9. Daftar Riwayat Hidup Fidelya

1907 Words
Kepergian istri tercinta memang menorehkan ceruk luka paling dalam. Aktivitas bersama yang biasanya dilakukan berdua saat ini hanya bisa dilakukan oleh lelaki berpawakan tinggi tegap itu seorang diri, ditemani kilasan kenangannya dengan istri tercintanya. Hembusan napas panjang terdengar menyayat hati siapapun yang mendengarkannya. Tidak ingin jatuh di kegelapan usai kepergian mendiang Zwetta. Raymond tetap berusaha menata kembali kehidupannya meski setiap malam tak pernah sekalipun lelaki itu tidak menitikkan air mata kerinduan mengenang kisah singkat namun sangat berarti bersama Zwetta. Mungkin saja wanita itu sudah bahagia setelah bertemu orang tuanya di surga abadi Tuhan. Waktu tetap berjalan, hidup juga akan terus berlanjut. Kesedihan hanya menjadi cambuk yang terus-menerus menyebabkan luka dalam hati Raymond menganga setiap kali meratapinya. Hati Raymond begitu gersang, baru saja dirinya merasakan kebahagian hidup berumah tangga, lalu baris selanjutnya Raymond dihadapkan oleh perpisahan karena kematian salah satu di antara dirinya dan Zwetta. “Permisi, Pak Raymond. Nyonya Audy mengirimkan makan siang ini untuk Anda,” ujar Stefani kepada Raymond. Stefani menatap Raymond dengan pandangan khawatir. Lelaki itu kembali datang ke kantor setelah segala urusan pemakaman mendiang istrinya telah usai dilakukan. Raymond benar-benar menyibukkan dirinya dengan berbagai aktivitasnya di perusahaan. Melakukan meeting bersama para klien, menumpuk jadwal pertemuan, sampai melupakan waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya sendiri. Lelaki tampan itu seolah menghukum dirinya atas kepergian Zwetta. Raymond ingin mengulang hari itu, seandainya saja Raymon lebih cepat mengerem laju mobil yang dia kendarai, atau seandainya Raymond pergi ke San Fransisco tanpa mengajak Zwetta turut serta bersamanya. Kemungkinan kecelakaan itu dapat dihindari, dan Zwetta masih tetap berada di sampingnya sampai detik ini, menatapnya dengan tatapan penuh cinta seperti yang biasa wanitanya lakukan kepada Raymond. Penyesalan di hati Raymond itulah hukuman paling berat, yang akan Raymond tanggung seumur hidupnya. “Hm, letakkan saja di sana,” ucap Raymond tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. “Nyonya Audy meminta saya memastikan Anda memakannya sampai habis, Pak. Beliau meminta saya menunggu sampai Bapak selesai menyantapnya,” jelas Stefanie. “Letakkan saja di sana,” kata Raymond sekali lagi. “Tapi, Pak-“ Raymond mengangkat wajahnya, pandangan mata mereka kini bertemu. Stefani merasa bulu kuduknya meremang seketika. Sepanjang dia berkarir di GGroup, belum pernah sekalipun dirinya mendapati Raymond menatap seseorang dengan begitu tajam, kaku, dan juga dingin seperti tatapan Raymond kali ini. “Apa kamu perlu rekomendasi dokter spesialis THT biar bisa mendengar ucapan saya?” tegur Raymond membuat Stefanie menundukkan kepalanya. “Ma-maafkan saya, Pak. Kalau begitu saya permisi, maaf sudah membuat Pak Raymond tidak nyaman,” pungkas Stefani. Sekretaris kantor Raymond langsung keluar secepatnya dari ruangan CEO GGroup. Di luar ruangan, Stefani menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya kasar. Stafani menyentuh bagian da-danya, wanita itu mengelusnya perlahan demi menetralkan detak jantungnya yang tidak beraturan. “Gi-la! Pak Raymond mengerikan sekali setelah ditinggal Bu Zwetta,” gumam Stefani menggelengkan kepalanya. Wanita dengan pakaian formal nan sopan itu segera kembali menuju mejanya. Tidak lama Stefani melihat Freddie melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO GGroup. Baru saja Stefani ingin memberitahu Freddie jika mood Raymond tidak dalam keadaan yang baik, namun tangan kanan Raymond lebih dahulu membuka pintu ruangan atasannya hingga menghentikan niat Stefani untuk memanggil Freddie. Ketukan singkat di pintu ruangannya membuat Raymond menghentikan aktivitasnya sejenak. Lelaki yang saat ini berstatus sebagai duda itu berniat melihat siapa gerangan seseorang di ambang pintu. Ternyata Freddie berdiri di sana sambari menggenggam amplop coklat di tangannya. “Ke mari,” sahut Raymond menjawab ketukan Freddie. Beberapa hari berlalu sejak insiden kecelakaan yang menimpanya, dan Raymond kembali pada kegiatan sehari-harinya. Suami mendiang Zwetta duduk begitu gagah di kursi kebanggannya di dalam ruang CEO GGroup. Freddie menatap Raymond sejenak, mencoba menganalisa suasana hati atasannya saat ini. “Kenapa malah menatapku? Kau sudah membawa apa yang aku minta?” seloroh Raymond. Freddie mengangguk. “Sudah, Tuan,” jawabnya. Orang kepercayaan Raymond menyerahkan amplop coklat berisikan identitas, daftar riwayat hidup, dan berbagai rekam medis wanita cantik berusia dua puluh lima tahun. Fidelya Jovanka Harvey, itulah nama yang tertera di lembar pertama dokumen dari Freddie. "Di sana ada semua informasi yang Anda inginkan tentang Nona Fidelya, Tuan Ray," ungkap Freddie  yang berdiri tepat di depan meja kerja Raaymond. Raymond membuka dan membaca satu persatu lembaran kertas yang ada di tangannya. Raymond benar-benar terasa aneh saat melihat ada foto Fidelya di sana. Pandangan Raymond mengerut tatkala dirinya mengetahui tentang beberapa prestasi yang Fidelya dapatkan di sekolahnya. Wanita cantik itu juga kerap aktif di bidang sosial, rajin memberikan bantuan dana maupun barang ke beberapa panti asuhan dan panti jompo. Raymond merasa bahwa Fidelya mempunyai banyak kesamaan dengan mendiang istrinya Zwetta. Mereka seolah dua orang yang sama, tetapi dalam wujud dan tubuh yang berbeda. Tangan Raymond menyentuh foto-foto semasa Fidelya kecil hingga beranjak dewasa, kecantikannya tidak pernah pudar, sorot matanya teduh dengan senyuman mengukir di bibir ranumnya. Hidung mancung dan bulu mata lentik Fidelya seakan menjadi pusat perhatian Raymond kali ini. Raymond tanpa sadar mengukirkan senyuman tipis di bibirnya, foto ketika Fidelya masih balita, berada di kursi ayunan. Foto tersebut terlihat sangat menggemaskan, meski Fidelya tengah menangis di dalam foto tersebut, tetapi Fidelya tampak menggemaskan mengenakan dress tutu berwarna pink muda ditambah bandana kelinci sebagai hiasan rambutnya. "Bagaimana dengan perkembangan kesehatan jantung Fidelya, Fred?" tanya Raymond masih dengan mata fokus membaca kertas dokumen tentang Fidelya. "Keadaan Nona Fidelya berangsur membaik, Tuan Ray. Nona Fidelya sudah bisa dijenguk hanya saja masih belum bisa lepas dari oksigen. Kata Dokter Thomas, fungsi jantung Nona Fidelya benar-benar sangat baik," jelas Freddie dan hal itu membuat Raymond lega. "Syukurlah, setidaknya jantung Zwetta tepat guna seperti kemauan istriku. Bagus kalau begitu, aku tinggal menunggu kabar dari ayah Fidelya, Tuan Jordan." "Mungkin dalam beberapa minggu ke depan Nona Fidelya akan diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya, tapi tiap minggu Nona Fidelya harus rutin untuk memeriksakan kesehatannya seperti sebelumnya, Tuan,” jelas tangan kanan Raymond. Raymond mengangguk paham, semua penyakit tidak akan mudah pergi atau sembuh sekejap kilat. Semuanya butuh proses panjang demi mendapatkan kesembuhan. Paling tidak kondisi Fidelya tidak semengkhawatirkan seperti sebelum dilakukannya transplantasi jantung. "Freddie, apa menurut kamu keputusan yang aku ambil ini sudah tepat?" tanya Raymond kepada Freddie. "Keputusan tentang memberikan jantung istri Anda pada Nona Fidelya?" Freddie menaikkan satu alisnya. "Iya, tentang itu dan tentang syarat yang aku berikan. Menginginkan Fidelya menikah denganku setelah kondisinya benar-benar pulih,” kata Raymond menghela napasnya. Ketika mendengar Raymond mengizinkan badan istrinya dibedah dengan benda-benda tajam di ruang operasi, sekilas Freddie menyayangkan keputusan Raymond. Akan tetapi menimang kembali alasan di balik izin tersebut adalah demi alasan kemanusiaan, menolong nyawa seseorang yang masih dapat dipertahankan, serta tetap membuat jantung orang yang dicintainya berdetak meski di tubuh berbeda, semuanya terasa masuk akal di kepala Freddie. “Aku memang tidak ingin jantung istriku berdetak untuk lelaki lain, Freddie." Raymond menyandarkan tubuhnya pada kursi kebanggaannya. "Tentu saja pilihan itu sangat tepat untuk Anda lakukan, Tuan Ray. Saya lihat dari informasi tentang jati diri Nona Fidelya, beliau sepertinya wanita yang sangat baik dan banyak keunikan sama seperti istri Anda, Nyonya Zwetta." "Iya, Fred kau benar. Saat membaca apa yang kamu berikan aku sedikit terkejut." Tangan Raymon sedang ditautkan di depan dagunya. "Tapi soal pernikahan itu ...." Freddie terdiam sejenak. "Kenapa, Fred?" "Anda dan Nona Fidelya kan baru mengenal. Maksud saya, sesingkat ini Anda akan menikahi Nona Fidelya? Jujur saja Tuan, saya takutkan pernikahan kalian tidak akan berjalan dengan baik karena di antara Anda dan Nona Fidelya tidak ada perasaan apapun. Anda menikahi Nona Fidelya hanya karena Anda tidak mau jantung Nyonya Zwetta berdetak untuk orang lain bukan karena Anda mencintai Nona Fidelya," jelas Freddi dengan nada berhati-hati. Sekali lagi Raymond kembali berpikir, benar apa yang dikatakan oleh Freddie pernikahan mereka nantinya akan didasari oleh perjanjian antara Raymond dan Jordan semata. Di mana Jordan mengharapkan jantung Zwetta bisa menolong nyawa putrinya dan Raymond mengizinkannya dengan syarat tidak kalah berat dari permintaan ayahanda Fidelya. Pernikahan tanpa cinta, bagaimana dirinya dan Fidelya dapat bertahan membina sebuah rumah tangga tanpa ada cinta di antara mereka berdua? "Apa Anda yakin nantinya dapat hidup berdampingan dengan Nona Fidelya, Tuan Ray? Karena bagaimanapun suatu pernikahan tidak akan bisa berjalan baik jika tidak ada komitmen di dalamnya," ucap Freddie. "Aku tidak tahu, Fredd. Bagiku Zwetta adalah cinta dan hidupku, aku sendiri tidak yakin apa pernikahan ini dapat berjalan seperti kemauanku. Zwetta terlalu indah untuk aku simpan jadi kenangan. Aku sebenarnya sangat bahagia mengetahi jantung Zwetta bisa hidup pada tubuh wanita lain tapi aku juga bingung dengan keputusanku sendiri." Raymond beranjak dari tempat duduknya dia berdiri, dan melihat di luar gedung perusahaannya lewat kaca besar dengan salah satu tangan di masukkan ke dalam satu celananya. Raymond adalah seorang pemimpin perusahaan yang sangat tegas, dia juga seorang pebisnis yang hebat. Mampukah Raymond kembali melangsungkan pernikahan, bahkan sebelum kenangan tentang Zwetta belum benar-benar mampu dia simpan dalam diam? Lelaki itu teringat wajah pucat Fidelya, wanita seperti Fidelya terlalu sempurna jika hanya menjadi istri bayangan di hidup Raymond. Fidelya berharap mendapatkan hidup panjang, bukan untuk mengisi kekosongan Zwetta di dalam hidup CEO GGroup. Wanita itu juga ingin memiliki kebahagiaan dan kebebasan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dering ponsel Raymond menggetarkan meja kerja lelaki tampan itu. Freddie menatap layar ponsel Raymond yang berkedip menunjukkan notifikasi panggilan telepon. “Tuan Raymond, ada panggilan dari Tuan Jordan,” ucap Freddie. Raymond berbalik badan, Freddie menyerahkan ponsel milik Raymond kepada pemiliknya. ‘Halo, selamat siang Tuan Raymond?’ Suara pria paruh baya terdengar di seberang telepon. "Iya saya sendiri, Tuan Jordan ada apa?" tanya Raymond terdengar cemas. Bayangan keadaan Fidelya yang memburuk membuat wajah Raymond mendadak menjadi gelisah. Lelaki itu tidak siap mendengar berita buruk lainnya setelah kepergian Zwetta yang sudah meluluh-lantahkan separuh jiwanya. ‘Maaf, saya mengganggu Anda pada jam kerja begini,’ kekeh Tuan Jordan menandakan keadaan di sana baik-baik saja. Tuan Jordan terdengar sedang menarik napasnya. ‘Saya ingin memberitahu keadaan Fidelya sekarang. Fidelya sudah sadar dan membuka mata sekarang,’ ungkap Tuan Jordan. Seperti diguyur oleh siraman air dingin, hati Raymond serasa sejuk usai mendengar kabar terbaru tentang perkembangan kesehatan si wanita yang mendapatkan donor jantung dari istri tercintanya. Itu tandanya Zwetta telah bersemayam di dalam tubuh Fidelya dengan baik. “Ini kabar yang sangat baik, Tuan Jordan,” kata Raymond. ‘Bisakah Anda membuka pesan dari saya, Tuan Raymond? Saya mengirimkan video Fidelya kepada Anda,’ ruah Tuan Jordan. Raymond membuka media sosial identik warna hijau di aplikasi ponselnya. “Ya, sudah saya terima, Tuan Jordan,” jawab Raymond. ‘Saya tidak tahu harus mengucapkan apa lagi selain beribu kata terimakasih atas kemurahan hati Anda. Saya sungguh berterimakasih banyak.’ “Anda sudah terlalu banyak mengucapkan terimakasih, Tuan Jordan. Saya akan memantau perkembangan kesehatan Fidelya dari sini … jantung istri saya sudah bersatu dengan tubuhnya,” sahut Raymond. ‘Tentu saja, suatu kehormatan karena Anda berkenan turut serta memantau kesehatan putri saya Fidelya,’ pungkas Tuan Jordan. Jordan ingat, sejak kecil Fidelya tidak pernah bermain bebas karena gangguan jantung yang dideritanya. Banyak teman-teman yang menjauhi Fidelya karena putrinya sering sakit-sakitan sampai tidak sadarkan diri ketika mengikuti kegiatan bersama teman sekolahnya. Fidelya sering mengurung diri di kamaranya, hanya ibu dan ayahnyalah yang selalu mengiburnya. Keadaan semakin menurun saat Fidelya harus menerima kepergian ibunya--Sarah Harvey. Fidelya benar-benar kehilangan harapan saat ibunya tiada dan tersisa Jordan seorang yang berusaha menjaga Fidelya. Lelaki itu berharap putrinya tetap mempunyai semangat untuk hidup karena Jordan tidak mau kehilangan putri semata wayangnya. Segala upaya dia lakukan untuk mendapat kesembuhan bagi Fidelya dan sekarang Tuhan menjawab doanya. Kini pemberi pertolongan meminta imbalan yang sepertinya seimbang dengan apa yang ia dapatkan. Raymond meminta putrinya setelah memberikan harapan hidup kepada Fidelya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD