Jordan mengakhiri panggilannya dengan Raymond, dia kembali masuk ke dalam kamar perawatan Fidelya. Raut wajah Raymond terlihat sangat bahagia melihat putrinya sudah dalam keadaan baik-baik saja. Awan gelap dalam kehidupan Fidelya Jovanka Harvey kini perlahan menunjukkan awan biru cerah layaknya siang hati.
Dipandangnya wajah putri tercintanya, Fidelya yang tampak sangat cantik meskipun kedua kelopak matanya terpejam, menyembunyikan rona gemerlap pupil mata indah milik putrinya. Jordan benar-benar sangat bahagia, ketakutannya selama ini akan kehilangan putrinya perlahan-lahan akan hilang digantikan laporan medis yang menyatakan putrinya sudah dinyatakan sehat usai menjalani operasi transplantasi jantung dari mendiang Zwetta.
Jordan terngiang kembali permintaan Raymond selaku suami dari pendonor jantung Fidelya. Raymond memberikan syarat yang sama beratnya dengan keputusannya untuk menandatangani prosedur persetujuan donor organ tubuh mendiang istrinya. Keinginan Raymond menikahi Fidelya ketika wanita lajang nan cantik jelita telah mendapatkan kesembuhannya.
Dapatkah putrinya Fidelya menerima permintaan Raymond nanti saat putrinya sudah dia beritahu syarat Raymond. Jordan mengiyakan syarat dari Raymond karena di dalam pikirannya kala itu hanya bagaimana cara untuk menyelamatkan nyawa putrinya yang tengah di ambang sakaratul maut. Fidelya bahkan saat itu tak mampu bernapas sendiri tanpa bantuan alat-alat medis ditambah dorongan obat-obatan mengalir di dalam darahnya.
“Benarkah pilihan yang Daddy ambil untukmu, Sayangku? Daddy benar-benar tidak memiliki pilihan lain, Daddy tidak sanggup kehilanganmu, Putri Dongengku,” lirih Jordan menge-cup telapak tangan putrinya.
Cepat atau lambat Fidelya memang akan menikah, dirinya adalah orang yang akan mengantarkan Fidelya menuju altar pernikahan. Dibandingkan dengan mengantarkan putrinya di pusara dan tidak akan dapat melihat anak kesayangannya lagi seumur hidupnya, lebih baik Jordan memilih membiarkan Raymond menikahi putrinya, membawa Fidelya bersama lelaki itu, namun Jordan masih bisa bertemu dengan Fidelya setiap saat dia ingin menemui putri kesayangannya.
Pikiran lelaki itu berkelana, membayangkan reaksi Fidelya nantinya saat dirinya tahu bahwa setelah mendapatkan kesembuhannya harus dia tukar dengan pengabdian sepanjang hidupnya. Pernikahan merupakan hal yang sangat sakral di agama dan di adat mereka. Bagi para pasangan yang sudah menikah, tidak diperkenankan untuk bercerai selain perpisahan karena ajal telah tiba.
“Ketahuilah Fidelya, semua ini Daddy lakukan demi menyelamatkan nyawamu,” pungkas Jordan berbicara dengan putrinya.
Tangan Jordan mengusap lembut pucak kepala Fidelya yang tengah tertidur lelap. Jujur saja Jordan juga sempat bingung, tentang permintaan Raymond yang ingin menikah dengan Fidelya. Tentu masalah ini bukan pekara mudah karena Fidelya sendiri tidak mengenal Raymond dan saat hidupnya sudah kembali baik secara tiba-tiba dirinya harus bersedia menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak dia kenal sebelumnya.
Jordan yakin, putrinya akan memahami pilihannya. Fidelya akan mengerti alasan di balik keputusan Jordan mengambil jalan berat bagi kehidupan putrinya ke depannya.
"Apakah nantinya Fidelya akan menyetujui hal ini? Kalau sampai dia tidak mau aku harus berbuat apa?" Pertanyaan itu selalu yang beberapa hari ini terniang-niang di dalam ingatan ayah Fidelya.
Lelaki paruh baya itu akhirnya memilih beristirahat di samping tempat tidur putrinya, di kamar VVIP itu juga disediakan extra bed khusus untuk ayah Fidelya membaringkan tubuhnya di sana. Eve, selaku kepala pelayan di rumahnya setiap siang selalu datang menjaga Fidelya, sedangkan Jordan menjalani rutinitas hariannya bergelut dengan pekerjaannya.
Meskipun seharian penuh telah disibukkan oleh pekerjaan di kantornya yang menumpuk. Dirinya masih tidak bisa melewatkan harinya tanpa menemani sang putri berjuang memulihkan kondisi tubuhnya di rumah sakit. Jordan ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang segala kemajuan kesehatan tubuh Fidelya. Lelaki itu merasa kurang puas jika dirinya hanya mendengarkan laporan dari orang-orangnya saja tanpa melihatnya langsung.
Kebahagiaan karena dapat mendampingi di masa-masa sulit anak sematawayangnya kemungkinan tak akan dapat terulang kembali saat Fidelya kelak telah menikah dengan lelaki yang wanita itu kehendaki. Siapapun kelak suami Fidelya, baik itu Raymond maupun lelaki lain, Jordan berharap lelaki itu adalah lelaki yang bertanggung jawab.
Teruntuk definisi lelaki bertanggung jawab, maka jawabannya sudah pasti mengarah pada lelaki bernama Raymond Mattew Gilbert. Suami dari mendiang Zwetta Gizelle sangat bertanggung jawab atas apa yang telah dia pilih. Dapat dikatakan, anak tunggal pasangan Charlie Gilbert dan Audy Gilbert pasti mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya sampai akhir.
“Kenapa kamu terlihat menyendiri?” gumam lelaki pemilik manik mata abu-abu awan di angkasa.
Dia Raymond, memandang foto-foto Fidelya yang diberikan oleh Freddie ketika dirinya meminta tangan kanannya itu memberikan riwayat hidup seorang Fidelya Jovanka Harvey. Raymond ingin mengetahui lebih banyak tentang diri wanita yang mendapatkan donor jantung dari istri tercintanya.
Ternyata dia wanita sederhana dengan segala kerendahan hatinya, memiliki begitu banyak program sosial di berbagai tempat. Raymond sepertinya memahami mengapa dari foto yang dia pegang, sosok Fidelya terlihat termenung di tepi lapangan basket sekolahnya. Wanita hanya bisa menatap dan mengamati semua teman-teman satu kelasnya bermain bola basket, sedangkan dirinya tidak dapat melakukan hal yang sama karena keterbatasan aktifitas fisiknya.
“Ya, nanti kamu bisa bermain bola basket sepuasmu,” kata Raymond seolah foto di depannya dapat berbincang dengan dirinya.
Raymond teringat kembali atas ucapan Jordan, ayah dari Fidelya itu mengatakan bahwa video keadaan Fidelya hari ini sudah dikirimkan ke kontak Raymond. Lelaki bermanik mata abu-abu itu segera membuka ponselnya, wallpaper yang menunjukkan kebersamaannya dengan mendiang Zwetta Gizelle tampak mesra ke arah kamera.
Namun bukan wallpaper ponselnya yang kini menjadi pusat perhatian Raymond, melainkan sebuah video terbaru di ponselnya. Video ketika dokter memberikan rangsangan motorik di titik-titik tubuh Fidelya dan mendapatkan respon baik dari wanita itu membuat Raymond tersenyum tanpa sadar.
Pandangan Raymond fokus pada wajah Fidelya, wanita cantik jelita itu terlelap di atas ranjang pasien tanpa berniat membuka matanya meski hari transplantasi jantung sudah berlalu sepekan penuh. Kata dokter yang merawatnya, kondisi tubuh Fidelya memang membutuhkan waktu untuk menerima organ baru. Untuk itu dokter masih memberikannya obat secara eksklusif setiap waktunya.
“Aku tidak sabar ingin melihat bola mata coklat terangmu. Bagaimana caramu menatapku nantinya?” tanya Raymond bergumam seorang diri.
Raymond memejamkan matanya, lelaki itu seolah-olah membayangkan manik mata coklat terang milik Fidelya. Raymond membuat ilusi, di mana mata Fidelya menatap ke arahnya dengan begitu hangat sama seperti cara Fidelya tersenyum hangat ke arah kamera.
“Raymond?” seru Audy membuat Raymond membuka matanya.
Kehadiran Audy memasuki ruang kerjanya secara tiba-tiba mengejutkan putra sematawayangnya. Raymond tanpa sengaja menyenggol amplop coklat berisi riwayat hidup Fidelya, ditambah berbagai pose foto Fidelya sejak masih bayi sampai terakhir kali wanita itu mengunggah foto terbarunya di media sosial.
Audy mengerutkan keningnya tatkala suara barang jatuh terdengar di telinganya. Audy segera mendekati meja kerja putranya, dilihatnya amplop coklat dengan banyak foto berserakan di lantai ruangan.
“Mama mengejutkanmu ya?” kata Audy membungkukkan badannya.
Ibunda Raymond meraih amplop coklat tersebut lebih cepat dari gerakan putranya. Raymond terlihat sangat gelisah, dirinya seperti seorang anak remaja yang sedang terpegok ibunya menatap foto lawan jenis. Audy menatap foto-foto Fidelya dengan lekat. Kemudian netra Audy terarah kepada Raymond di depannya.
“Fidelya cantik ya?” ujar Audy tersenyum menatap foto-foto Fidelya.
Tatapan Audy terfokus pada sosok Fidelya bersama banyak anak-anak yatim piatu kurang beruntung di panti asuhan. Audy mengelus foto Fidelya penuh kasih.
“Mama seperti melihat malaikat tanpa sayap dalam diri Fidelya. Dia tumbuh tanpa kasih seorang ibu, tapi lihatlah betapa mulia dan penyayangnya dia dengan sesamanya,” pungkas Audy berdecak kagum.
Kepribadian Fidelya menandakan kesuksesan sosok orang tua tunggal di belakang wanita itu. Jordan Harvey membuktikan didikannya sangat berkualitas hingga membuat putrinya tumbuh menjadi seseorang berhati mulia seperti Fidelya. Jordan selalu menanamkan nilai-nilai kemanusiaan sejak dini kepada Fidelya.
Selama mereka mampu, dan masih diberikan kehidupan oleh Tuhan, maka mereka harus membagi berkah Tuhan yang turun kepada mereka kepada sesama. Rejeki, dan juga keberuntungan materi yang keluarganya miliki, adalah milik mereka juga yang kekurangan.
Audy menunjukkan satu foto yang mencuri perhatiannya kepada Raymond. Ibunda Raymond tidak bermaksud membangunkan insting kaum jantan putranya, melainkan Audy hanya berniat memuji sosok wanita mulia seperti Fidelya karena Fidelya memang layak mendapatkan pujian atas segala sepak terjangnya dalam dunia bakti sosialnya kepada masyarakat sekitar.
“Mama ingin menemui bidadari tak bersayap ini, Ray,” ujar Audy menggebu.
“Dia masih dirawat intensif, Ma,” jawab Raymond mencuri pandang ke arah foto Fidelya yang sudah menarik perhatian ibunya.
“Mama akan menunggunya, bolehkah Mama ke sana selama beberapa hari?” tanya Audy meminta izin putranya.
Raymond menatap ibunya, setelah berhari-hari Audy tidak menunjukkan rona berbinar dari matanya, kali ini ibunda Raymond membicarakan soal Fidelya dengan wajahnya berseri bahagia. Kebahagiaan sepertinya perlahan mulai tumbuh lewat munculnya tunas kisah cinta baru bernama Fidelya Jovanka Harvey.
Anggukan kepala dari putranya membuat Audy memekik bahagia layaknya anak kecil mendapatkan izin membeli permen kesukaannya.
“Raymond, makanan apa yang baik untuk pasien pasca operasi donor jantung?” Audy menatap Raymond ingin tahu.
“Tidak tahu, Ma,” sahut Raymond menghendikkan bahunya.
“Kalau begitu Mama mau telepon Dokter Sam saja,” jawab Audy mencebik.
“Untuk apa Mama telepon Dokter Sam? Mama sakit?”
Audy menggeleng. “Mama mau cari tahu makanan yang bagus untuk dikonsumsi bidadari tak bersayap seperti Fidelya,” terang Audy mengulum senyuman hangatnya.
Mendengarkan keterangan ibunya membuat Raymond turut tersenyum tanpa sadar. Kehendak ibunya memang sulit untuk ditentang, baik oleh Raymond maupun sang ayah. Audy tipikal wanita yang keras kepala, wanita itu akan mencari tahu jawaban dari segala pertanyaannya. Pun juga Audy akan mendapatkan apa yang dia inginkan dengan kerja kerasnya sendiri.
Audy tidak ingin bergantung kepada suami ataupun anaknya.
“Raymond?” panggil Audy ketika dirinya sudah sampai di ambang pintu ruangan putranya.
Audy meringis di tempatnya. “Mama lupa mau ngasih tahu kamu tujuan Mama ke mari gara-gara lihat foto Fidelya. Makan malam sudah siap, papamu pasti menunggu kita.”
Selain keras kepala, ibunda Raymond juga wanita pelupa. Raymond terkekeh geli melihat kebiasaan buruk ibunya muncul kembali setelah berhari-hari tidak dia dapati. Lelaki itu memasukkan kembali berkas riwayat hidup Fidelya ke dalam amplop coklat. Di bagian foto terakhir, Raymond menatap sekali lagi sosok Fidelya di sana.
“Bidadari tak bersayap?” gumam Raymond menautkan dua alisnya berpikir.