“Saya terima nikah dan kawinnya Senja Mayang Wahid Binti Wahid Rahman dengan mas kawin tersebut tunai, karena Allah,” lantang Aslan, membuat sorakan tepuk tangan memenuhi rumah Senja. “Bagaimana saksi? Sah?” “Sah!” teriak dua wali dengan lantang, membuat air mata Senja luruh. Ia bahagia, air mata ini adalah air mata kebahagiaan. Senja lalu mencium punggung tangan Aslan, ia akan berjanji akan mengabdikan diri menjadi istri dan pasangan yang baik untuk Aslan, ia harus bisa, ia sudah memiliki pengalaman tentang banyak hal, jadi ia akan menggantungkan harapan dan hidupnya pada Aslan Dermawan. Hadi menitikkan air mata, dan dengan cepat menyekanya. “Papa kenapa nangis?” tanya Azel, melihat Hadi menyeka air matanya. “Papa bahagia, Sayang,” jawab Hadi. “Bahagia Mama nikah?” “Iya, Sayang.”

