Rosita mendapati dirinya terbangun di Rumah Sakit dalam kondisi tubuh serasa habis digilas truk raksasa, tulangnya sakit semua, kepalanya berat, dan giginya bahkan bergemeletuk karena kedinginan, meski pada faktanya seluruh pori-pori di tubuhnya mengeluarkan cairan sekresi.
Dengan sedikit usaha akhirnya Rosita berhasil terduduk di atas ranjangnya. Butuh waktu beberapa saat hingga retinanya mampu beradaptasi. Cahaya hangat mentari menyusup nakal dari balik sela-sela selambu tipis putih, memantul mengenai kulit pucatnya hingga menimbulkan efek emas berpijar pada badannya. Rosita menyipitkan matanya, melihat selang tersambung dari balik pergelangan tangan hingga ke saluran IV, infus cair mengalir di dalamnya. Rosita merasakan sedikit kesegaran.
Menarik nafas dalam-dalam, Rosita memejamkan kelopak matanya. Pada hitungan ketiga ia membuang semuanya. Mengisi lagi paru-parunya dengan seluruh udara hangat, meski aroma khas Rumah Sakit pastinya antibiotik dan aneka serum lainnya. Rosita mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun terasa berat. Seperti ada batu karang menahan tangannya.
Membuka mata, Rosita menelusuri gambaran siluet sosok yang kini tengah meringkuk, tertidur di atas kursi dengan kepala terjatuh di atas kasurnya. Kedua tangan besarnya menggengam sangat erat tangan Rosita. Menyembunyikan jemari-jemari mungil wanita itu. Sederhana tapi protektif.Tanpa sadar Rosita tersenyum.
Rosita mencoba memindahkan posisi tangannya dengan hati-hati, takut mengganggu Suaminya yang sedang tertidur. Tapi terlambat. Jemari Jalal menangkap Rosita. Ia melihat punggung lelakinya bergerak. Otot-ototnya melambat, setengah menguap, matanya masih suram separuh menyala mirip bayi baru bangun tidur.
Perlu beberapa menit hingga Jalal betul-betul menyadari kalau Istrinya sudah bangun. " Kau sudah sadar sayang?!" Jalal terperanjat kaget. " Sebentar aku panggilkan Dokter du..."
Rosita meraih lengan Jalal, menggelengkan kepalanya. Matanya menyorot serius. " Tidak sebelum Kakak menjelaskan padaku apa yang telah terjadi"
" Tapi kau butuh..."
" Penjelasan. Sekarang" kata Rosita memaksa. Menahan tangan Jalal dalam sebuah pelukan.
Jalal memandangi tangannya yang kini berada di dekat perut Rosita. Menyadari apa yang sudah ia lakukan, Rosita buru-buru melepaskan Jalal. Sadar jika pipinya merona, ia pun memalingkan wajahnya.
Jalal mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut dagu Rosita dan membawa kepalanya dengan lembut hingga mereka bertemu pandang. " Baiklah kalau itu yang kau mau. Tapi sebelumnya aku harus meminta maaf karena tidak memberitahu keluarga Garald mengenai kondisimu. Pertama aku tak mau mereka panik. Kedua, aku tahu kau takkan mau membuat mereka cemas"
Rosita mengangguk paham, tanda bukan masalah besar.
Jalal tersenyum lembut. Seketika Rosita merasakan debaran jantungnya berpacu tidak normal, seperti biasanya. Jalal duduk di tepian ranjang, berhati-hati sekali pria itu meraih kedua tangan Rosita dan meletakkan di dalam genggaman tangannya yang besar, seakan-akan tangan Rosita terbuat dari remah roti dan mudah sekali hancur.
Jalal kemudian menceritakan segalanya. DI mulai dari kepanikannya saat menyadari Rosita menghilang ( Rosita menggigit bibir karena ini, hatinya mencelos dan setitik perasaan bersalah muncul di hatinya, meski cepat-cepat ia tepis)Lalu pencariannya di bungalow tidak menemukan hasil, bertanya kepada pelayan restaurant hingga berhasil menghubungi Supir taksi yang Rosita tumpangi. Barulah di Bandara Jalal berhasil menemukan titik temu.
Beberapa orang menjadi saksi mata penculikan Rosita, dan kamera pengawas Bandara berhasil merekam nomor plat mobil para penculik tersebut.Lalu semuanya merujuk pada pengintaian Motel yang diyakini sebagai tempat persembunyian penculik, hingga terakhir aksi baku hantam melawan penculik dan menemukan Rosita.
Rosita menegang hebat selama Jalal bercerita. Ia ketakutan setengah mati justru karena tak mampu mengingat apapun. Jalal memberitahu jika dosis obat tidur yang diberikan para penculik pada Rosita terlalu tinggi. Jalal mengaku di satu sisi ia senang Rosita terlelap sepanjang kejadian mengerikan itu terjadi, karena Jalal tak bisa menanggung pikiran gila akan apa saja yang dapat seorang Hambang Yudhiyono lakukan padanya.
Rosita terperanjat sewaktu mendengar nama Pengusaha dan Mentri korup yang kemudian menjadi penyebab utama kematian Ayahnya. Saat itulah Jalal menceritakan fakta sebenarnya. Kalau beberapa waktu lalu tim Mata Garuda mendapat laporan perihal kaburnya Hambang, namun atas permintaan Kepolisian, untuk mencegah kegaduhan massal sementara ditutupi dulu kasusnya hingga Hambang benar-benar tertangkap. Namun entah kenapa Jalal merasa yakin jika alasan Hambang kabur adalah demi membalas dendam.
Itu sebabnya Jalal meminta 2 unit penuh agen Mata Garuda agar menyamar dan melindungi mereka berdua, terutama Rosita,selama perjalanan bulan madu mereka. Jalal terlalu berat hati jika harus memundurkan rencana mereka hanya karena sebuah gertakan tak jelas saat itu.
" Aku baru menyadarinya betapa seriusnya kondisi sampai salah satu anak buahku menghampiri kita sewaktu makan malam. Dia terpaksa muncul karena harus memberitahuku perihal kemunculan Hambang dalam penyamaran di Gilimanuk sebelum kedatangan kita. Aku menjadi cemas. Kepanikanku mencuat saat melihatmu menghilang dari restaurant. Pikiranku sangat kalut setelah itu hingga sulit membuat rencana jernih" Jalal menyelesaikan ceritanya. Menghembuskan nafas panjang dan berat.
Sedangkan Rosita terlalu dikejutkan dengan fakta baru yang ia ketahui mengenai wanita saat makan malam dan bersama Jalal tersebut.
" Jadi dia agenmu? Wanita di dalam restaurant itu?" tanya Rosita, sulit menutupi kekagetannya.
Jalal mengangguk. Seketika dia merasa ada yang salah. Matanya menelisik menangkap pandangan Rosita, karena Istrinya kesulitan menatapnya sekarang. " Ada apa sayang? Tolong jujur padaku sebab aku sudah mengatakan segala kebenarannya" kata Jalal. Penuh selidik.
Rosita menelan ludah. Kangguru di dalam perutnya meringkuk akibat perasaan malu. Rosita merasa begitu bodoh sebab telah begitu berpikiran buruk mengenai Suaminya.
Menundukkan kepala, Rosita memainkan jemarinya di dalam kukungan tangan kuat Jalal.
" Maafkan aku, saat itu aku salah paham. Kupikir wanita itu kekasihmu atau semacamnya sebab aku melihatmu langsung bereaksi aneh setelah bertemu dengannya. Mengajaknya pergi menjauh dariku dan...." Rosita terdiam, mendongakkan kepala. Mendadak ia berteriak ketika sebuah ingatan muncul di kepalanya. " Tapi ia menciummu! Wanita itu. Sewaktu kalian berada di lorong restaurant" tuntut Rosita. Emosi memenuhi tenggorokannya.
Jalal terdiam beberapa detik, wajahnya berubah warna kemudian tawanya meledak.
" Apanya yang lucu?!" intonasi suara Rosita meninggi. Semakin kesal pada reaksi spontan Jalal.
Jalal tidak langsung menjawab. Alih-alih ia malah menggengam kedua tangan Rosita dengan satu tangan saja secara erat, sementara tangan kirinya memegang lembut bahu kiri Istrinya dengan mantab. Matanya mengunci iris Rosita,seolah tak mau membiarkan satu pun momen itu terlewat darinya.
" Dengarkan aku ya sayangku. Namanya Britania Contramande, ia anak buah baru di Organisasi dan salah satu orang yang terlibat penyamaran perlindunganmu kemarin. Aku berani bersumpah! tidak memiliki hubungan apapun selain atasan-bawahan, partner, sekaligus keluarga karena semua orang-orang di dalam Organisasi telah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Yang kau lihat kemarin adalah kesalahan, ia bermaksud menyampaikan informasi penting kehadiran Hambang di Bali kepadaku. Ia sadar jika ada mata-mata Hambang diletakkan di sekitar Restaurant tersebut, itulah alasannya muncul dengan cara provokatif. Dengan harapan bila Hambang melihatku muncul, ia akan berpikir ulang atas niatan bodohnya menyakitimu"
Kelegaan sekaligus rasa malu menghantam Rosita. " Maafkan aku. Aku telah berdosa karena sudah berpikiran buruk terhadap Suamiku sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu" suaranya dipenuhi penyesalan dan kesedihan.
Kalau saja ia tak sebodoh dan senekad itu, maka kemarin dirinya takkan pernah menjadi korban penculikan. Namun, Rosita mencoba mengambil hikmah dari semua kejadian ini. Setidaknya ia tahu sebetapa besar arti dirinya bagi Jalal dan begitu pula sebaliknya. Meskipun, masih ada satu batu besar mengganjal di hati Rosita.
Seakan mengetahui isi pikirannya. Jalal menangkup wajah Rosita dengan kedua tangannya. Hawa panas seketika menguar dari tubuh Rosita, reaksi refleks atas sentuhan Suaminya terhadap tubuhnya.
" Jangan pernah meminta maaf lagi padaku ya. Semua ini salahku, kalau aku memberitahumu mengenai perasaanku sejak awal maka kau juga takkan berprasangka padaku. Ada yang harus kusampaikan padamu Istriku, hal penting yang tadinya mau ku ungkapkan sewaktu makan malam kita kemarin. Rosita Shauffani Garald Arkansyah, aku mencintaimu"
Deg!
Jantung Rosita seakan mau meledak di detik ia mendengarkan pengakuan cinta terus terang Suaminya barusan.
" Aku mencintaimu dan aku sudah menginginkan dirimu secara egois sejak kita bertemu bertahun-tahun lalu. Aku jatuh cinta bukan hanya pada fisikmu semata tapi juga sifatmu, kebaikan hatimu, kepolosan dan keluguanmu mampu mengenyahkan semua dukaku di saat apapun. Masalahnya ketika itu kau masih remaja, dan aku terasa terlalu tua buatmu, belum lagi fakta perbedaan strata sosial kita sangat jauh. Hutang budiku teramat besar pada Ayahmu, Ayah kita, menahanku untuk mengungkapkan perasaanku. Lalu aku melihatmu tumbuh besar menjadi wanita dewasa yang cantik, cerdas, bersahaja.Memandangimu hanya semakin melukaiku, itu sebabnya aku berusaha keras menghindarimu. Tapi nyatanya tak bisa. Pengaruhmu padaku terlalu kuat"
" Pada akhirnya Ayah kita mengetahuinya. Perasaanku. Beliau memaksaku mengaku, namun ego sekaligus rasa terima kasihku pada beliau membuatku menolak secara terang-terangan. Meski begitu aku bertekad kuat agar bisa tetap meminangmu kelak, karena itu aku berjuang keras agar terlihat layak bagi keluargamu dan juga dirimu Rosita. Dan aku memang berhasil meminangmu, meski dengan proses amat menyakitkan. Ayahmu sebelum meninggal memberiku izin agar bisa menikahimu, ia justru merasa lega dan tenang jika melihatmu berada dalam satu peraduan denganku. Berbekal janjiku pada Ayahmu, juga niatanku terdahulu, aku pun meminangmu"
" Namun masalah tak usai begitu saja. Aku terlalu takut karena terlalu pengecut pada diri sendiri. AKu bisa hancur jika setelah pernyataan cintaku ternyata membuatmu berpaling dariku. Aku tidak bisa. Itu sebabnya aku menahannya hingga waktunya tepat. Kemudian, peristiwa penculikanmu meyakinkanku akan satu hal. Cintaku padamu terlalu besar hingga membuatku kini tak peduli lagi apakah kau mau melihatku atau tidak. Sebab kepastian dariku adalah, aku mencintaimu hingga tiap serat di tubuhku Rosita, Istriku"
Tubuh Rosita serasa ingin meledak menjadi kepingan akibat mendengarkan pengakuan cinta Suaminya sendiri. Mereka saling menempelkan dahi ke satu sama lain, jemari Jalal membelai lembut pipi Istrinya, sementara Rosita menelusuri rahang kokoh Suaminya.
" Aku juga mencintaimu, sampai sakit rasanya. Aku mencintai semua dedikasimu, ketulusanmu, dan caramu menjagaku. Seluruh dirimu. Dan aku sangat ingin membangun rumah tangga denganmu, terbangun tiap pagi denganmu di sisiku memelukku erat, memanggilmu Ayah dan aku di panggil Bunda. Hal-hal sepele seperti itu" Rosita tertawa, tapi air matanya lolos.
Sudut bibir Jalal terangkat. " Itu bukanlah 'sekedar hal sepele' sayangku, melainkan sebuah bentuk perwujudan. Dan ya, aku akan mengabulkan apapun keinginanmu. Menjadi tua bersamamu"
Jalal mengecup lama dahi Rosita, membuat wanita itu memejamkan matanya. Ia menikmati sensasi menggetarkan yang telah lama dinantikannya. Kali ini terjadi. Bukan mimpi.
" Oh, masih ada satu lagi. Harusnya aku memberikannya kemarin malam" Jalal meraup sesuatu dari saku depan celana kainnya.
Jalal mengeluarkan sebuah kotak beledu merah kecil, membuka isinya perlahan di hadapan Rosita.
Pupil Rosita melebar melihat isi kotak perhiasan tersebut. Sebuah gelang! Dan bukan gelang biasa, melainkan gelang emas berhiaskan bebatuan amber melingkar.
" Ini diwariskan secara turun temurun kepada seluruh perempuan Arkansyah.Dulu gelang ini milik Ibuku, tapi beliau ingin memberikan ini, menantu pertamanya, secara langsung"
Hati Rosita melambung karena kebahagiaan bertubi-tubi yang ia dapatkan.
" Bolehkah aku?" tanya Jalal.
Rosita mengangguk,mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Jalal. Penuh kelembutan Suaminya memakaikan gelangnya di atas kulitnya. Selama bermenit-menit mata Rosita terpancang pada kecantikan gelang tersebut,menengadah, ia berkata pada Jalal.
" Ini luar biasa, sungguh. Bukan masalah seberapa mewahnya, melainkan kandungan kisah di dalamnya. Terima kasih karena telah mempercayakannya padaku"
" Harusnya aku yang berterima kasih padamu sayang. Kau masih bisa menerimaku dan memberikan hatimu untukku. Bagiku itu lebih utama dari apapun"
Rosita merasakan rengkuhan Jalal pada tubuh mungilnya. Pria itu menunduk dan memberikan kecupan lembut di ujung hidungnya.
" Apa sekarang kita bisa bahagia?" tanya Rosita.
Jalal membersihkan air mata dari atas kulit wajah Rosita. " Ya" jawab Jalal mantab. Tanpa satupun keraguan. " Kita akan bahagia, selamanya sayangku. Karena ada kau sebagai Istriku dan aku Suamimu. Sebab, bahagia itu sederhana"
Untuk kali pertama, Rosita betul-betul memberikan dirinya pada Jalal. Bibir Suaminya mencium lembut bibirnya. Sambil menutup mata, Rosita membalas Jalal dengan sebuah pagutan sensual. Kedua tangannya mengalung erat di leher Jalal sementara tangan Jalal terkunci rapat di belakang punggung Rosita.
Kecupan demi kecupan.
Lidah bertemu lidah.
Segalanya terasa luar biasa. Rosita merasa dirinya sudah melayang ke surga tingkat ketujuh. Tiada yang lebih membahagiakan selain mencintai dan dicintai secara adil. b******u dengan pasangan halalmu yang telah sah. Rosita merasakan penerimaan akan sosok Jalal sepenuhnya dalam dirinya. Ia merasakan kelegaan luar biasa.
" Ya ampun!...."
Suara khas seorang pria mengejutkan Rosita dan Jalal. Rosita menegang, meski enggan ia memaksakan diri untuk menarik tubuhnya dari Jalal.
Dilihatnya Suaminya sedikit emosi, ekspresi Jalal terlihat sebal bukan main sebab seseorang sudah menginterupsi di saat sangat tidak tepat. Keduanya menolehkan kepala ke ambang pintu. Rosita melihat wanita di restaurant yang dikenalinya sebagai Britania, salah satu anak buah Suaminya. Masuk berdua bersama seorang pria tampan peranakan berdarah Asia Timur yang kental.
" Oh, hai Bos. Maaf, kami pikir kalian membutuhkan bantuan atau semacamnya" celetuk Alfa ringan. Seringainya berubah dari nakal menjadi licik dan lucu.
Britania menghembuskan nafas panjang. Ia tapi tak berani melangkah masuk.
" Harusnya anda mencari kamar, Sir" katanya ketus. Melupakan nyaris saja kaidah tata bahasa.
" Well, aku sudah mendapatkan kamarku kok" Jalal menarik tubuh Rosita.
Dan kali ini, tanpa keraguan ia mencium lebih kuat dan mendekapnya lebih erat lagi.
Rosita ingin sekali tertawa, namun ciuman Jalal telah membuatnya lupa segalanya.
Dan ya, bagi Rosita, Jalal benar.
Bisa mencium orang yang kita cintai saja sudah merupakan kegembiraan tak ternilai.
Sebab sekali lagi. Bahagia itu sederhana.