PERNIKAHAN.

2008 Words
Acara pernikahan ini sangatlah mewah dan megah. Ada 20 penerima tamu, 20 pasang pengantar, sebuah kelompok orchestra ternama, dan terletak di sebuah kawasan Islamic Center yang telah di sulap bak Istana tuan putri Jasmine dalam cerita kartun Disney ' Aladdin'. Tema malam itu serba 1001 malam. Dengan berhiaskan 1001 bunga dari beragam jenis terdiri dari 3 warna, merah, putih, dan kuning. Dekorasinya serba putih, emas, dan merah berlian. 1001 macam jenis hiding lezat menggungah selera serta mampu membuat air liur menetes,mulai dari hidangan pembuka sampai pemanis, masakannya berasal dari dua budaya, Nusantara dan Timur Tengah. Rupanya Jalalludin Amir Arkansyah benar-benar membuktikan janjinya di depan batu nisan Ibrahim Alfatarih Garald. Jika ia akan senantiasa menjaga, melindungi, serta memenuhi segala keinginan Rosita Shauffani Garald. Putri bungsu dari almarhum pria yang telah begitu banyak berjasa dalam kehidupan Jalal, hingga menjadikan Jalal seperti sekarang. Salah satu bentuk janji itu bisa dilihat dari kemewahan pesta pernikahan yang mereka gelar. Awalnya Rosita menganggap ucapan Jalal saat akan mengadakan perhelatan besar bagi pernikahan mereka, hanya sebatas isapan jempol belaka. Mengingat betapa praktisnya Jalal selama ini serta pola pikir pria itu yang tak pernah mau dibuat kerepotan oleh hal-hal tidak prinsipil. Namun malam ini Rosita mengubah segala pemikirannya tentang Jalal. Jika lelaki itu sudah mengucapkan sesuatu, maka ia sebisa mungkin akan mewujudkannya. Di sinilah Rosita sekarang. Di atas panggung sebuah acara pernikahan termegah yang pernah dia hadiri dan kali ini dia rasakan. Pernikahannya sendiri. Malam ini Rosita betul-betul merasa menjadi Permaisuri seorang Sultan. Berbalut baju pengantin indah yang terbuat dari sifon dan sutra asli berwarna putih tulang, di hiasi sulaman terbuat dari benang emas asli. Lengannya panjang, menjuntai hingga mata kaki. Di bagian bahu hingga di bawah d**a di beri tempelan manik-manik aneka jenis bebatuan berwarna merah serta emas, sementara sabuk terbuat dari emas asli melingkari pinggangnya. Rambut indah sewarna buah zaitun, lurus sepunggungnya khususu untuk malam ini di kepang menjadi dua bagian kemudian digelung menjadi sanggul rumit di belakang kepalanya. Sebuah krudung sutra putih dengan pinggiran rajutan benang emas menutupi kepalanya, dan ditahan oleh sentuhan akhir, yaitu mahkota emas seberat 650 gram di puncak kepalanya. Beberapa teman Rosita segera memujinya, mengatakan dirinya secantik sosok Drupadi dalam serial tv Bolywood asal manisan berada, kisah Mahabarata. Rosita hanya menanggapi semua ucapan temannya dengan sebuah senyum geli. Namun, dirinya tahu jika yang membuat semua mata tamu wanita di dalam ruangan ini berbinar sekaligus iri kepadanya adalah, keberadaan sosok di sampingnya. Lelaki tertampannya. Raja dari acara malam ini. Jallaludin Amir Arkansyah tampak sangat luar biasa, penuh vitalitas, dengan senyum memabukkan yang dapat mencairkan semua tubuh perempuan di tempat ini yang menaruh hati padanya. Mengenakan torso panjang berwarna putih berbahan sutra semi siffon lengan panjang dengan sulaman emas di setiap ujungnya, rompi merah tua diberi hiasan manik-manik mutiara serta emas, celana tunik seputih giginya, serta sepatu bergaya Arabic sepasang dengan yang dikenakan Rosita berwarna emas diberi sulaman rumit dari benang merah di setiap sisi serta ujungnya. Plus, sorban putih dengan mahkota khas kerajaan terbuat dari emas asli bertahtahkan batu rubi. SEMPURNA. Semua wanita pasti ingin sekali menggantikan posisi Rosita saat ini juga. Tidak semua kok, pasti ada saja orang-orang yang menjadikan Jalal bukan tipenya. Batin Rosita sedikit kesal. Pemikiran tentang kesempurnaan Jalal serta ketidak seimbangan mereka sangat mengganggu Rosita sejak awal, di waktu pertama pria itu melamarnya. Rosita tidak pernah merasa dirinya secantik perempuan lain, meskipun nyaris semua pria yang bertemu dengannya akan memujinya. Rosita berpikir, mereka semua hanyalah penjilat, sebab posisi keluarga Rosita, serta nama belakang yang disandangnya membuat orang memandanginya jika tidak mereka pasti sudah mendepaknya dari lingkaran pergaulan kaum elite selamanya. Bukannya Rosita peduli, toh sudah sejak lama ia menarik diri dari kelompok orang-orang kaya dan doyan berhura-hura. Rosita telah mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan sejak ia lulus Perguruan Tinggi 3 tahun silam. Memiliki sebuah taman kanak-kanak sendiri, meski kecil namun kepuasan batinnya luar biasa. Beberapa kenalannya merasa heran pada Rosita. Di saat ketiga Kakak lelakinya yang dikatakan setampan Dewa dari Mesir justru sibuk menjadi Presiden Direktur, Doktor, serta bekerja di Kejaksaan Tinggi, Rosita justru memilih pekerjaan yang sering kali di anggap remeh oleh orang-orang di lingkungannya. Teman-teman sejati justru Rosita dapatkan di luar kalangan atas. Mereka adalah orang-orang tulus dan bisa menerima dirinya apa adanya. Hidup Rosita selalu terkendali dan terkontrol. Dia bekerja dari pagi hingga siang, berkumpul bersama teman-temannya saat sore, sesekali mereka nonton bersama atau sekedar hang out tidak jelas entah ke mana, kemudian pulang ke rumah bertingkat dua modern minimalis yang ia beli memakai hasil tabungannya sendiri dan sangat ia banggakan. Segalanya normal. Sampai musibah itu datang. Ayah Rosita sang Hakim Agung ditemukan sekarat setelah di tembak oleh orang tak di kenal di dalam ruang kantornya sendiri, ketika kejadian itu beruntung ada Jallaludin dan seluruh anak buahnya karena hendak berkunjung. Dalam kondisi nyawa tinggal di ujung batas, Ayah Rosita, Hakim Ibrahim berhasil membuat Jalal bersumpah akan menjaga dan melindungi putri bungsu pria itu seumur hidupnya. Kemudian, Hakim Ibrahim bisa menutup matanya dengan tenang selamanya. Rosita mengalami kejatuhan terbesar dalam hidupnya, selama seminggu penuh wanita itu tak mau keluar dari kamar lamanya di rumah kedua Orang Tuanya. Tidak hentinya menangis dan meratapi nasib buruk sang Ayah. Ibrahim memang sosok terdekat, dialah tempat bagi Rosita mencurahkan segalanya, dan kini Ayahnya sudah tiada. Waktu itulah Jalal masuk ke dalam hidupnya. Menjadi obat penenang terampuh bagi Rosita. Membangkitkan kembali harapan dan semangat Rosita. Hal itu berjalan baik, Rosita berhasil hidup kembali normal seperti biasa. Masalahnya, setelah itu Rosita menyadari jika ia sudah jatuh cinta pada pria yang seharusnya tidak pernah disentuhnya. Selang beberapa minggu kemudian, di akhir malam 40 hari bagi Ayah Rosita, tak ada angin ataupun guntur petir menyambar langit, Jalal tiba-tiba melamar Rosita. Di hadapan seluruh keluarga besar Garald. Tentu saja Istari, Ibu kandung Rosita menerima pinangan Jalal dengan hati gembira. Ketiga Kakak Rosita, Krisna, dan si kembar Barata - Rama memberika restu penuh untuk calon adik iparnya tersebut. Hanya butuh waktu dua minggu hingga perhelatan akbar di gelar. Rosita dan keluarganya tidak perlu memusingkan segala hal karena Jalal sudah menyerahkan kepada Wedding Organizer ternama yang telah terbiasa menyiapkan acara pernikahan orang-orang terkenal baik dalam negeri ataupun taraf internasional. Semuanya sudah di urus W.O. tersebut dari hal paling krusial hingga terdetail. Dan tadi pagi, Rosita sepenuhnya menjadi halal bagi Jalal. Akad nikah di laksanakan di gedung tempat mereka menyelenggarakan Resepsi juga. Tamunya hanya dari kalangan keluarga serta kerabat terdekat saja. Harusnya Rosita merasa bahagia. Kenapa dia mesti sedih jika akhirnya menikahi orang setepat dan sesempurna Jalal. Pria tampan, cerdas, berhati baik dan tangguh yang selalu siap untuknya. Masalahnya, ada yang mengganjal sejak lama di hati Rosita. Rosita sudah jatuh cinta pada pria itu, namun apakah Jalal merasakan hal sama untuknya?? Rosita cemas, juga ketakutan, jika pernikahan mereka hanya didasarkan rasa tanggung jawab dari Jalal semata tanpa adanya ikatan cinta. Maka perkawinan mereka bisa lenyap secepat kedipan mata. Dia masih memerlukan bukti. Masalahnya, Rosita terlalu takut mencari, karena jika hasilnya tak sesuai harapannya maka Rosita akan menjadi yang paling tersakiti. " Pria itu terus menerus menatapmu" Gaung suara bass serak milik Jalal membuat sekujur bulu halus di badan Rosita berdiri. Mendongak, Rosita mendapati Suaminya yang tampan tengah memberinya tatapan kesal. Ada sedikit ekspresi aneh tergambar di raut mukanya. Cemburukah? Rosita bertanya-tanya. " Maksudmu?" tanya Rosita pelan dan hati-hati. Mengingat mereka berdua masih menjadi pajangan di atas panggung. Menunggu sisa-sisa tamu yang masih saja berdatangan untuk memberikan ucapan selamat pada mereka. Jalal menggerakkan lehernya ke arah tangga naik menuju panggung, tempat yang wajib di lalui tamu terlebih dulu untuk memberikan ucapan selamat. Mengikuti arah mata Suaminya, Rosita menemukan sosok yang di maksud Jalal. Seorang pria, usianya lebih tua beberapa tahun dari Rosita, Tinggi gagah, berkulit kuning langsat, rambut cepak hitam dan berantakan. Wajahnya perpaduan Timur tengah dengan Indonesia. Namun berbeda dari Jalal, keturunan asli Uni Emirat Arab-Indonesia- dengan sedikit darah Kakek dari Gujarat. Rosita mengenali Andrew Abraham sebagai perpaduan sempurna Pakistan-Inggris-Indonesia. Meski begitu darah Asianya jauh lebih kental. Dengan tinggi nyaris mencapai Jalal, serta postur sedikit lebih kecil. Andrew dan sahabat baiknya, Bryan Contramande tetap saja menjadi pusat perhatian banyak kaum hawa. Rosita mengenali Andrew sebagai seniornya saat SMA, sempat bertemu beberapa kali dalam kebanyakan pesta. Beberapa teman Rosita di kalangan Sosialita berkata jika Andrew sebetulnya sejak dulu menaruh hati padanya, dan kini Rosita justru menikahi pria lain membuat Andrew patah hati. Benarkah pemilik jaringan Firma Hukum ternama seantero Asia itu patah hati atas pernikahannya? Jika memang iya mengapa Rosita tidak melihat tanda-tanda kesedihan sama sekali di wajahnya? Ataukah Andrew Abraham memang seorang poker face sejati? Berbagai pertanyaan bergulat di benak Rosita, sampai-sampai ia tak menyadari jika orang yang dipikirkan sudah berada tepat di hadapannya. Menjulurkan tangan ke hadapan Rosita. Mata gelap Rosita bertemu sepasang mata hitam segelap jelaga Andrew. Ada titik-titik kehijauan seperti percikan kembang api di langit malam di dalam kedua irish Andrew. Rambut coklat bergelombang cepaknya berantakan. " Selamat ya Rosi..." kata Andrew kaku. Memberikan penekanan di setiap katanya. Rosita sedikit terkejut saat mendapati kilatan kemarahan di dalam bola mata Andrew. Dengan lengan bergetar Rosita sudah akan membalas salaman Andrew, beruntung, Jalal buru-buru menyelanya. " Terimakasih Tuan Abraham. Terima kasih atas kesediaan anda hadir juga, meski pada awalnya yang saya undang adalah Ayah anda" ada sindiran tajam di ujung kalimat Jalal. Wajah Andrew menegang, sementara Rosita bisa melihat kilat geli di dalam mata muda Bryan Contramande. " Well, tadinya Papi mau datang, tapi maaf beliau sedang teramat sibuk dengan congress di Singapura jadi dia memintaku menggantikannya" jawab Andrew. Berusaha mengembalikan ketenangannya. " Benarkah? Jika yang anda maksudkan Congress Pertemuan para Penguasaha Pelaku Ekonomi Terdepan di Hotel Hyatt Singapura yang diadakan selama 5 hari berturut-turut itu. Maka bukankah seharusnya kemarin malam telah usai?" Jalal dengan sengaja berpura-pura terlihat bodoh. Andrew berubah pucat, sementara Bryan dengan polosnya justru berkata. " Benar juga, Congressnya kan sudah selesai sejak kemarin" Membuat Andrew memutar leher, memelototinya lalu menyikut keras-keras perut sahabatnya itu. Membuat pria tersebut mengerang lirih. Rosita berusaha keras menahan tawanya. Namun hasilnya bahunya jadi ikut bergetar. " Baiklah kalau begitu, selamat bahagia dan selamat menempuh hidup baru" kata Andrew dengan suara keras berlebihan. Bryan mengangsurkan tangannya kikuk, menyalami Rosita cepat-cepat dan tidak mau memandang ke arah Jalal selama melakukan itu. Mungkin takut dipelototi dan bernasib sama seperti Andrew. " Selamat ya Rosi. Ngomong-ngomong, jika kelak aku menikah pastinya pengantinnya harus secantik kamu" Bryan mengerlingkan sebelah matanya. Rosita terkejut atas keberanian Bryan, dia bisa merasakan tubuh Jalal menegang di sampingnya. Namun sebelum Jalal sempat mengatakan hal cerdas untuk mengejek Bryan, pemuda itu sudah berjalan cepat menuju ke arah tangga turun sembari menarik ujung jas abu-abu Andrew. Setelah keduanya menghilang dari pandangan mata, barulah Rosita tergelak-gelak. " Ya Tuhan Jalal, coba lihat kelakuanmu barusan. Seperti anak kecil tahu tidak padahal usiamu sudah 35" celetuk Rosita. Sembari memegangi perutnya agar berhenti terpingkal lebih dari ini. Jalal mendengus sebal. " 34" koreksinya. " Asal tahu saja, orang seperti itu perlu diberi pelajaran" gerutunya jengkel. Punggung Rosita mendadak menegang, mendongakkan kepala cukup tinggi mengingat Jalal nyaris mencapai 190 centi, jelas perbedaan 34 centi terasa begitu kuat bagi Rosita. " Apa kamu cemburu?" tanya Rosita tak percaya. Jalal membisu sesaat. Kedua alis lebat hitamnya tertarik ke atas hingga seperti membentuk jembatan, sudut bibirnya kirinya menyunggingkan senyum penuh makna. " Menurutmu?" balasnya balik bertanya. Rosita menjadi kesal, merasa dipermainkan. " Ya sudahlah sesukamu saja" dia memutar badan lalu bersedekap. Bibirnya dimonyongkan, gaya natural Rosita setiap kali dia sedang jengkel. Sikap dan kepribadian alami Rositalah yang membuat Jalal tak henti senang menggodanya. " Jangan begitu, pamali kok pengantin wanita marah-marah di hari bahagianya" bisik Jalal, sedikit menunduk di dekat daun telinga Rosita. Tubuh wanita itu seketika berdesir kala ujung bibir Jalal mengenai puncak telinganya. Organ di dalam diri Rosita mengetat. Percikan-percikan aneh menyala di dirinya. Menjadi gugup, Rosita berdeham sambil sedikit memberikan jarak di antara mereka. Namun di luar dugaan Jalal justru meraih tangannya, menarik bahunya terang-terangan hingga tubuh mereka berdempetan. Terkejut, rona merah menyebar di tulang pipi Rosita ke berbagai penjuru wajahnya. " Tentu saja aku cemburu. Aku kan Suamimu" bisik Jalal lebih keras lagi. Kali ini tidak ada nada suara menggoda. Menelan ludah susah payah. Rosita bahkan terlalu malu untuk mendongak. Diam-diam, seulas senyum senang tersungging di wajahnya. Sepertinya, hidup dengan Jalal sama sekali bukan ide buruk. Bisik batin Rosita, seraya berdoa agar acara resepsi mereka segera berakhir dan dirinya mendapatkan kesempatan berbicara empat mata saja dengan Suaminya. Meski, Rosita mengalami ketakutan besar akan akhir malamnya nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD