MALAM PERTAMA (ROSITA)

903 Words
Nafas Rosita tercekat ketika ia memasuki kamar pengantinnya. Sebuah kamar Presiden Super Suite di dalam sebuah Hotel bintang lima yang terlelak cukup dekat dari lokasi Resepsi. Ruangan ini telah di sulap menjadi serupa kamar dalam serial tv Bollywood yang belakangan ini terkenal, Mahabarata. Peraduannya berupa ranjang kokoh berpinggiran emas, memiliki selambu berbentuk jala-jala putih, rangkaian kelopak mawar merah dan kuning menutupi kasurnya. Sementara lantainya berhiaskan untaian bunga melati, mawar merah, mawar kuning, serta frangipani kuning dan putih. Ratusan lilin kecil menyala, tersebar rapi membentuk lingkaran di sepanjang jalan dari pintu masuk hingga tepian terluar area ranjang. Seperti melangkah di atas red carpet yang terbuat dari bunga dan lilin. Ini.Luar.Biasa. Batin Rosita. Wanita itu terlalu takjub hingga kesulitan mengeluarkan pujian dalam bentuk kata-kata. " Kau suka?" suara serak tapi lembut Jalal, Suaminya, terdengar bergemuruh di dekat daun telinganya. Menolehkan leher ke belakang, Rosita menemukan sepasang mata abu-abu keemasan Jalal menari-nari cantik di antara pantulan cahaya lilin merah. Mengunci tatapannya dengan cara sangat kuat yang sulit di jabarkan, hingga membuat jantung Rosita mengeluarkan denyut debaran kencang. " Ini menakjubkan" kata Rosita ketika berhasil menemukan suaranya. Jalal tersenyum lembut pada Istrinya, tangan kanannya berada di atas pundak kanan Rosita, sedikit mendorong wanita itu hingga masuk lebih ke dalam kamar mereka. " Sebaiknya kau mandi dulu, pasti sudah gerah sekali kan?" tanya Jalal. Rosita mengangguk kaku. Itu benar, meskipun bajunya sudah terbuat dari bahan kain kualitas asli nomor satu, tapi tetap saja rasa panas dan berkeringat akibat tegang dan berdiri berjam-jam menyalami ribuan tamu membuat kulit Rosita menjadi lembab serta kotor. Ia memang ingin cepat-cepat berendam di dalam air hangat dan melepaskan semua daki yang menempel di kulitnya. Juga melenyapkan semua make-up di wajahnya. Bukan rahasia umum lagi jika Rosita tidak pernah cocok dengan produk kecantikan kimia. Wanita itu punya alergi akut, salah satu terhadap bahan-bahan di dalam kandungan make-up. " Emm, kalau begitu aku mandi duluan ya" kata Rosita sedikit ragu. Jalal mengangguk, berjalan ke arah ranjang. " Aku akan memakai kamar mandi satunya" telunjuknya menuding kamar mandi di luar kamar utama. President Super Suite ini memiliki 3 kamar, 3 kamar mandi dalam dan satu kamar mandi luar. Meski buat Rosita rasanya berlebihan menyewa tempat seluas rumah ukuran sederhana tapi tidak ditempati sepenuhnya, namun ia tidak mau memprotes dan tetap bersyukur, karena artinya Jalal ingin memberikan yang terbaik padanya. Rosita mengangguk. Dengan hati-hati ia berjalan menuju kamar mandi, berusaha menghindari bajunya menabrak lilin yang bisa berakibat fatal. Tangannya mencengkram knop pintu kamar mandinya, mendorongnya ke belakang, seketika tubuhnya kembali di buat membeku, Kamar mandi tersebut juga di hias! Dengan begitu banyak lilin serta kelopak bunga tiga warna, kuning, merah, putih bertaburan memenuhi lantai, atas nakas, digantungkan pada dinding-dindingnya. Mulut Rosita membuka menutup, lalu membuka lagi. Memutar lehernya hingga irisnya bertemu pandang dengan Jalal. Suaminya itu menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, ada semburat malu di pipinya tampak. Membuat Rosita semakin merona. Baru kali ini ia melihat seorang Jalaludin Amir Arkansyah menunjukkan sedikit perasaan aslinya. " Maaf ya, sedikit berlebihan memang" kata Jalal. Rosita cepat-cepat menggeleng. " Tidak, sungguh, ini amat indah. Aku. Suka" Merasa gugup luar biasa, Rosita mencoba melangkah masuk ke dalam kamar mandi, menoleh lagi sekali kea rah Jalal yang menatapnya ragu. Pikiran Rosita berkecamuk hebat. Di satu sisi ia ingin Suaminya mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi, merasakan kehangatan air mawar bersamanya, namun setelah itu apa?? Jalal sudah berjanji pada Rosita di awal pernikahan mereka, jika pria itu takkan pernah mau memaksakan kehendak Rosita. Jalal hanya akan berhubungan intim apabila Rosita yang menginginkannya. Jalal seorang pria sejati, lelaki itu bakal melakukan sesuai sumpahnya. Dengan mengajak Jalal ikut mandi bersamanya , sama saja dengan meminta pria itu melanggar sumpahnya secara tak langsung. Karena sudah pasti, pria teguh seperti apapuh bakal luntur imannya bila berada di tempat 'khusus' bersama perempuan yang sudah halal untuknya. Dengan frustasi Rosita membanting pintu kamar mandinya hingga tertutup. Tangannya memutar kran mengaturnya ke bagian cukup hangat. Rasa kesal atas kondisinya saat ini membuat Rosita melepas asal-asalan baju pengantinnya, mencabut sekenanya semua hiasan yang menempel di tubuh serta kepalanya dan melemparkannya ke atas nakas. Sambil mendengus Rosita akhirnya memasukkan seluruh badannya ke dalam air ketika di rasa telah cukup penuh. Punggungnya di sandarkan pada bath-up, kedua tangannya dilingkarkan di atas pinggiran keramik putihnya. Rosita membiarkan tubuhnya terombang-ambing di dalam kehangatan air, merasakan setiap peluh dan penatnya hilang perlahan di telan kenikmatan berendam. Sedikit demi sedikit setiap simpul syarafnya yang tadinya menegang menjadi lebih lentur. Memejamkan mata, semua gambaran kejadian hari ini terbayang di kepalanya. Acara Akad Nikahnya berjalan sakral serta khidmat. Ada satu momen di mana Rosita menangis tersedu-sedu di pangkuan Ibunya kala mengingat Ayahnya yang telah tiada. Rosita bahkan sempat membayangkan Ayahnya ada di antara mereka. Bagian paling mengharukan baginya adalah, ketika Jalal mengucapkan sumpah di depan Tuhan, akan selalu menjadi Iman yang benar dan membimbing Rosita serta keluarga kecil mereka kelak ke jalan terang. Rosita tak kuasa menahan tangisnya. Saat itu juga Rosita sadar betul jika ia telah jatuh cinta terlalu dalam pada Jalal. Masalahnya adalah, apakah pria itu juga merasakan hal yang sama?? Apa yang harus Rosita lakukan agar Jalal membalas cintanya? Akankah pernikahan mereka berakhir seperti dongeng bahagia, atau justru di atas meja hijau suatu saat nanti. Ketika Jalal mulai merasa muak pada keterikatan serta menyesal telah melakukan pernikahan hanya berdasarkan ikatan janji pria itu kepada almarhum Ayah Rosita? Dada Rosita seakan meledak oleh ketakutan serta ketidak percayaan yang bagai cambuk. Menghancurkan seinchi demi seinchi hatinya. Perlahan, Rosita menenggelamkan wajahnya ke dalam air hangat. Berharap air dapat menyapu segala duka serta air mata. Keraguan juga kecemasan.Agar berganti dengan sebuah kepercayaan serta keyakinan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD