Rombongan dokter dan para perawat memasuki ruang perawatan Fidelya Jovanka Harvey membuat ayahanda dari pasien tersebut berdiri menyapa tim medis yang datang untuk mengecek kesehatan putrinya. Jordan tersenyum tatkala pandangannya bertemu dengan Dokter Thomas, dokter spesialis jantung pribadi putrinya sejak sang dokter dipindah tugaskan ke rumah sakit tempat di mana Fidelya tengah menjalani cek up rutin kesehatan jantungnya.
Dokter Thomas turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Tuan Jordan Harvey setelah mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa donor jantung untuk putri kesayangannya. Jordan tentu saja teramat sangat bahagia karena akhirnya usaha dan doa-doanya perlahan mendapatkan jawaban dari Tuhan.
“Pagi ini kita akan membangunkan Nona Fidelya, Tuan Jordan,” kata Dokter Thomas tersenyum.
“Saya menantikan hari ini tiba, Dokter. Rasanya semalaman penuh waktu berjalan sangat lambat,” ujar Jordan terkekeh.
“Semua orang tua pasti merasakan hal yang sama dengan Anda,” sahut Dokter Thomas mengerti kegelisahan Jordan.
Pagi hari ini Dokter Thomas beserta tim nakes akan menyudahi tidur panjang Fidelya setelah sekian lama terlelap di atas ranjang usai operasi tansplantasi jantung yang wanita cantik itu jalani. Dokter Thomas memerintahkan para perawat segera memberikan cairan obat dan juga suntikan steril. Tidak lama setelah Dokter Thomas menyuntikkan cairan tersebut ke tubuh Fidelya, dalam hitungan menit Fidelya akan mendapatkan kesadarannya kembali.
Sudah cukup waktu wanita cantik itu untuk istirahat dan beradaptasi dengan jantung barunya. Kini Fidelya harus sadarkan diri, menghadapi segala macam kemungkinan usai mendapatkan donor jantung dari mendiang Zwetta Gizelle. Dokter Thomas meminta laporan alat vital Fidelya, kemudian lelaki yang berprofesi mulia tersebut mengecek kembali kerja jantung Fidelya dari layar pemantau Elektrokardiogram.
Sinar matahari menembus tirai putih yang ada di rumah sakit tepatnya di ruangan di mana Fidelya dirawat, bulu mata lentik pemilik manik mata coklat terang sebening senja di sore hari perlahan mengerjapkan matanya. Keindahan senja tidak sebanding dengan jernihnya bola mata Kristal milik Fidelya Jovanka Harvey.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Jordan melihat Fidelya perlahan-lahan membuka matanya.
Bibir Fidelya begitu pucat, pandangan matanya kosong. Anak sematawayang pengusaha kaya raya Jordan Harvey mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba menelaah kembali kejadian sebelumnya yang berusaha dia ingat. Fidelya teringat pagi itu, di mana kepalanya tiba-tiba saja berat ditambah dengan da-danya terasa begitu sesak, seolah tidak ada pasokan oksigen mengisi paru-parunya.
Entah ke mana perginya seluruh oksigen di dunia ini hingga menyebabkan dirinya tidak sadarkan diri begitu saja.
Manik mata Fidelya mengedarkan pandangannya, wanita itu menatap seluruh tim medis, sang ayah, dan juga kepala pelayan di kediamannya tengah berkumpul mengerumuninya. Seulas senyum tipis muncul di bibir Fidelya, mungkinkah semua orang sedang berkumpul di sana karena kondisi tubuh Fidelya yang memburuk, dan mereka sedang menemaninya menuju ambang mautnya sendiri.
“Nona Fidelya, Anda dapat mendengar suara saya?” tanya Dokter Thomas tersenyum.
Fidelya mengangguk, wanita itu mendengar jelas suara mereka semua tanpa terkecuali. Pandangannya juga tidak ada yang bermasalah. Tapi kenapa ada bagian tubhnya yang terasa janggal? Rasanya ada sesuatu benda asing berada di da-da Fidelya. Kelopak mata Fidelya terpejam beberapa detik, wanita itu menyimak irama jantung di dalam tubuhnya saat ini.
‘Transplantasi organ sudah dilakukan, ini bukan lagi jantung milikku,’ batin Fidelya mencoba menerima segalanya.
Siapapun pemilik jantung itu, Fidelya akan mengucapkan terimakasih suatu hari nanti karenanya Fidelya dapat bernapas dengan baik, dan memiliki harapan menatap kembali masa depan yang semula tampak suram di bayangannya.
“Sayang, bagian mana yang sakit?” ucap Jordan khawatir atas kondisi putrinya.
Jordan tidak kuasa menahan air matanya, begitu pula Eve yang sejak awal menjadi saksi perjuangan Fidelya dan ayahnya dalam mengupayakan kesembuhan Fidelya menangis haru menyaksikan nona mudanya dapat menjalani kehidupannya seperti wanita normal pada umumnya.
Fidelya menggenggam jemari tangan ayahnya, wanita cantik itu mengatakan lewat sorot matanya bahwa kondisinya baik-baik saja. Fidelya mengangguk, sebagai pertanda tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Daddy tidak akan percaya lagi saat kamu mengatakan baik-baik saja. Waktu itu kamu bilang hasil cek up jantungmu tidak bermasalah, tapi secara tiba-tiba Daddy diberi kabar bahwa kamu dilarikan ke rumah sakit!” tegur Jordan menatap putrinya marah.
Bukan kemarahan brutal, melainkan kemarahan penuh kasih sayang seorang ayah kepada putrinya. Jordan mungkin akan mati lebih dahulu sebelum putrinya, jikalau Jordan selalu mendengar kabar buruk mengenai kesehatan Fidelya—anak sematawayangnya.
Dokter Thomas melakukan pemeriksaan lanjutan kepada Fidelya, senyuman di wajah Dokter Thomas memberikan jawaban bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atas keadaan Fidelya. Setelah memastikan semuanya, Dokter Thomas bersama tim nakes lainnya beranjak dari ruangan pribadi Fidelya.
“Pasien sudah bisa diajak bicara, Tuan Jordan. Hanya saja jangan terlalu banyak menyita waktu istirahat pasien,” jelas Dokter Thomas kepada Jordan.
Jordan mengerti peringatan dari Dokter Thomas. Lelaki itu duduk di tepi ranjang putrinya, dia memeluk Fidelya dengan erat dan mengecup pucuk kepala putri sematawayangnya itu. Masih terbesit bayangan tidak menyangka bahwa hari seperti ini akan tiba dalam hidup mereka. Setelah bertahun-tahun lamanya menantikan keajaiban, Tuhan pada akhirnya menunjukkan belas kasihannya kepada umatnya.
"Daddy sangat bahagia melihat keadaan kamu saat ini, Sayang."
“Daddy, Fidelya takut tidak bisa bertemu dengan Daddy lagi,” lirih Fidelya masih dapat didengar jelas Jordan maupun Eve.
Tidak ingin menjadi pengganggu antara ayah dan anak, Eve memilih keluar meninggalkan ruang perawatan Fidelya guna memberikan tempat nyaman untuk Jordan dan Fidelya berbincang. Jordan memeluk erat putrinya, bukan hanya Fidelya yang takut tidak dapat bertemu lagi dengan Jordan, akan tetapi sang ayah juga merasakan ketakutan yang sama seperti Fidelya.
“Fidelya Jovanka Harvey, nama yang dipilih oleh ibumu dengan harapan kelak dirimu akan menjadi orang yang peduli sekitarmu, dan dapat membuat orang-orang di sekitarmu merasa nyaman. Kepribadian optimis, dan memiliki sikap humoris,” kata Jordan memberitahu Fidelya arti namanya.
Jordan menggenggam erat jemari tangan putrinya, lelaki itu lantas mengecup punggung tangan putrinya. Jordan sangat menyayangi anak sematawayangnya, lelaki itu bahkan rela memberikan nyawanya jika memang diperlukan.
“Aku bermimpi bertemu Mommy di tempat yang sangat asing menurutku, Daddy,” jelas Fidelya kembali mengingat tentang mimpinya.
“Apakah Mommymu masih cantik seperti dahulu?” tanya Jordan menggoda.
"Daddy ini." Wajah Fidelya menatap ayahnya dengan geli. Dalam pandangannya, Fidelya berdoa semoga nantinya Fidelya mendapatkan lelaki yang mencintainya, sama seperti ayahnya mencintai ibunya. Kisah cinta yang hanya terpisahkan oleh maut semata.
Fidelya tidak pernah merindukan ibunya, karena setiap kali Fidelya menatap mata sang ayah, bayangan mengenai sosok ibundanya terlintas di sana, sorot mata Jordan memberikan Fidelya kekuatan untuk tetap berjuang mendapatkan kesembuhannya.
Tangan Fidelya memeluk erat ayahnya. "Daddy siapa orang yang sangat baik telah memberikan jantungnya padaku? Apa aku bisa bertemu dengan keluarganya?"
Seketika mata Jordan berkilat, dia bingung harus mengatakan apa pada Fidelya. Cepat atau lambat Fidelya pasti mengetahui alasan di balik transplantasi jantung yang dia lakukan. Dapatkah Fidelya menerima syarat yang sudah terlanjut Jordan setujui?
"Sayang, tunggu keadaan kamu benar-benar pulih. Nanti Daddy akan menceritakan semua tentang orang yang sudah sangat baik telah mendonorkan jantungnya untuk kamu, Sayang."
"Baiklah Dad. Aku ingin berterima kasih kepada keluarga yang seperti malaikat itu," ucap Fidelya tersenyum.
"Nanti pasti Daddy beritahu, Fidelya. Sekarang lebih baik kamu istirahatlah dulu supaya keadaan kamu membaik. Apa putri Daddy sudah terbiasa tinggal di ruangan menyesakkan ini hingga betah berlama-lama sakitnya?” tanya Jordan menelisik.
Fidelya menepuk pelan tangan daddynya. “Mana ada seperti itu, Daddy ada-ada saja,” sahut Fidelya cemberut.
Pembicaraan itupun berakhir dengan mereka masih saling berpelukan. Dalam hati Jordan dia sangat lega melihat putrinya sudah sadar dan bisa memeluknya seperti ini. Sekarang dia tinggal memikirkan cara menyampaikan tentang pernikahan yang sudah dia janjikan pada Raymond.
Dokter Thomas memberitahu pada Jordan tentang perawatan kepada pasien yang baru saja menjalani transplantasi jantung, dokter memberikan obat-obatan imunosupresan yang dapat mencegah reaksi penolakan organ. Namun, obat-obatan imunosupresan ini bisa menjadikan Fidelya rentan akan infeksi jadi dokter juga akan memberikan obat-obatan lagi untuk mencegah infeksi. Dosis obat-obtan imunosupresan akan diturunkan berdasarkan seiringnya berjalannya waktu, tapi pasien tetap harus meminumnya seumur hidup dan Jordan mendengarkan itu dengan seksama dia akan berusaha mengingatkan Fidelya agar tetap selalu meminum obat itu dan rutin untuk memeriksakan kesehatannya tiap bulan.
Dalam beberapa hari Fidelya yang berada di rumah sakit sudah bisa melakukan kegiatan kecilnya berjalan makan dengan duduk di meja yang sudah di sediakan, dia juga suka sekali bangun pagi menikmati sinar matahari yang indah di San Fransisco melalui jendela kamar perawatannya dan semua itu Jordan potret dan mengirimkannya pada Raymon. Raymond sangat senang melihat setiap foto yang dikirimkan oleh Jordan. Setiap hari Raymond menunggu kiriman foto dari Jordan.
Beberapa hari kemudian Fidelya sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya, setelah berminggu-minggu dia dirawat di rumah sakit. Saat memasuki rumahnya Fidelya merasa sangat bahagia, dia melihati seluruh ruangan di dalam rumahnya. Para pelayan di rumahnya sangat senang melihat nona mudanya sudah kembali sehat dan bisa pulang ke rumah, mereka sudah mempersiapkan segala keperluan nona mudanya yang memang terkenal baik itu.
"Daddy aku mau pergi ke kamarku dulu," ucap Fidelya pada ayahnya. Dan ayah Fidelya mengantar putrinya itu menuju kamar tidurnya. Fidelya melihat kamar yang sudah lama dia tinggalkan karena harus dirawat di rumah sakit.
"Kamar ini masih tetap seperti sebelumnya, kenapa aku seolah-olah seperti terlahir kembali, Daddy?" tanya Fidelya pada ayahnya. Matanya berbinar bahagia.
"Kamu masih tetap Fidelya ku yang dulu, Nak. Tidak ada yang berubah dari diri kamu. Perbedaannya, kamu akan hidup normal seperti orang lain pada umunya karena jantungmu sudah membaik. Kata Dokter Thomas kamu bisa melakukan semua aktivitas yang kamu inginkan setelah semuanya pulih,” jelas Jordan.
Fidelya mengangguk semangat, wanita itu memeluk erat daddynya saking bahagia dia rasakan saat ini.
“Kamu bisa berolahraga tiap pagi, berjalan-jalan menikmati suasana taman yang indah, tanpa harus takut keadaan kamu memburuk secara tiba-tiab. Fidelya, akhirnya kamu bisa bekerja seperti keinginanmu, serta melakukan bakti sosial di panti asuhan yang tiap bulan kamu datangi," pungkas Jordan menyuarakan kelegaan di dalam hatinya.
"Iya, Daddy. Aku merasa seolah hidupku berbeda dengan dulu yang sering mengurung diri dan jarang bertemu dengan orang-orang sekitar karena keterbatasanku,” jawab Fidelya.
Wanita itu kembali mengingat masa-masa gelap sebelum transplantasi organ tersebut dilakukan. Hanya di panti asuhan yang sering dia kunjungi Fidelya dapat menunjukkan sisi lemah dirinya tanpa perlu memakai topengnya.
“Daddy, bagaimana kegiatan sosialku selama aku memulihkan diri di rumah sakit?” tanya Fidelya duduk di atas ranjangnya, tangannya mengusap lembut seprei putih bermotif bunga mawar yang sangat dia sukai.
“Anak buah Daddy yang mengurusnya atas namamu,” jawab Jordan membuat Fidelya bernapas lega.
Jordan menyentuh puncak kepala Fidelya. "Setelah keadaan kamu benar-benar membaik, kamu bisa bertemu dengan mereka, Sayang. Daddy yakin mereka akan bahagia bisa melihat kamu sudah membaik. Jangan berpikir apapun yang tidak dapat membuatmu bahagia,” ujar Jordan.
Fidelya mengangguk perlahan. Dalam hari penuh kepulangan Fidelya ke kediamannya, semua kegiatan Fidelya yang dilakukan di rumah juga tidak luput dari pantauan Raymond. Jordan selalu mengirimkan foto Fidelya dan semua kegiatan Fidelya selama di rumah dan hal itu akhirnya menjadi candu bagi Raymond. Lelaki tampan berstatus duda, Raymond, tampak antusias saat mendapat kiriman foto dari Jordan.
"Apa itu kiriman foto kegiatan Nona Fidelya yang selalu Tuan Jordan kirimkan sama kamu?" tanya ayah Raymon--Charlie Gilbert pada putranya pada saat mereka sarapan pagi di rumahnya di Las Vegas.
"Iya, Pa. Tuan Jordan selalu mengirimkan foto Fidelya padaku karena aku memintanya. Aku ingin lebih mengenal wanita yang mendapat transplantasi jantung Zwetta,” elak Raymond menepis perasaan pribadinya yang tidak dia sadari lebih awal.
"Kamu memang harus mengenalnya jika memang kalian akan segera menikah, Ray," ucap Audy mama Raymond.
"Iya, Ma. Kapan hari Tuan Jordan menghubungiku bahwa dia akan membicarakan hal tentang pernikahan saat Fidelya sudah berada di rumah," jelas Raymond.
"Lalu bagaimana menurut kamu tentang putri Tuan Jordan ini, Ray?" tanya lelaki paruh baya yang mempunyai postur wajah mirip Raymond.
"Aku sudah mencari informasi tentang putri dari Tuan Jordan dan aku rasa dia wanita yang sangat baik. Raymond tinggal menunggu tanggapan Fidelya mengenai pernikahan kami,” jawabnya.
Audy mengamati putranya lekat, pikirannya berkelana mengenai jawaban Fidelya saat nanti Tuan Jordan memberitahunya tentang syarat yang Raymond berikan sebagai ganti persetujuan atas transplantasi jantung mendiang istrinya Zwetta Gizelle.
"Ray, apa kamu yakin tentang pernikahan ini? Kamu dan putri Tuan Jordan belum pernah bertegur sapa apalagi berkenalan. Apakah kamu serius akan menikah dengan dia?" tanya Audy.
"Aku yakin, Ma. Raymond tidak mau jantung Zwetta berdetak untuk orang lain ketika wanita itu menjalin hubungan dengan lelaki lain. Jantung istriku Zwetta tidak boleh berdetak untuk lelaki lain, selain diriku.”
Audy dan Charlie saling memandang mendengar apa yang diucapkan oleh putranya itu.