8. Beristirahat Dalam Damai

1244 Words
Penantian akan datangnya sebuah keajaiban rupanya tak hanya mimpi semata. Doa yang selalu mereka panjatkan setiap saat, harapan untuk datangnya hari transplantasi jantung wanita cantik bernama Fidelya Harvey begitu keluarganya langitkan di dalam doa. Pada akhirnya Tuhan mengabulkan doa seorang ayah yang meminta umur panjang untuk putri tercintanya. Tidak ada doa yang sia-sia. Tuhan tidak pernah meninggalkan umatnya sendirian dalam masalah. Keinginan Fidelya untuk hidup lebih lama, seperti gema ketulusan. Fidelya sepanjang umurnya selalu melangitkan satu doa, semoga dia bisa hidup lebih lama untuk merasakan jantungnya berdetak kencang karena orang yang dia cintai. “Tanda vitalnya stabil, Dok. Tekanan darahnya normal, dan jantungnya berdetak dengan baik di dalam tubuh Nona Fidelya,” ucap dokter bedah yang sudah melakukan pemeriksaan Auskulasi. Dokter Thomas mengangguk, lelaki itu memandang tubuh Fidelya dengan pandangan penuh harapan. Selama Dokter Thomas menjadi dokter pribadi Fidelya, lelaki paruh baya itu belum pernah melihat pasiennya terus tersenyum di sepanjang pengobatan meskipun Fidelya merasakan sakit luar biasa di dalam da-da. Wanita lajang sangat cantik, sempat ditanya oleh dokter pribadinya tentang alasan mengapa Fidelya tidak mengeluhkan sakit padahal wanita itu jelas merasakan kesakitan setiap kali jantungnya bermasalah. ‘Saya tidak ingin membuat Papa menjadi cemas, Dokter,’ kata Fidelya kala itu. Senyuman menawan menurut Dokter Thomas, kalau saja dirinya masih muda atau memiliki anak seusia dengan Fidelya maka dirinya tak akan keberatan menikahkan anaknya dengan sang pasien. “Nona Fidelya tidak pernah membagi kesakitannya kepada orang lain,” ujar Dokter Thomas memandang pasiennya. “Saya mendengarnya dari perawat bangsal jantung, Dok. Nona Fidelya pribadi riang dan menyenangkan,” sambung dokter wanita di sampingnya. Dokter Thomas mengangguk mengiyakan, setiap kali mereka mengadakan cek up medic satu minggu sekali, Fidelya selalu saja memiliki pembahasan lucu yang dapat mengundang gelak tawa Dokter Thomas bersama perawat lainnya. “Dokter, ruangannya sudah siap,” kata perawat bangsal jantung kepada atasannya. “Bawa Nona Fidelya ke ruang perawatannya,” jawab Dokter Thomas diangguki para perawat satu bangsal dengannya. Para perawat yang mendorong bed patient dan juga alat-alat medis lainnya masih tetap menggunakan seragam steril mereka. Jordan, bersama Raymond dan kedua orangtua Raymond berdiri ketika melihat pintu terbuka disusul keluarnya Fidelya bersama para perawat yang mendampinginya. “Pasien akan dipindahkan ke ruangan lainnya, Pak,” jelas perawat kepada Jordan. “Baik, Sus. Tolong hati-hati,” ucap Jordan yang mengkhawatirkan kondisi putrinya. Raymond memandang wajah pucat Fidelya, meski wajah Fidelya tidak sepucat waktu lalu, namun masih tercetak jelas bagaimana rasa sakit yang semula Fidelya rasakan sampai kesadarannya hilang. Manik mata Raymond tersentak, ketika perawat kembali mendorong bed patient, satu tangan Fidelya meluruh ke samping kanan dan menyenggol tangannya. Detak jantung Raymond berpacu tidak karuan rasanya. Tubuh Raymond seakan dialiri sengatan listrik tatkala kulit halus Fidelya bergesekan dengan kulitnya. Perawat segera menempatkan kembali tangan Fidelya, lalu menyelimutinya demi menjaga kondisi Fidelya tetap dalam keadaan stabil. “Raymond, kenapa wajahmu merah begitu, Nak? Kamu masih membutuhkan perawatan kan?” tanya Audy merasa cemas. Wajah Raymond memang terlihat memerah dari sebelumnya. Beberapa luka terbuka di bagian tubuh Raymond telah diobati sesaat dia dan mendiang istrinya tiba di rumah sakit. Raymond juga merasa heran, mobilnya terpelantik beberapa kali namun luka terbuka di tubuhnya dapat dikatakan sebagai luka kecelakaan lalu lintas yang ringan. Malah istrinya yang menjadi korban dari kecelakaan mengerikan itu. “Tidak, Ma. Raymond baik-baik saja,” jawab Raymond. “Kamu ini harus mendapatkan perawatan juga, Ray. Kamu itu korban kecelakaan, Mama belum mengetahui hasil pemeriksaan dari kepala sampai kakimu,” pungkas Audy bersikukuh. “Ma, kita harus mengurus pemakaman Zwetta lebih dahulu, Raymond tidak apa-apa,” jelas Raymond meyakinkan ibunya. Fidelya sudah dipindahkan di ruangan perawatan intensif dan hanya dokter serta perawat saja yang boleh melihatnya, sedangkan keluarga lainnya tidak diperbolehkan untuk melihat atau mendekat agar pasien yang baru saja menjalani operasi transplantasi jantung. Keadaannya bisa berangsur-angsur membaik atau juga sebaliknya, dan juga keadaan pasien  harus benar-benar steril agar tidak terjangkit penyakit lainnya karena kondisi tubuh yang masih rentan. "Tuan Jordan saya izin pamit kembali ke Las Vegas untuk melakukan acara pemakaman istriku Zwetta. Pihak rumah sakit sudah mengurus jenazah istriku Zwetta dan hari ini juga saya akan membawanya kembali ke Las Vegas untuk melaksanakan upacara peristirahatannya yang terakhir," ucap Raymond. "Iya, Tuan Raymond, sekali terima kasih atas kebaikan Anda dan istri Anda, saya akan mendoakan buat istri Anda, Nyonya Zwetta. Maaf saya mungkin tidak bisa menghadiri pemakaman istri Anda karena saya masih harus menjaga Fidelya. Jujur saja saya masih khawatir dengan keadaan putri saya walaupun dokter sudah memberitahu jika masa kritis Fidelya sudah berlalu," ungkap lembut lelaki paruh baya itu. "Tidak apa-apa, Tuan Jordan jagalah putri Anda di sini dan tiap hari kirimlah foto tentang kegiatan dia selama masa pemulihan. Saya akan sangat berterima kasih tentang hal itu dan nanti saya juga akan meminta Freddie untuk memberi informasi tentang kesehatan Fidelya. Saya benar-benar ingin memastikan keadaan Fidelya baik-baik saja." Bukan hanya memastikan keadaan Fidelya, namun Raymond ingin memastikan jantung wanita yang dia cintai dapat berdetak normal di tubuh barunya. Raymond berharap Zwetta tetap hidup bersama detak jantungnya pada tubuh Fidelya Jovanka Harvey. "Tentu saja akan saya lakukan dengan senang hati, Tuan Raymond." Akhirnya Raymond dan kedua orang tuanya berpamitan untuk kembali ke Las Vegas mempersiapkan upacara pemakaman terakhir untuk Zwetta. Bagi mereka, Zwetta akan selamanya hidup di dalam jantung yang telah bersemayam di tubuh Fidelya. Setidaknya masih ada bayangan Zwetta, mengikis perasaan rindu menggebu di hati suaminya. "Freddie tolong selalu kabari aku tentang perkembangan kesehatan Fidelya di sini, aku ingin memastikan jika keadaan Fidelya baik-baik saja tanpa ada masalah setelah dia mendapatkan transplantasi jantung dari mendiang istriku Zwetta,” ruah Raymond memberikan perintah untuk tangan kanannya. "Baik, Tuan Raymond,” jawab Freddie selalu siap. "Dan, jangan lupa kirimkan tentang jati diri wanita itu, aku ingin mengetahui segala hal tentangnya." "Iya, Tuan," sahut Freddie sekali lagi. Malam itu juga mereka melakukan penerbangan menuju Las Vegas, pernebangan yang hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Keluarga baptis Zwetta yang telah dikabari sudah mempersiapkan upacara pemakaman untuk Zwetta dan mereka menyambut kedatangan jenazah Swetta dengan derai tangis air mata. Mereka tidak menyangka Zwetta akan meninggal secepat ini. Walaupun Zwetta tidak lahir dari darah keturunan yang sama, namun sebagai orang tua baptis wanita itu, keduanya merasa sangat menyesal tidak bisa mendampingi tumbuh kembang Zwetta sampai dirinya menutup mata. Kini, Zwetta dimakamkan di pemakaman keluarga, semua rekan kerja Raymond pada berdatangan guna mengucapkan bela sungkawa. Raymond berdiri dengan tegar di depan makam istrinya, setelan kemeja berwarna hitam dengan kacamata hitamnya menjadi saksi pilu perpisahannya dan sang istri. Lelaki itu mencoba berusaha tegar dan menutupi kesedihannya. Audy yang berdiri di sebelah putranya menangis sesenggukan. Baru saja Audy merasakan memiliki anak perempuan. Audy menyayangi Zwetta layaknya anak kandungnya sendiri. Semenjak Raymond memperkenalkan Zwetta menjadi kekasih putra sematawayangnya itu, Audy sudah menaruh perasaan sayang kepada Zwetta. “Rasanya baru kemaren Mama membawa Zwetta menjadi bagian dari keluarga kita, kenapa dia pergi secepat ini?” isak tangis Audy. “Tuhan punya rencana di balik semua musibah, Ma,” jawab Charlie menenangkan istrinya. “Mama tidak menyangka musibah ini akan menimpa keluarga kita,” ucap Audy berderai air mata. "Ma, sudahlah." Raymond memeluk tubuh ibunya. "Kita harus menerima semua ini," ucap Raymond berusaha membuat hati mamanya tegar walaupun sebenarnya dia juga hancur. Raymond berusaha tegar, supaya ibunya tidak semakin dalam jatuh di kubangan kesedihan. Kekuatan Audy adalah dirinya, Raymond harus menjadi kekuatan untuk ibunya. Tatapan nanar Raymond melukiskan sebuah hati yang retak. Cinta telah direnggut paksa dari diri lelaki itu. “Zwetta … selamat beristirahat dalam damai, Istri Tercintaku ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD