Sore hari Nila duduk di teras samping kolam menemani Prilly yang sedang berenang.
"Ayo Nil sini ikutan renang enak segar tau" ucap Prilly yang asik berenang kesana kemari.
"Males Prill.." ucap Nila.
"Prilly..." teriak Ardi yang baru pulang kantor.
"Oh hai om baru pulang" ucap Nila menghampiri Ardi, ia menerima tas kerja Ardi dan membantu pria itu melepas jasnya, ia tak merasa kegiatannya yang seperti itu sudah seperti kegiatan seorang istri.
"Prilly mana" tanya Ardi sambil melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemejanya.
"Lagi berenang om" ucap Nila.
"Oh om susul dia dulu" ucap Ardi lalu berjalan ke arah kolam renang.
"Mau Nila buatkan teh om" tawar Nila.
"Boleh jangan terlalu manis ya Nil" ucap Ardi yang kini sudah duduk di teras samping.
Nila berjalan ke dapur dan dengan cepat ia sudah selesai membuatkan minuman untuk Ardi.
"Ini om tehnya" ucap Nila sambil meletakkan di atas meja dan duduk disamping Ardi.
"Terima kasih ya Nil.." ucap Ardi lalu menyesap tehnya.
"Prilly naik sebentar" ucap Ardi.
"Ya dad ada apa" tanya Prilly yang hanya berdiri ditepi kolam.
"Malam ini daddy mau ngajak kalian ke pesta kawinannya teman daddy di hotel Sangrilla" ucap Ardi pada Prilly dan Nila.
"Hotel Sangrilla om, kita juga ada undangan di hotel itu malam ini, daddynya teman sekolah kita yang merried" ucap Nila.
"Pak Robin benar itu namanya" tanya Ardi.
"Iya dad itu nama daddy" ucap Prilly dari dalam kolam.
"Kebetulan sekali kita berangkat bareng aja" ucap Ardi.
"Nah pas banget Nila gak ada pasangannya dia sama daddy aja" ucap Prilly.
"Kamu ngajak Ali" tanya Ardi.
"Iya dad..." jawab Prilly singkat.
"Ya sudah daddy mandi dulu gerah banget" ucap Ardi lalu diikuti Nila yang membawakan jas dan tas kerjanya.
"Nil.. kamu gak keberatankan nemenin om di pesta malam ini" tanya Ardi sambil melepaskan kemejanya saat ini mereka sudah berada di dalam kamar pria itu.
"Kenapa harus keberatan om malah Nila senang" ucap Nila sambil meletakkan tas Ardi di atas ranjang.
"Kali aja kamu gak suka jalan sama om" ucap Ardi lalu ia segera masuk ke kamar mandi.
Pukul setengah delapan malam Nila belum juga siap ia masih memoles dirinya didepan cermin.
"Ali udah jemput gue duluan ya Nil entar lo sama daddy aja" ucap Prilly yang juga mengenakan dress warna merah senada dengan yang Nila kenakan.
"Iya duluan aja... eh Prill dress yang gue pake apa gak terlalu terbuka ada yang lain gak gue risih" ucap Nila.
"Yaelah Nila lo itu nanti jalannya sama daddy gue jadi lo harus menyesuaikan, kalau lo pake yang kaya gue pake entar daddy gue yang malu ngajak lo nanti disana itu bakalan banyak relasi bisnis daddy gue" ucap Prilly panjang lebar.
"Tapi..."
"Gak ada tapi-tapian pakai aja itu" ucap Prilly.
"Tapi oke-oke ajakan di badan gue" ucap Nila sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
"Ok banget... udah ah gue duluan ya Ali udah nungguin tuh" ucap Prilly.
Prilly menghampiri Ali yang sedang duduk bersama Ardi.
"Dad kami duluan ya, daddy sama Nila aja nanti dia belum selesai dandan" ucap Prilly.
"Ya sudah hati-hati" ucap Ardi.
Ali dan Prilly segera pergi meninggalkan rumah.
Ardi menyusul Nila yang masih didalam kamar Prilly.
"Nill..la..." ucap Ardi kaget saat membuka pintu kamar Prilly, ia takjub melihat Nila yang sangat cantik dengan dress merah yang dipakainya sangat tidak menggambarkan kalau Nila masih abg yang berusia tujuh belas tahun.
"Kenapa om jelek ya" ucap Nila gugup.
"Cantik...kamu cantik sekali" Ardi mendekat dan mengecup kening Nila.
"Emm... om kita berangkat sekarang" ucap Nila menghilangkan groginya.
"Oh iya ayo" ucap Ardi ia mengeratkan tangannya dipinggang ramping Nila.
"Silahkan princess" ucap Ardi membukakan pintu mobil untuk Nila.
"Terima kasih om" ucap Nila tersenyum.
Ardi mengitari mobilnya dan duduk kursi pengemudi.
"Terima kasih ya udah mau jadi pasangan om malam ini" ucap Ardi saat mereka dalam perjalanan menuju Hotel Sangrilla.
"Iya om sama-sama kebetulan Nila juga gak punya pasangankan jadi kita sama-sama saling membantu" ucap Nila sambil menutupi groginya, entah kenapa malam ini ia sangat grogi bercampur senang bisa menemani Ardi.
Mobil yang membawa Nila dan Ardi kini sudah memasuki parkiran basement hotel Sangrilla Ardi segera mencari posisi parkir untuk mobil mewahnya itu.
"Ayo Nil" ucap Ardi membukakan pintu mobil untuk Nila keluar.
"Terima kasih om" ucap Nila.
"Nanti didalam ada banyak teman om jadi jangan memanggil om" ucap Ardi, ia mengulurkan tangannya membantu Nila keluar dari mobil.
"Lalu Nila harus manggil apa dong" ucap Nila.
"Emm... abang boleh juga kayanya" ucap Ardi menatap Nila dengan senyumnya yang menggoda.
"Abang... bang Ardi boleh juga" ucap Nila tersenyum.
"Ya sudah ayo" ucap Kevin.
Nila begitu gugup pasalnya ia tak pernah sekali pun di ajak ke pesta orang kaya, apalagi ini adalah pengalaman pertamanya menemani pria dewasa dan bertemu dengan kolega pria itu.
Nila melingkarkan tangannya dilengan kekar Ardi mereka berjalan memasuki ballroom hotel Sangrilla yang sudah dipenuhi banyak tamu undangan, banyak mata memandang kagum pada kecantikan Nila. Keduanya terlihat sangat serasi layaknya suami istri, tak terlihat perbedaan usia yang jauh diantara keduanya.
Banyak teman-teman Nila yang juga hadir di pesta mewah tersebut.
"Eh itu bukannya Nila ya sama siapa tuh..."
"Itu daddy nya Prilly kan ko bisa jalan sama Nila"
"Gila si Nila ko bisa sih dia cantik banget gitu dandannya"
"Ko mau sih Nila jalan sama daddynya Prilly"
"Secara sih ya daddynya Prilly tajir banget siapa juga yang gak mau"
Banyak bisik-bisik yang melihat kedekatan Nila dan Ardi.
"Daddy baru sampai ya.." Prilly menghampiri Ardi dan Nila.
"Iya..." ucap Ardi.
"Eh tunggu-tunggu, ko bisa sih kalian serasi banget padahalkan tadi bajunya gak janjian" ucap Prilly.
"Tau jodoh kali ya gak Nila" ucap Ardi asal.
"Ah eehh... i.. iya kali om" ucap Nila grogi akan perkataan Ardi.
"Yee daddy apaan sih Nila digodain" ucap Prilly.
"Sudah ah daddy mau ke sana dulu menyapa teman-teman daddy" ucap Ardi.
"Udah sana, Nila jagain daddy gue takut jelalatan matanya" bisik Prilly.
"Ayo" Ardi menarik tangan Nila dan menggenggamnya.
Ardi membawanya berkumpul bersama relasi bisnisnya yang juga bersama pasangannya.
"Nah nih dia pak Ardi sama siapa nih pak" ucap seorang relasi bisnis Ardi dari perusaan yang cukup ternama.
"Oh kenalin ini Nila" ucap Ardi.
"Halo Nila.." Nila dengan gugup memperkenalkan dirinya dan menjabat tangan beberapa orang relasi Ardi.
"Pacar ya pak Ardi" ucap salah satu diantara mereka.
"Ya begitulah" ucap Ardi sambil tersenyum dan mengeratkan tangannya dipinggang Nila.
"Ah akhirnya setelah sekian lama pak Ardi punya gandengan juga" celetuk yang lainnya.
"Kapan nih diresmikan pak" ucap seorang perempuan.
"Ya secepatnya, iya kan sayang" ucap Ardi.
"I.. i... iya" ucap Nila grogi, ia tak menyangka Ardi akan memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya dihadapan relasi bisnisnya, entah kenapa ia sangat menyukainya apalagi saat Ardi memanggilnya dengan sebutan sayang.
Pesta telah usai kini Ardi dan Nila sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja Ardi memberhentikan mobilnya ditengah jalan.
"Kenapa om ko berhenti" ucap Nila.
"Om mau bicara serius Nil" ucap Ardi.
"Ngomong aja om.." ucap Nila.
"Kamu gak mau nanya kenapa tadi om perkenalkan kamu sebagai kekasih om" tanya Ardi membuat Nila menatapnya.
"Nila pengen sih nanya cuma takut" ucap Nila menunduk.
"Nil... sejak pertemuan pertama kita om merasa senang bisa berkenalan dengan kamu, kamu memberikan selalu memberikan perhatian-perhatian kecil pada om dan itu membuat om mempunyai perasaan terhadap kamu, om tau ini terlalu cepat kita berkenalan baru beberapa hari yang lalu, maukah kamu menjadi kekasih om" ucap Ardi penuh harap ia menatap Nila dan menggenggam jemari tangannya.
"Om... Nila..." ucap Nila.
Bersambung