Istri ABG 9

1048 Words
Ardi memacu mobilnya membelah jalanan kota jakarta menuju rumah kekasih abgnya itu. Nila memoles dirinya didepan cermin dengan make up yang tipis ia tak ingin mempermalukan Ardi didepan koleganya. Tok...tok...tok... Suara ketukan pintu mengagetkan Nila. "Nil... itu Ada mas Ardi sudah datang" ucap Gunawan dari balik pintu, ia memang memanggil Ardi dengan sebutan mas dikarenakan usianya dan Ardi yang terbilang hampir seumuran. "Minta tunggu sebentar yah" ucap Nila sambil memperhatikan penampilannya. Gunawan turun dari lantai atas rumahnya dan menemui Ardi. "Tunggu sebentar ya mas Ardi sepertinya Nila masih di kamar" ucap Gunawan. "Iya pak tidak apa" ucap Ardi. Tak berapa lama Nila turun dari kamarnya ia menggunakan pakaian berwarna putih, pakaian santai untuk acara makan malam. "Hai maaf lama" ucap Nila menghampiri Ardi. "Ya gapapa" ucap Ardi sambil tersenyum menatap Nila. "Berangkat sekarang" tanya Nila dan Ardi menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, ayah kita pergi dulu" ucap Nila pada ayahnya. "Mari pak" ucap Ardi pamit. "Ya hati-hati titip Nila ya mas" ucap Gunawan. Ardi merangkul pinggang Nila mesra menyatakan kepemilikannya memasuki restauran. "Itu mereka" ucap Ardi menunjuk kolega bisnisnya yang duduk bersama istrinya. "Selamat malam maaf sedikit terlambat" ucap Ardi. "Tak apa pak Ardi mari silahkan duduk dan silahkan pesan dulu" ucap Handoko kolega bisnis Ardi. Seorang pelayan datang dan mencatat pesanan mereka. "Apa kabar bu Handoko" Ardi menyapa istri pak Handoko. "Baik pak Ardi dan ini si cantik siapa namanya" ucap bu Handoko. "Oh kenalkan ini Nila kekasih saya" ucap Ardi. "Hallo bu pak senang bisa berkenalan dengan anda berdua" ucap Nila menjabat tangan suami istri itu. "Astaga jadi kamu kekasihnya pak Ardi, saya kira anaknya. Emm.. usia kamu berapa sayang" tanya bu Handoko. "Dia baru tujuh belas tahun bu" sahut Ardi tersenyum. "Astaga tujuh belas tahun kamu masih sekolah" tanya Pak Handoko. "Iya pak kelas tiga SMU" ucap Nila. "Kalau saya tidak salah ingat bukankah pak Ardi juga mempunyai seorang anak perempuan" tanya pak Handoko lagi. "Ya dia ada di rumah, Nila adalah sahabat baik putri saya" ucap Ardi. "Wow benarkah, apa putri anda yang menjodohkan kalian " tanya bu Handoko. "Bukan bu, justru dia tidak ingin saya memiliki kekasih" ucap Ardi. "Kalian backstreet" tanya bu Handoko yang sangat penasaran dengan hubungan pasangan beda usia itu. "Ya begitulah bu" ucap Ardi tersenyum. "Kenapa kamu bisa mau dengan dia Nil bukankah usia kalian terpaut sangat jauh" tanya Pak Handoko. "Bukankah cinta tidak mengenal usia pak" ucap Nila tersenyum. "Jawaban yang logis" ucap bu Handoko tersenyum. "Ya sudah mari silahkan makan" ucap Pak Handoko. Nila sangat mudah berbaur dan menyesuaikan dirinya pada kolega Ardi dan itu yang sangat disukai Ardi, pembawaannya yang dewasa dan cara bicara yang sangat sopan membuat Ardi mengaguminya. "Baiklah nanti main-main ke rumah ya pak bu" ucap Ardi saat akan berpamitan. "Dan kami tunggu undangan dari kalian" ucap bu Handoko. "Oh ya pasti tapi tunggu Nila selesai sekolah dulu ya kan sayang" ucap Ardi. "Iya..." ucap Nila. "Baiklah kami permisi" ucap Ardi menjabat tangan pak Handoko dan Nila cipika cipiki dengan bu Handoko. Ardi memeluk pinggang Nila menuju parkiran, dibukakannya pintu mobil untuk kekasihnya itu. Ia mengantarkan Nila kembali ke rumahnya. "Kenapa ngantuk hhmm" tanya Ardi yang sedang menyetir melihat Nila menguap. "Ya sedikit" Nila mengambil satu lengan Ardi yang berada dikemudi dan memeluknya, disandarkannya kepalanya di bahu kekar pria itu. "Sayang...." ucap Ardi yang masih fokus pada jalan. "Hhmmm" ucap Nila hanya bergumam. "Besok aku ada perjalanan bisnis" ucap Ardi. "Ke mana, berapa lama" tanya Nila. "Paris dua minggu" ucap Ardi. "Whaaaatttt... lama banget sih" teriak Nila. "Gak usah teriak gitu dong sayang" ucap Ardi. "Gak mau jangan lama..." ucap Nila manja. "Ih ko jadi manja gini sih, mana Nila yang tadi terlihat dewasa pas ngobrol sama bu Handoko" ucap Ardi terkekeh karena melihat kemanjaan Nila, Nila yang sangat bisa menempatkan posisinya saat berkumpil dengan rekan kerja dan kolega Kevin ia memunculkan sisi kedewasaannya dan saat bersama dengan Kevin ia begitu manja. "Iiihhh... aku gak mau ditinggal lama" ucap Nila mendengus kesal. Ardi memarkirkan mobil mewahnya di depan rumah Nila yang sederhana. "Udah dong jangan ngambek gitu ah" ucap Ardi menangkup kedua pipi Nila dan mengecup bibirnya. Keduanya masih berada di dalam mobil. "Kamu perginya dadakan" ucap Nila manja. "Ya mau gimana lagi sayang cabang perusahaan di sana membutuhkanku" ucap Ardi. "Jam berapa berangkat besok" tanya Nila. "Jam lima sore" ucap Ardi. "Ya udah nanti aku antar ke bandara" ucap Nila dengan wajahnya yang masih ditekuk. "Sudah dong sayang masa masih cemberut aja, aku janji kalau kerjaan udah beres aku langsung pulang" ucap Ardi. "Janji ya" ucap Nila. "Iya janji, kasih vitamin aku dulu dong kan mau pergi lama" ucap Ardi. "Vitamin apa" tanya Nila bingung. "Ini...." Ardi menarik tengkuk Nila dan melumat habis bibirnya, Nila pun dengan senang hati mengalungkan tangannya di leher kekasihnya itu lalu membalas lumatannya. Ardi menurunkan ciumannya ke leher Nila dan meninggalkan beberapa kissmarknya. Terdengar lenguhan Nila saat kekasihnya itu melancarkan aksinya. "Cukup... terima kasih sayang" ucap Ardi lalu mengecup kening Nila. "Kamu ganas banget..." ucap Nila. "Masih untung gak aku masuki disini" canda Ardi dengan tawanya. "Gak lucu" omel Nila. "Iya maaf aku juga gak bakalan ngelakuin itu sebelum kita resmi" ucap Ardi. "Resmi apanya" tanya Nila bingung. "Ya resmi jadi istri akulah sayang" ucap Ardi. "Kamu serius mau membawaku ke arah sana" tanya Nila tak percaya. "Aku serius sama kamu aku gak suka membuang waktuku dengan bermain-main aku pria dewasa yang juga membutuhkan pendamping" ucap Ardi. "Sayang terima kasih, aku sama sekali gak menyangka kalau kamu akan seserius ini sama aku" ucap Nila, ia menghambur kepelukan Ardi. "Yuk keluar nanti kita di grebek warga kelamaan di mobil" ucap Ardi dengan tawanya. "Sebentar sayang..." ucap Nila. "Apalagi..." tanya Ardi mengangkat kedua alisnya. "Sini aku bersihkan" Nila mengambil tisu dan membersihkan bibir Ardi yang ada noda lipstiknya. "Udah dan sini aku kasih tanda dulu sebelum kamu pergi" Nila menarik Ardi dan langsung menyesap lehernya meninggalkan kissmarknya. "Kamu ya udah berani" Ardi terkekeh akan tingkah Nila. Tok..Tok.. "Ayah...." Nila memanggil ayahnya dan tak lama Gunawan membukakan pintu. "Ini pak saya balikin utuh putri kesayangan bapak" ucap Ardi. "Masuk dulu mas Ardi" ucap Gunawan ramah. "Sudah malam saya langsung pulang saja" ucap Ardi. "Ya sudah hati-hati" ucap Gunawan. "Hati-hati" ucap Nila mengelus lengan Ardi. Cinta datang tanpa diundang, cinta memang tak mengenal usia. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD