Part 18

1059 Words

** Brengsek. Brengsek. Brengsek. Naetra lupa berapa lama ia menyumpah, nafasnya semakin memburu, rongga dadanya sesak dan panas memikirkan gadis yang sialnya tidak mengejarnya atau setidaknya.. Demi tuhan! Bukankah gadis itu harus menjelaskan sesuatu padanya? Naetra memejamkan matanya, menyesap cairan bening didalam gelasnya dengan tatapan tajam menembus langit malam dari balik jendalanya. Naetra menelan ludahnya susah payah saat ia kembali menatap polaroid kusut ditangannya. Rahangnya mengeras, kepalannya menguat hingga suara memekakkan telinga itu memenuhi langit langit kamarnya. Sama sekali tidak peduli cairan mengental di sepanjang lantai disisi tubuh Naetra, duduk termenung di depan Piano kesayangannya dengan d**a yang bergemuruh. Naetra pernah menjadi tidak terlih

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD