengerem mendadak mobilnya. Sssssrrrtttttttttttt…………. “Sialan lo. Lo mau kita mati?” Kaget Devan yang wajahnya hampir terjedot. “Hahahaha, sorry sorry. Lagian gue dari tadi ngomong, lo cuekin aja.” “Oh lo tadi ngomong? Ngomong apa?” “Nggak kok, gue tadi muntah-muntah.” “Hah? Lo muntah-muntah? Dimana? Jangan bilang lo muntah di mobil gue?” “Ya Tuhan, cobaan apa yang kau berikan ini. Punya boss kok bodohnya kebangetan gini.” “Apa lo bilang? Sekarang juga, lo gue pecat. Turun dari mobil gue.” Kesal Devan. “Hahaha, canda doang boss. Sensitif amat sih. Kayak cewek lagi PMS aja.” Riko sadar kalau Devan moodnya lagi nggak bagus. “Lagian lo kenapa sih? Gue lihat dari tadi pagi lo bengong aja?” Tanya Riko dan kembali melajukan mobilnya. “Nggak papa.” “Beneran? Kalau ada masalah cerita aja sama gue. Sapa tau gue bisa ngasih solusi. Lo tahu sendiri kan kalau gue itu pakarnya dalam memecahkan semua masalah.” Sombong Riko. Tanpa menjawab perkataan Riko, Devan hanya menatap Riko tajam dan menakutkan. Seketika Riko merasa merinding dan ngeri sendiri. Akhirnya Riko pun memilih untuk diam. Riko pikir sepertinya bossnya itu benar-benar dalam suasana yang tidak baik. ***** TBC Author sudah membaca komen kalian semua. Terima kasih banyak buat support yang kalian berikan ❤❤ Author akan berusaha memberikan yang terbaik buat kalian. ILOVEU ❤❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD