ANGIN TOPAN (JALAL part 1)

1894 Words
Raungan kemarahan Jalal bergema di dalam Ruangan Kapten Tim Divisi Penculikan, Kepolisian pusat Nusa Dua, Bali. Darah di dalam tubuhnya mendidih, sampai membuat organ-organnya meleleh. Badannya terasa sangat panas, begitu juga dengan otaknya. Rasanya Jalal sudah tidak bisa lagi mengendalikan diri sekarang ini. Semua pelajaran tentang menutup diri yang dia terapkan selama puluhan tahun lamanya lepas begitu saja. Tidak ada yang lebih menyakitkan, menyedihkan, sekaligus menghancurkan hati selain mengetahui saat kau tidak bisa melindungin orang yang paling dicintai. Dan itu sangat menghantam Jalal sekarang ini. Segalanya bermula dari satu jam lalu. Waktu di mana Jalal menyadari Rosita menghilang dari dalam Restaurant. Beberapa Pelayan berkata jika Rosita meninggalkan rumah makan sambil menangis, bahkan Satpam membuat pernyataan jika melihat Rosita menghadang Taksi lalu pergi. Jalal kemudian kembali ke Hotel, menyadari jika semua barang Istrinya masih berada dalam tempatnya, kepanikan Jalal bertambah sewaktu salah satu anak buah Alfa Xian, salah satu Kapten sekaligus orang kepercayaannya memberitahukan mengenai pergerakan orang-orang yang di curigai sebagai anak Hambang Yudhiyono. Hambang Yudhiyono adalah seorang Mentri sekaligus pengusaha Korup, di penjara setelah terbukti sebagai pelaku pembunuhan berencana Hakim Agung Ibrahim Alfatarrih Garald, alias Ayah kandung Rosita. Pria b******n itu berhasil di jatuhi hukuman yang akan membuatnya mendekam seumur hidup di sel tahanan, kesalahannya sudah terlalu berat hingga permintaan penangguhan tidak dipikirkan dua kali. Hingga beberapa hari lalu Jalal mendapatkan berita perihal kaburnya Hambang dari sel tahanannya, di duga kuat orang dalam ikut terlibat dalam peristiwa tersebut. Benar saja, tak sampai 5 jam kemudian Agen Mata Garuda yang membantu Polisi berhasil menemukan Sipir korup yang telah berkhianat kepada Negaranya dan membebaskan seorang penjahat. Dari Sipir tersebut, diketahuilah jika Hambang berniat membalas dendam pada seluruh keluarga Garald. Di mulai dari yang menurutnya terlemah. Rosita tentu saja. Itulah alasan kenapa Jalal meminta dua pasukan Agen khusus menyamar dan mengawal dirinya serta Istrinya selama berada di Nusa Dua ini. Karena Jalal tak mau membatalkan rencana bulan madunya dan mengecewakan Rosita, hanya demi manusia sampah seperti Hambang Yudhiyono. Itu juga alasan Britania Contramande, mantan Agen CIA yang kini menjadi Wakil Kapten di Mata Garuda mendatanginya saat mereka tengah malam. Britania hendak memberi kabar penting kepada Jalal jika anak-anak buah Jalal sudah terindentifikasi memasuki Pelabuhan Gilimanuk, sementara pencarian terhadap Hambang masih di cari hingga detik itu. Namun siapa sangka, justru saat itulah Jalal kehilangan Rosita. Istrinya pergi dari Restauran, menyetop Taksi dan tidak kembali ke Hotel mereka. Dalam kondisi frustasi Jalal nyaris memerintahkan anak buahnya untuk mengobrak-abrik seisi pulau Dewata hingga Istri tersayangnya diketemukan dalam kondisi hidup tanpa kekurangan suatu apapun. Karena Jalal sangat yakin jika memang Rosita berada di tangan Hambang, maka tinggal menghitung waktu hingga kemungkinan terburuk terjadi. Sebab niatan Hambang bukanlah meminta tebusan, lebih dari itu ia menginginkan nyawa seluruh Garald sebagai tumbal. Tidak ada negosiasi dengan seorang Hambang Yudhiyono. Para petinggi di pemerintahan tahu benar kebusukan dari jelmaan Iblis tersebut. Dalam kondisi kalut ide justru datang dari Kapten Alfa serta Wakilnya Britania, dan selusin anak buah Divisi mereka yang menghampiri Jalal di kamar Hotelnya. Alfa baru saja menanyakan pada Satpam Restaurant tempat Jalal makan, sebagai salah satu saksi mata Satpam tersebut memang tidak mengingat plat nomor Taksinya, namun masih hafal betul nama perusahaan Taksi tersebut. Tim IT Mata Garuda segera menyelidiki melalui komputer data MNTC lalu lintas pemerintahan kota Denpasar, menghubungi juga pihak perusahaan Taksi bersangkutan. Tak kurang dari 4 menit, tim Mata Garuda berhasil menemukan Supir Taksi yang membawa Rosita, menghubunginya, dan memberitahu Jalal jika Rosita pergi menuju bandara Internasional Ngurah Rai. Tanpa mengulur waktu Jalal segera menuju Bandara bersama tim Kapten Alfa. Meski berjuta pertanyaan memenuhi isi pikiran Jalal. 'Mengapa Rosita pergi meninggalkanku begitu saja saat makan malam kami? Dan Kenapa Istriku tiba-tiba berangkat ke Bandara?? Sebenarnya apa yang Rosita pikirkan? Ada apa sebenarnya?' Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam kepala Jalal seperti pecut. Hingga di satu titik Jalal di dera ketakutan besar jika niatan Rosita pergi adalah melarikan diri darinya. Meski begitu Jalal berusaha keras mendorong semua pertanyaan pribadinya dan lebih memfokuskan diri pada masalah menemukan Rosita. Setibanya di Bandara, perasaan tidak enak menghantui Jalal. Benar saja, saat Kapten Alfa bertanya kepada salah satu Satpam akan apa yang terjadi, jawabannya begitu menghantam Jalal. Seorang wanita berparas sangat cantik dengan ciri-ciri serupa Rosita di culik dan di bawa masuk paksa ke dalam sebuah mini van di hadapan para Petugas tersebut, tepat di setelah Rosita turun dari Taksinya. Para petugas keamanan telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Rosita, namun sayang sekali penculiknya jauh lebih cekatan. Segalanya sudah terlambat ketika para Satpam berhasil mencapai titik di mana Rosita di bawa pergi. Beruntung salah satu Satpam masih mengingat jelas plat nomor mobilnya dan buru-buru dia catat. Jalal memperlihatkan foto Rosita melalui ponselnya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri sebenarnya. Ketika kebenaran itu terungkap, ia merasa di hempaskan ke dalam gelombang pusaran badai angin topan yang terus menerjang dan takkan berhenti hingga habis masa usianya. Tapi Jalal tak mau membuang waktu hanya demi meratap dan marah. Dengan segera Jalal menghubungi tim Kepolisian setempat untuk bekerja sama. Melacak mobil dan nomor plat tersebut serta meminta agar Polisi lalu lintas mau memberikan hasil pengamatan kamera pengawas di sepanjang area Bandara melalui Tim IT Keamanan Data Kepolisian. Namun, kepala Jalal terasa gelap, saat mereka berhasil menemukan mini van tersebut di sebuah lahan parkir mini market ternama, namun ternyata mobil itu sudah kosong. Para penculiknya sudah berganti kendaraan dan membawa Rosita bersama mereka. Terlebih lagi, setelah diselidiki mobil tersebut adalah benda curian,pemilik aslinya sama sekali tak tahu mengenai kejadian ini. Jalal bisa jadi menghancurkan seisi ruangan Kepolisian sekarang. Kapten Dayan, begitu nama Ketua Tim Divisi Reserse tindak kejahatan di Kepolisian Denpasar, sementara sangat memahami perasaan Wakil Direktur Organisasi Intel Mata Garuda. Meski sesekali dahi si Kapten berkerut dalam melihat kerusakan yang bisa di dapat ruangannya. Alfa maju dan mencoba menguatkan serta mengingatkan Jalal. " Kumohon tenanglah Sir!' " Bagaimana aku bisa tenang?! Nyawa Istriku sedang berada di ujung tanduk, satu kesalahan maka akan berakibat fatal untuknya. Harusnya aku tidak meninggalkan dia. Harusnya aku terus berada di sampingnya, menjaganya, meyakinkannya. Setelah semua sumpahku justru aku yang membawanya ke lubang singa! Suami macam apa aku ini?! apa yang harus kukatakan pada Ayah Rosita nanti, jika kami bertemu di Surga" Jalal meraung. Melempar apapun yang dia temukan ke atas lantai. Tindakan Jalal tersebut amat mengejutkan seluruh Agen Intel Mata Garuda lainnya. Belum pernah mereka melihat Bos mereka seperti itu sebelumnya. Sama sekali tidak pernah. Jalaludin Amir Arkansyah yang mereka kenal begitu tertutup, sangat berhati-hati dalam menunjukkan sikap dan isi hati sesungguhnya. Namun sekarang, Jalal tak ubahnya buku yang terbuka. Segala emosinya tercurah dengan jelas. Hanya Alfa dan Britania yang tahu apa alasannya. Sudah jelas karena cinta Wakil Direktur mereka teramat besar dan dalam untuk Istrinya. Menyadari Jalal bisa lepas kendali sebentar lagi dan menimbulkan kekacauan lebih besar di Kantor Kepolisian, Britania buru-buru maju dan mendekati Bosnya yang kini sedang duduk di atas sofa. Wajahnya tertunduk lesu,rambut hitam lebat lurusnya berkeringat, kedua tangan besarnya dibuka, menutupi mukanya sendiri. " Masih ada harapan Sir. Tim IT sedang mengambil akses ke dalam data kamera pengawas yang terpasang di sepanjang mini market. Mereka pasti akan menemukan sesuatu. Dan saya mohon demi cinta besar anda kepada Istri anda, jangan cepat patah semangat, Saya yakin kita pasti akan menemukan beliau dan anda akan menjadi orang pertama yang meraihnya ke dalam pelukannya" tukas Britania. Membuka tangannya. Jalal menengadah untuk menatap Britania yang menjulang di atasnya. Pria itu jelas-jelas berusaha keras menahan agar air matanya tidak terlepas. " Ada begitu banyak pertanyaan di kepalaku Bree untuknya. Kenapa ia meninggalkanku malam ini begitu saja? Mengapa ia pergi ke Bandara? Semua memang salahku sebab sejak awal tidak pernah menyebutkan betapa gamblang perasaanku buatnya" Ekspresi Britania melembut seketika. Ia pernah melihat penyesalan semacam itu sebelumnya di wajah seseorang. Raut muka Kakak kandungnya sendiri, si Milyader ternama Contramande. " Apa anda mencintai Istri anda Sir" " Aku akan dilaknat Allah, Tuhanku Sang Maha Mengerti jika berkata tidak Bree. Rosita adalah hidupku, sumber nafasku, cahaya penuntunku sekaligus alasan utama semangatku selama ini. Aku sudah mencintainya sejak dulu namun terlalu takut mengakuinya akibat perbedaan usia kami. Bahkan setelah pernikahan kami beberapa hari ini, belum pernah sekalipun aku mengatakan itu padanya. Aku mencintainya Bree, sangat.Kehilangan ia adalah kematianku. Jika sampai hal buruk terjadi pada Istriku, aku bersumpah akan menghabisi nyawa siapapun yang telah menyakitinya lalu menyusul Rosita ke alam penantian bersamanya" jawab Jalal sungguh-sungguh. Keseriusan di dalam matanya mampu meluluhkan hati siapapun. Kesedihan Jalal menjalar dan menciptakan aura kemurungan sendiri bagi anggota lainnya. " Kalau begitu" Bree berjongkok di hadapan Jalal. Berusaha tidak menyentuh Jalal mengingat kepercayaan yang Bosnya anut, membuat dirinya tidak bisa bersentuhan dengan perempuan selain keluarganya sendiri ( muhrim) " Katakan padanya Sir. Sampaikan seluruh isi hatimu selama ini secara jelas dan kalau perlu berteriaklah di hadapannya. Tapi sebelum itu, percayalah jika kita pasti bisa melalui semua ini. Anda akan dapat bertemu dengan Istri anda lagi. Bukankah anda memiliki TUHAN? Kenapa di saat seperti ini anda tidak datang kepada NYA, berdoa sambil berjuang dan mempercayakan seluruh hidup anda atas kehendakNYa. Saran saya, jangan pernah berpikir melebihi kehendak TUHAN" Kebenaran dalam ucapan Britania menghajar Jalal habis-habisan. Kini, Jalal malah merasa malu. Dia adalah seorang yang hidup dalam sebuah kepercayaan besar akan Islam, namun di saat di mana seharusnya ia berserah, justru Jalal menggunakan segala daya upaya menghadapi masalahnya sendiri dan bukannya membaginya dengan Tuhannya. Sebuah tekad baru tumbuh kuat di dalam hati Jalal. Dengan tangan terkepal erat Jalal bangkit berdiri dari duduknya. Rahangnya menatap lurus-lurus titik terjauh di balik pintu ruangan Kapten Divisi Dayan. " Kau benar Bree, akulah yang terlalu pengecut dan bodoh. Aku bersumpah takkan melepaskan Rosita semudah itu dan menyerah sebelum berjuang. Aku akan menyampaikan perasaanku sendiri padanya sekaligus meminta maaf, jika memang harus menyembah, itu yang akan kulakukan" Jalal kini berganti menatap Britania. Api semangatnya yang sempat pupus telah menyala, berkobar. Suara dering telpon dari ruang kantor Kapten Dayan berbunyi kencang. Mengejutkan semua orang termasuk sang Kapten sendiri. Buru-buru Kapten Dayan mengangkatnya. Mengucapkan beberapa patah kata, ekspresi wajahnya begitu serius. Tiap urat pada muka hingga lehernya menegang keras. Mengangguk beberapa kali tanpa sadar, Dayan berkata. " Siapkan unitmu. Kejar mereka tapi tahan hingga perintah kuturunkan" Kapten Dayan berkata tegas, dan keras. Kemudian mematikan telponnya dan memandangi Jalal lekat-lekat, ada sedikit kelegaan terpancar di balik wajah tua dan seniornya yang masih bergurat sisa-sisa ketampanannya. " Barusan dari anak buahku, Tim IT berhasil berkooporasi dan menemukan bukti keberadaan mobil kedua yang dipakai penculik untuk membawa Ibu Rosita Arkansyah. Penelusuran mengarahkan ke sebuah Motel di pinggiran utara kota Denpasar. Kini anak buah saya sedang menuju ke sana, mereka akan menunggu hingga perintah kuturunkan. Kabar buruknya bisa jadi Ibu Rosita akan di pindahkan lagi ke suatu tempat, yang bisa jadi, maaf sebelumnya, adalah tempat eksekusi untuknya. Kabar baiknya, hingga kini kita tahu beliau aman" Sedikit udara segar memenuhi hati Jalal. Setidaknya, masih ada kesempatan. Memutar badan, Jalal membagi timnya menjadi dua. Tim pertama mengikutinya, sisanya menjadi cadangan untuk mengawasi di sekitar lokasi apabila di butuhkan bantuan sewaktu-waktu dapat dayang dengan cepat tanpa perlu menunggu bala bantuan lagi. Setelah berkata demikian Jalal membubarkan anak buahnya, bersama Kapten Dayat mereka bergegas keluar dari Kantor Kepolisian. Sebelum naik ke dalam mobil jeep milik Alfa, Jalal sempat mengambil sebuah kotak beledu berwarna ungu. Benda yang sejak tadi di simpan dengan baik di dalam saku depan celana kainnya. Menggenggam kotak tersebut erat-erat, Jalal bersumpah akan mengalungkannya pasti di leher cantik Istrinya. " Anda siap Sir?" tanya Alfa. Ketika Jalal sudah menutup pintu jeepnya. " Lebih dari apapun" jawab Jalal mantab. Alfa mulai menjalankan mobil. Memejamkan mata, Jalal berdoa dalam hati. Ketika matanya kembali terbuka, sebuah bisikian lirih sepenuh hati terucap dari bibirnya. " Bismillah"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD