BULAN MADU (ROSITA PART 2)

995 Words
" 1 Porsi kari ayam pedas sedang, 1 porsi martabak aceh daging sapi, Roti Canai,2 lemon tea hangat" Jalal dengan cepat menyampaikan pesanannya kepada waitress, bahkan tanpa membuka buku menu sama sekali. Rosita terkejut, bagaimana bisa Jalal memesankan semua jenis makanan yang merupakan kesukaannya.Serta kebetulan sekali memilihkan Restauran masakan khusus Medan-Timur tengah. Waitress lelaki memakai surban dan berpakaian ala orang Pakistan mengulangi daftar pesanan Jalal satu kali, mengambil buku menunya, meminta kami menunggu beberapa menit dan dengan sopan kembali ke dalam. Rosita takjub pada pemilihan tempat makan malam Suaminya. Sebuah restaurant sederhana bergaya ala rumah-rumah di negara Persia lama, di mana terdapat kubah pada bagian atasnya. Serta desain interiornya serba Timur tengah. Mulai dari guci bertuliskan rangkaian syahadat islami, hingga hiasan dindingnya. Para tamu akan duduk bersila di atas panggung-panggung beralaskan karpet bulu Persia tebal, sebuah meja makan dari kayu pendek dan memanjang. Antara meja satu dengan lainnya di pisahkan oleh selambu tipis putih. Rosita tidak pernah berhenti di buat terheran-heran oleh kelakuan romantis Suaminya. " Terima kasih ya sudah mengajakku ke mari" kata Rosita. Kepalanya masih menengadah menatap hiasan tinggi langit-langit. Sebuah tangan besar dan hangat Jalal menggenggam erat tangan kanan Rosita yang diletakkan di atas meja. Membuat darah Rosita berdesir seketika, jantungnya kembali berdebar dalam takaran tak normal. Menoleh memandang kepada Jalal, Rosita membeku sewaktu mendapati dirinya tengah di tatap dengan begitu intens oleh Suaminya. " Tentu saja, apapun demi dirimu. Aku hanya ingin membuatmu bahagia" kata Jalal tulus. Wajah Rosita terasa panas. Kangguru di dalam dirinya melompat-lompat gembira. Rosita sudah akan menyampaikan sesuatu ketika seseorang menyelanya terlebih dulu. " Pak Jalal" Suara feminin khas perempuan, sedikit berat dan mengandung ketegasan. Kepala Rosita dan Jalal sama-sama menoleh ke sumber suara. Rosita menyapukan pandangannya cepat kepada perempuan itu. Sosoknya sangat cantik, dari ciri-ciri fisiknya Rosita yakin wanita itu seorang blasteran. Tubuhnya menjulang tinggi, kaki jenjang dan tungkainya panjang. Meski badannya hanya terbalut atasan kemeja berkerah merah lengan panjang dan celana jeans hitam, namun tak sanggup menutupi segala kemenawanan dirinya.Rambut coklat lurusnya di kuncir kuda di belakang kepalanya. Para model dan artis Indonesia bisa iri jika berdiri di samping wanita itu. Bahkan Rosita sendiri mulai merasa tidak percaya diri hanya dengan menatap wanita asing di hadapannya. Rosita mendapati jika Suaminya, yang dipanggil namanya, masih belum menyahuti. Menolehkan kepala kepada Jalal, Rosita dapat melihat kejengkelan terpancar dari sorot mata tajam Suaminya,rahangnya juga tampak mengeras, meski ekspresi wajahnya di buat sedater mungkin. " Rosita tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Ada masalah penting harus kuselesaikan sebentar" kata Jalal pada Istrinya sambil berdiri. Hati Rosita seketika mencelos. Melihat Suaminya pergi begitu saja bersama wanita yang bagi Rosita asing, yang baru saja menghampiri mereka.Jalal bahkan tak menatapnya sedetikpun ketika pria itu meninggalkannya. Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa bisa membawa efek begitu cepat bagi Jalal yang selama ini selalu terkesan tenang dan bisa mengontrol diri? Apa jangan-jangan? Rosita menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menekan keluar semua keraguan dari kepalanya. Berusaha keras meyakinkan diri jika hubungan Jalal dan wanita tadi hanya sebatas kenal semata, atau bisa jadi rekan kerja mengingat wanita itu memanggil Jalal dengan sebutan 'Pak' di depannya. Tapi, sebetapapun Rosita ingin berpikir positif, ia tak bisa. Wanita tadi terlalu cantik, dan terlalu mempesona untuk bisa sekedar dilewatkan begitu saja.Pada akhirnya rasa penasaran Rosita menang. Membuatnya bangkit berdiri dan berjalan ke arah Jalal sempat menghilang tadi. Rosita mengikuti lorong lurus di sisi kiri dalam restaurant yang rupanya langsung tersambung pad ataman belakang restaurant yang indah. Di sisi kanan Rosita sudah lahan parkir. Langkah Rosita mendadak terhenti. Ia melihatnya. Jalal, Suaminya dan perempuan blasteran itu berdiri di dekat pilar-pilar kayu, pandangan Rosita kurang bisa maksimal mengingat suasana di tempat itu remang-remang karena penyinaran hanya berasal dari deretan lampu taman kuning. Rosita buru-buru menyembunyikan badannya di balik sebuah pilar kayu raksasa. Matanya memincing menatap awas kepada dua subjek di depannya. Jalal terlihat resah, menyampaikan sesuatu dengan cepat, kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. Ada sebuah kalimat terlontar yang cukup bisa Rosita dengar adalah. " Harusnya kau jangan menampakkan diri selagi masih ada Istriku!" suara Jalal meninggi. Jantung Rosita berdebar cepat sekali. ' Memangnya kenapa kalau wanita itu bertemu denganku?Kenapa Jalal tidak ingin kami saling bertemu? Apa jangan-jangan?' Isi kepala Rosita dijejali berjuta pertanyaan. Perasaan cemas merayap ke belakang tulang punggungnya. Hingga. Sebuah pergerakan cepat membuat Rosita seakan ditusuk jantungnya oleh pisau kasat mata. Perempuan cantik itu maju hingga tidak ada jarak antara dirinya dengan Jalal. Satu tangan wanita itu tergantung di bahu kanan Jalal,kakinya sedikit berjinjit namun wajahnya terkulai ke bawah. Rambut panjang dan tebal coklat wanita itu menutupi jarak pandang Rosita. Di dalam kebekuan Rosita melihat segalanya. Saat Jalal mendorong wanita itu dan mengeram marah. Ketika si wanita menjilat bibirnya gugup. Bahu Rosita gemetar hebat, lututnya lemas, dan dagunya seperti jatuh ke atas tanah. Isi perutnya tercampur jadi satu hingga rasanya ia mual parah. Sakit yang teramat sangat mencabik-cabik hati Rosita. Jantungnya seakan di cabut paksa dari rongganya lalu dilemparkan ke atas tanah. Tanpa disadari air mata Rosita merebak memenuhi wajah cantiknya. Terisak pelan, Rosita membalikkan badannya dan menyandarkan punggungnya pada pilar. ' Sekarang sudah jelas semua. Kak Jalal memang tak pernah mencintaiku, pernikahan kami hanya di dasarkan keinginannya bertanggung jawab' pikir batin Rosita perih. Dengan gontai Rosita beranjak meninggalkan lorong. Kepalanya berdentum-dentum oleh kesedihan, Rosita merasa seperti tersedot ke dalam lubang hitam panjang tak berujung dan tertelan selamanya dalam kegelapan. Dunianya hancur menjadi serpihan seperti hatinya saat ini. Menghapus air mata dari wajahnya, kini hanya kemarahan meliputi Rosita. Selama ini ia selalu tahu jika cintanya bertepuk sebelah tangan, wanita tadi pastilah cinta sejati Jalal sesungguhnya. Tanpa sadar Rosita memegang dadanya. Berlari keluar dari restaurant tanpa mempedulikan dijadikan sorot perhatian oleh orang-orang. Rosita bergegas menuju jalan raya, menghadang taksi lalu masuk ke dalamnya. " Kita mau ke mana mbak?" tanya si Supir begitu Rosita menutup pintunya. Rosita terdiam beberapa saat, kemudian menjawab. " Bandara Ngurah Rai. Cepetan ya Pak" jawab Rosita mantab. Rosita meletakkan kepalanya pada jendela, matanya menerawang jauh menatap jalan raya namun jiwanya sudah terbang ke penghujung dunia lain. 'Inilah yang terbaik, melepaskan Kak Jalal sebelum perselingkuhannya berlanjut menjadi membuatnya menjadi lebih berdosa. Serta hatiku tersiksa hingga tidak ada lagi yang tersisa' Batin Rosita pedih. Memejamkan mata. Ia menangis dalam diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD