3. Honeymoon

1238 Words
Raymond dan Zwetta melakukan penerbangan pada pagi hari setelah mereka makan pagi bersama. Tidak lupa Ray dan Zwetta berpamitan kepada Audy dan Charlie Gilbert untuk meminta restu keberangkatan dalam hal bisnis sekaligus acara bulan madu tak terencana. Keberangkatan pasangan pengantin baru itu telah diatur oleh Freddie demi kelancaran atasannya dalam perjalanan ke San Fransisco. Perjalanan yang tidak membutuhkan waktu yang lama sekitar satu jam setengah mereka sudah menginjakkan kaki di San Fransisco. Freddie juga sudah mereservas mereka hotel mewah berkelas suites di San Fransisco sebagai penginapan pasangan suami istri baru tersebut. Raymond dan Zwetta sudah berada di dalam kamar. Zwetta merbahkan tubuhnya di atas ranjang king size dia dalam kamar president suit, Raymon yang tidak menyiakan kesempatan itu dia berada tepat di atas tubuh istrinya itu, dia mengecup bibir Zwetta dengan lembut dan mengusap rambut Zwetta perlahan. "Ray, Nanti saja. Sebaiknya kita berjalan- jalan sebentar aku mau membeli gaun untuk makan malam kita nantinya di sini." Tangan lembut Zwetta mengusap perlahan pipi suaminya. "Aku bisa menyuruh Freddie membelikannya, Sayang." Sekali lagi Zwetta mengecup bibir Zwetta dengan lembut. "Aku tidak mau, Ray! aku mau memilih sendiri gaun untuk makan malam romantis kita karena aku ingin memberi kamu sesuatu yang terbaik saat kita berada di sini." "Baiklah kalau itu mau kamu, Sayang." Ray bangkit dari tubuh Istrinya dan mengulurkan tangannya dan Zwetta menyambut tangan Ray. "Baiklah, Sayang kamu mau jalan-jalan ke mana? aku akan dengan senang hati mengantar tuan putri berjalan-jalan." Ray membungkukkan badannya dengan satu tangan pada perutnya dan tangan satunya di rentangkan seolah seperti seorang pangeran yang memberi hormat pada tuan putri di negeri dongeng. Zwetta tersenyum manis dan dia sangat bahagia melihat Ray yang sangat mencintai dan sangat perhatian terhadap dirinya. "Aku akan ikut kenapa kamu membawa aku, Ray." "Baiklah kalau begitu aku akan mengajak kamu pergi ke sebuah butik yang sangat terkenal di sini jadi kamu bisa memilih gaun yang benar-benar kamu sukai, Sayang." "Tidak perlu seperti itu, Ray. Aku juga tidak menginginkan gaun yang sangat mahal. Dan bukannya aku terlalu banyak permintaan, tapi entah kenapa aku ingin membeli gaun seperti keinginan aku, kamu sudah banyak membelikan aku gaun dan aku sangat menyukainya, tapi kali ini aku ingin membeli sebuah gaun yang aku inginkan." ucapnya lembut dan terlihat memelas. "Iya, Sayang aku tidak masalah kamu ingin meminta berapa banyak gaun untukku, aku sama sekali tidak keberatan." "Terima kasih, Ray." Zwetta memeluk tubuh suaminya itu dengan erat seolah dia tidak ingin melepaskan pelukan itu. "Ya sudah ayo kita pergi sekarang." Dan, Raymond tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya itu ala bridal style dan membawa keluar kamar mereka bahkan sampai di depan lift Ray masih menggendong tubuh istrinya itu, Ray tidak memperdulikan orang-orang yang melihat mereka, orang-orang yang ada di sana hanya tersenyum melihat pasangan pengantin baru itu. "Ray." Zwetta menyembunyikan kepalanya pada d**a bidang Ray dia sepertinya malu dengan apa yang suaminya lakukan tapi dia menyukai hal itu. Sampai di depan mobilnya Ray mendudukkan Zwetta di kursi depan dan dia memasangkan sabuk pengaman pada Zwetta dan tidak lupa dia mengecup bibir istrinya kemudian dia mengitari mobilnya dan duduk di kursi samping, Ray mengemudikan sendiri mobilnya itu. Di sepanjang perjalanan Ray tak hentinya menggenggam tangan istrinya dan tangan satunya sibuk mengemudikan mobil. "Ray, di sini sangat indah dan udaranya juga sangat sejuk." Zwetta merasakan udara San Fransisco lewat kaca jendela mobilnya yang tidak dia tutup. "Iya, banyak tempat indah di sini, Sayang. Selama kita di sini nantinya aku akan mengajak kamu berkeliling di pantainya yang indah dan kita akan mengunjungi The Golden Gate Bridge kamu tau kan, Sayang? jembatan yang terkenal indah. Namun, sangat fenomenal karena pembangunannya yang benar-benar sangat sulit. "Iya aku tau, Ray. Jembatan yang menghubungkan San Fransisco dengan Tanjung Marine. Aku mau ke sana, Ray." Tidak lama mereka sampai pada butik di mana mereka disambut hangat oleh pemilik butiknya langsung. Pemilik butik itu sengaja menyambut langsung Ray dan Zwetta saat mengetahui bahwa pemilik GGroup akan datang ke sana untuk membeli gaun untuk istrinya. "Ray. Apa tidak berlebihan kita membeli gaun di sini? ini butik yang sangat mahal?" tanya Zwetta sambil memegang erat lengan tangan Ray. "Tidak, Zwetta. Kamu pilihlah gaun yang kamu inginkan kemudian kita segera bersiap makan malam." Pemilik butik itu mengajak Zwetta mencoba beberapa gaun di sana. Tidak membutuhkan waktu lama Zwetta sudah memilih gaun berwarna hitam dengan bagian punggung terekspose sempuran serta belahan gaun sampai pada lututnya saja. "Bagaimana menurutmu ini, Ray?" tanya Zwetta yang sudah berdiri di hadapan Raymon. "Perfect. You look very beautiful, Honey." Ray tanpa sungkan mengecup bibir istrinya itu sangat dalam. Gaun itu menjadi pilihan mereka dan mereka langsung kembali ke hotel karena mereka ingin bersiap-siap untuk acara makan malam romantis mereka. Ray mengajak Zwetta makan malam di restoran mewah yang berada di dalam hotel tersebut, Zwetta menginginkan makan malam di sana. Ray juga sudah memesankan makanan kesukaan Zwetta dan ada dua gelas burgundi dan sebotol red wine di atas meja mereka saat ini. "Avocado toast!" serunya bahagia. "Iya, apa kamu menyukainya?" tanya Raymond. "Aku sangat menyukainya." Terlihat senyum bahagia pada bibir cerry milik Zwetta. Dari dulu Zwetta sangat menyukai buah alpukat dan saat dia tau avocado toast adalah makanan yang sebenarnya ada di California itu terbuat dari buah alpukat yang dipadukan dengan roti panggang dan ada telur dengan daging serta di beri sedikit bumbu yaitu garam dan lada. Sebenarnya makanan ini lebih cocok jika dinikmati saat sarapan pagi, tapi Raymon tau Zwetta akan sangat menyukainya jika ada avocado toast di menu makan malamnya kali ini. "Ini enak sekali, Sayang dan besok pagi aku juga mau sarapan dengan ini," ucapnya bahagia. "Apapun keinginan kamu, Sayang." Akhirnya mereka makan malam dengan romantis di sana, Ray tidak hentinya melihat tawa bahagia pada bibir istri yang sangat dia cintai itu. " Zwetta apa kamu mau melakukan sesuatu?" tanya Ray. "Apa?" "Kemarilah!" Zwetta meletakkan alat makannya dan berdiri menghampiri tempat duduk Ray. Dan dengan perlahan Ray memegang tangan Zwetta menarik tubuh istrinya itu mendekat dan kemudian dia mendudukan tubuh Zwetta pada pangkuannya. "Ray!" mata Zwetta membulat melihat suaminya itu. "Kenapa? apa kamu malu?" Ray mengecupi bibir istrinya itu dengan lembut dan lekat, rasa manis terasa pada bibir Zwetta yang tadi baru saja meminum segelas red wine. Orang-orang di sana tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan karena bagi mereka hal itu biasa di lakukan oleh sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. "Kamu benar-benar membuat aku terkejut, Ray," ucap Zwetta saat Ray melepaskan kecupannya. "Aku sangat mencintai, Sayang." "Aku juga sangat mencintai kamu, Ray." Balas Zwetta dan sekarang dia gantian mengecup bibir suaminya itu. Makan malam romantis itu berakhir dengan bahagia, Ray menggendong tubuh Zwetta ala bridal style sampai masuk ke dalam kamar hotelnya dan mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas ranjang besarnya dan mata mereka terlelap, sepertinya mereka kecapekan dan bisa juga karena efek red wine yang tadi mereka minum. Malam itu mereka berdua tidur nyenyak dengan masih menggunakan gaun dan kemeja lengkapnya. Ray memeluk tubuh Zwetta dan dia memejamkan matanya dengan sangat tenang. Pagi hari cahaya matahari menembus sela-sela tirai kamar hotel di mana pasangan penganti baru yang bahagia tertidur berhasil membuat mata Zwetta mengerjap bangun dia tersenyum melihat wajah suaminya yang masih tenang tertidur di sampingnya. "Morning, Ray," ucapnya lembut sambil mengecup hidung mansung suaminya. "Hemm?" Ray hanya menyahut dengan deheman. "Bangun, Ray. Ponsel kamu sepertinya berdering." Zwetta melihat ponsel Ray menyala di atas nakas di samping Ray yang masih tertidur. "Nanti saja, Sayang. Aku masih mengantuk." Ray hanya menggeliat kecil, dia malah memeluk perut Zwetta. Zwetta tersenyum melihat tingkah suaminya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD