5. Wake up everyone!

1100 Words
Aluna menggeliat dari tidur nyenyak nya, seperti nya ini adalah tidur ternyenyak dari sehabis dia menikah dengan Jacob. Aluna mengerjap ngerjapkan mata nya. "Sudah bangun Tuan putri?" itu adalah suara seorang pria yang tak asing lagi di pendengaran nya. Ingin menjerit karena terkejut tetapi beberapa detik kemudian Aluna tersadar jika dirinya sedang bersama dengan Noah. "Hmm, apa aku tidur terlalu lama?" Noah menggelengkan kepalanya pelan. "Hanya dua jam dan itu tidak lama." ucap Noah membuat Aluna menganggukkan kepala lalu tersenyum. "Aku akan mandi." ucap Aluna membuat Noah mengangguk. "Apa mau mandi bareng?" tanya Noah sembari menaik turunkan alisnya yang tebal. Aluna segera menggelengkan kepala lalu pergi berlari untuk sampai ke kamar mandi. "Tidak untuk sekarang, Noah!" Noah tertawa, menurutnya ini Aluna sangatlah lucu. Cocok jika untuk di jadikan mainan. Ada yang menyebut hidup nyaman itu dengan mempunyai banyak uang sehingga bisa beli apa saja demi kenyamanan. Ada juga yang mengatakan jika nyaman itu tak butuh uang banyak, yang penting tenteram dan tidak memiliki masalah. Bahagia dan nyaman menjadi dua hal yang perlu diciptakan dalam menjalani kehidupan. Bahagia itu belum tentu nyaman, tetapi nyaman itu sudah pasti bahagia. Kebahagiaan dan kenyamanan itu beda tipis. Kenyamanan bisa berkaitan dengan banyak hal, mulai lingkungan hingga suasana hati. Kenyamanan hati itu bukan tentang materi atau fisik, melainkan masalah perasaan. Nyaman saat berada di samping seseorang, nyaman ketika berbagi cerita, apa pun yang dilakukan dengan orang lain, selalu membuat nyaman. * Noah mengerutkan kening bingung saat melihat Aluna seperti orang yang tengah kebingungan. "Ada apa?" tanya Noah menatap intens Aluna. "Aku kedatangan tamu.. dan aku tidak-" "Tunggu sebentar." jawab Noah sembari beranjak dari tempat tidur dan meraih kunci mobil. Sementara Aluna membulatkan mata nya tak percaya. Ingin berkata pun susah karena Noah langsung pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Akhirnya Aluna menunggu Noah di dalam kamar mandi saja. ** "Aluna, kau dimana?" sudah satu jam lebih lama nya Aluna menunggu di kamar mandi dan sekarang dirinya sudah sangat kedinginan, darah juga sudah mengotori baju yang ia pakai. Lantas bagaimana nanti dirinya berganti baju. "Aku di kamar mandi, darah nya mengotori baju yang ku pakai." ucap Aluna dari dalam kamar mandi. "Mandi lah terlebih dahulu," ucap Noah membuat Aluna menurut. Benar, step pertama yang harus ia lakukan adalah mandi untuk membersihkan badan nya yang sangat kotor. Mengapa situasi sulit selalu datang kepada nya, ahhh Tuhan apakah ini bagian dari rencana mu? Tak butuh waktu lama untuk Aluna melaksanakan mandi, hanya butuh sekitar tiga puluh menitan saja. Aluna keluar menggunakan kimono putih dengan sangat hati-hati, jujur ia takut ada darah yang menetes mengingat jika dirinya tak menggunakan apa-apa untuk menjadi penghalang nya saat ini. "A.. aku tidak ada baju sama sekali, tetapi aku.. umh maaf pasti aku akan merepotkan mu lagi." ucap Aluna sembari menunduk. Bukan fokus pada ucapan Aluna, melainkan Noah malah fokus pada paha Aluna yang terekspos. Paha itu sangat menggoda putih mulus dan bersih. "Aku.." "Lihat tote bag yang berada di atas meja, ambilah semoga ukuran nya cukup untuk mu." ucap Noah membuat Naira mengangguk penuh binar. Aluna segera mengambil tote bag itu dan segera meluncur pergi ke kamar mandi. "Ah sialan, mengapa wanita sangat menggoda sekali!" ** Dress mini berwarna hitam itu sangat pas di tubuh Aluna yang profesional. Baju dalam yang di berikan oleh Noah juga sama dengan ukurannya. Bagaimana bisa Noah memperhatikan dirinya sedetein ini. Tak lupa juga, Noah membelikan Aluna sebuah ikat rambut senada dengan baju yang ia kenakan. "Perfect." ucap Noah sembari melihat kaki Aluna yang jenjang. Aluna nampak tersipu, sebelumnya ia tak pernah di puji seperti Noah memujinya. Dress hitam ini adalah dress yang sangat Aluna sukai sekarang ini. "Kau harus ikut denganku rapat malam ini. Di hotel ini," ucap Noah. "Rapat apa?" tanya Aluna. Wanita itu jadi berpikir jika dirinya di ajak ke hotel ini bukan untuk liburan atau bersenang senang lebih tepatnya untuk menghadiri sebuah rapat yang di bilang oleh Noah barusan. "Pertemuan makan malam, tetapi ini berbeda.. rekan yang akan kita temui malam ini adalah lawan yang sesungguhnya. Kau harus bersiap-siap dan mulai terbiasa untuk itu." ucap Noah membuat Aluna membulatkan mata nya lebar-lebar. Apakah dirinya akan masuk ke dalam bahaya. "Aku tidak mengerti." ucap Aluna membuat Noah terkekeh pelan. "Nanti kau akan mengerti, sekarang bersiap lah, kau harus berias dengan cantik dan elegant." ucap Noah membuat Aluna menganggukkan kepala. "Sekarang sudah jam enam sore.. aku akan keluar nanti aku jemput kau jam tujuh lewat tiga puluh malam. Kau aman disini, dear." ucap Noah membuat Aluna menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Noah. Sebelum beranjak keluar kamar, Noah menyempatkan untuk mengecup kening Aluna dengan lembut, dan setelah itu pergi meninggalkan hotel. "Oh ya kau harus menutup semua gorden, dan jangan coba-coba untuk keluar atau membuka pintu kamar dan jendela. Kalau ada orang yang memencet bel pun jangan kau buka, hiraukan saja karena itu bukan aku. Hanya aku dan kau yang mempunyai akses untuk kamar ini." "Mengapa?" tanya Aluna kali ini bingung. "Kau harus nurut padaku, Aluna." Noah berkata dengan tegas. Aluna menganggukkan kepalanya. "Baiklah." jawab Aluna mengalah, lagi pula ia juga tak ingin jika melanggar ucapan Noah membuat dirinya berada dalam bahaya. "Semua kebutuhan mu ada di atas meja." ucap Noah sedikit berteriak, lantas benar-benar pergi di telan pintu novel. Setelah Noah benar-benar pergi, Aluna melihat ke arah meja, di sana sudah ada beberapa paper bag. Aluna mendekatinya. Di lihatnya paper bag itu satu persatu. Di paper bag pertama dia menemuka sebuah pizza, bahkan Aluna lupa jika dirinya sedari pagi belum makan apapun. Noah benar-benar menjadi pria idaman nya. Aluna membuka pizza itu dan memakannya beberapa potong saja karena kenyang dan setelah itu dia membuka satu paper bag lagi, yang ternyata isinya adalah high heels berwarna silver senada dengan tas, serta ada aksesoris lainnya di dalam tas. Ah apakah Noah benar-benar ingin ia mengenakan nya? Aluna tersenyum puas melihat wajah nya sendiri. Ia memutuskan untuk mengikat satu rambutnya tetapi ikatan itu bergelombang, ia menyisakan sedikit rambut di sisi kanan dan kiri kening nya. Ia bermake up natural saja, tetapi kali ini warna bibirnya sedikit ia merahkan oleh lipstik. Tak hanya itu saja, anting dan sebuah kalung yang di perkirakan adalah barang mahal membuat Aluna sangat cantik malam ini. Jam tangan juga ikut melekat di lengan kirinya, sementara kaki jenjangnya memakai heels berwarna silver senada dengan tas yang di berikan mendadak oleh Noah tadi. Ah selera pria itu sangat berkelas. "Kau memang cantik Aluna." ucap seorang pria dari arah belakang, hal itu membuat Aluna terkejut bukan main. Ia terlalu asik sendiri sampai tidak tahu jika ada pria lain yang masuk ke dalam kamar nya.. ah lebih tepat nya kamar milik Noah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD