Dering panggilan benda pipih di meja nakas membuat tidur pasangan pengantin baru menjadi terusik karenanya. Raymond terpaksa bangun dari tidurnya karena Zwetta memaksanya untuk mengangkat panggilan dari Freddie yang memberitahunya tentang pertemuan dengan Tuan Smith di salah satu rumah singgah kliennya itu.
"Baiklah, aku akan tiba di sana tepat waktu."
Raymond bangkit dari tempat tidurnya dan dia tidak lupa memberikan kecupan sebagai ucapan selamat pagi pada Zwetta istrinya. Ray masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Zwetta memilih menyajikan suami tercintanya kopi panas dan meletakkannya pada meja kayu berbentuk bundaran dengan dua kursi kayu dengan cat putih berwarna senada.
Ray keluar hanya dengan memakai handuk yang di lilitkan menutupi pada bagian pinggangnya dan dia berjalan menghampiri Zwetta yang masih juga memakai kimono handuknya.
"Kenapa kamu tidak menungguku untuk mandi, Sayang?" pungkas Raymond menatap istri cantiknya dengan manja.
"Kamu harus segera bersiap-siap menemui klien, Sayang. Jangan buat klien kamu menunggu terlalu lama karena itu tidak baik."
"Apa kamu mau ikut aku nanti menemui klien?"
"Aku akan ikut sama kamu, Ray. Aku tidak mau sendirian di sini." Tangan Zwetta bergelayut pada leher Ray.
"Ya sudah kalau begitu kamu bersiap-siaplah kita akan berangkat ke sana dan nanti dari sana aku akan mengajak kamu jalan-jalan."
Ray dan Zwetta sampai pada rumah singgah di mana tuan Smith sudah menunggu, Ray memperkenalkan Zwetta pada tuan Smith dan tuan Smith sangat senang bisa berkenalan dengan Istri Raymond.
"Istri kamu sangat cantik, Tuan Ray," pujinya pada Zwetta.
"Terima kasih, Tuan Smith," ucap Zwetta lembut.
"Oh ya aku ada hadiah pernikahan untuk istri anda yang sangat cantik ini, Tuan Ray." Pria paruh baya itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah dia berikan kepada Zwetta dan Zwetta membuka kotak kecil itu.
Mata Zwetta terperangah terkejut melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut, sebuah cincin berlian dengan mata berbentuk piramid berwarna putih berkilau benar-benar sangat indah.
"Ini sebagai hadiah untuk pernikahan kalian yang maaf waktu itu aku tidak bisa menghadirinya."
"Tapi-- kado ini sangat berharga, Tuan Smith dan saya tidak bisa menerimanya."
"Tolong anda terima nyonya Raymond Gilbert karena itu adalah hadiah dari istrinya saya, dialah yang memilihkan kado itu katanya akan sangat cocok jika anda istri tuan Raymon yang memakainya."
"Ray." Zwetta melihat pada suaminya Raymond. Raymon hanya memberi anggukan pelan seolah memberi jawaban Zwetta lebih baik menerima pemberian itu menerima pemberian itu.
"Kalau begitu terima kasih, Tuan Smith. Saya akan menerima dan menjaganya baik-baik." Zwetta tersenyum manis. "Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya kepada istri Tuan Smith.
"Tentu saja nyonya Raymond Gilbert
Mereka kemudian melanjutkan membahas tentang kerja sama yang akan di lakukan, Setelah beberapa jam pembicaraan itu akhirnya menemui kata kesepakatan. Ray dan Zwetta berpamitan untuk pergi karena Ray ingin mengajak Zwetta jalan-jalan melihat kota san Fransisco yang sangat indah. Dan sesuai janji Ray dia membawa Zwetta ke sebuah tempat dengan mata tertutup, Zwetta sangat bingung tapi dia menurut saja kemana Raymond membawanya. Raymond ternyata membawa Zwetta ke sebuah bandara dan di sana ternyata sudah ada helikopter yang menunggu mereka. Masih dengan mata tertutup Ray dengan hati-hati menuntun Zwetta.
"Ini di mana, Ray?" Tanya Zwetta bingung.
Ray membuka penutup mata Zwetta dan wanita cantik itu sangat terkejut melihat dia sudah berada di atas helikopter, Ray membantu memasangkan alat pengaman dan alat yang digunakan untuk komunikasi, Ray duduk di belakang menemani Zwetta dan ada pilot di depan yang menerbangkannya.
"Raymond!" Seru Zwetta sedikit takut. Namun, dihatinya dia sangat bahagia, tangan Zwetta sampai memegang lengan tangan Ray kuat karena dia sedikit takut saat berada di atas pesawat.
"Kita akan melihat Golden Gate Bridge dari atas helikopter ini, kata orang-orang jembatan itu akan sangat indah jika di lihat dari atas, dan aku ingin melihatnya sama kamu."
Cup ...
Sekali lagi raymon mengecup bibir Zwetta itu dengan lembut dan Zwetta menyandarkan sedikit kepalanya pada pundak Ray. Malam ini Zwetta benar-benar sangat bahagia, Dia sangat bahagia bisa mengenal dan menikah dengan seorang Raymond Mattew Gilbert. Ray sangat memanjakannya dan sangat menyayanginya.
Setelah hampir satu jam mereka terbang dengan helikopter. Ray kembali ke hotel bersama Zwetta dan sekali lagi Ray menggendong tubuh istrinya itu sambil mengecupnya dengan sedikit liar.
Ceklek...
Pintu kamar hotel itu di buka dan hanya dengan sekali tendangan kaki Ray, pintu kamar hotel itu tertutup dengan sempurna, Ray meletakkan tubuh Zwetta di atas ranjang dan dia tetap tidak mau melepaskan kecupannya pada bibir Zwetta. Zwetta yang juga sudah terbawa suasana melepas seluruh kancing kemeja Ray satu persatu hinggan akhirnya bagian atas Ray tampak polos, Sekarang Ray mulai menjelajahi leher jenjang milik Zwetta dia membuka baju Zwetta sampai memperlihatkan tubuh polos Zwetta. Tangan Ray tidak berhenti sampai di sana dia meletakkan kedua tangan Zwetta ke atas kepalanya dan dia mengecupi secara rakus bibir cery Zwetta.
"Ray, aku sangat mencintaimu," ucap Zwetta di sela dia menikmati semua sentuhan yang Ray lakukan terhadap tubuhnya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang!" serunya dengan suara mendesah.
Ray melepas celana panjangnya dan kembali menyerang tubuh istrinya yang terbaring polos di atas ranjang dan dengan sekali saja dia sudah bisa membuat Zwetta meringis kesakitan karena pertahanan milkku telah di ambil sepenuhnya oleh Ray suami yang sangat dia cintai. Meskipun Zwetta dan Ray sudah berpacaran hampir 3 tahun dan mereka tinggal diluar negeri tetap Ray dan Zwetta sangat menjaga hubungan mereka, mereka tidak pernah berhubungan sampai melewati batas dan Ray juga benar-benar bisa menjaga hal itu. Jadi ini adalah malam pertama yang sangat indah untuk mereka berdua. Ray sangat menikmati malam ini dia sampai melakukan beberapa kali dengan Zweeta seolah dia tidak merasa capek sekalipun dan Zwetta juga sangat bahagia karena dia sudah bisa mmeberikan hal berharga yang dia milikki hanya kepada suami yang sangat dia cintai.
Di tempat lain di luar ruangan ICU tampak banyak orang bergerombol, di sana terlihat wajah cemas dari raut muka mereka. Mereka adalah keluarga dari Fidelya Harvey. Putri tunggal dari Jordan Harvey itu sedang bertarung nyawa saat ini, keadaan Fidelya memburuk akibat gangguan jantung yang di deritanya. Dokter hanya bisa mengatakan supaya Jordan tabah dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Fidelya. Fidelya Harvey sebenarnya bisa tertolong jika dia mendapat transplantasi jantung yang sehat dari seseorang. Tapi jika dia mendapatkan transplantasi jantung seseorang berati kematian bagi orang yang memberinya jantung. Jordan dan semua keluarga berdoa dengan khusuk dan berharap Fidelya bisa melewati masa kritisnya hari ini dan bisa secepatnya mendapatkan donor jantung.
Salah satu keluarga Jordan Harvey mencoba memberi semangat pada Harvey jika Fidelya putri semata wayangnya akan bisa melalui ini semua karena di adalah anak yang sangat kuat.
"Aku tidak tau harus berbuat apa lagi untuk anakku, Emma." Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu meneteskan air matanya dan perempuan yang di pangginya Emma itu memeluknya dengan erat sambil mengusap-usapa punggu Jordan harvey berulang-ulang.
"Percayalah bahwa Fidelya akan sembuh dan akan mendapatkan donor untuk jantungnya," wanita itu.
Pagi hari Zwetta dan Ray sepertinya tidak mau beranjak dari tempat tidurnya, sepertinya hari ini mereka ingin bermalas-malasan di atas ranjangnya atau kalau tidak mereka ingin mengulang malam indah mereka.
"Sayang, apa kamu mau mandi bersamaku?" tanya Raymond.
"Pertanyaan macam apa itu, Ray?" tanya Zwetta menggoda Raymond.
"Sepertinya aku tau dari jawaban pertanyaanku." Raymond bangun dengan tubuh polosnya tanpa sehelai benang sedikit pun dia mengangkat tubuh Zwetta yang juga tampak polos masuk ke dalam kamar mandi mereka.
Di dalam kamar mandi itu terdapat jazucci sejenis kolam dengan air hangat dan Raymon membawa Zwetta masuk ke dalam jazucci dia duduk dibawahnya dan meletakkan Zwetta tepat di pangkuannya.
"Apa kita akan melakukannya lagi, Ray?" tanya wanita cantik itu pada Raymond.
"Sesuai keinginan kamu, Sayang." Mereka berpindah tempat sekarang. Hadew autho kebat kebit nulis adegan ini.