Enam

1064 Words
Saat ini Devan, Riko, dan Risa sudah duduk bersama dalam satu meja. Mereka sedang berdiskusi membahas tentang proyek-proyek kerjasama yang akan mereka lakukan sambil menyantap makanan dan minuman yang telah mereka pesan. Sampai akhirnya mereka mencapai kesepakatan dan mengakhiri diskusi. “Wah, ternyata makanan dan minuman kesukaan kamu ngak pernah berubah ya Dev?” Ucap Risa. “Iya.” Jawab Devan dengan senyum tipis di bibirnya. “Eh tunggu, maaf saya potong. Tapi ngomong-ngomong kok kalian bisa sudah saling kenal? Sejak kapan?” Tanya Riko yang memang sejak tadi sudah penasaran. “Risa temen SMA gue.” Jawab Devan. “Oh begitu. Pantas kok gue nggak kenal. Biasanya gue kenal semua temen lo.” “Iya, saya juga tidak menyangka kalau Dev Company itu milik Devan, teman SMA saya. Dunia memang begitu sempit.” Ucap Risa. “Tapi aku juga nggak heran sih kalau kamu bakal sesukses ini.” Lanjut Risa. “Perusahaan ini saya bangun bersama sahabat saya sekaligus asisten pribadi saya ini. Berkat dia pula perusahaan ini bisa berkembang dan sukses seperti sekarang ini.” “Haish, tak usah memuji berlebihan gitulah bos. Saya tidak berperan banyak kok. Justru Devan sendiri yang sangat berperan dalam perusahaannya ini dan karena kecerdasannya dalam mengelola perusahaan ini, akhirnya perusahaan ini bisa sukses seperti sekaraang ini.” Elak Riko. “Syukurlah, akhirnya lo sadar dan mengakui kecerdasan gue. Tapi bisa nggak lo ulang ucapan lo tadi. Mau gue rekam dan mau gue abadikan soalnya.” “Sialan lo. Nyesel gue. Sumpah nyesel banget gue udah ngomong tentang hal-hal bohong tentang lo.” “Hahahaha. Nggak usah gitu. Gue tadi lihat kok, kalau ngomongnya tulus dan dalem banget dari hati.” “Itu cuman akting gue. Sapa tahu dinaikin gaji gue.” “Lo itu nggak ada bersyukur-bersyukurnya jadi orang. Kerja enak, boss baik, gaji udah segede itu. Masih aja ngeluh minta dinaikin lagi. Coba lo liat orang-orang yang kerja berat, berangkat gelap, pulangpun juga sudah gelap. Tapi gaji mereka jauh lebih kecil dari gaji lo.” “Baiklah. Gue kalah. Lo memang selalu benar dan bijak.” Risa yang sejak tadi melihat dan mendengar interaksi antara Devan dan Riko pun hanya ikut tertawa. “Sepertinya kalian sudah sangat akrab ya? Sudah bukan seperti boss sama anak buahnya.” Ucap Risa. “Ya beginilah sikap anak buahku. Dia kalau nggak di ceramah dulu, protes mulu. Maaf ya.” “Gue lagi yang kena.” “Hahahaha.” Devan dan Risa pun tertawa bersama. Tak terasa waktu cepat berlalu. Hari sudah mulai petang. Merekapun berpamitan dan meninggalkan café. Namun saat berpamitan tiba-tiba Risa meminta nomer ponsel kepada Devan. “Dev, aku boleh minta nomer kamu?” “Hah?” “Bukan apa-apa kok. Cuman biar kita gampang buat komunkasi untuk membahas proyek ini.” “Ahh, maaf, tapi kalau mau bahas soal proyek ini. Kamu bisa hubungin asisten aku ini. Karena dia yang akan mengurus dan menangani proyek ini nanti.” Ucap Devan menunjuk ke Riko. “Ahh, begitukah? Baiklah kalau begitu.” Ucap Risa dengan sedikit kekecewaan di raut wajahnya. Risa pun meminta nomor Riko, dan Riko memberikannya. Saat ini Riko dan Devan sedang perjalanan kembali menuju kantor. “Dev, lo yakin Risa cuman temen SMA lo?” “Emang kenapa?” “Gue merasa dari tatapan mata Risa ke elo itu kayak beda gitu.” “Beda gimana? mungkin itu Cuma perasaan elo aja.” “Tapi perasaan gue selalu benar loh? Jujur deh sama gue.” “Iya deh, lo emang bener. Dia mantan gue di SMA.” “Tuh kan. Gue tuh nggak pernah salah menebak perasaan seseorang.” “Lagan itu juga udah lama banget juga.” “Tapi gue ngerasa, kalau dia masih ada hati sama lo. Lo liat nggak tadi, pas dia minta nomor lo, tapi nggak lo kasih. Gue perhatiin ekspresi wajahnya seketika berubah.” “Ahh, gue lihat biasa aja tuh. Udah nggak usah ngadi-ngadi.” “Gue itu kalau masalah wanita terlalu peka.” “Terserah lo aja.” “Gue cuman mau ngingetin, hati-hati aja lo.” “Apaan sih lo. Udah ah. Nggak usah bahas dia.” Devan malas mendengar omongan Riko tentang Risa yang tak jelas. Karena Devan merasa masalah Risa dan dirinya itu sudah sangat lama berlalu dan sangat mustahil kalau masih menyimpan perasaan. Tak lama kemudian mereka sampai di kantor. Devan menuju ruangannya untuk mengambl barang-barangnya dan kemudian ia pulang ke rumah. ***** “Terima kasih Sis buat hari ini.” Ucap Sinta setelah mengantarkan Siska dan anak-anaknya pulang. “Kayak sama siapa aja sih. Gue juga seneng lo ajak keluar menghirup udara segar, ditraktir lagi. Hahaha. Lain kali jangan sungkan buat ngajak gue, apalagi traktir gue. Tiap haripun gue siap.” “Udah jadi istri boss kok masih demen traktiran. Sepetinya jiwa misqueen lo masih melekat di diri lo. Ya udah gue pamit pulang dulu ya?” “Hahahaha. Sepertinya begitu. Baiklah, hati-hati ya.” “Siipp.” “Tante pulang dulu ya Dicka.” “Iya tante. Bye bye.” Sinta melajukan mobilnya meninggalkan rumah Siska. Tak lama kemudian, Devan datang dan keluar dari mobilnya. “Mas, kamu sudah pulang?” “Iya, hai sayang.” Devan mencium Dicka dan baby Shahia. “Tumben papih pulangnya cepet?” Tanya Dicka. “Iya mas. Kok tumben jam segini udah pulang?” “Iya, tadi ada meeting dengan klien di luar kantor. Setelah selesai, aku langsung pulang.” “Oh begitu.” “Ya udah yuk masuk.” Ajak Devan. “Aku tadi seperti melihat mobilnya Sinta?” “Iya, kami habis jalan-jalan keluar tadi. Ini kami baru saja pulang, sebelum mas Devan sampai.” “Ahh begitu.” “Kan aku udah kirim pesan ke mas Devan. Memangnya belum mas Devan baca?” “Pesan? Ahh, sejak tadi aku tidak memegang ponselku.” Devan mengambil ponselnya di tas, dan ternyata memang benar kalau Siska sudah minta ijin ke Devan melalui pesan. “Maafkan aku sayang. aku tak sempat membaca pesanmu tadi. Aku sama sekali tak memegang ponsel.” “Tidak papa.mas.” TBC ***** Saya sudah berusaha untuk menyajikan cerita sebisa saya buat kalian. Saya sadar kalau cerita saya masih banyak kekurangannya. Tapi janganlah berkomentar yang menyakitkan hati dan bikin down. Kalau memang tidak suka boleh di skip atau tinggalkan saja. Tapi kalau memang kalian mau memberi kritk dan saran, gunakanlah kata-kata yang sopan dan baik. Terima kasih. ~ Selamat Membaca ~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD