Aku turun dari mobil yang Om Agi bawa. Lelaki dengan kulit lebih ke … hmmm hitam manis itu menatapku. “Besok jam berapa selesai lemburnya, Ra?” Eh, ditanya. Aku hanya nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala. “Hmmm … belum tahu, Bang. Nanti aku kabarin kalau lemburnya selesai. Kalau gak ada kabar, berarti gak kelar-kelar.” Dia memasang senyuman, manis sih. Tapi gimana, ya? Dahlah, hati ini sudah dicuri sama Mas Bos, jadinya ya, susah. “Oke, nanti saya langsung check saja ke kantor kamu, ya! Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Aku mengangguk sopan ketika dia menutup kaca jendela mobil yang tadi dibukanya setengah. Lalu melenggang ke dalam. Hilda sudah tidur sepertinya ketika aku pulang. Sepi di dalam rumah gak ada siapa-siapa. Gegas aku menuju kamar untuk beristirahat. Kejadian

