Penolakan Raymond atas keinginan mendiang Zwetta mendonorkan organ tubuhnya setelah meninggal dunia dapat diterima oleh akal sehat siapapun yang berada di posisi seorang Raymond. Lelaki itu baru saja kehilangan wanita tercintanya, istri yang dia nikahi selama beberapa hari ini justru meninggalkan dirinya seumur hidup.
Raymond tidak akan lagi melihat senyuman hangat Zwetta setiap kali mereka bertatap mata. Rona merah di pipi sang istri ketika Raymond mengucapkan kalimat-kalimat menggoda, menjadi pemandangan indah bagi lelaki itu. Pada hari ini semuanya sudah sirna bersamaan dengan hembusan napas terakhir yang Zwetta lepaskan ketika ajal menjemputnya.
Perasaan bersalah, tidak terima, dan juga merutuki kelalaiannya sendiri. Mana bisa Raymond membiarkan tim medis melakukan pengangkatan organ tubuh Zwetta yang sebelumnya telah merasakan kesakitan sampai napas terakhirnya.
‘Raymond, aku ingin menjadi sumber kehidupan bagi orang lain,’ ucap Zwetta saat keduanya masih menjalin hubungan berpacaran.
‘Maka jadilah kamu sumber kehidupan untukku, Sayang,’ jawab Raymond memeluk erat tubuh Zwetta.
Sumber kehidupan, kata lain yang baru sekarang Raymond mengerti pemahaman dari kalimat Zwetta sebelumnya. Istri tercintanya berniat menjadi sumber kehidupan orang lain, memberikan harapan hidup bagi mereka yang tidak beruntung hidup normal seperti dirinya.
Menjalani proses kehidupan teramat keras membuat Zwetta memahami arti kata ‘hidup’. Wanita itu berharap dirinya mampu meringankan beban manusia lain. Beban yang mana selama ini hanya Zwetta tanggung sendiri tanpa bisa berbaginya dengan orang lain, sampai Raymond datang ke dalam hidupnya.
Panggilan dari Bank Organ California kembali menghubungi pihak rumah sakit tempat Zwetta dan Fidelya berada. Mereka mengingkan pihak rumah sakit, memediasi pihak keluarga Zwetta dan Fidelya demi mendapatkan jalan keluar.
“Nyonya Zwetta memang menyatakan diri sebagai calon pendonor organ tubuh tanpa paksaan dari orang lain. Meski begitu semua pihak tidak akan bisa meneruskan prosedur transplantasi organ tanpa mendapatkan persetujuan dari keluarga mendiang Nyonya Zwetta,” jelas pihak Bank Organ California.
“Kami akan membicarakan kembali dengan suami mendiang Nyonya Zwetta,” jawab pihak rumah sakit mengakhiri panggilan di antara dua belah pihak perantara seperti mereka.
Pihak rumah sakit tempat di mana Zwetta dan Fidelya dirawat segera memanggil Dokter Thomas yang merawat Fidelya selama ini. Pihak rumah sakit memasrahkan segalanya kepada Dokter Thomas, mereka berharap penjelasan Dokter Thomas atas kondisi pasiennya mampu mengetuk pintu hati Raymond.
Dokter Thomas Dokter berusaha semaksimal mungkin, meski dirinya sendiri merasa ragu usahanya akan mendapatkan hasil sesuai keinginan banyak orang. Dokter pribadi Fidelya itu mendatangi kedua orang tua Raymond. Kedatangan Dokter Thomas di ruang UGD tentu saja sudah dapat ditebak niatnya oleh kedua orang tua Raymond, yang tidak lain adalah mertua Zwetta.
“Kalau Dokter ke mari untuk membujuk putra kami, maka dengan sangat menyesal saya akan mengatakan putra saya tidak akan menyetujui transplantasi jantung istrinya,” jelas Audy.
Dokter Thomas mengatakan bahwa transplantasi jantung harus segera di lakukan, mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena dapat memperburuk kualitas jantung dan juga bisa membuat keadaan Fidelya semakin mendekati mautnya. Kedua orang tua Raymond saling menatap.
Di sisi lain ada satu nyawa yang dapat diselamatkan oleh organ tubuh Zwetta, sesuai keinginan mendiang menantunya. Namun di sisi lain ada perasaan putra sematawayang mereka yang harus mereka pertimbangkan juga.
“Saya berharap bisa berbincang langsung dengan Tuan Raymond. Tapi sepertinya keadaan tidak memungkinkan. Untuk itu saya selaku dokter pribadi Nona Fidelya memohon dengan kerendahan hati saya, agar kiranya Tuan dan Nyonya berkenan membicarakan ini kepada Tuan Raymond,” pinta Dokter Thomas mengerjapkan matanya yang merasa pedih karena harus siap siaga dengan kondisi terburuk Fidelya.
“Kami akan mencobanya, Dokter,” sahut Audy.
Orang tua Raymond berjalan pergi dari depan ruangan UGD guna mencari putranya yang ternyata ada di suatu lorong rumah sakit. Lorong tersebut sepi, putranya benar-benar ingin menenangkan dirinya saat ini. Bahkan tidak ada Freddie di sana untuk menemani bosnya dalam keadaan terburuknya.
"Raymond." Tangan lembut Audy mengusap pundak putranya itu.
"Mama.”
Audy turut merasakan kepedihan hati putranya. Pasangan pengantin baru—Raymond dan Zwetta—menikmati hari bahagianya beberapa hari saja. Setelahnya, Raymond akan tenggelam dalam luka trauma sepanjang hidupnya.
"Raymond kami tahu apa yang kamu rasakan, Nak,” ucap Audy membawa putaranya ke dalam pelukannya.
Audy menarik napasnya sejenak. “Ada seorang wanita yang tidak pernah menjalani hari-harinya sesuai dengan keinginannya. Wanita itu tengah terkapar tidak sadarkan diri menunggu malaikat, entah memberikannya harapan untuk hidup, ataukah merenggut nyawanya yang kini di ujung tanduk,” kata Audy.
Raymond terdiam, putra tunggal Audy dan Charlie menyimak kalimat ibunya.
“Namanya Fidelya Jovanka Harvey. Papa dan Mama sudah melihatnya di ruangannya dengan alat bantu pernapasan memenuhi seluruh tubuhnya, Ray,” jelas Audy diikuti isak tangis.
Entah mengapa ketika Audy mengingat wajah pucat pasi wanita cantik bernama Fidelya membuat Audy lemah. Wanita itu merasa kasihan dengan kehidupan Zwetta, maupun Fidelya. Keduanya memiliki beban ujian mereka sendiri-sendiri.
“Apa yang dilakukan Zwetta tidak benar karena dia tidak meminta izin dulu sama kamu tentang niatnya untuk mendonorkan organ tubuhnya setelah meninggal, tapi ketahuilah Zwetta istri kamu adalah wanita yang sangat baik dan hebat. Dia masih memikirkan orang lain, dia peduli dengan orang lain mungkin juga ini cita-citanya ingin berharga di mata orang lain walaupun dia sudah tidak ada di dunia ini. Mungkin ini yang diinginkan Zwetta bahwa dia bisa tetap hidup pada diri orang lain meskipun raganya tidak di sini. Istrimu ingin hidup di tubuh orang lain, Ray …."
Tangisan Audy pecah seketika, Raymond tak kuasa mendengarkan isakan mamanya langsung mendekap erat tubuh mamanya. Raymond tidak mampu melihat orang-orang yang dia kasihi sampai menangis karena kesedihan.
"Iya, Ray. Mungkin ini sudah takdir Tuhan yang menghendakinya. Tuhan ingin agar Zwetta bisa menyelamatkan nyawa dari seseorang melalui jantungnya, lihatah orang tua tadi yang berharap putrinya bisa selamat berkat jantung milik istrimu, Nak."
Charlie memegang pundak Raymond. "Dokter sudah memberitahu kami tentang transplantasi itu agar dipercepat supaya jantung Zwetta tidak gagal fungsi di tubuh barunya,” ucap ayah Raymond.
"Aku belum bisa memutuskan, Pa. Segalanya terasa begitu cepat dan menyakitkan."
Raymond berjalan pergi dari sana, pandangannya menatap lorong lurus dengan pandangan kosong. Semua perkataan orang tuanya berputar-putar di dalam otaknya. Dia benar-benar bingun keputusan apa yang harus dia ambil.
‘Raymond, kalau kita tidak bisa menghilangkan kesusahan orang lain, setidaknya kita harus membantu meringankannya.’
Langkah kaki Raymond terhenti mendadak. Kilas balik ucapan Zwetta kini kembali mengisi pikirannya. Kenapa kalimat itu yang justru kembali mengalun di kepalanya? Apa keinginan Zwetta sebenarnya?
"Itukan ayah dari wanita yang membutuhkan donor jantung dari Zwetta," gumamnya.
Raymond melihat Jordan yang berjalan dengan gontai menuju ke suatu ruangan. Raymond mengikuti langkah kaki Jordan, mereka melewati beberapa lorong rumah sakit sampai pada akhirnya mereka tiba di suatu kamar di mana Fidelya sedang di rawat.
"Apa ini kamar di mana putri dari lelaki itu dirawat?"
Raymond hanya melihat Jordan berdiri di luar kemudian berjalan entah ke mana, sepertinya Jordan ingin pergi ke ruangan dokter yang menangangi Fidelya berharap ada keajaiban selain transplantasi jantung yang bisa menyelamatakan hidup putri sematawayangnya. Jordan benar-benar belum siap jika harus ditinggalkan oleh putri kesayangannya itu.
Mendapatkan bisikan dari mana, kaki Raymond melangkah masuk ke dalam kamar ICU. Ruangan yang masih terdapat dinding kaca sebagai pembatas antara penjenguk dan pasien di dalamnya. Raymon hanya bisa melihat dari balik dinding kaca besar yang menghubungkan di mana Fidelya sedang dirawat secara intensif bersama peralatan medis lengkap.
Mata Raymond membulat saat melihat Fidelya yang terbaring lemah dengan banyak alat bantu pernapasan dipasang pada seluruh tubuhnya, Wajah Fidelya masih terlihat cantik walaupun matanya masih terpejam dan dengan begitu banyaknya alat medis yang ada pada tubuhnya. Ulu hati Raymond terasa ditusuk oleh sembilu.
Air mata Raymond mendadak menitik begitu saja tanpa diketahui apa penyebabnya. Rasanya Raymond ingin menangis melihat wanita bernama Fidelya terbaring kaku di atas ranjang pasien.
"Apa dia putri dari Tuan Jordan?"
Raymond mengerjapkan matanya, lelaki itu melihat ada sosok Zwetta tersenyum di samping ranjang pasien Fidelya.
“Zwetta?” panggil Raymond meletakkan tangannya di dinding kaca, seperti ingin menyentuh istrinya.
Raymond seolah mendapat bisikan di telinganya dan kepalanya memberikan Raymond jalan keluar dari segala pelik. Suami Zwetta ingin menyelamatkan wanita itu, Fidelya berhak untuk hidup. Raymond merogoh saku celananya dan menghubungi seseorang. Terdengar suara yang bahagia dari seberang telepon. Setelahnya terlukis senyuman manis di sudut bibir Raymond dan ada perasaan lega di hatinya, Mungkin keputusan yang Raymond ambil ini adalah keputusan yang terbaik yang bisa dia ambil demi semua pihak.
"Tuan Jordan transplantasi jantung putri Anda, Fidelya, secepatnya akan kami lakukan. Tuan Raymond telah menyetujui untuk memberikan jantung istrinya pada putri Anda, Fidelya Harvey," ucap Dokter Thomas pada Jordan yang saat ini duduk di depannya.
Rupanya Raymond menghubungi menghubungi Audy, mengutarakan niatnya untuk mereka sampaikan kepada Dokter yang merawat Fidelya, agar operasi transplantasi jantung secepatnya dapat dilakukan.
"Oh Tuhan benarkah itu, Dok? Fidelya putriku akan terselamatkan nyawanya."
Usai meyakinkan jawaban Raymond, Jordan beranjak dari tempat duduknya segera berjalan keluar menuju ruang ICU. Ayah Fidelya ingin pergi menemui Raymond secara pribadi dan keluarga lelaki itu. Jodran ingin sekali mengucapkan terima kasih yang sangat tidak terhingga pada keluarga Raymond atas kebaikan hati mereka.
Jordan sudah berada di depan Raymond dengan mata berkaca-kaca, lelaki paruh baya itu seketika memeluk Raymond. Orang tua tunggal Fidelya tidak tahu apa yang bisa dia berikan pada Raymond karena sudah mau mendonorkan jantung istri tercintanya kepada Fidelya.
"Tuan Raymond saya tidak tahu harus berkata apa. Saya sangat berterima kasih Anda karena sudah bersedia memberikan jantung istri Anda pada putri saya. Bahkan nyawa saya juga tidak akan bisa menggantikan kebaikan Anda, Tuan Raymond," ucap lelaki itu sambil terisak.
Raymond menarik tubuh Jordan dan mereka saling melihat, Bahkan Jordan pun sampai melipat tangannya di hadapan Raymond. Lupakan sejenak kehormatannya, Jordan saat ini berlaku sebagai seorang ayah dari putri yang membutuhkan pertolongan seperti Fidelya Harvey.
"Jangan seperti ini, saya mau menyumbangkan jantung istri saya pada putri Anda untuk alasan yang akan menjadi syarat sebelum transplantasi dilakukan," tutur Raymond.
"Apa syarat yang ingin Anda berikan, Tuan Raymond? Saya akan berusaha untuk memenuhi syarat itu asalkan putri saya dapat selamat,” jawab Jordan tanpa berpikir panjang.
"Saya mau jika nantinya jantung Zwetta bisa berdetak dengan baik pada tubuh putri Anda, maka putri Anda harus menikah dengan saya. Alasannya karena bagaimanapun juga saya tidak ingin jantung istri saya yang berada pada tubuh putri Anda berdetak untuk lelaki lain." Mata itu menatap dengan sangat tegas.
"Ma-maksud Anda? Anda ingin menikahi putri saya, Tuan Raymond?" tanya Jordan ingin memastikan bahwa apa yang dia dengar tidak salah.
"Iya, saya ingin Fidelya menikah dengan saya setelah keadaannya membaik. Apakah Anda menyetujuinya Tuan Jordan?"
Jordan memikirkan sejenak persyaratan yang diajukan oleh Raymond kepadanya. Jordan akhirnya memutuskan dia menerima persayarat dari Raymond karena dia ingin putrinya nyawanya terselamatkan dan hanya jantung dari Zwetta lah, Fidelya bisa diselamatkan.
"Baiklah kalau Anda sudah setuju, asisten saya akan mengatur dokumennya,” sambung Raymond.
Tidak lama dokter memberi tahu jika operasi transplantasi jantung akan segera dilakukan setelah melalui beberapa posedur. Semua keluarga menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Tes golongan darah, ukuran jantung, dan riwayat jantung Zwetta sudah dilakukan dan semua menunjukkan hasil yang baik. Zwetta dengan Fidelya mempunyai banyak kecocokan dan akhirnya dokter mulai membawa membawa Fidelya ke ruang operasi.
Di mana sebelumnya jantung milik Zwetta sudah diambil dan didinginkan kemudian diletakkan pada larutan khusus sebelum nantinya akan dicangkokkan pada tubuh Fidelya. Transpalantasi jantung nantinya akan membutuhkan waktu sekitar 4-10 jam membuat semua keluarga diharap sabar menunggu dan tidak lupa mereka terus berdoa untuk kesembuhan Fidelya.
Di dalam ruang operasi dokter bedah memberikan anatesi umum, dan tubuh Fidelya dihubungkan dengan mesin yang dapat menjaga suplay darah dan oksigen agar tetap stabil selama prosedur operasi berjalan. Dokter bedah memberikan sayatan dan memisahkan jaringan-jaringan jantung penting lainnya. Langkah kemudian dokter bedah bersama dokter spesialis jantung akan mengangkat jantung Fidelya yang rusak dan menjahit jantung donor milik Zwetta kemudian dihubungkan ke pembuluh darah besar.
Jantung donor akan mulai berdetak ketika aliran darah dari mengalir ke jantung dan paru-paru Fidelya. Operasi ini benar-benar sangat membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Operasi transplantasi organ akhirnya berjalan lancar karena sebelumnya Fidelya tidak pernah mengalami pembedahan jantung, jika Fidelya pernah mengalami pembedahan jantung sebelumnya maka operasi akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Jordan cemas saat melihat dokter keluar dari ruang operasi.
"Transpalnatasi jantung berjalan dengan sangat baik dan sepertinya tubuh putri Anda bisa menerima donor jantung dari Nyonya Zwetta," Dokter itu tersenyum dan menepuk pundak Jordan.
Terlihat expresi wajah lega dari raut muka Jordan Harvey saat mendengar bahwa operasi transplantasi jantung yang dilakukan pada putrinya berjalan dengan baik. Tidak lama tubuh Fidelya yang masih terbaring di atas bed pasien didorong oleh para perawat untuk dipindahkan ke ruang perawatan intsensif untuk menjalani perawatan di sana.
Selama beberapa hari ke depan dokter harus masih memantau keadaan Fidelya dan memberikannya obat-obatan penunjang pasca operasi transplantasi jantung demi menghindari hal-hal yang tak mereka inginkan.