6. Permohonan Tranplantasi

2138 Words
Isak tangis Raymond pecah, lelaki yang terbiasa menampakkan senyuman di wajahnya setiap kali sang istri memanggil namanya dengan manja, kini wajah itu berubah menjadi muram dipenuhi air mata. Mata Raymond sampai menyipit, tangisannya tidak dapat lagi dia bendung begitu saja. Ditatapnya sang istri yang sudah terbujur kaku di depannya. Kilas balik kesalahan fatal atas kelalaian Raymond sendiri malah membuat dirinya harus kehilangan nyawa wanita yang teramat sangat berarti di dalam hidupnya. "Sayang … bagaimana caraku melanjutkan hidup jika kamu tidak ada lagi di sisiku?" isak Raymond menggenggam erat jemari Zwetta. Bagaimana Raymond dapat melanjutkan hidupnya, saat setiap detik bayangan Zwetta memekik kesakitan ketika tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa wanita itu terus mengalun bak kaset rusak di kepala Raymond. Zwetta adalah istrinya, belahan jiwanya. Ketika separuh jiwanya mati, bagaimana cara Raymond tetap hidup dengan separuh jiwanya yang lain? "Kenapa bukan aku saja yang menggantikanmu untuk pergi meninggalkan dunia ini, Sayang?" ucapnya tak dapat menahan buliran putih meluruh deras membahasi pipinya. Biarkan dirinya menggantikan sang istri tercinta terkapar kaku tidak bernyawa. Raymond rela menukar nyawanya demi Zwetta dapat kembali hidup, meneruskan kembali kehidupannya. Raymond merasa dirinya sangat berdosa, Zwetta bukan wanita yang memiliki kehidupan indah selama ini. Hidup sebatang kara, tanpa sanak family, tanpa seseorang yang mampu Zwetta jadikan tempatnya untuk berkeluh kesah. Ketika takdir mempertemukan wanita itu dengan seorang lelaki yang kini menjadi rumahnya untuk pulang, mengapa justru takdir membuat Zwetta pulang selamanya, bukan pada Raymond, melainkan kepada sang penciptanya. Pihak Dokter yang menangani Zwetta berjalan mendekati Raymond yang masih terduduk lemas di bawah ranjang Zwetta. Dokter UGD tersebut telah mendapatkan pemberitahuan dari pihak rumah sakit, bahwa nama Zwetta sudah didaftarkan sebagai calon pendonor organ tubuh manusia ketika nanti dirinya meninggal dunia. Sebenarnya dokter itu juga sangat bingung, haruskah ia memberitahu Raymond tentang keinginan istrinya yang ingin mendonorkan jantungnya jika dia nanti meninggal ketika Raymond sendiri masih terpukul atas kejadian memilukan ini. Tetapi jika tidak memberitahukan sekarang maka akan sia-sia nantinya donor jantung itu karena organ yang akan melaksanakan transplantasi jantung tidak boleh lebih dari 6 jam berada dalam tubuh orang yang sudah meninggal, karena jika lebih dari 6 jam dibiarkan saja maka organ tubuh yang akan didonorkan menjadi gagal fungsi, atau tidak dapat lagi berfungsi dengan baik meskipun operasi transplantasi organ berhasil dilaksanakan. "Tuan Raymond, apa saya bisa bicara sebentar dengan Anda saat ini?" tanya dokter itu sambil menunduk di depan Raymond. "Ada apa, Dok?" jawab Raymond lirih. "Saya ingin menjelaskan tentang suatu hal dengan Anda, tuan Raymond,” jelas sang dokter membuat Raymond menatap ke arahnya. Raymond bangkit dari posisinya, lelaki itu menghadap ke arah dokter unit gawat darurat yang sedari tadi mencoba memberikan pertolongan semaksimal mungkin kepada mendiang istrinya, Zwetta. “Katakan saja, Dokter,” sahut Raymond menarik napasnya panjang. “Begini Tuan Raymond, tanpa mengurangi rasa belasungkawa saya terhadap kepergian Nyonya Zwetta. Saya ingin memberitahukan bahwa Nyonya Zwetta telah mendaftarkan diri sebagai pendonor organ tubuh manusia di Bank Organ California, yang artinya ….” Dokter tersebut menjeda kalimatnya sejenak, masih mengamati ekspresi wajah Raymond di tempatnya. Sudah beberapa kali terjadi insiden di luar dugaan ketika seorang dokter memberitahukan informasi mengenai kesediaan donor organ pasca kematian, dan berakhir dengan tidak terimanya keluarga atas informasi yang mereka terima. “Artinya Nyonya Zwetta-“ “Artinya organ tubuh istriku akan didonorkan kepada orang lain, begitu?” pungkas Raymond tersenyum miris. Lelaki itu duduk di samping jenazah istrinya, menatap istrinya kembali, kebaikan macam apa yang Zwetta perbuat sampai di akhir hayatnya saja masih berusaha membantu sesamanya. Raymond tidak tahu lagi, bagaimana Tuhan bisa sekejam itu merenggut kehidupan dari wanita malang seperti istrinya. Baru saja Zwetta mendapatkan kebahagiaan, namun kebahagiaan itu malah ditukar dengan nyawanya. Keadilan macam apa yang Zwetta dapatkan? “Bank Organ California telah menghubungi pihak rumah sakit ketika kami mendaftarkan waktu kematian Nyonya Zwetta, Tuan. Mereka mengajukan dokumen donor organ jantung atas jantung mendiang istri Anda,” papar dokter berharap cemas. "Apa???" Tiba-tiba Raymond berdiri kembali dari tempatnya dan diikuti oleh dokter itu. "Apa maksud Dokter? Apa dokter menginginkan tubuh istriku ini dokter bedah dan dokter akan mengambil jantungnya untuk digunakan pada orang lain?" tanya Raymond dengan mata menyalanya. "Iya, Tuan Raymond. Ada seseorang yang keadaanya sudah kritis, pasien ini telah lama menunggu antrian sebagai calon penerima donor organ lebih dari sepuluh tahun lamanya. Bank Organ California sudah mengirimkan tes medis pasien, yang akan dicocokkan dengan milik Nyonya Zwetta,” jelas sang dokter. "Aku tidak akan membiarkan kalian melukai tubuh istriku dan mengambil jantungnya, biarkan istriku meninggal dengan keadaan utuh tanpa harus kalian ambil jantungnya," teriaknya marah kemudian berjalan keluar dari dalam kamar Zwetta. Freddie yang baru saja tiba di sana juga ikut keluar untuk mengejar Raymond. Lelaki itu merasa pikirannya benar-benar kalut. Belum hilang kesedihannya ditinggal oleh istri yang sangat dia cintai, dia harus mendengar kabar jika istrinya ternyata sudah mendaftarkan diri untuk menyumbangkan organ tubuhnya pada pihak Bank Organ California tanpa sepengetahuan dirinya. "Tuan Raymond,” panggil Freddie. Kedatangan Freddie ke sana ingin memberitahu Raymond bahwa orang tua lelaki itu akan tiba di rumah sakit secepatnya. Mereka juga harus secepatnya mengurus pemakaman Zwetta dan memberikannya upacara pemakanan terbaik sebagai salam perpisahan kepada mendiang istri Raymond. Tubuh Raymond menabrak seseorang di depannya. Raymond melihat orang yang ditabraknya. Pandangan lelaki itu tampak seperti seorang anak yang ingin mengadu kepada orang tuanya, meski tanpa suara sekalipun. "Raymond." Suara lelaki itu bergetar, detik selanjutnya memeluk putranya yang terlihat sangat kacau. "Papa." Raymond memeluk erat tubuh lelaki paruh baya di depannya. Dan wanita di sampingnya yang tak lain adalah Audy Gilbert mama Raymond juga menangis sambil memeluk putranya itu. "Ray, bagaimana ini bisa terjadi? Katakan pada Papa, Nak?" tanya lelaki paruh baya itu. "Semua terjadi begitu cepat, Pa! Rem mobil yang aku kendarai tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik dan saat ada lampu perlintasan menyala merah mobilku tidak dapat di kendalikan. Hingga mobil kami terguling berkali-kali sampai akhirnya aku harus menerima kenyataan Zwetta pergi meninggalkan aku untuk selamanya." Ayah Raymond langsung memeluk putranya itu. "Raymond, Mama ingin melihat wajah menantu Mama untuk yang terakhir kalinya. Zwetta ada di mana?" tanya Wanita cantik itu dengan suara yang bergetar. Mereka berempat berjalan kembali ke dalam kamar di mana tubuh Zwetta masih terbaring kaku, Raymond memilih tidak masuk ke dalam kamar itu, dia memilih menunggu di luar kamar. Raymond masih merasa sesak setiap kali netranya melihat istrinya sudah tidak lagi bernyawa di dalam sana. Belum lagi kenyataan Zwetta secara sadar dan tanpa paksaan sudah mendaftarkan dirinya sebagai pendonor organ tubuh ketika dirinya meninggal dunia. Di tempat lain, Jordan yang tadinya bahagia mendengar bahwa putri sematawayangnya—Fidelya Harvey--akan mendapat donor jantung menjadi terkendala karena prosedur transplantasi jantung tersebut tidak mendapatkan persetujuan dari keluarga mendiang. Jordan tidak bisa membiarkan putrinya dalam keadaan seperti itu selamanya, dirinya harus mencari cara agar Fidelya dapat menerima donor jantung demi keselamatan putri kesayangannya. “Berikan saya alamat rumah sakit tempat pendonor itu berada, Pak. Biarkan saya yang memohon kepada mereka kalau diperlukan,” ujar Jordan meletakkan segala kehormatan yang dia miliki asalkan putrinya sehat. Jordan memohon untuk diberikan informasi alamat rumah sakit yang menjadi tempat si pendonor menghembuskan napas terakhirnya. Jordan bersikeras, apapun nanti hasilnya yang penting dirinya sudah mengusahakan keras agar putrinya dapat menjalani transplantasi jantung. Melihat putri sematawayangnya sakit-sakitan, Jordan merasa disiksa dengan perasaan khawatir berkepanjangan. "Kebetulan mendiang pendonor berada di rawat di rumah sakit tempat putri Anda dirawat, Tuan Jordan. Mereka masih berada di ruang UGD,” jelas pihak Bank Organ California di telepon. “Terimakasih banyak, saya akan berusaha membujuk keluarga mendiang pendonor untuk menyetujui dokumen transplantasi organ,” kata Jordan. Setelah mengetahui di mana kamar istri Raymond dirawat, ayah Fidelya Harvey semakin mempercepat langkahnya agar segera tiba di ruang UGD. Jordan terus berdoa dalam hati agar suami dari wanita yang akan mendonorkan jantungnya itu akan luluh dan mau berubah pikiran. Lelaki itu sangat berharap nyawa putri sematawayangnya dapat tertolong. Dia berharap usaha yang selama ini dia lakukan untuk kesembuhan putrinya tidak akan sia-sia. "Apa itu, orangnya?" tanyanya pada diri sendiri melihat seorang lelaki tampan bertubuh tegap berdiri bersandar di dinding dengan kepala tertunduk, dan ada beberapa orang lainnya di sana. Jordan berjalan perlahan mendekat pada Raymond. "Selamat siang semua," ucapnya sopan. Semua yang ada di sana melihat ke arah lelaki paruh baya berparas tampan dengan pandangan sembab dipenuhi air mata. Raymond, Audy, Charlie, mereka bertiga menatap Jordan yang kini memandang mereka dengan pandangan sulit untuk mereka bertiga terjemahkan. Kantung mata Jordan tercetak jelas di bawah matanya, semalaman ayah Fidelya tidak tidur karena khawatir dengan keadaan Fidelya yang berada dalam kondisi kritis. "Iya, Anda siapa? Ada yang bisa kami bantu?" tanya Raymond. "Perkenalkan, saya Jordan Harvey." "Jordan Harvey?" Raymond berpikir sejenak. Audy dan Charlie saling memandang, mereka berdua sepertinya tidak asing dengan nama Jordan Harvey. Melihat kebingungan di wajah lawan bicaranya, Jordan segera mengeluarkan kartu namanya kepada Raymon. Mereka lantas membaca kartu nama yang Jordan berikan, kini mereka bertiga mengetahui siapa Jordan Harvey. Dia adalah pengusaha asal San Diego dengan jadwal padat merayap sepanjang tahun. Tentu saja kedatangan Jordan Harvey menyambangi mereka membuat tanda besar di dalam kepala. “Maaf, Tuan Jordan. Ada apakah gerangan yang membawa Anda menyambangi kami?” tanya Charlie penasaran. “Apakah keluarga Tuan Jordan terlibat kecelakan dengan mobil putra saya?” sambung Audy merasa tidak enak hati. Audy menoleh menatap Freddie, tangan kanan anaknya menggelengkan kepala. Berarti Audy tidak perlu merasa cemas tentang tebakannya yang keliru. “Tidak, Nyonya. Saya ke mari untuk berbincang dengan putra Anda,” jelas Jordan tersenyum. Jordan menatap Raymon. "Tuan Raymond, kedatangan saya ke sini ingin membicarakan tentang transplantasi organ istri Anda,” pungkas Jordan membuat Audy dan Charlie mengerutkan keningnya heran. Sedangkan Raymond mengamati Jordan dengan lekat, suami Zwetta menatap ayah Fidelya dengan pandangan tajam menusuk setelah lelaki paruh baya itu mengucapkan kata transplantasi organ istrinya. “Transplantasi organ? Apa maksudnya, Ray?” tanya Audy. Raymon memegang lengan ibunya, lelaki itu memberitahu niat Zwetta kepada ayah dan ibunya. Reaksi keduanya juga sama, mereka terkejut karena Zwetta tidak pernah sekalipun membicarakan hal itu kepada Raymond dan orang tua suaminya. "Jadi anda yang menginginkan jantung dari istriku Zwetta?" tanya Raymond dengan wajah marah dia memotong kata-kata Jordan. "Iya, saya ayah dari pasien yang membutuhkan donor jantung dari istri Anda, Tuan Raymond," ucapnya bergetar. Raymond mendecih di tempatnya. "Saya tidak akan membiarkan tubuh istri saya dibedah dan diambil jantungnya," ucapnya tegas dan seketika rahang tegas Raymond mengeras. "Tuan Raymond …." Suara Jordan terasa tercekat, pandangan suami Zwetta seperti penegasan bahwa pikirannya tidak akan berubah begitu saja. "Menyelamatkan nyawa seseorang juga tidak harus melukai tubuh orang lain walaupun tubuh itu sudah tidak bernyawa. Sebaiknya Anda pergi dari sini dan mencari donor lainnya untuk putri Anda," tegas Raymond kemudian. Seketika Jordan Harvey bersimpuh di bawah kaki Raymond, pupil mata kedua orang tua Raymond membelalak lebar melihat hal itu. Mereka tahu siapa Jordan Harvey dan mereka tidak menyangka akan melihat Jordan Harvey bersimpuh di depan umum tanpa mempedulikan lagi tentang kehormatannya. “Tuan Besar,” seru asisten pribadi Jordan menatap tuan besar mereka merendahkan diri di depan orang lain. "Saya memohon pada Anda, Tuan Raymond, agar berkenan memberikan izin tindakan transplantasi jantung istri Anda demi menyelamatkan nyawa putri saya. Keadaan jantung putri saya sudah sangat parah dan dia sedang kritis. Saya sangat memohon pada Anda, Tuan Raymond, hanya Fidelya di dunia ini yang saya punyai setelah kematian istri saya." Jordan Harvey sampai meneteskan air matanya. "Ray …." Tangan lembut Audy memegang lengan tangan Raymond berharap putranya tidak sejahat itu pada seorang ayah yang bersimpuh di bawah kakinya demi memberikan kehidupan baru kepada putrinya. "Ma! Aku tidak akan merubah keputusanku. Ray tidak mau memberikan jantung Zwetta pada orang lain." Raymond benar-benar kalut dan dia berjalan pergi dari sana untuk menenangkan dirinya. Jordan yang masih duduk bersimpuh merasa hatinya sangat hancur. Harapan untuk mendapatkan donor jantung demi kesembuhan putrinya telah sirna, dan sekarang dia harus mempersiapkan dirinya untuk sekali lagi kehilangan orang yang sangat dia cintai dalam hidupnya. Penyakit bawaan pada jantung Fidelya kapan saja dapat merenggut nyawa Fidelya, begitu ucap dokter spesialis jantung yang selama ini merawat putri kesayangannya. Dulu istrinya--Sarah Harvey--juga harus meregang nyawa karena gangguan jantung bawaan lahir dan tidak segera menemukan donor jantung yang tepat. Sekarang Jordan harus menerima kenyataan bahwa putri sematawayangnya Fidelya akan pergi meninggalkan dia karena tidak mendapatkan donor jantung, kehilangan dua orang berharga dengan alasan yang sama. "Tuan Jordan, Anda berdirilah." Audy dan Charlie membantu Jordan berdiri dari tempatnya. "Kami orang tua dari Raymond, saya Audy dan ini suami saya Charlie Gilbert. Kami benar-benar merasa prihatin dengan apa yang terjadi dengan putri Anda, tapi kami tidak bisa berbuat sesuatu karena Raymond putra kami yang mempunyai keputusan pada istrinya,” jelas Audy. “Dia baru saja terpukul dengan berpulangnya Zwetta ke pangkuan Tuhan,” kata Chalie. "Saya memahami sikap Tuan Raymond. Saya hanya berharap nyawa putri saya bisa diselamatkan dengan donor jantung dari istri Tuan Raymond," ucap lelaki paruh baya itu dengan suara bergetar, mata tuanya terlihat sangat menyedihkan mimpinya pupus seketika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD