Di dalam kolam jacuzzi bermaterial keramik mewah, Raymond dan Zwetta tampak sibuk bercanda gurau sarat akan bahagia. Mereka berdua saling mengecup dan memuji satu sama lain, Zwetta tidak hentinya menunjukkan senyum manisnya pada Raymond. Zwetta benar-benar menikmati hal yang terjadi di dalam Jacuzzi.
Sentuhan lembut, kecu-pan, dan juga sensasi hangat timbul begitu saja atas aktivitas fisik yang tengah gencar mereka lakukan. Dengan lembut, Zwetta menelusuri da-da bidang suaminya, memainkan jari lentiknya di sana.
"Ray, hari ini kejutan apa yang akan kamu berikan padaku?" tanya wanita cantik yang masih berada di atas tubuh Ray.
"Sepertinya hari ini kita akan jalan-jalan mengelilingi San Fransisco dan malamnya kita makan malam romantis, tapi kali ini aku mau makan malam di dalam kamar saja, setelah itu--." Ray menghentikan ucapannya.
Kening Zwetta berkerut heran, menantikan kalimat selanjutnya yang akan Raymond ucapkan. Akan tetapi suaminya malah memberi kecupan kecil pada pundak istri tercintanya, Zwetta. Wajah cantik sang istri merona seketika.
Padahal keduanya telah melakukan hal yang lebih sen-sual dari sekadar kecu-pan singkat seperti itu. Nyatanya Zwetta masih tetap merona setiap kali suaminya menyentuh titik-titik sensitifnya.
"Setelah itu apa, Ray?" tanya Zweytta menengokkan kepalanya pada Ray yang melihatnya dengan tatapan yang Zwetta tahu arti dari tatapan itu.
"Setelah itu kita akan memberi kedua orang tuaku cucu untuk mereka."
"Ray!" Muka Zwetta tampak merona merah karena malu.
Setelah itu Zwetta keluar dari jacuzzi dan dia membasuh dirinya meninggalakan Ray yang masih ingin berendam di dalam jacuzzi. Zwetta duduk di atas ranjang dengan memakai handuk kimononya, dia mencari ponselnya dan sedang menghubungi seseorang.
Zwetta terdengar sangat serius berbicara dengan seseorang di telepon dan terlukis senyum indah di bibirnya setelah dia mengatakan bahwa dia akan sangat senang bisa membantu orang lain meskipun dia sudah tidak ada di dunia ini. Zwetta memang seorang wanita yang sangat baik, selain sederhana dia juga memiliki hati yang lembut dan semua itu dia dapatkan dari didikan keluarganya, meskipun dia tinggal di luar negeri dia tetap menjadi wanita yang sangat patut dicontoh.
Raymond tidak lama keluar dari dalam kamar mandinya dan sudah mendapati Zwetta sudah siap dengan gaun panjang selutut berwarna putih dan ada renda di bagian tepi bawahnya serta ada bordiran bunga-bunga kecil menyebar pada bagian perutnya.
"Sayang, kamu sangat cantik hari ini." Raymon mendekat dan menarik pinggang Zwetta mendekat ke arahnya.
"Ray, ayo kamu ganti baju. Aku ingin segera jalan-jalan mengelilingi San Fransisco." Tangan Zwetta mengusap lembut rahang tegas Ray.
"Sepertinya rencana jalan-jalan aku undur saja lain waktu, karena aku merasa kalau kita lebih baik segera memberikan ayah dan mamaku cucu."
"Oh my God, Ray!" Gadis itu benar-benar terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Kenapa, apa kamu tidak mau."
"Apa kamu tidak capek, Ray? aku ingin jalan-jalan sekarang dan tentang baby. Nanti malam kita akan memberi mereka cucu bagaimana?"
"Baiklah tuan putri yang cantik, sesuai keinginan kamu." Sekali lagi Ray mendaratkan kecupannya pada bibir cerry Zwetta.
Pasangan pengantin baru itu sangat bahagia di San Fransisco karena selain Ray bisa bekerja dia juga bisa mengajak istrinya berbulan madu, Kebahagiaan di dalam hidupnya benar-benar terasa lengkap. Apalagi dia bisa melihat senyum bahagia dari wajah wanita yang sangat dia cintai yaitu Zwetta. Ray tidak sadar jika ada kejadian mengerikan yang akan dia dan Zwetta alami.
Sebelum itu di suatu malam, terlihat bayangan seseorang dengan pakaian serba hitam dan dia memakai topi guna menutupi kepalanya dan dia juga menggunakan masker berwarna hitam sedang mengendap-endap di depan mobil milik Ray dan dia sepertinnya sedang melakukan sesuatu pada mobil Ray. Dia membawa sebilah pisau dan sedang memotong sesuatu. Setelah itu terlihat kedua matanya menyorot tajam seolah dia sangat bahagia akan hal yang sudah dia lakukan.
***
Terlihat Zwetta bersama Raymond keluar dari kamar hotelnya mereka berjalan menuju parkiran dengan bercengkerama bahagia dan mereka masuk ke dalam mobil, Ray memasangkan sabuk pengaman pada Zwetta dan kemudian dia mulai menyalakan mobilnya.
Raymond mengendarai mobilnya dengan perlahan, lelaki itu tahu benar bhwa Zwetta tidak suka jika Ray memacu kendaraannya dengan cepat. Tangan kanan Raymond tidak lepas menggenggam tangan Zwetta, dengan sesekali dia mengecup punggung tangan istrinya itu.
"Ray, kalau kita mempunyai baby apa kamu mau anak pertama kita berjenis kelamin perempuan?" tanya Zwetta.
"Tentu saja aku akan sangat senang jika mempunyai anak perempuan karena aku tidak pernah memilih, Sayang."
"Jika dia perempuan dia akan sangat cantik karena memiliki mata seindah kamu, Ray." Zwetta tersenyum manis.
"Dia juga akan memiliki wajah dan rambut seperti milikku."
Setelah mengatakan hal tersebut, manik mata Raymond tampak membulat. Dengan cepat Ray mencoba menginjak rem mobilnya begitu tepat di depannya lampu perlintasan menunjukkan warna merah. Tanda pemberhentian.
Bola mata suami Zwetta membulat sempurna. Raymond mencoba tidak menujukkan wajah paniknya di depan Zwetta. Lelaki tampan itu masih berusaha menginak berkali-kali rem mobilnya tapi ternyata rem nya tidak berfungsi dengan baik. Mobil yang dia kendarai tidak mau berhenti, sedangkan di sana mobil berdatangan dari arah kanan dan kiri.
Raymond berusaha memberikan petanda bahaya, klakson menggema dari kanan dan kiri jalan. Lelaki itu juga memberikan klakson frustasi, kaca mobilnya segera dia buka.
"Ray kenapa?" tanya Zwetta yang panik. dia berpegangan pada handel yang tepat berada diatasnya dan melihat wajah suaminya panik.
"Aku tidak tanu kenapa dengan rem mobilk!" serunya dengan mencoba mengendalikan setir kemudinya.
"Ray, awas!" pekik Zwetta menunjuk mobil di sebelah kiri mereka.
Raymond berusaha menghindar, namun jarak yang sudah dekat tidak memberikan kesempatan mobil yang mereka kendarai dapat mengelak dari dentuman keras akibat hantaman mobil di sebelah kiri.
Suara tabrakan mobil yang mereka tumpangi menyita perhatian banyak orang. Mobil dalam kendali Raymond terguling beberapa kali, sampai pada akhirnya menabrak pembatas jalan tepat di mana kursi Zwetta duduk.
"Argkhh!" ringis Zwetta tatkala sesuatu menghantam tubuhnya.
Tubuh Zwetta serasa terhimpit sesuatu hingga pandangannya gelap, dan mobil itu benar-benar hancur parah. Semua orang berlari melihat mobil yang sudah tidak berbentuk lagi. Mereka berkerumun mengelilingi mobil itu dan tidak ada yang berani mendekat sebelum polisi lalu lintas datang.
Beberapa orang di sana sudah memanggil ambulance guna memberikan pertolongan. Tidak lama ambulance dan tim medis datang dan dengan cepat melakukan tindakan pada mereka, Raymond dan Zwetta di bawa ke rumah sakit yang sama.
Tanpa memerlukan waktu lebih lama lagi, dengan cepat tim medis sudah melakukan pertolongan pertama semaksimal mungkin. Tubuh Raymond dan Zwetta dipasangi alat-alat medis pertolongan pertama.
"Napasnya menurun, Dokter!" seru perawat melihat tanda vital detak jantung Zwetta di layar.
"Segera lakukan tindakan," ujar dokter memerintahkan para perawat bergegas mempersiapkan tindakan lanjutan.
Zwetta dan Raymond diletakkan di ruangan berbeda karena Raymond hanya mengalami luka tidak terlalu parah, berbeda dengan Zwetta yang mengalami luka terbuka sangat parah. Wanita itu ia mengalami benturan yang sangat keras di bagian tempurung kepalanya dan sudah mengeluarkan banyak darah.
Tim medis melakukan segala macam cara demi menyelematkan nyawa Zwetta. Tindakan operasi guna menghentikan pendarahan juga tidak luput begitu saja.
"Dokter, tekanan darah pasien semakin menurun," ucap Dokter Anestesi yang berada di ruang operasi.
Dokter bedah yang menangani Zwetta tampak melanjutkan kegiatannya. Lelaki itu harus menghentikan pendarahan terlebih dahulu. Berbekal keyakinan kuat, operasi tersebut akhirnya selesai dilakukan meski keadaan Zwetta belum dapat dipastikan.
Sayangnya, takdir Tuhan berkehendak lain, baru saja dipindahkan ke ruangan ICU, Zwetta mengembuskan napas terakhirnya tanpa dia bisa melihat wajah Raymond untuk yang terakhir kalinya.
"Waktu kematian, pukul dua siang waktu setempat."
Raymond yang sudah sadar dari pingsannya segera berlarian mencari Zwetta istrinya dia ingin mengetahui bagaimana keadaan istrinya dan dia sangat tekejut saat dokter memberitahu tentag keadaan Zwetta istri Raymond.
"Jangan berkata yang tidak-tidak Dokter!" serunya marah.
Raymond merasa dunianya runtuh seketika. "Istriku Zwetta tidak apa-apa, dia baik-baik saja."
Raymond berusaha menerobos kamar di mana jasad istrinya--Zwetta sudah ditutupi oleh selimut putih.
Raymond berjalan dengan langkah perlahan dan gontai dia mencoba mendekati jasad istrinya itu dan tangannya bergetar saat dia ingin membuka penutup kain putih yang menutupi jasad istrinya.
Saat membuka penutup kain putih itu seorang Raymond meneteskan air matanya, dia memeluk tubuh istri yang sudah terbujur kaku di sana. Teriakan Raymond terdengar menggema di seluruh ruangan itu, dia benar-benar sangat histeris melihat Zwetta sudah tidak bernyawa. Dokter sudah mencoba menenangkan Raymond yang sampai terduduk di bawah ranjang dia benar-benar sangat terpukul dengan kejadian ini.
Freddie yang mengetahui kejadian itu pun langsung menghubungi kedua orang tua Raymond di Las Vegas. Kedua orang tua Raymond sangat terkejut mendengar kabar itu mereka berdua langsung terbang menuju San Fransiso. Freddie mengajak Raymond untuk berdiri dan keluar dari ruangan itu supaya Raymond bisa menenangkan dirinya, tapi Raymond menolaknya dia masih mau bersama Istrinya.
Di tempat lain, bank jantung di San Fransiso sudah mengetahui tentang kecelakaan yang dialami oleh Zwetta, dan menyebabkan Zwetta meninggal. Bank donor jantung segera menghubungi pihak rumah sakit dan memberitahu pada dokter yang menangani Zwetta bahwa Zwetta pernah mendaftar keinginannya untuk mendonorkan jantungnya pada orang yang membutuhkan.
Bank jantung ingin meminta persetujuan pada suami Zwetta bahwa dia bersedia jika jantung Zwetta akan didonorkan pada orang yang membutuhkan.
"Zwetta mau organ tubuhnya didonorkan?" gumam Raymond berkaca-kaca.
Banyak yang tidak diketahui oleh Raymond jika istrinya Zwetta telah mendaftar di Bank jantung San Fransisco untuk mendonorkan organ tubuhnya terutama jantungnya jika kelak dia meninggal dan kemarin dia memastikan lagi bahwa dia bersedia mendonorkan jantung atau organ lainnya kepada orang yang sedang membutuhkan.
Jordan Harvey sangat senang saat mengetahui jika putri semata wayangnya Fidelya akan mendapat donor jantung dari seseorang, perasaan bahagia meliputi dirinya saat ini, doa dan usaha yang selama ini dia lakukan telah di dengar oleh Tuhan.