13. Keputusan Fidelya

1948 Words
Tatapan penuh arti dari Jordan Harvey sebenarnya memiliki arti begitu dalam terhadap putri sematawayangnya. Jordan menghela napasnya sejenak untuk menata terlebih dahulu kesiapan mental dan hatinya sebelum memberitahu Fidelya mengenai kesepakatan yang sudah lelaki itu janjikan kepada Raymond Mattew Gilbert sesaat sebelum operasi transplantasi organ jantung Zwetta mendapatkan persetujuan dari sang suaminya. Kala itu Jordan sama sekali tak memiliki pilihan lain selain menyetujui satu syarat dari Raymond. Apa lagi yang mampu Jordan pilih selain menerima segala keingan suami dari wanita pemilik jantung tersebut? “Fidelya,” panggil Jordan setelah meyakinkan perasaannya bahwa ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu Fidelya segalanya. Cepat ataupun lambat, Raymond pasti akan mempertanyakan kelanjutan rencana pernikahan lelaki itu dengan Fidelya. Jordan tidak mungkin memberitahu Fidelya secara tiba-tiba. Wanita itu mungkin juga akan memberikan jawaban atas pilihannya sendiri. “Iya, Dad?” sahut Fidelya menaikkan satu alisnya. Jordan tersenyum simpul. “Daddy mau memberitahu kamu sesuatu, tentang transplantasi jantungmu,” kata Jordan. “Katakan saja, Daddy. Jangan membuat Fidelya menebak-nebaknya,” jawab Fidelya terkekeh renyah. Eve datang membawa dua gelas orange juice kepada Fidelya dan ayahnya. Fidelya tersenyum lembut saat melihat bongkahan es batu terlihat segar bercampur dengan sari jeruk pilihan. “Mam Eve, terimakasih banyak,” kata Fidelya tak pernah melupakan ucapan terimakasihnya setiap kali para pekerja di rumahnya melayaninya. Bagi Fidelya, memperlakukan para pekerja di rumahnya dengan manusiawi tidak lantas menurunkan derajat dan kehormatan mereka. Justru karena memperlakukan baik para pekerja di rumahnya, mereka malah mendapatkan kehormatan yang tulus dari orang-orang di bawah naungan keluarga Harvey. Mam Eve mengangguk. “Sama-sama Nona Fidelya.” Fidelya meneguk orange juice buatan Eve. Selama pemulihan kondisi tubuhnya, Fidelya memejamkan matanya, merasakan sensasi segar setiap bulir dari jeruk pilihan terbaik di kotanya tinggal. Jordan tersenyum geli melihat raut wajah Fidelya layaknya anak kecil yang sangat bahagia bisa mendapatkan permen gula kesukaannya. Dilema mulai menyergap perasaan Jordan. Anak kecil yang dahulu selalu menangis setiap kali Jordan tak bisa menemani aktivitasnya sepanjang hari, sebentar lagi akan meninggalkannya ketika Fidelya menyetujui permintaan pernikahan dari Raymond. “Fidelya, Tuan Raymond, maksud Daddy adalah suami dari Nona Zwetta Gizele,” ujar Jordan menyita perhatian Fidelya. Tangan Fidelya meletakkan gelas berisi orange juice tersebut kembali ke meja. Tatapan Fidelya kini fokus pada sorot mata sang ayah. “Tuan Raymond memangnya kenapa, Dad?” tanya Fidelya mulai merasa penasaran. “Sebelum Tuan Raymond menyetujui transplantasi jantung istrinya, dia mengajukan satu syarat kepada Daddy,” jelas Jordan. Kening Fidelya saling bertautan heran. “Maksud Daddy, dia meminta uang untuk syarat transplantasi jantung istrinya?” pungkas Fidelya. Jordan menggeleng. Andai saja memang uang yang diminta oleh Raymond, kemungkinan besar Jordan tidak akan merasa dilema setiap kali dirinya hendak membicarakan tentang syarat Raymond kepada putrinya. Kalau harta duniawi syarat Raymond, Jordan tak akan keberatan memberikan berapapun permintaan lelaki itu. “Bukan uang atau harta, Nak. Tuan Raymond mengizinkan transplantasi jantung untukmu dengan satu syarat … syaratnya adalah kamu harus menikah dengannya usai keadaanmu pulih,” kelakar Jordan. “What?” pekik Fidelya menyemburkan orange juice begitu saja usai mendengar ucapan daddynya. Syarat macam apa yang diajukan oleh Raymond kepada ayahnya? Apakah Raymond sudah kehilangan akal sehatnya sampai mengajukan syarat gi-la seperti itu? Fidelya mengerjapkan matanya. Sekali lagi wanita bermanik mata coklat almond menatap ayahnya meyakinkan. “Daddy, yang Fidelya dengar ini tidak becanda?” tanya Fidelya dengan binar mata syok. “Daddy tidak berbohong, Fidelya. Daddy sudah berjanji akan menikahkanmu dengan Tuan Raymond begitu kesehatanmu pulih benar,” jawab Jordan tak menunjukkan raut wajah becanda. Biasanya Jordan akan tertawa lepas usai mengutarakan kalimat-kalimat becanda yang mampu membuat Fidelya tercengang. Akan tetapi ekspresi wajah Jordan sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bahwasanya ayah dari Fidelya tengah berbohong, atau hanya iseng terhadap putrinya semata. Tidak ada jawaban dari Fidelya usai Jordan meyakinkan semua ucapannya adalah kebenaran. Wanita itu diam terpaku, sambari mengingat kembali jika dirinya berada dalam posisi Raymond maupun ayahnya. Jika Fidelya menjadi sang ayah, tentu saja Fidelya akan mengusahakan segala macam cara demi menyelamatkan anak sematawayangnya. Pun jua jika Fidelya menjadi Raymond, lelaki itu pasti memberikan syarat yang sama sulitnya dengan keputusannya merelakan organ tubuh istrinya diberikan untuk orang lain, terlebih sampai memberikan saya-tan dan jahitan pada tubuh mendiang istrinya yang sebelumnya bahkan sudah terluka oleh kecelakaan lalu lintas yang mereka alami hingga menewaskan Zwetta Gizele. Fidelya kembali menatap ayahnya. Dirinya tak akan mungkin sanggup membuat ayahnya berada dalam masalah karena melanggar perjanjian lelaki itu dengan suami dari Zwetta Gizele. “Daddy, aku sudah memutuskan akan menerima permintaan pernikahan yang Tuan Raymond ajukan sebagai syarat transplantasi jantung untukku,” beo Fidelya mencengangkan ayahnya. "Kamu serius, Sayang?" tanya Jordan tidak percaya. "Iya, Daddy. Aku mau menerima pernikahan itu, Daddy sudah banyak berkorban untukku dan aku ingin membalas semua pengorbanan yang sudah Daddy lakukan. Aku mau menikah dengan lelaki itu." Wajah Fidelya terlihat meyakinkan. "Oh, terima kasih, Fidelya." Lelaki paruh baya itu memeluk erat putrinya dan sekali lagi terlihat butiran air mata menetes pada matanya. Kemudian Jordan melepaskan pelukannya dan menatap wajah putri tercintanya. "Ketahuilah, Sayang. Sebenarnya Daddy tidak mau memaksakan kehendak Daddy atas kehidupan kamu, terutama tentang pernikahan, tapi Daddy tidak punya pilihan lain waktu itu, Nak." "Iya, Fidelya mengerti, Dad. Aku sangat berterima kasih sama Daddy yang sudah berjuang banyak untuk hidupku, dan aku sudah memikirkan baik-baik keputusan aku. Fidelya tidak mau nantinya dianggap sebagai anak yang jahat dan menyusahkan ayahnya karena menolak pernikahan ini." Fidelya manyun. "Tentu saja Daddy tidak akan menganngap kamu sebagai putri Daddy yang jahat apalagi menyusahkan. Kamu putriku yang sangat baik dan Daddy tahu, kamu sangat menyayangi Daddy," ucap Jordan menyentuh pipi cerry Fidelya. "Mmm Daddy, coba ceritakan sedikit tentang lelaki yang bernama Raymond itu, suami mendiang Zwetta?" tanya Fidelya seketika. "Raymond seorang pebisnis yang sangat hebat di Las Vegas. Daddy juga sebetulnya belum terlalu mengenalnya, tapi dari pengamatan Daddy dia orang yang sangat baik. Tuan Raymond, dia memiliki wajah tampan dan badan tegap bukan?" "Tapi bagiku Daddy yang paling tampan." Fidelya tertawa senang "Tentu saja, Daddy kamu paling tampan." Jordan tersenyum manis. "Daddy sangat senang bisa melihat tawa kamu seperti ini, Sayang. Daddy akan segera menghubungi keluarga Raymond dan mengundang mereka datang ke rumah kita secepatnya agar kalian bisa bertemu." "Hah! secepat itu?" tanya Fidelya dengan mata membulat. "Iya, tentu saja. Supaya kamu bisa segera berkenalan dengan Raymond dan keluarganya, keluarga Raymon sangat baik." "Tapi, Dad-." "Kenapa? apa kamu masih takut berkenalan sama mereka?" "Bukan takut. Aku hanya masih bingung." Fidelya sepertinya sedang berpikir, maklum saja dia kan baru saja mengalami hidup yang baru berkat jantung itu dan tiba-tiba akan menikah dengan lelaki yang baru dia kenal. Apalagi lelaki yang akan dia temui kali ini bukan lelaki sembarangan, dia adalah Raymond Mattew Gilbert, suami dari wanita yang mana sudah mendonorkan jantungnya teruntuk Fidelya. Belum lagi Fidelya tak hanya bertemu dengan Raymond semata, melainkan Raymond plus kedua orang tuanya, nanti apa yang akan dia katakan pada mereka. "Kedua orang tua Raymond akan senang berkenalan dengan kamu." Jordan mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi orang tua Raymond karena beberapa hari yang lalu Jordan sudah mulai berkomunikasi tidak hanya dengan Raymond, tapi juga dengan kedua orang tua Raymond—Audy, dan Charlie Gilbert. Fidelya duduk di sofa dengan kedua jari-jemarinya ditautkan cemas memperhatikan ayahnya yang sedang berbicara melalui telepon dengan kedua orang tua Raymond. ‘Halo? Tuan Jordan?’ sapa Audy di seberang sana. "Halo, Nyonya Audy. Ini saya Jordan Harvey." ‘Iya, Tuan Jordan Harvey. Saya sangat senang mendengar suara Anda, bagaimana dengan kabar Anda, Tuan Jordan Harvey?’ tanya wanita cantik itu. "Saya baik, Nyonya Audy. Bagiamana kabar Tuan Charlie dan Raymond?” ucap Jordan basa-basi. ‘Baik, kami baik-baik saja. Nak Fidelya, apakah dia dalam keadaan sehat hari ini?’ pungkas Audy sekali lagi. “Kebetulan orang yang Anda tanyakan ada di sebelah saya, Nyonya Audy,” kekeh Jordan sambari menatap putrinya menggoda. Ucapan Jordan membuat Fidelya bersemu merah mendengar gurauan darinya. Wajah Fidelya lantas menyerupai kepiting rebus. ‘Syukurlah kalau begitu, saya berniat mengirimkan beberapa bingkisan untuk Fidelya, mohon diterima, Tuan Raymond,’ kata Audy. “Tentu saja saya tidak akan menolak niat baik dari Nyonya Audy. Apakah saya bisa berbicara dengan Tuan Raymond?" ‘Maaf, Tuan Jordan. Charlie dan Raymond sedang pergi sebentar karena mereka sedang ada urusan bisnis. Mungkin sebentar lagi mereka akan kembali. Apakah ada masalah penting yang ingin Anda bicarakan?" tutur Audy, siapa tahu dirinya dapat membantunya. "Iya, saya ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting. Saya sudah berbicara dengan putri saya Fidelya dan ia sudah menyetujui tentang rencana pernikahan yang Raymond pernah bicarakan tempo lalu," pungkas Jordan memaparkan niatnya. ‘Benarkah? Jadi putri Anda Fidelya mau menerima rencana pernikahan dirinya dengan putraku, Raymond?" seru Audy senangnya bukan main. "Iya, Fidelya menerima rencana pernikahan itu dan saya ingin mengundang Anda sekeluarga untuk datang ke rumah saya, di San Fransisco, agar Fidelya dan Tuan Raymond kiranya saling mengenal baik serta membicarakan tentang rencana pernikahan anak-anak kita." ‘Saya akan memberitahu Charlie dan Raymond tentang hal ini, saya akan mempersiapkan segalanya dan pergi menemui Anda dan Fidelya di San Fransisco. Dua hari lagi kami akan segera datang ke sana, terima kasih atas undangannya, saya sangat senang sekali mendengar berita ini. Sampaikan salam saya sama putri Anda-- Fidelnya, Tuan Jordan,’ ujar Audy menggebu bersemangat. "Iya, akan saya sampaikan pada Fidelya, kami akan menunggu kedatangan Anda dan keluarga ke rumah saya." Panggilan mereka pun berakhir, Fidelya melihat wajah sang ayah yang terlihat sangat bahagia waktu berbicara dengan keluarga Raymond di telepon, dalam hatinya dia berpikir jika keputusan yang dia ambil memang adalah keputusan yang sudah benar. "Sayang, dua hari lagi keluarga Raymond Gilbert calon suami kamu akan datang ke sini, dan sebelum itu kita harus mempersiapkan semua untuk menyambut kedatangan mereka." "Dua hari lagi?" tanya Fidelya memastikan. "Iya, dua hari lagi. Kamu akan segera bertemu dengan Raymond dan Daddy berharap kamu akan menyukai Raymond." Tangan ayahnya mengusap lembut pipi anaknya . Di Las Vegas, Raymond dan ayahnya—Charlie yang baru saja datang mereka duduk di ruang tamu, Audy datang dengan membawakan dua buah cangkir berisi teh hangat, wajah Audy terlihat sangat bahagia. "Mama kenapa wajahnya tampak begitu bahagia?" tanya Raymond. "Mama ada berita bahagia buat keluarga kita, terutama buat putra kesayanganku Raymond." Mata Audy melirik ke arah putranya yang sedang menyeruput teh hangatnya. "Berita bahagia untukku?" tanya Raymond dengan nada bingung. "Iya, tadi Tuan Jordan ayah dari Fidelya menghubungi Mama, dan Tuan Jordan mengatakan jika Fidelya sudah setuju dengan rencana pernikahan kalian." "Apa? Mama serius?" Sekali lagi Raymond tampak memastikan. "Iya, tentu saja Mama serius. Tuan Jordan mengundang kita sekeluarga berkunjung ke rumahnya di San Fransiso. Mama bilang bahwa dua hari lagi kita akan pergi ke San Fransisco. Di sana nanti kita akan menentukan tanggal pernikahan antara kamu dan Fidelya." Audy tersenyum bahagia. "Berita yang bagus." Charlie meminum teh hangatnya. "Aku akan segera menyiapkan apa saja yang nantinya kita bawa ke San fransisco. Jujur saja Mama sangat menyukai Fidelya, karena yang mama tahu keluarga Tuan Jordan adalah keluarga baik-baik dan setahu mama, Fidelya adalah gadis yang sangat baik dan berhati malaikat." Wajah Audy tampak sangat antusias. Raymond terdiam sejenak, dia sedang memikirkan sesuatu ada hal aneh yang tiba-tiba dia rasakan saat mengetahui bahwa Fidelya akhrinya mau menerima rencana pernikahan itu. Raymond teringat pada mendiang istrinya Zwetta, sekali lagi dia memastikan hatinya apakah ini keputusan yang tepat dia menikah dengan Fidelya. Di dalam kamarnya, Raymond memandangi Foto Zwetta di sana, dia tersenyum melihat foto mendiang istrinya itu. Ada sedikit rasa bersalah terlintas di hatinya. Dan sekarang dia melihat foto Fidelya yang pernah Jordan kirim kepadanya, Raymond melihat dengan tatapan datarnya. "Kamu tidak mungkin bisa menggantikan posisi Zwetta di hatiku, aku hanya tidak mau jantung istriku berdetak untuk lelaki lain. Dan maaf aku jika nantinya kamu akan kecewa dengan sikapku." Pandangan Raymond tidak terbaca, ada sisi lain di dalam lubuk hatinya terdalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD