12. Doa Yang Salah

1304 Words
Wanita berparas cantik itu berjalan mendekat ke arah ayahnya, lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan walaupun tampak sedikir kerutan di sekitar matanya tersenyum melihat putrinya yang sekarang berada di depannya. Fidelya tersenyum, niat hatinya ingin menyita sejenak waktu lelaki paling sibuk di dunia menurutnya. Wajah cantik copy-an sang ibu menurun lengkap di wajah wanita bernama Fidelya Jovanka Harvey tersebut. Tak ada sedekitpun cela di wajah ayunya. Fidelya kerap menarik perhatian banyak lawan jenisnya tiap kali Fidelya berpergian ke luar rumah. Sayangnya, menyadari bahawa dia kala itu tak akan mungkin dapat berkencan dengan normal seperti pasangan pada umumnya, membuat Fidelya enggan menanggapi ketertarikan lawan jenisnya. Alasannya adalah karena Fidelya sadar, dia bukan wanita lajang normal yang dapat berpergian bebas. Kencan setiap akhir pekan, meluangkan waktu untuk sekadar jalan bersama pasangannya. Meskipun begitu, Fidelya tetap mendambakan seorang pangeran berkuda putih yang siap menemani sisa-sisa harinya ketika ajalnya telah tiba. Rupanya Tuhan masih baik dengan Fidelya. Sang Kuasa memberikan kehidupan lewat jantung baru yang sudah bersemayam di dalam tubuhnya. Rasanya, tak akan cukup segala ucapan terimakasih Fidelya kepada seseorang yang sudah berkenan mendonorkan jantungnya kepada Fidelya. "Daddy, apa aku bisa bicara dengan, Daddy?" "Tentu saja, Sayang. Daddy juga ingin berbicara dengan kamu. Ke mari, duduk di sini." Tangan Jordan menjulur dan ke arah putrinya dan disambut dengan senyuman oleh Fidelya. Putri dan ayahnya itu duduk berdampingan di sofa panjang berwarna cream. Fidelya mengintip sejenak kesibukan ayahnya. Ternyata lelaki paruh baya itu tengah melihat-lihat kembali album fotonya bersama dengan mendiang ibunda Fidelya. Betapa romantisnya, dicintai bahkan setelah kematiannya. Dapatkah Fidelya menemukan lelaki seperti ayahnya, yang kelak akan tetap mencintainya, tanpa pernah berpikir mencari pengganti tempat kosong di hatinya meskipun Fidelya yang nantinya pergi lebih dahulu menghadap ke Tuhan. "Daddy, apa Daddy merindulan Mom?" tanya Fidelya. Jordan tersenyum lembut, kepalanya perlahan mengangguk mengiyakan pertanyaan dari putri tercintanya. Memang siapa yang tidak merindukan belahan jiwanya? Ketika dua insan saling berjauhan beda wilayah saja rasanya kerinduan memuncak memenuhi seluruh hati. Apalagi perpisahan yang terjadi karena batas umur manusia. Jordan sangat merindukan di mana rasa lelahnya lenyap begitu saja tatkala mencapai rumah, mendapati mendiang istrinya tersenyum hangat menyapa kedatangannya. Segala lelah, pelik, dan letih sepanjang hari beraktivitas di luar rumah seolah lenyap tergantikan oleh senyuman ibu dari Fidelya. Karena itulah, Jordan teramat sangat berhati-hati dalam menjaga amanat serta kenang-kenangan terakhir dari istrinya dalam bentu seorang anak perempuan. "Setiap hari Dad sangat merindukan mommy kamu. Daddy hanya bisa mengenangnya penuh cinta, dengan begitu ayah akan terus mencintai mommy kamu, Fidelya." Tangan Jordan mengusap pucuk kepala putrinya. Jordan berdoa di dalam hatinya, semoga kelak siapapun yang akan menikah dengan Fidelya dapat menjaga anak sematawayangnya itu melebihi dirinya dalam menjaga Fidelya selama ini. Umur Jordan tidak lagi muda, dan batas umur manusia tak ada yang tahu. Sebelum Jordan menyerahkan tanggungjawab melindungi dan menjaga putrinya pada lelaki baik, maka Jordan masih memiliki tugas yang harus dia emban dengan baik. "Fidelya juga tiap hari merindukan Mom, aku ingin sekali bisa bertemu Mommy walaupun dalam mimpi." Mereka berdua memandang foto yang ada di depan mereka. Foto dengan bingkai besar berukuran 16 R dikelilingi oleh hiasan berwarna gold. Bingkai foto yang mana dalamnya terdapat foto seorang wanita cantik berambut hitam dan dia juga memiliki manik mata coklat terang, wajah Sarah Harvey mirip dengan Fidelya. "Di sana Mommy kamu pasti juga selalu mengawasi kamu, Sayang." "Iya. Daddy, terimakasih sudah menjadi ayah dan ibu yang baik untukku selama ini," ucap Fidelya lembut. Jordan memeluk erat putrinya. Mana ada kata terimakasih atas cinta kasih tulus seorang ayah kepada anak perempuannya? Semua ayah yang menyayangi anak-anaknya pasti akan melakukan hal serupa, sama seperti perlakuan Jordan kepada Fidelya. Kesehatan Fidelya semakin membaik dari hari ke hari. Mereka melakukan cek up medis dan melakukan serangkaian perawatan jantung, seperti terapi dan lainnya. Jordan juga tidak pernah melupakan janjinya kepada Raymond untuk memberikan foto serta rekaman video aktivitas Fidelya serta laporan kesehatan dari Dokter Thomas mengenai keadaan Fidelya pasca transplantasi jantung. "Daddy, Fidelya ingin membicarakan tentang hal seseorang yang sudah mendonorkan jantungnya kepada Fidelya. Bukankah Daddy berjanji akan memberitahu identitasnya saat kondisi Fidelya dinyatakan sehat oleh Dokter Thomas?” pungkas Fidelya menagih janji daddynya. Jordan menatap Fidelya sejenak. Cepat atau lambat Jordan pasti akan memberitahu Fidelya tentang sosok Zwetta Gizele dan juga suaminya, Raymond Mattew Gilbert. Termasuk pula dengan permintaan suami mendiang Zwetta yang menginginkan sebuah pernikahannya dilangsungkan bersama Fidelya agar jantung Zwetta tetap berdetak untuk hidup mendampinginya. Mungkin hari ini adalah hari yang tepat untuk memberitahu Fidelya mengenai rencana Raymond tentang pernikahannya dengan putri sematawayangnya. Semoga saja, berita ini tak akan mempengaruhi kesehatan Fidelya yang sebelumnya sudah dinyatakan membaik oleh Dokter Thomas selaku dokter spesialis jantung putrinya. “Tunggu di sini sebentar,” kata Jordan kepada Fidelya. Fidelya hanya mengangguk mengiyakan ucapan daddynya. Wanita itu sudah sejak bulan lalu ingin tahu tentang siapa gerangan wanita yang berbaik hati telah mendonorkan jantungnya kepada Fidelya. Dari bocoran yang Fidelya dapatkan lewat Eve, kepala pelayan di rumahnya, seseorang tersebut berjenis kelamin perempuan dan baru saja menikah beberapa hari sebelum kecelakaan merenggut nyawanya. Tiba-tiba saja bulu kuduk Fidelya meremang berdiri, wanita itu bergidik ngeri membayangkan bagaimana perasaan suami dari wanita berhati malaikat yang sudah berkenan mendonorkan jantungnya pada Fidelya. Kebaikan wanita itulah yang akhirnya membuat Fidelya optimis pulih. Agar tidak sia-sia transplantasi jantung keduanya. “Nona Fidelya, mau Mam Eve buatkan minuman apa di siang hari yang cerah ini?” tanya Eve tersenyum ke arah Fidelya. “Orange juice, please, Mam?” jawab Fidelya tersenyum ramah. “Tentu saja, Mam Eve akan membuatkannya khusus untuk Nona Fidelya,” sahut Eve mengacungkan jari jempolnya ke arah Fidelya. Hampir lima menit lamanya, akhirnya Fidelya melihat sang ayah keluar dari ruang kerjanya sambari membawa amplop coklat di tangannya. Jordan menatap Fidelya dan tersenyum lembut. “Tidak sabar, ya?” goda Jordan kepada anak sematawayangnya. “Tentu saja, Daddy.” Jordan segera duduk di samping Fidelya. Lelaki paruh baya itu mengeluarkan seluruh isi amplop coklat di tangannya. Ayah Fidelya meletakkannya di atas meja kaca hitam, mengurainya satu per satu untuk dia tunjukkan kepada putrinya. Jordan meraih satu foto, foto mendiang Zwetta Gizele. “Namanya Zwetta Gizele, dia besar dan tumbuh di panti asuhan, namun orang tua baptisnya selalu mengiriminya uang untuk kebutuhan di panti. Setelah dewasa, Zwetta memberanikan diri kuliah dan tinggal di kota orang,” kata Jordan menjelaskan kepada Fidelya. Fidelya meraih foto Zwetta dari tangan ayahnya. Manik mata coklat bening milik Fidelya mengamati senyuman dari Zwetta. “Dia wanita yang sangat cantik,” ucap Fidelya diangguki setuju oleh ayahnya. Fidelya menatap ayahnya. “Kata Mam Eve dia pasangan pengantin baru. Mana wajah suaminya, Dad?” tanya Fidelya penasaran. Jordan mencari foto Zwetta dengan Raymond, lelaki itu lantas memberikan potret kebersamaan Raymond bersama mendiang istri tercintanya. Di foto tersebut, Raymond tampak tersenyum bahagia ke arah kamera. Satu tangan Raymond memeluk erat tubuh Zwetta, dan memberikan kecu-pan hangat di pelipis wanitanya. Melihat kebersamaan pasangan pengantin baru dari foto yang dia genggam, Fidelya dapat merasakan cinta begitu dalam dari cara keduanya saling tersenyum ke arah kamera. Pasti, suami mendiang Zwetta sangat terpukul saat melepas kepergian Zwetta, ditambah kerelaannya mengizinkan tubuh wanita yang teramat sangat lelaki itu cintai dibedah oleh tim medis untuk kemudian diangkat organ jantungnya demi menolong kehidupan Fidelya. Fidelya tanpa sadar menitikkan air matanya, da-danya terasa nyeri dan berdenyut hebat saat dirinya mendalami perasaan Raymond kala itu. “Mereka berdua pasangan yang sangat baik dan serasi. Semoga cinta mereka akan kekal abadi,” ucap Fidelya mendoakan pasangan tersebut. Jordan menoleh secepat kilat ke arah Fidelya. Putrinya mendoakan keabadian cinta seorang lelaki kepada mendiang istrinya, tanpa Fidelya sadari bahwa wanita itu akan menjadi pengganti istri dari Raymond Mattew Gilbert. Dapatkah Fidelya menerima keputusan Jordan yang mengiyakan permintaan Raymond untuk menikahi Fidelya saat putrinya sudah berada dalam keadaan sehat? Bagaimana mungkin Fidelya mendoakan cinta yang kekal calon suaminya kepada mendiang istri pertama? Sama saja, Fidelya menutup akses cinta di dalam kehidupan rumah tangganya kelak!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD