bc

Kaulah Rumahku

book_age18+
35.1K
FOLLOW
326.3K
READ
possessive
CEO
billionairess
drama
bxg
cheating
wife
like
intro-logo
Blurb

Warning 21+

Sequel of Sekretarisku Canduku

"Aku pernah mencoba pindah dari hati satu ke hati yang lain, dan pada akhirnya aku sadar bahwa kaulah rumahku, tempat tinggal, dan tempatku kembali." Devan.

Terlalu lama bersama, membuat Siska dan Devan saling memahami satu sama lain. Kini usia pernikahan mereka sudah lebih dari tujuh tahun. Mereka telah mampu menghadapi masalah-masalah yang datang di kehidupan rumah tangga mereka bersama-sama. Namun pada akhirnya terjadilah fase, dimana rasa jenuh, bosan, hampa, hambar kini perlahan menghampiri Devan. Mampukah Devan mengatasi rasa kejenuhan itu? Ataukah Devan akan berpaling dari Siska dan berpindah kepada wanita lain?

SLOW UPDATE

chap-preview
Free preview
Satu

Enam tahun sudah umur pernikahan Devan dan Siska. Kini Siska sedang mengandung anak ke duanya yang sudah berusia 9 bulan. Tinggal menunggu hari, jam, atau bahkan detik saja Siska akan melahirkan anak keduanya. Yah, setelah pulang dari bulan madu mereka, selang berapa minggu Siska ternyata benar-benar hamil. Dicka anak pertama Siska dan Devan sangat senang dan sudah tidak sabar menunggu kedatangan adik kecilnya. Hampir setiap hari Dicka menanyakan kepada Siska dan Devan, kapan adiknya akan keluar. Dicka terlihat sangat menyayangi adiknya, meskipun belum lahir di dunia ini. Dicka sering mengajak interaksi adiknya dengan menempelkan mulut dan telinganya ke perut Siska.

“Adik kecil, kapan kamu akan bermain bersama kakak?” Ucap Dicka yang mendekatkan mukanya ke perut besar Siska.

“Nanti kalau kamu sudah keluar, kita main bersama ya?” Lanjut Dicka.

Siska yang melihat kelakuan Dicka pun hanya tersenyum dan merasa sangat bahagia. Siska pikir Dicka sudah sangat siap menjadi seorang kakak dan bisa menjaga adiknya kelak.

“Aaaauuuuu….. Aduuuuuhhhhh.”

Tiba-tiba Siska merasa kesakitan dan memegangi perutnya. Dicka yang melihat mamanya kesakitan pun merasa sangat panik.

“Mamih, mamih kenapa?” Panik Dicka.

“Aaddduuuuuuuuhhhh….” Siska tak menjawab Dicka dan hanya mengeluh kesakitan.

“Mamih…….” Dicka pun malah ikut menangis saat melihat Siska.

“Dicka, tolong kamu telpon papih kamu sayang!” Pinta Siska seraya menahan sakit.

“Ba-baik mih.”

Dicka pun menelpon Devan menggunakan ponsel Siska.

Tutt…. Tuttt….

“Nggak diangkat mih.”

“Co-coba lagi sayang.”

Siska sudah tidak tahan menahan sakitnya. Sepertinya ini benar-benar sudah waktunya untuk Siska melahirkan. Dicka mencoba menelpon papanya kembali.

“Halo sayang.”

“Pih… papih..” Ucap Dicka dengan disertai tangisnya.

“Dicka, ada apa? Kenapa kamu menangis?”

“Papih… mamih.. hiks hiks.”

“Kenapa sayang? Ada apa dengan mamih?” Devan pun ikut panik.

“Mamih sakit pih, perut mamih sakit.”

“Tenang sayang, tenanglah. Papih akan segera pulang. Tolong jaga mamih dulu ya.”

“Iya pih.”

Devan mematikan telponnya dan segera bergegas pulang. Devan berfikir mungkin Siska akan melahirkan. Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntunglah jalan tidak terlalu macet. Hingga akhirnya Devan sampai di halaman rumahnya. Devan segera keluar dari mobil dan berlari menuju ke dalam rumah.

Saat masuk ke rumah, Devan melihat Siska yang sedang kesakitan dan Dicka yang menangis sambil memegangi Siska.

“Siska, Dicka.”

“Papiiiiihhh……”

“Apakah ini sudah waktunya sayang?”

“Aku rasa be-begitu mas.”

“Baiklah, ayo kita pergi ke rumah sakit.”

Devan menuntun Siska menuju ke mobilnya dan diikuti oleh Dicka. Meraka kini sedang perjalanan menuju rumah sakit. Siska yang merintih kesakitan, Dicka yang masih terus menangis, dan Devan yang menyetir dengan panik.

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Siska dibawa ke ruangan persalinan dengan menggunakan kursi roda, diikuti dengan Devan sambil menggendong Dicka.

Siska kini sudah berada di ruang persalinan, sedang berjuang untuk anak keduanya dengan dibantu oleh dokter dan para perawat. Sedangkan Devan dan Dicka sedang berada diluar ruangan dengan perasaan cemas dan berdoa agar Siska dan bayinya selamat, sehat, dan baik-baik saja.

Devan menelpon kedua orang tuanya untuk mengabari bahwa Siska akan melahirkan. Mereka pun senang, dan kini mereka sedang perjalanan menyusul menuju ke rumah sakit.

‘Oooeeeekkk…..ooooeeeekkkk.’

Akhirnya terdengar suara tangisan bayi. Devan pun merasa senang dan lega. Dokter pun keluar dari ruangan.

“Selamat tuan, anda dikaruniai putri yang sangat cantik.”

“Terima kasih dokter. Apakah saya boleh menemui istri saya?”

“Silahkan masuk tuan.”

Devanpun masuk ke ruangan Siska. Devan sangat bahagia lengkap sudah keluarga kecilnya saat ini. Saat masuk keruangan Siska, terlihatlah Siska yang masih terbaring lemas. Sedangkan bayinya masih dibersihkan oleh suster.

“Terima kasih sayang karena telah berjuang.” Ucap Devan sambil mengecup punggung tangan Siska.

“Pasti mas. Pasti aku akan berjuang untuk kehadiran anak kita.” Ucap Siska tersenyum.

“Mamih, mana adik Dicka?” Tanya Dicka yang tak sabar ingin melihat adiknya.

“Adiknya lagi dimandiin suster sayang.” Jawab Siska.

“Permisi tuan, nyonya.” Ucap suster saat masuk keruangan.

“Iya sus.” Jawab Devan.

“Nyonya Siska akan kami pindahkan dulu ke ruang pasien.”

“Ahh, baiklah sus.”

Suster memindahkan Siska ke ruang pasien dan ikuti Devan dan Dicka. Saat sudah berada di ruang pasien, tak lama kemudian kedua orang tua Devan datang. Mereka ikut bahagia dan senang dengan kelahiran cucu keduanya.

Devan dan Siska telah memberi nama putri mereka Shahia Yumna Maherza, yang artinya anak perempuan yang baik, cerdas, beruntung. dan selalu diiringi oleh doa di setiap langkahnya.

*****

Dua hari berada di rumah sakit, kini akhirnya Siska diperbolehkan pulang. Saat ini Siska, Devan, Dicka, dan baby Shahia sedang perjalanan menuju rumah mereka. Dicka menciumi baby Shahia yang berada di pangkuan Siska. Terlihat raut wajah bahagia di wajah Dicka. Tak lama kemudian Dicka tertidur. Sedangkan Siska sedang menyusui baby Shahia. Terlihat Devan yang terus melirik kearah kaca menatap Siska yang duduk di belakang.

“Mau juga,” Tiba-tiba Devan merengek.

“Mau apa?” Tanya Siska bingung.

“Kayak baby Shahia.” Jawab Devan.

Siska menatap kearah baby Shahia dan akhirnya mengerti apa yang Devan maksud.

“Haish… kamu itu ya. Bisa nggak otak mesumnya di simpan dulu di bagasi. Ini baby Shahia baru lahir loh. Kamu udah iri aja.”

“Hehehehe. Habisnya itunya kamu selalu menggoda sih. Selalu bikin aku kecanduan, mau lagi dan lagi.”

Siska geleng-geleng melihat tingkah laku bayi terbesarnya itu.

“Pokoknya sampai baby Shahia sudah cukup besar, kamu nggak boleh minta dulu. Karena sudah jatahnya baby Shahia saat ini.”

“Lah kok gitu sih?” Protes Devan yang sangat keberatan.

“Iya dong. Kamu kan udah dapet jatah bertahun-tahun, dan sekarang baby Shahia. Masa kamu nggak mau ngalah sih sama anak sendiri. Lagian ini kan juga demi kebaikan anak kita juga.”

“Iya deh.” Denga perasaan yang sangat-sangat terpaksa akhirnya Devanpun mengalah dan menyetujui permintaan Siska.

Akhirnya mereka sudah sampai di halaman rumah, Dicka pun juga sudaah terbangun. Siska keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah dengan menggendong baby Shahia diiringi dengan Dicka yang tak mau jauh dari adiknya. Disusul Devan yang menenteng barang-barang.

Semua keluarga Devan, juga Sinta, Riko, dan si kembar sudah berada di rumah Devan. Semua menyambut gembira kedatangan si baby Shahia.

 TBC

*****

HAI GAES...

Devan dan Siska menyapa lagi nih...

Jangan lupa tekan lovenya biar masuk library ya biar nggak ketinggalan dan tungguin update selanjutnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

My Hot Boss (Indonesia)

read
557.7K
bc

I Love You, Doctor

read
605.9K
bc

Mendadak Jadi Istri CEO

read
1.6M
bc

Penjara Hati Sang CEO

read
6.8M
bc

Will You Marry Me 21+ (Indonesia)

read
523.1K
bc

Dear Doctor, I LOVE YOU!

read
103.2K
bc

Rujuk

read
338.9K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play