Sepasang iris abu keemasan menatap tajam bagaikan elang siap menerkam mangsanya,keluar jendela.Retinanya bergerak ke kanan dan kiri,mengamati,menelusuri dan menangkap pemandangan di sekitar area Motel 'Dua Dewi' yang di yakini sebagai tempat disekapnya Rosita Shaufanni Garald Arkansyah. Sang Suami,Jalaludin,tidak membiarkan detail terkecil apapun terlewatkan.
Di samping kanan Jalal duduklah Kapten Alfa sebagai pengemudi.Menyamar sebagai seorang petugas pengantar Piza,sudah sejam lebih mereka berada di dalam mobil box piza yang diparkir di ujung jalan raya bersebrangan dari Motel tersebut. Bersembunyi di balik bayang-bayang,terlindung kegelapan malam.
Jalal semakin yakin jika niatan Hambang,si b******n korup yang menjadi dalang dibalik penculikan Istrinya memang betul-betul berniat membalaskan dendamnya dengan membunuhi satu persatu keluarga Garald.Di mulai dari Rosita.Itu terbukti dari fakta sepele.
Jika niatan Hambang menculik Rosita hanya demi uang,maka seharusnya sudah sejak tadi Hambang meminta tebusan dan menghubungi keluarga Rosita atau bahkan Jalal.Mengingat Hambang tahu betul alasan Rosita pergi ke Bali dan dengan siapa.Namun,tidak ada satupun telpon asing masuk sejak 3jam lalu Rosita dinyatakan diculik oleh Kepolisian setempat.
Ide bagus datang dari Britania.Anak buah Jalal tersebut melarang pihak Kepolisian menyebarluaskan perihal hilangnya putri bungsu keluarga Almarhum Hakim Agung Garald.Britania yakin jika tidak tersiar kabar penculikan Rosita,maka para pelaku akan menjadi tenang kemudian lebih lengah.
Jalal dan Kapten Dayan dari Divisi Kriminilatas spesialis penculikan Kepolisian Pusat Denpasar menyetujui ide brilian Britania.Setelah mengatur strategi dan posisi,merekapun siap menjalankan misi.
Biasanya menunggu adalah hal menyenangkan bagi Jalal,karena ia mampu melatih kesabaran dan konsentrasi pada sekelilingnya untuk membunuh waktu.Tapi kali ini,butuh segenap kekuatan agar Jalal tidak melompat keluar dari jok mobil,berlari masuk ke Motel dan menggeledah satu-persatu tempat itu.
Seirinh berlalunya waktu,detak jantung Jalal berpacu.Darahnya mendidih akibat menahan amarah yang sejak tadi menggelembung dan sewaktu-waktu bisa pecah menggelegar seperti gunung berapi.
Deretan gigi putih dan rapi Jalal bergemeletuk di dalam rahangnya yang terkatup.Berkali-kali Jalal mendeguk,membasahi kerongkongannya sendiri karena terasa sekering gurun gobi.Jemarinya diketuk-ketukkan di atas dashboard.Sementara kakinya tidak berhenti menggigil.
"Nyonya Rosita akan baik-baik saja Sir,percayalah itu.Setidaknya hingga sekarang.Mereka tidak setolol itu hingga melakukan hal berbahaya di tempat seumum Motel" kata Alfa mencoba menenangkan Jalal.Seakan bisa mengerti jalan pikiran Wakil Direkturnya tersebut.
"Kuharap mereka lebih pandai dari ini.Menculik Istriku!" kata Jalal geram.Sesekali mengumpat kasar akibat gelisah dan resah.
Pandangan Jalal kembali ke arah Motel,di mana sebuah mobil pick up pengangkut barang masuk di depan Motel.Beberapa pegawai Motel yang berseragam keluar untuk menyambut barang-barang pesanan mereka.Di detik itulah Jalal melihatnya!
Familiy car berwarna hitam muncul dari dekat pick up pengantar barang.Melaju dengan kecepatan sedang ke arah kanan jalan raya.
Jantung Jalal terasa mencelos seketika." Itu dia!itu mobil sewaan kedua yang dipakai para penculik Rosita!kejar mereka!" Jalal berteriak-teriak.Telunjuknya menuding family car hitam yang masih terlihat matanya.
Alfa tanpa banyak bicara segera menyalakan mesin,melajukan kendaraan dan menghubungi seluruh anggota tim Mata Garuda lain yang tengah bersama para Polisi.Memerintahka mereka agar dengan segera mengikuti objek dan mencatat nomor platnya.
Belum selesai Alfa berbicara,sebuah panggilan masuk yang sangat mengganggu membuat pria itu terpaksa mengalihkan sambungan.Mengangkatnya sembari mengeraskan suaranya.
"Sir,saran saya dengan sangat memaksa.Sebaiknya ikuti saja mobil pengantar barang sementara saya yang akan memata-matai kendaraan yang tengah anda kejar!" suara teriakan keras Britania bergaung di udara dalam mobil.
"Ap..apa maksudmu?" tanya Alfa bingung.
Jalal mencoba meresapi maksud ucapan anak buahnya.Melirik dari kaca spion,retina Jalal menatap lekat-lekat bayangan mobil pengantar barang yang tadi berhenti di depan mobil.Hingga,sesuatu seperti petir terasa menyambar dirinya.
"PUTAR BALIK!!" Teriak Jalal kepada Alfa.
Tersentak kaget.Secara refleks otak dan tubuh sang Kapten mengikuti perintah atasannya.Tanpa mempedulikan kondisi lalu lintas,Alfa melakukan manuver.
Terdengar bunyi decitan keras ban mobil,suara klakson serta jeritan banyak pengendara lain di belakang jeep,Alfa yang merasa kaget sekali atas tindakannya hanya bisa meringis.
Jalal menekan tombol merah pada Earphonenya dan memberikan perintah kepada anggota tim Mata Garudanya agar beberapa orang mengikutinya.
"Mobil pick up pengantar barang itu tak punya plat nomor.Aku semakin yakin jika family car tadi hanya sekedar pengalihan agar kita mengejar mereka,sementara Rosita justru berada di dalam kendaraan satunya"
Alfa mencerna cepat ucapan Jalal,mengangguk.Sementara itu Alfa mulai mengebut kencang.Bertemu beberapa kali dengan mobil pengantar barang di lampu merah hanya untuk tertinggal.
Jalal sering mengerang frustasi.Namun Alfa tidak kehilangan akal,pria itu mengambil jalur tikus,memotong jalan dan membuat mobil nyaris melayang ketika terjatuh ke atas jalan raya dengan deretan ban sebelah kanan terlebih dulu. Jeep itu bisa saja terpeleset atau terpental.Untungnya Alfa mempunyai kekuatan dan keseimbangan yang harus di akui Jalal melebihi dirinya dulu sewaktu masih seusia pria itu.
Pick up pengantar barang sepertinya mulai menyadari tengah di ikuti,penyetirnya mulai ngebut gila-gilaan.Melanggar peraturan.Menabrak tepian trotoar berkali-kali,sampai-sampai Jalal meringis.Ia takut jika hal buruk sampai terjadi pada kendaraan tersebut dan Rosita yang ada di dalamnya dapat terluka parah.
Pick up tersebut mencoba berkelit,namun di luar dugaan mereka dua buah motor besar milik Polisi plus belasan sedan milik kepolisian berdengung-dengung nyaring memenuhi gendang telinga Jalal.
"Bagus!mereka terperangkap!" tanpa sadar Jalal memekik kegirangan.Membuat Alfa tidak bisa tidak tersenyum geli atas kelakuan atasannya yang belum pernah dilihatnya itu.
Polisi dan agen Mata Garuda berhamburan berlarian keluar dari kendaraan mereka,mengelilingi pick up tersebut sambil menodongkan senjata.Jalal segera melompat keluar dari mobil,meraih senapan dari dalam dashboardnya.
Kerumunan lingkaran membelah sewaktu Jalal melewati mereka.Mengokang senjatanya.Tangan kanannya membuka paksa pintu mobil depan sisi kiri.Tempat kecil itu hanya berisi tiga orang.
Sesuatu menghantam Jalal hingga pria itu terhuyung ke belakang.Rasa pening melanda Jalal beberapa detik,menyadari apa yang akan terjadi Jalal beserta agen Mata Garuda serta beberapa Polisi segera menghambur,membekuk ketiga pria yang tengah mencoba kabur dan melakukan perlawanan.
Tangan Jalal dengan sigap berhasil meraih kerah jaket kulit seorang pria bertubuh pendek gemuk yang tadi menonjok wajahnya. Pria tersebut berusaha melawan,menyerang.Namun bukan Jalal namanya jika bisa ditakhlukan semudah itu.
Dengan cekatan Jalal berhasil menangkis serangan.Tangan kanannya mencengkram kuat-kuat bahu kanan si penjahat,sementara tangan kiri Jalal menarik lengan kiri penjahat tersebut.Memuntirnya hingga terdengar bunyi 'krakkk!' kencang.
Pria itu menjerit kesakitan namun Jalal sudah gelap mata.Pak tua itu harusnya bersykur karena Jalal hanya mematahkan satu tangannya dan bukan meremukkan isi kepalanya. Lalu Jalal mengunci keras-keras kedua tangan lelaki tersebut di balik punggungnya.Dengan mantab memborgol kedua pergalangan tangan si penjahat.
Penjahat itu berteriak,menjerit-jerit,hingga menyumpah serapah.
"Hambalang Yudhiyono , atas nama Organisasi Agen Federal Mata Garuda dengan ini kau lagi-lagi,kembali di tahan atas tuduhan penculikan,penyerangan,usaha perusakan tempat umu.Dan paling memberatkan adalah percobaan pembunuhan!"
Jalal menyelesaikan kalimatnya,namun tidak memberikan kesempatan bagi penjahat tersebut untuk bicara ataupun berkelit.Sebab detik berikutnya Hambang sudah terjatuh,tersungkur di atas tanah setelah tangan Jalal dengan keras memukul tepat di titik antara leher dan bahu pria itu.
Hambalang jatuh ke atas tanah.Matanya terpejam,tapi bibirnya menganga seperti orang ketakutan.Rambutnya yang mulai botak berantakan dan memutih.
Dalam hati,terbersit rasa kasihan pada diri Jalal.
"Andai saja orang-orang pandai dan berkuasa seperti dirinya menggunakan posisinya untuk mengabdi pada rakyat dan bukan mengeruk keuntungan semata demi memenuhi ego.Kejadian seperti ini sangat bagus untuk di jadikan contoh" kata Jalal.
Matanya menatap penuh kebencian pada sosok Hambang yang sudah terbaring lemah di atas tanah.
"Sir.Kemarilah!" teriakan Alfa mengejutkan Jalal.
Sontak Jalal menengadahkan kepalanya.Dengan cepat ia memutari mobil dan melihat Alfa beserta 3 orang petugas kepolisian membuka terpal biru yang menutupi pick up.Pemandangan di dalamnya membuat seluruh oksigen di paru-paru Jalal terenggut ke udara.
Sesosok wanita mungil dan cantik meringkuk di atas tumpukan jerami.Terlelap bak malaikat dari surga.
Jantung Jalal seperti kuda di pacu memakai steroid.Ia mati-matian berusaha meredakan gemetaran di tubuhnya.Meski begitu tangan Jalal tetap bergetar ketika diulurkan ke arah sosok wanita tersebut.
Jalak tersentak seperti biasa setiap kali merasakan serangan energi listrik statis yang menghantam dirinya setiap kali kulit mereka bersentuhan.
Kemudian tanpa keraguan sedikit pun,sepasang tangan kokoh Jalal terulur untuk meraih Rosita.Istrinya tercinta.Tubuh wanita itu seringan kapas saat berada di dalam pelukannya.Jalal mendekapnya erat-erat,merasa bahagia sewaktu mendengarkan dengkuran lembut Rosita.
Jalal tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada TUHAN Y.M.E dalam hati karena telah dipertemukan lagi dengan Rositanya.Dan wanita itu dalam kondisi tetap utuh tanpa terluka sedikit pun.
Di sekitar Jalal aksi heroik tengah terjadi.Para penculik di giring masuk ke dalam mobil Polisi.Siap di bawa ke kantor untuk diproses. Sementara Alfa,mewakili Jalal,berbicara sejenak kepada Kapten Dayan yang rupanya ikut memutar haluan dan mengikuti jeep Alfa tadi sehingga bisa datang tepat waktu.
Namun Jalal sudah tidak peduli lagi dengan 'acara menangkap penjahat' . Baginya sekarang tiada yang lebih utama selain kesehatan Istrinya dan perawatan untuknya.
Alfa selesai berbicara dengan Kapten Dayan,menghampiri,Jalal.
"Kita ke Rumah Sakit sekarang juga" suara Jalal terdengar kasar dan serak.
Bayangan di dalam retina Jalal hanya dipenuhi sosok Rosita.Alfa bisa memahami hal tersebut.
Jalal menuju Jeep,Alfa membukakan pintu untuknya meski seharusnya tidak perlu.
Jalal memasukkan Istrinya dengan hati-hati supaya kepalanya tidak terbentur.Mengatur posisi Rosita senyaman mungkin. Kemudian setelah siap,Alfa menstater kendaraannya.
Jalal membungkukkan badannya.Bibirnya dengan lembut menyapu pelan dahi Rosita.Menghirup dalam-dalam aroma frangipani yang sangat khas dari tubuh wanita itu.Kelembutan kulitnya seketika mampu mendinginkan emosi Jalal.
Jalal menatap Rosita penuh cinta.Sekaligus kecewa.Lebih kepada diri sendiri karena sampai membuat wanita yang ia cintai bisa nyaris terlepas dari tangannya.Jalal menyadari,jika semua juga termasuk kesalahannya.
'Cepatlah bangun sayangku,karena saat kau membuka matamu nanti aku akan mengungkapkan semuanya.Mengenai perasaanku selama ini padamu.Maaf karena membuatmu harus menunggu selama ini.Tapi aku bersumpah tidak ada wanita lain.Sejak dulu,hatiku hanya di isi olehmu' kata Jalal dalam hati.
Tanpa mempedulikan ada orang lain di sampingnya,Jalal mencium lembut bibir Rosita.Akhirnya untuk pertama kalinya.
Jalal tidak lagi merasakan letupan kembang api.Lebih dari itu,tubuhnya terguncang oleh gelombang kebahagiaan hebat saat bibir mereka bersatu sesaat tadi.
Jalal meletakkan bibirnya di dekat telinga Rosita,sembari berkata.
"Aku mencintaimu"
Lirih.Dan berulang-ulang.