PS.44

1149 Words

“Senja!” panggil Ratih pada putrinya yang kini belum keluar dari kamar sejak tadi. “Iya, Bun?” Senja menuruni tangga dan menghampiri sang Bunda yang kini duduk di kursi tamu. “Kita akan kedatangan tamu, Nak.” “Tamu?” “Iya. Mama sama Papa menjodohkanmu dengan lelaki yang baik hatinya. Jadi kamu harus menyambut mereka, ya,” kata Ratih, membuat Senja menundukkan kepala. Mengapa ia harus di jodohkan? Lalu bagaimana kisahnya dengan Aslan? Apakah sudah berakhir sejak mereka berpisah? Jika memang jodohnya bukan Aslan, Senja ikhlas menerima perjodohan yang diatur kedua orangtuanya. “Kamu menolak?” tanya Wahid—sang Ayah. “Nggak, Yah, Senja nggak menolak. Senja sudah banyak mengecewakan Ayah dan Bunda, jadi Senja nggak akan lagi menolak,” jawab Senja menghela napas panjang. “As’salamualaikum

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD