PROLOG.
Wanita tersebut melangkahkan kakinya dengan cepat, berusaha keras tidak mengindahkan keberadaan pria yang sedang berjalan ke arahnya, dia melihat apapun kecuali ke arah pria tersebut. Meski, pada faktanya sangat sulit menolak pesona luar biasa dari pria itu. Sebab dia terlalu tampan, terlalu menawan, dengan aura kharismatik yang mampu menarik perhatian manusia manapun sejauh mata masing-masing individu bisa memandang. Namun bagi Rosita Shauffani Garald, Jalaludin Amir Arkansyah tak lebih dari sebuah mimpi indah. Pria tersebut terlalu hebat dan terlalu tinggi untuk bisa Rosita gapai.
Awalnya Rosita berpikir dia berhasil menghindari Jalal, namun nyatanya salah. Sewaktu jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah, lengan Jalal berhasil meraih dan menahan pergelangan tangan Rosita dengan kokoh, dalam satu gerakan cepat Jalal memutar tubuh mungil Rosita hingga berhadapan dengannya. Rosita limbung, nyaris roboh, namun tangan kiri Jalal yang kuat mampu menopang punggung Rosita dalam satu kemantaban. Tangan kanannya menahan belakang leher Rosita, sementara sepasang iris abu-abu keemasan indah Jalal mengunci Rosita.
Rosita membeku, setiap otot di badannya sangat sulit digerakkan dalam artian sesungguhnya.Dia bisa melihat mata Jalal yang dulu selalu dipenuhi semangat berkobar kini tak ubahnya sungai kesenduan. Ada begitu banyak penderitaan dan kesedihan di sana. Rosita bisa merasakan itu, dan hal itu juga membuatnya sangat sakit. Ingin sekali Rosita membangkitkan keceriaan Pria yang masih dicintainya sepenuh hati hingga saat ini, masalahnya Jalal telah menghancurkan seluruh hatinya. Dan kini, dengan seserpih yang masih tersisa, Rosita berusaha meruncingkan dan membuat pedang tajam agar dapat melindunginya dari kesakitan yang bakal Jalal timbulkan lagi padanya.
" Pergilah Jalal, lepaskan aku, semua yang ada di antara kita sudah berakhir" ujar Rosita dengan suara parau. Setitik air mata mulai turun di sudut matanya.
" Kumohon Rosita pulanglah bersamaku. Aku membutuhkanmu, aku menginginkanmu hingga berpikir kehilanganmu selamanya hanya akan membuatku berakhir di Rumah Sakit jiwa" pinta Jalal. Suaranya mengiba. Binar ketakutan terpancar jelas di matanya. Membuat Rosita terkejut setengah mati.
Jalal yang dia kenal adalah sosok penuh percaya diri, terlalu tangguh untuk bisa di kalahkan bahkan oleh senjata sekalipun. Tak pernah terlintas di dalam pikiran Rosita jika Jalal bakal merendahkan dirinya agar bisa kembali kepadanya. Tapi benarkah? apakah tindakan Jalal bukan hanya didasarkan egonya yang terluka? Rosita tidak mau mengambil resiko hatinya di remukkan lagi.
" Maaf Jalal, tapi aku tak bisa...aku..."
" Aku mencintaimu Rosita Shauffani Garald!" sahut Jalal.
Mendongak, pupil mata Rosita melebar. " Apa katamu tadi?" bisik Rosita. Bahunya mulai gemetar.
" Aku mencintaimu Rosita. Aku mencintaimu jauh sebelum pernikahan kita. Aku jatuh cinta padamu di hari pertama melihatmu tertawa di dalam Ruangan Ayahmu usai persidangan 3 tahun lalu. Aku mencintai setiap kepolosan, kecerobohan,dan bahkan sikap cengengmu. Aku mencintai segala kebaikanmu, kelembutan hatimu, aku mencintaimu dan bisa mengucapkannya milyaran kali dalam satu hari asalkan kamu memberiku kesempatan melewati hari-hari bersamamu..." emosi Jalal meledak. Kejujuran pria itu melelehkan Rosita.
Jalal menekankan dahinya pada dahi Rosita, dengan kedua matanya, dia menyihir Rosita hingga tenggelam ke dalam keabadian perasaan pria itu sesungguhnya. " Aku mencintaimu sayangku. Maafkan aku. Kumohon, kembalilah padaku..."
Dan tanpa meminta persetujuan dari Istrinya lagi, tangan kiri Jalal mengangkat lembut dagu Rosita. Sebuah tatapan lembut yang sangat memabukkan Rosita, membuat wanita itu rela melepaskan semua harga dirinya.
Jalal menundukkan kepala, dan Rosita merasa terbang ke atas taman surga sewaktu bibir panas Jalal memagutnya dengan lembut dan hangat.