MALAM PERTAMA (JALAL)

1800 Words
Saat keluar dari kamar mandi dan kembali masuk ke dalam kamar,Jalal dikejutkan oleh sosok Rosita. Istrinya tersebut sedang duduk di tepian ranjang memunggunginya. Tubuhnya hanya berbalut kamisol tidur tanpa lengan sepanjang lutut, terbuat dari sutra, berwarna merah yang terlalu banyak memperlihatkan kulitnya. Sesuatu di bawah perut Jalal berdenyut keras sekali, perutnya menegang dan setiap otot di tubuhnya memerintahkannya agar mendekati Rosita sekarang juga lalu menyergapnya. Mengepalkan kedua tangan keras-keras, Jalal berusaha keras menyingkirkan semua iblis yang bersiap merasukinya sekarang juga. Betapapun memikatnya kemolekan tubuh Rosita. Atau keindahan kulitnya yang serupa patung pualam Dewi Romawi. Maupun aroma harus bunga frangipani menusuk yang terkuar dari tubuhnya bisa mencapai indra penciuman Jalal dari jarak bermeter-meter jauhnya. Jalal harus bisa mempertahankan diri serta sumpahnya. Dia telah berjanji takkan pernah melakukan hubungan intim tersebut sampai Rosita benar-benar siap menyerahkan segalanya atas kemauannya sendiri, bukan karena paksaan. Jalal berjalan ke arah Istrinya secara perlahan, takut mengejutkan wanita itu.Rupanya Rosita sedang sibuk menyisir rambut panjang bak kemilau berlian hitam yang membuat Jalal selalu ingin menyugarnya dengan jemarinya sendiri setiap saat. Ketika iris Jalal beradu dengan kemulusan bahu terbuka Rosita, kilasan bayangan rambut Rosita di dalam genggamannya saat wanita itu meneriakkan namanya pada puncak kenikmatan penyatuan mereka, berkelebat kuat di dalam kepala Jalal. Jalal menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Jantungnya berdetak tak karuan, terlalu kencang hingga terasa sakit di dalam rongga dadanya. Jalal merasakan paru-parunya ditekan sangat kuat hingga ia tak dapat bernafas dan kehabisan udara. Secara ajaib telapak tangannya bahkan berkeringat! Jalal sudah pernah merasakan kengerian luar biasa sepanjang hidupnya, selama dirinya menjadi agen ada begitu banyak situasi dan tindakan menyangkut pertaruhan nyawa pernah dia rasakan. Tapi yang satu ini, sekarang ini, sulit di jabarkan secara logika oleh Jalal. Yang lelaki tampan itu tahu hanyalah, benteng pertahanannya runtuk dalam satu sapuan mudah, dan itu dilakukan oleh Rosita, tanpa sepengetahuan Rosita maupun Jalal sendiri. Jalal lebih memilih berada di dalam kepungan teroris bersenjata bazooka ketimbang harus mengahadapi seorang wanita cantik yang telah sah menjadi pendamping hidupnya. Namun, Jalal tak mampu melakukan apapun. Bahkan mendekatinya saja harus membuat Jalal seperti kehilangan kesadaran lagi. Rosita mendadak memutar tubuhnya, mendongak, sedikit terkejut melihat sosok Jalal yang berdiri menjulang di hadapannya. " Maaf, aku tidak tahu kalau Kakak sudah masuk. Apa dari tadi?" tanya Rosita. Tangannya meletakkan sisir plastik birunya ke atas rak meja marmer panjang di sebalah. " Baru saja kok. Sudah lanjutkan acara menyisirmu, aku tak mau mengganggu" ujar Jalal. Seulas senyum lembut tersungging di bibirnya. Ia berusaha keras menutupi suara seraknya serta menahan agar matanya berhenti menatap Rosita seperti macan berbulan-bulan kelaparan dan menemukan calon mangsa empuk. Rosita terdiam di tempatnya. Mulutnya membuka, menutup lagi, lalu berbicara lagi. " Anu, maaf ya baju-bajuku...Sepertinya ada yang sengaja mengganti isi koperku, soalnya hanya tinggal baju tidur semacam ini" Rosita menundukkan kepalanya. Jalal bisa melihat rona merah muda menyebar di sekitar pipi halus Rosita, ketika bersemu wanita itu cantiknya tidak karuan. Membuat debaran di d**a Jalal naik menjadi 200 km/jam saja kalau di arena balapan. Memberanikan diri, Jalal mengambil tempat di samping Rosita. Meski ragu di awal namun Jalal mengaitkan jemarinya pada jemari tangan Rosita yang diletakkan di atas pahanya. Serangan-serangan mendadak dari jutaan energi kecil kembali menyerang Jalal. Hal tersebut selalu terjadi setiap kali bagian tubuh atau kulit Jalal bersentuhan bersama wanitanya. Rosita terlihat kaget. Kepalanya terangkat hingga mata mereka bertemu pandang. Dengan intens Jalal memandang jauh ke dalam jiwa Rosita. Jalal menganggumi sangat bagaimana sepasang mata segelap kilauan samudra hitam itu selalu mampu menyapu habis segala kecemasannya dan menggantinya dengan sebuah semangat baru. Jalal merasakan hentakan emosi kuat setiap kali berusaha mempertahankan tatapannya kepada Rosita. Belum pernah terjadi padanya selama ini. Mata Jalal menjelajahi wajah halus Istrinya, kemudian hidungnya yang sedikit bengkok tapi mancung. Lalu bibirnya. Penuh, tipis, menggoda ditambah guratan-guratan di sudut yang tampak sangat jelas setiap kali otot-otot di mulutnya bekerja atau berbicara. Sungguh sangat erotis! Jalal merasakan tenggorokannya kering kerontang seketika, berusaha membasahi dengan ludahnya tapi tidak cukup juga. Cukup lama mereka beradu dalam keheningan total. Seakan Jalal bisa hidup ratusan tahun dengan hanya memandangi Rosita. Sewaktu sadar dirinya telah membuat wanita itu menunggu, Jalal pun berkata dengan lembut, tangannya terangkat ke atas kepala Rosita, masih sedikit basah, sisa dari mandi tadi. Namun Jalal sangat menyukai arome daun thyme dipadu ekstra green tea. Baginya seperti ramuan ajaib yang bisa membuat siapapun melakukan keinginan Rosita tanpa diminta. " Kau tahu, aku masih memegang teguh janjiku sayang" kata Jalal dengan suara serak. Jemarinya bergerak perlahan menyugar rambut Rosita. Memang tidak sesuai bayangannya tapi sudah cukup baginya saat ini. Wajah Rosita semerah sup tomat sekarang, Jalal tahu persis apa yang wanita itu pikirkan sejak awal. " Jangan cemas. Saat aku mengucapkan sesuatu maka akan kupegang teguh. Aku akan menunggu sampai kau betul-betul siap" kata Jalal. Memberikan ekspresi serius. Rosita tampak meragu awalnya. " Bagaimana jika butuh waktu lama bagiku untuk, siap?" " Percayalah padaku, aku memiliki kesabaran melebihi apa yang orang lain pikirkan" tukas Jalal mantab. Penuh percaya diri. Jalal bisa melihat kelegaan terpancar melalui sepasang mata samudra gelap Rosita. Di satu sisi Jalal kecewan, tapi di sisi lain ia merasa senang karena telah melakukan hal yang benar. " Lalu, apa yang harus kita lakukan setelah ini?" tanya Rosita. Tampak canggung. Jemarinya memainkan ujung kamisolnya tanpa melihat Jalal. Mungkin masih merasa malu karena niatannya tadi kentara sekali. " Hemm, coba kita lihat" Jalal bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah lemari pakaian berpintu geser kaca. Jalal melihat tas ransel hitamnya teronggok di bagian kiri bawah. Sedikit membungkuk, terdengar bunyi derit ketika risleting ranselnya di buka. Jalal tersenyum puas sewaktu menemukan apa yang dicarinya. Menoleh ke pada Rosita, Jalal mengacungkan sebuah benda ke atas udara. " Mau bermain catur??" Satu alis gelap Rosita terangkat. Kegelian menyapu mukanya. Jalal nyaris mengira Rosita bakal mentertawakannya,namun bukan nada mengejek yang keluar dari mulut wanita itu, melainkan./ " Baiklah. Kemarikan benda itu. Dan tuan Arkansyah, anda salah besar karena telah mengajakku bertanding bersamamu. Jadi sebaiknya segera persiapkan salah satu benda berhargamu sebagai bahan taruhan" kata Rosita bersemangat. Jalal memberikan ekspresi tertarik, ia tak pernah menyangka jika Rosita bisa bermain catur. "Baiklah Nona manis,aku takkan segan lagi kalau begitu" jawab Jalal di ikuti senyum penuh makna tersungging di bibirnya. Malam ini bakal sangat seru. Batin Jalal dalam hati. ***************** Jalal dibangunkan oleh getar lembut ponselnya yang diletakkan tak jauh dari atas tempat tidur. Saat Jalal mencoba bergerak, ia menyadari jika Rosita tengah tertidur dalam posisi miring berhadapan dengan Jalal. Kedua tangan mungil dan rampingnya melingkar erat sekali di atas lengan kanannya, sementara kepalanya bersandar pada bahu kanan Jalal. Rosita terlelap sangat nyenyak, seperti seorang malaikat. Begitu cantik dan mempesona. Nafanya berdengkur lembut serta teratur. Bibir mungilnya terlihat berkilauan tertimpa pantulan cahaya lilin-lilin merah dan kuning. Jalal tersenyum, merasa begitu bersyukur bisa melihat Istrinya tertidur tenang serta tersenyum lebar,sepertinya bermimpi indah malam ini. Dering suara telpon bergetar semakin cepat dan banyak, minta untuk tidak di abaikan. Mendengus kesal, dengan terpaksa Jalal memindahkan posisi tubuhnya secara amat perlahan dari Rosita agar Istrinya tak terbangun. Kemudian di raihnya ponselnya dari bawah bantal, sambil menekan tombol penerima,Jalal mengangkat telpon tersebut tanpa mengecek terlebih dulu siapa penelponnya di luar kamar yang ia tempati tapi masih di dalam area President Super Suite nya. " Ya,Kapten Alfa. Kuharap telponmu benar-benar sepadan dengan gangguan yang kudapat" tukas Jalal sambil mengeram kesal. Terdengar kekehan dari sebrang, suara lunak Alfa Xian, anak buah Jalal di kesatuan Organisasi Intelijen Mata Garuda menjawab. " Maafkan saya Wakil Direktur karena telah mengganggu anda di Malam seindah ini " Alfa masih sempat-sempatnya menggoda Atasannya. Begitu mendengar gerutu tidak sabar dari Jalal, Alfa segera melanjutkan. " Anda tahu jika saya bukan tipikal orang yang suka mengganggu kesenangan orang lain. Masalah ini sangat gawat dan tak bisa diabaikan hingga menunggu esok. Ini tentang Desfal, Sir..." Jantung Jalal seakan melompat keluar dari rongganya, begitu mendengar nama dalang yang bertanggung jawab penuh atas kematian Ayah kandung Rosita, dan seharusnya menjadi Ayah mertuanya saat ini. " Ada apa dengan Dasfal?!" tuntut Jalal. Nada suaranya naik beberapa oktaf. Kecemasan mulai merayapi perutnya. Mendesah berat, Alfa pun menjawab. " Dia berhasil kabur Sir.Salah satu anak buahnya telah berhasil menyamar menjadi Sipir penjara dan membebaskannya" Tanpa bisa di cegah, Jalal mengeluarkan seluruh kalimat umpatan terkenal dalam bahasa Indonesia, tanpa mempedulikan anak buahnya bisa jadi menjauhkan telinga dari saluran telpon. " Tapi kami sudah berhasil melacaknya Sir. Terakhir kali dirinya terlihat membeli sebuah tiket kereta ke Semarang, lalu menaiki bus dan pergi ke wilayah lebih terdalam di Jawa Tengah" Alfa memberikan laporannya. Jalal terdiam selama beberapa saat, sekujur tubuhnya menegang keras sekali tak ubahnya patung batu marmer raksasa. Matanya berkilat dipenuhi kemarahan. " Selidiki terus di mana ia dan laporkan selalu situasinya. AKu membutuhkan setidaknya 2 unit untuk di kirim ke tempatku" " Apa anda akan membatalkan bulan madunya?" tanya Alfa. Terdengar sedikit sungkan. " Tidak.Aku ingin segalanya berjalan tetap sesuai rencana. Aku tak mau membuat Istriku menjadi panik, terlebih lagi aku tak ingin musuh menjadi senang melihatku ketakutan. Kau paham kan maksudku?" kata Jalal setengah memutar badannya. Sehingga dengan posisinya, matanya masih bisa mengintip Rosita dari celah pintu yang ia biarkan separuh terbuka. Untunglah Rosita masih terlelap. " Baiklah Sir, kalau memang itu keputusan anda. Saya akan mengirim dua unit ke sana sekarang juga. Dan, mmm, Sir saya tahu sekarang bukan waktu tepat untuk menanyakan ini tapi. Mengenai agen baru dari S.H.i.R.e yang akan datang minggu depan" suara Alfa terputus-putus. Bukan karena jaringan. Jalal bisa mendengarkan keraguan dalam kalimatnya. " Katakan saja kalau kau menginginkan perempuan itu di bawah pengawasanmu. Si Contramande itu bukan" kata Jalal tepat sasaran. Alfa terdiam beberapa detik di tempatnya. Lalu Jalal terkekeh. " Aku tidak tahu ada apa denganmu dan si Contramande itu. Akan tetapi Ibu Direktur telah memintaku agar mengawasi tingkah lakumu jika agen baru kita tiba" Alfa terbahak-bahak di ujung salauran sana. " Terima kasih, Sir. Anda memang yang paling mengerti saya. Oh, dan selamat ber malam pertama. Jangan biarkan telpon saya mengganggu proses pembuatan apapun yang harus anda buat setelah ini" Belum sempat Jalal mengucapkan sepatah katapun, sambungan telpon telah di putus dari pihak sebrang. " Dasar anak muda" bisik Jalal. Tertawa geli sendiri seraya mematikan ponselnya. Pelan-pelan Jalal kembali masuk ke dalam kamar, naik ke atas ranjang sehati-hati mungkin agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Istrinya. Masih tertidur, bibir Rosita tersenyum semakin lebar. Jelas sekali wanita itu kelelahan setelah melakukan18 kali adu tanding catur dengan Jalal. 6 kali kalah dari Jalal sementara sisanya menang mutlak. Dada Jalal terasa begitu sesak memikirkan lagi pelaku kejahatan yang telah membuat senyum ceria Istrinya hilang, terenggut bersama kematian Ayahnya,kini justru telah berkeliaran ke mana saja. Bayangan hal buruk bakal menimpa Rosita, membuat Jalal marah besar. Jalal telah bersumpah, ia akan menjaga dan melindungi Istrinya apapun taruhannya. Tidak peduli nyawa ataupun darahnya harus tertumpah. Yang terpenting baginya adalah keselamatan Rosita. Bergerak naik perlahan. Jalal setengah membungkuk menyapu dahi Rosita dengan lembut memakai bibirnya. Jalal mendengar sekilas erangan Rosita, sebelum akhirnya tertidur kembali. " Aku akan menjaga senyummu ini sayangku" kata Jalal lirih. Tepat di luar daun telinga Rosita. Menarik masuk dirinya ke dalam selimut, Jalal mendekap perlahan tubuh mungil Istrinya. Kesadaran Jalal mulai tenggelam perlahan-lahan, tersedot oleh kabut hijau tebal yang berpusar dalam dirinya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD