Angin pantai hangat menerpa tubuh Rosita. Kesepeluh jemari kakinya tenggelam di dalam butiran putih pasir pantai selembut bulu. Di hadapan Rosita pemandangan menakjubkan terbentang sejauh mata bisa memandang. Untaian warna biru keemasan serta hijau keperakan laut yang berasal dari ganggang di dalam air jernih, rumput laut serta terumbu karang tertimpa cahaya matahari siang hari.Cuaca memang sedikit berkabut, warga di sekitar Nusa Dua berkata bakal ada badai nanti malam, tapi hal itu tidak mengurungkan niat Rosita untuk menikmati suasana pantai saat itu.
Sembari memejamkan mata, Rosita merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi dan selebar dia bisa, membukanya serupa kepak sayap seekor burung. Hidungnya bergerak, mendungus lembut, menarik dalam-dalam udara segar di sekitarnya. Memasukkan banyak-banyak aroma kelapa, laut yang asin, serta kesejukan angin pantai, hingga memenuhi paru-parunya.
Bau Pantai memang terenak bagi Rosita, selalu mengingatkannya pada Almarhum Ayahnya. Sejak kecil Rosita selalu di ajak keluarganya bermain ke Pantai setiap kali liburan tiba. Mereka bahkan memiliki dua buah villa pribadi di daerah Anyer, dan Lombok sana.
Pantai dan laut bukan hal baru untuk Rosit. Meski Rosita tidak pandai berenang karena sebuah insiden yang di alaminya sewaktu masih kanak-kanak. Ia hanya suka memandangi keindahannya melalui mata kemudian menggoreskannya ke atas kanvas melalui coretan-coretan tangan ajaibnya pada warna-warna cantik kuas cat lukis.
Dan sekarang, Rosita akan menghabiskan waktunya selama 5 hari 4 malam di sebuah pantai nan cantik, area private cottage di Nusa Dua, Bali, bersama Suaminya. Jalal memang hebat, pria itu telah mengatur segalanya untuk Rosita.
Sebuah cottage indah nan unik dengan arsitektur tradisional yang terdiri dari 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, plus Jacuzzi di belakang halaman wilayah cottage sudah dipersiapkan secara sempurna. Hiasan aneka jenis bunga beraroma harus berwarna merah dan putih ditebar dalam bentuk rangkaian ataupun pot di seluruh penjuru cottage sewaan mereka.
Rosita hanya bisa terperangah tatkala pertama kali turun dari dalam Van milik Jalal, tiba di depan pintu masuk cottage.Serasa benar-benar tinggal di belantara tepian pantai sebuah pulau terpencil. Setidaknya, itulah yang ia dapatkan ketika menginjakkan kaki di Swandayana Resort and Cottage, Nusa Dua.
Sentuhan lembut di kedua pundak Rosita memecah segala konsentrasinya. Mengerjapkan mata beberapa kali, Rosita mendongakkan kepala sewaktu menyadari ada bayangan lain menutupi tubuhnya dari terpaan sinar matahari.
" Kak Jalal" kata Rosita terkejut.
" Jangan terus-terusan di sini, bisa sakit nanti" ujar Jalal. Bibirnya memberikan senyum tipis pada Istrinya.Membuat rahang kokohnya meninggi.
Di mata Rosita bahkan wanita manapun yang bisa melihat pria itu akan menyadari betapa tampannya Jalal saat ini. Hanya mengenakan celana ¾ coklat bermotif batik, kemeja biru lengan pendek dari bahan kain jeans. Rambutnya sedikit berantakan dan masih basah akibat usai mandi. Sepasang mata abu-abu keemasan. Jalal bakal menjadi santapan lezat andai saja tidak ada Rosita di sampingnya.
Rosita tak bisa menahan senyumnya sedari tadi, sepanjang perjalanan dari Bandara Cengkareng hingga tiba di Ngurah Rai, semua mata tertuju pada mereka. Beberapa menyebut betapa beruntungnya Rosita, sementara lainnya memuji keelokan pasangan ini. Membuat wajahnya merona dan tampaknya tak urung dari pandangan Jalal.
" Pantai itu sahabatku, sejak usia 4 tahun Ayah selalu membawaku kemari" kata Rosita. Punggungnya menegak, wajahnya menatap lurus-lurus kepada salah satu titik putih di kejauhan sisi pantai sebelah kiri tempatnya berdiri. " Tapi aku tidak bisa berenang. Saat berumur 6 tahun seorang musuh keluarga mencoba menculikku dan menenggelamkanku di dalam kolam renang. Sejak itu aku mengalami trauma berat dan butuh setahun lamanya hingga bisa kembali normal. Setidaknya itulah pikiran semua orang"
Rosita bisa merasakan ketegangan menguap dari tubuh Suaminya. Menolehkan kepala ke samping kiri, sedikit memiringkan wajah, senyum lebar Rosita terkembang. " Jangan cemas, pelakunya sudah ditangkap kok dan masih mendekam hingga sekarang di penjara. Hukuman seumur hidup serta rasa bersalah telah menjadi hakim paling adil bagi siapapun pelakunya, karena jujur aku sudah tidak mau lagi mengingatnya"
Serbuan ketakutan kembali terungkap ke permukaan, ketika Rosita untuk kali pertama setelah sekian lama dalam hidupnya mengatakan salah satu rahasia tergelapnya. Ketakutannya sendiri.
Tanpa disadari tubuh Rosita bergidik ngeri. Raut mukanya memancarkan kemarahan bercampur keputus asaan setiap kali teringat adegan mengerikan yang membuatnya bermimpi buruk selama nyaris setahun penuh tersebut.
Sepasang lengan kuat dan panas memeluknya dari belakang. Awalnya terasa canggung bahkan aneh bagi Rosita, namun mendapatkan kenyamanan atas kemantaban pelukan Jalal, Rosita entah kenapa mau melepaskan semua dinding pertahanannya. Memperlihatkan segalanya kepada orang lain. Padahal selama ini Rosita sudah berhasil menyimpan rapat-rapat semua traumanya. Bahkan, almarhum Ayahnya saja tidak pernah tahu.
"Jangan takut,ada aku di sini.Tidak akan pernah kubiarkan hal buruk menimpamu lagi.Itulah janjiku" bisik Jalal lembut di antara helain rambut gelap seperti sutra,Rosita.
'Justru itulah masalahnya.Kau hanya memenuhi janji,bukan hati' kata batin Rosita.Merasa sedih.
"Sebaiknya kita masuk,meski tahu kau dan pantai adalah 'saudara'.Tapi aku tetap tidak mau membuatmu sakit .Ayo" Jalal memutar badan mungil Rosita hingga menghadapnya.
Rosita terpesona pada setiap tindakan dari Jalal kepada dirinya yang mampu menimbulkan serangan kejut listrik serta detak jantung berpacu bak kuda di beri steroid.
"Baiklah" kata Rosita sambil menundukkan kepalanya dan pipi bersemu.
Jalal menggenggam erat tangan Rosita dalam genggaman tangan besarnya.Tersenyum lebar,ia berjalan dengan kepala terdongak serta kepercayaan diri penuh.
Rosita di sampingnya hanya bisa mendongak sambil memandang terpesona. Berharap dalam hati andai saja Jalal melakukan semua ini atas nama cinta bukan sekedar tanggung jawab semata atas dasar terima kasih semata.
***********
Rosita tidak mempercayai pantulan dirinya di cermin.Lebih kepada yang ia kenakan sebenarnya.
Sebuah gaun lengan panjang berkerah 'v' sepanjang betis yang terbuat dari kain songket emas dengan sulaman benang wol ungu dan keperakan bermofif bunga,melekat di badannya.Menonjolkan setiap lekuk dan keindahan badannya dengan cara elegan dan cantik.
Rosita berbalik sewaktu mendengar suara nafas tertahan dan dengusan keras. Mendapati Jalal berdiri di belakangnya dengan ekspresi wajah sukar dijelaskan.
"Jelek sekali ya?" tanya Rosita cemas.
Mimik wajah Jalal melembut.Ia melangkah hingga tiada jarak antara mereka.Menyentuh lembut pundak Rosita,Jalal berkata."Kau luar biasa Rosita".
Mendengar pujian dari Suaminya membuat isi perut Rosita bergolak hebat.Kangguru di dalam dirinya melompat-lompat girang.Sulit baginya menahan keinginan tidak merah padam.
"Itu karena gaun pemberian Kakak yang luar biasa" jawab Rosita malu-malu.Menundukkan kepala.
Jalal terkekeh.Tangannya terulur,jemarinya menyapu lembut sepanjang pipi kanan Rosita hingga ke bawah rahangnya.
Rosita memejamkan mata,sensasi sentuhan dari Jalal serupa buaian angun dari surga. Tulang-tulang dalam tubuh Rosita seperti dilunakkan,daging dan kulitnya terasa mencair,meleleh akan kerinduan.Sentuhan Jalal seperti candu bagi Rosita.Membuatnya ingin lagi dan lagi.Lebih dan lebih.Rosita sampai harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara yang sejak tadi tertahan di bawah tenggorokannya.
"Kau sempurna Istriku,hanya lelaki buta mata hati dan batin saja yang menganggapmu kurang.Bukan hanya secara fisik tapi juga hati.Ingatlah selalu ucapanku barusan setiap kali ketidak percayaan diri menguasaimu" kata Jalal tulus.
"Benarkah?" tanya Rosita sambil menengadah.
"Tentu saja.Istri seorang Arkansyah pastilah hebat.Siapa dulu Suaminya" kilatan jahil di mata Jalal serta nada suara sombongnya membuat Rosita terkikik.
"Dasar narsis" gumam Rosita sambil memutar bola matanya.
Jalal tertawa lembut.Menyerahkan lengannya kepada Istrinya,kemudian disambut lingkaran tangan Rosita pada lengan Jalal.Rosita menatap ceria Jalal.
"Sudah siap?" tanya Jalal.
Rosita mengangguk mantab.Tidak sabar merasakan makan malam romantis mereka sebentar lagi.