14. Quality Time with Daddy

2083 Words
Semalaman suntuk tidak dapat memejamkan matanya dengan tenang, tak juga membuat wanita cantik pemilik manik mata coklat almond tersebut terlambat bangun di pagi hari. Fidelya justru akan terbangun ketika hari masih petang setiap kali begadang di malam hari. Perihal kata orang lain bahwa biasanya begadang membuat bangun kesiangan, itu tidak berlaku bagi Fidelya. Alasan yang membuat Fidelya tidak dapat memejamkan matanya, apalagi tertidur dengan nyenyak adalah karena pikiran dan kemelut bayangannya terfokus pada rencana kedatangan Raymond dan kedua orang tuanya yang akan berkunjung ke rumahnya dalam waktu dua hari ini. Fidelya merasa gelisah, pemikirannya selalu menimang apakah pilihannya sudah tepat ataukah hanya berdasarkan keinginannya menjaga nama baik sang ayah di depan keluarga mendiang Zwetta Gizele. Raymond dan keluarga lelaki itu kemungkinan akan mempermasalahkan pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh Jordan Harvey ketika Fidelya menolak akan rencana pernikahannya dengan Raymond. Lelaki itu tak akan menerima apabila jantung istrinya berdetak untuk orang lain saat nanti Fidelya menemukan lelaki lain selain Raymond Mattew Gilbert. Pikiran Fidelya sibuk membayangkan, rumah tangga seperti apa yang nantinya dia jalani bersama Raymond, saat lelaki itu saja hidup di dalam bayang-bayang mendiang istrinya. Belum juga hari pernikahan itu tiba, namun ilustrasi Fidelya hanya berperan sebagai istri pengganti di dalam kehidupan Raymond sudah sangat menyesakkan baginya. “Kenapa wajah lelaki itu selalu berkeliaran di dalam kepalaku?” gumam Fidelya menarik rambutnya ke kanan dan ke kiri, berharap bayangan wajah Raymond menyingkir dari kepalanya. Fidelya menghembuskan napasnya panjang. Harapan dirinya akan menikahi lelaki yang dia cintai dan mencintainya mungkin hanyalah tinggal angan-angan semata. Pada akhirnya Fidelya kembali mengikuti alur takdir yang sudah digariskan untuk dia jalani.  Fidelya turun ke bawah dan melihat ayahnya sedang berdiri di depan para pelayan yang ada di sana. Kening Fidelya menyerngit saat melihat ayahnya mengumpulkan para pelayan di rumahnya seolah tengah memberikan sebuah pengumuman penting untuk mereka. “Eve, pastikan tiga kamar tamu di rumah ini siap tanpa ada kekurangan sama sekali. Saya tidak mau tamu penting keluarga Harvey mempunyai keluhan terhadap keluhan ketika berada di sini,” kata Jordan kepada kepala pelayan di rumahnya, Mam Eve. Mam Eve mengangguk mengiyakan. “Baik, Tuan. Saya pastikan keluhan tidak akan pernah Anda dengar dari tamu-tamu Anda nantinya,” jawab Eve meyakinkan. Bukan sekali atau dua kali rumah mewah keluarga Harvey menerima tamu-tamu penting dari sanak keluarga ataupun rekan kerja. Jordan Harvey selalu memberikan perintah kepada para pekerja di rumahnya agar memperlakukan tamu-tamunya sama seperti cara mereka memperlakukan Jordan dan Fidelya di sana. Kenyamanan tamu yang datang dan bermalam di rumahnya adalah hal penting bagi Jordan selaku tuan rumah tersebut. Jordan tidak ingin tamunya memiliki keluhan tentang rumahnya, atau sampai merasa tidak nyaman. “Kita akan membagi tiga tugas utama saat tamu Tuan Jordan dan Nona Muda Fidelya datang. Kalian mengerti?” pungkas Mam Eve kepada seluruh bawahannya. “Baik, Mam!” Seluruh pekerja di kediaman keluarga Harvey mengangguk mengiyakan. Mereka secara kompak menjawab ucapan Mam Eve tanpa keraguan sama sekali dari nada bicara mereka. Ini bukan lagi kali pertama perintah tersebut mereka dapatkan selama bekerja di kediaman mewah nan megah milik keluarga Harvey. Tidak salah jika tuan besar mereka mengutamakan kenyamanan para tamu-tamunya, mengingat seluruh tamu lelaki paruh baya itu adalah orang-orang dari kalangan atas dan berkelas. Jordan Harvey hanya akan menjadi bahan ejekan sekaligus ledekan tamunya ketika pelayanan di rumah keluarganya memiliki celah. Mereka tentu akan mempertanyakan kemampuan Jordan dalam mengatur para pelayan di rumahnya. "Daddy," panggil Fidelya sambari menuruni anak tangga arah turun ke bawah. Jordan Harvey menengok ke arah suara lembut yang memanggilnya. "Kamu sudah bangun, Sayang?" Fidelya mengangguk dan tersenyum lembut. "Iya, apa yang Daddy lakukan? Daddy tidak ke kantor hari ini?" tanya Fidelya heran biasanya ayahnya jam segini sudah berada di kantor. "Daddy akan work from home dalam beberapa hari ini karena Daddy ingin menyiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan keluarga Gilbert ke rumah kita, Nak,” ujar Jordan menjelaskan mengapa dirinya pagi ini tidak pergi ke kantor seperti biasanya. Bahkan pernah sewaktu itu Jordan tetap pergi ke kantor di hari libur dan memberikan gaji lembur tambahan kepada para pegawai kantornya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tengah dikejar oleh deadline. “Ckck, Daddy ini berlebihan sekali. Mereka datang ke mari untuk berkunjung dan menjalin silahturahmi, bukan sedang mengadakan lomba siapa yang terbaik dalam menerima tamunya,” ejek Fidelya menatap daddynya menggoda. Ejekan dari Fidelya membuat Jordan menatap Fidelya dengan datar. Itulah dampak negatif dari Fidelya yang tidak pernah menerima tamu lawan jenisnya, Fidelya menjadi cuek dan acuh terhadap perkenalannya dengan seorang lelaki. Padahal yang datang kali ini adalah calon suaminya, beserta kedua calon mertuanya. Bagaimana bisa Fidelya bersikap seacuh itu? Sedangkan dahulu saja, Jordan masih teringat betapa dia dan mendiang istri tercintanya sangat gugup luar biasa saat pertemuan kedua belah pihak keluarga akan dilaksanakan di kediaman pihak wanita. "Tentu saja Daddy harus mempersiapkan segalanya, nanti selama meraka di sini Daddy akan menjamu mereka dengan baik. Bagaimanapun mereka adalah calon menantu dan besan ayah nantinya," jelas Jordan memberikan pengertian kepada Fidelya. Fidelya hanya terdiam mendengar perkataan ayahnya, ayahnya terlihat sangat senang dengan kedatangan Ramond dan kedua orangtuanya. Beda halnya dengan Fidelya yang malah dilingkupi perasaan gugup sekaligus gelisah menyambut kedatangan mereka. Fidelya bingung, harus bereaksi seperti apa lagi untuk saat ini. "Sayang, apa kamu mau pergi keluar hari ini? Sejak kamu sakit kamu lama tidak berjalan-jalan di luar," tanya Jordan penasaran. Fidelya menatap ayahnya. “Kenapa? Daddy mau menemani Fidelya hari ini?” ujar Fidelya. “Tentu saja, kapan lagi Daddy quality time dengan anak sematawayang Daddy yang cantik ini,” sahut Jordan mengelus puncak kepala putrinya. "Bagaimana kalau kita mengunjungi makam Mommy. Setelah itu maukah Daddy menemani Fidelya ke panti asuhan Kasih Ibu?” Fidelya menatap ayahnya penuh harap. “Siap siaga, Ibu Komandan!” seru Jordan memberikan hormat kepada Fidelya. Fidelya terkekeh, begitu pula Eve dan para pelayan lainnya yang melihat interaksi antara ayah dan anak itu. Kedekatan Fidelya dengan ayahnya terkadang membuat beberapa orang yang melihatnya merasa iri. Tidak semua anak perempuan mendapatkan keberuntungan untuk dekat dengan ayahnya. Pun jua tak semua ayah memiliki sikap penuh kasih sayang seperti perlakuan Jordan kepada anak sematawayangnya. “Daddy sangat merindukan ibumu, rasanya sudah lama pelupuk mata ini tidak melihat tempat tidur abadinya selama Daddy menemanimu berjuang mendapatkan kesempatan untuk hidup yang lebih panjang,” kata Jordan tersenyum lembut. "Daddy ...." Tangan Fidelya mengusap lembut butiran air mata yang menetes pada pipi ayahnya. "Kalau Daddy mau, aku tidak menikah saja dengan Raymond supaya aku tetap bisa bersama Daddy di sini." "Jangan bicara begitu, Sayang. Tugasku sebagai ayah belum selesai jika belum mengantar putriku berjalan ke altar pernikahan dan memberikan tangan ini pada pria yang akan menggantikan tugasku menjaga dan melindungi kamu." Fidelya memeluk Jordan dengan erat. "Tapi Daddy janji, tidak akan melarang Fidelya terus menginap di sini meski sudah menikah nantinya?” tutur Fidelya. “Tidak akan Daddy larang, selama suamimu mengizinkannya,” tutup Jordan. Fidelya dan Jordan bersiap-siap untuk menjalani rutinitas seharian ini. Di sepanjang perjalanan Fidelya menurunkan kaca jendela mobilnya. Fidelya ingin menikmati udara San Farnsisco yang hangat, wanita itu mengedarkan matanya sepanjang perjalanan. Jordan yang melihat itu merasa sangat senang, senyum di bibir Fidelya adalah suatu kebahagiaan yang tak ternilai baginya. Beberapa menit perjalanan mereka, mereka sampai di sebuah pemakaman yang memang dikhususkan untuk orang-orang dengan kelas atas di sana. Bukan dikhususkan, lebih tepatnya yang mampu membeli hunian peristirahatan terajhir di sana hanyalah mereka dari kalangan atas saja. Fidelya dan Jordan masuk ke dalam dan menuju di batu nisan yang bertuliskan Sarah Harvey. Fidelya meletakkan karangan bunga tulip di sana, bunga yang sangat disukai oleh mamanya yang tadi dia beli saat perjalanan menuju makam mamanya. "Halo, Mom." Fidelya duduk tepat di samping makam mamanya dan Jordan berdiri di sampingnya. "Fidelya sangat merindukan Mommy dan Mommy tahu …? Fidelya sekarang sudah sembuh karena mendapat donor jantung dari seorang wanita yang sangat baik. Fidelya tidak takut lagi jika diejek oleh orang lain seperti saat Fidelya masih kecil, Mom." ‘Sarah, aku sudah menepati janjiku kepadamu. Memperjuangkan kehidupan putri kita, kehidupan yang tak pernah dapat mampu aku berikan untukmu meski harta dan kekayaan berada dalam kendaliku,’ lirih Jordan berbicara di dalam hatinya. Tangan kekar Jordan menyentuh gundukan tanah berselimutkan hamparan rumput hijau yang bernilai puluhan juta satu kotaknya.  "Putri kita akan segera menikah dengan seseorang, Sarah. Dan aku harap kamu bahagia di sana melihat kebahagiaan putri kita,” adu Jordan. "Daddy, Mommy pasti akan bahagia jika melihat kita bahagia." Fidelya beranjak dari sana dan berdiri sejajar dengan ayahnya. “Kamu benar, Mommy adalah orang pertama yang paling bahagia melebihi kita saat kita merasa bahagia,” ucap ayahnya, mereka berdua kemudian berdoa untuk Sarah Harvey. Fidelya dan ayahnya meninggalkan area pemakaman dan masuk ke dalam mobil. Agenda selanjutnya adalah menyambangi panti asuhan, tempat di mana Fidelya selama ini merenung atas kemewahan yang diberikan Tuhan kepadanya. "Daddy, aku ingin pergi ke pusat perbelanjaan sebentar sebelum kita berangkat ke panti. Aku mau membelikan beberapa makanan, dan barang-barang yang dibutuhkan anak-anak di sana,” pinta Fidelya. Katanya, negara-negara maju tidak pernah membiarkan anak-anak tak beruntung tentang orang tua hidup di bawah naungan panti asuhan. Nyatanya masih banyak anak-anak kurang beruntung yang justru terselamatkan kehidupannya dengan adanya panti sosial swasta gabungan dari uluran tangan mereka yang mampu. "Tentu saja boleh, Fidelya." Mereka sampai pada sebuah pusat perbelanjaan besar yang di dalamnya menjual berbagai macam barang-barang kebutuhan panti asuhan. Fidelya mulai memilih barang-barang di sana, dia memperhatikan dengan teliti apa saja yang mau dia beli. Sedangkan Jordan memperhatikan raut wajah putrinya yang tampak antusias memilih barang-barang tersebut tanpa memikirkan perihal jumlah belanjaan nantinya. Tidak lupa pula, Fidelya membeli banyak makanan, buku serta alat tulis dan jua beberapa baju untuk dipakai anak-anak di panti. Sopir keluarga mereka membantu Fidelya membawa barang-barang itu masuk ke dalam bagasi mobil, kemudian mereka menuju panti di mana Fidelya dulu sering menghabiskan waktu bosannya. Fidelya lebih sering menghabiskan waktunya di sana daripada harus berkumpul dengan teman-teman sebayanya, karena memang sejak kecil Fidelya tidak mempunyai banyak teman. Lebih tepatnya tidak ada yang mau bertaman sama dia, hanya ayah dan keluarga besarnya lah yang selalu bersamanya. Dan anak-anak di panti itu selalu memiliki cara mengibur dirinya dengan canda dan tawa mereka yang ceria jua polos. Beberapa menit berlalu, mereka akhirnya sampai di sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, bangunan mirip rumah panjang itu terdapat sebuah taman kecil yang indah dan terawatt. Di depannya ada sign board tulisan nama panti itu, Fidelya merasa sangat bahagia bisa ke sana lagi setelah sekian lama dia tidak berkunjung. Fidelya segera turun dan masuk ke dalam ruangan seseorang. "Permisi," sapanya lembut. "Fidelya?" Suara wanita yang sedang duduk di meja kerjanya dengan kacamata putih menempel pada mata tuanya. "Ibu Tsania." Fidelya berjalan masuk dan memeluk Ibu Tsania pemilik panti asuhan yang sering dia datangi. Terlihat wajah wanita tua itu tampak sangat bahagia. Ibu Tsania wanita berusia sekitar 57 tahun bertubuh sedang dengan rambut putih memenuhi kepalanya itu sudah lama mengenal Fidelya. Ibu Tsania adalah teman dari almarhum mama Fidelya. "Ibu sangat khawatir saat kamu lama sekali tidak ke sini. Ibu pernah menghubungi ayah kamu, dan ayah kamu bilang keadaan kamu drop lagi. Ibu meminta anak-anak di sini untuk mendoakan kesembuhan kamu, Fidelya." "Terima kasih, karena berkat doa Ibu dan anak-anak di sini, sekarang keadaan Fidelya sangat baik, malah jauh lebih baik karena aku sudah benar-benar sembuh, Ibu Tsania,” pungkas Fidelya. "Benarkah, Fidelya? Apa kamu sudah mendapatkan donor jantung dari seseorang?" tanya Tsania karena tidak mendapatkan informasi tambahan dari Jordan. Tsania memahami, Jordan mungkin memiliki banyak pekerjaan dan kesibukan. "Iya, Fidelya sudah mendapatkan donor jantung dari seorang wanita yang sangat baik sekali," jelas Fidelya. "Syukurlah kalau begitu." Sekali lagi Ibu Tsania memeluk erat Fidelya. "Ibu, aku ingin bertemu dengan anak-anak di sini. Fidelya membawakan banyak hadiah untuk mereka," ucap Fidelya mengutarakan kerinduannya atas anak-anak di panti. Tidak lama Jordan dan supir pribadinya datang menyusul ke ruangan ibu panti dengan banyak tas belanjaan di tangan sang sopir keluarga Harvey. "Jordan," sapa Ibu Tsania melihat Jordan turut serta datang di sana. "Halo, Tsania. Bagaimana kabar kamu?" tanya ayah Fidelya dengan diiringi senyuman. "Aku baik, dan aku harap kamu juga baik." Tangan Tsania menjulur menjabat tangan Jordan "Aku sangat baik karena sekarang dan seterusnya aku akan selalu melihat putriku dalam keadaan sehat, dan itu berkat doa kamu dan anak-anak di sini, Tsania,” terang Jordan. "Aku sangat bahagia mendengar kabar jika Fidelya akhirnya mendapatkan donor jantung, Jordan. Akhirnya penantian kita semua mendapat hasil memuaskan," jawab Tsania turut bahagia mendengarnya. "Kamu akan lebih bahagia lagi jika kamu mengetahui jika Fidelya telah mendapatkan lamaran dari seorang lelaki yang sangat baik." Jordan melirik pada Fidelya dan Fidelya malah membulatkan kedua matanya malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD