Tampak raut wajah bahagia menyelimuti dua pasangan kekasih yang baru saja disahkan sebagai suami istri beberapa waktu lalu. Raymond Mattew Gilbert pria berusia dua puluh tujuh tahun yang memilik wajah yang sangat tampan berwarna abu terang dan rambut coklat gelap itu tidak hentinya mendaratkan kecupan pada Zwetta Gizelle wanita yang usianya sama dengan dirinya, wanita cantik dengan rambut hitam legam itu akhirnya dapat dipersuntingnya setelah tiga tahun mereka merajut jalinan kasih. Semua tamu dan keluarga yang datang pada acara pernikahan mereka yang dilangsungkan di Las Vegas tempat kelahiran Raymond, tampak sebuah rumah megah dengan taman yang indah dan pernikahan mereka kali ini mengusung tema garden atau pesta kebun tampak sangat bahagia dan tak hentinya memberikan ucapan selamat kepada pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri itu.
Zwetta, istri Raymond tampak sangat cantik dengan balutan baju pengantin berwarna putih dengan belahan panjang di bagian punggungnya dan membiarkan rambut hitamnya tergerai indah, dan ada mahkota yang terbuat dari ranting kayu sederhana melingkar di atas kepalanya, Zwetta adalah wanita yang sangat sederhana, dia tidak menginginkan pernikahan yang mewah, dia ingin pernikahan yang sederhana, tapi sangat sakral dan yang terpenting dia bisa bersama dengan Raymond kekasih yang sangat dia cintai. Sedangkan Raymond tampak gagah dengan setelan kemeja dan suit berwarna senada dengan Zwetta, tampak bagian depan dia tidak mengancingkan tiga kancing kemejanya. Ray benar-benar tampak mempesona.
Cup! Raymond sekali lagi mendaratkan kecupannya pada bibir cerry Zweeta dan kali ini dia memperdalam kecupannya. "Apa kamu bahagia, Sayang?" tanya Raymond saat dia melepaskan kecupannya pada Zwetta.
"Iya, aku sangat bahagia, Ray. Dan kamu tau aku tidak menyangka akan bisa berada di altar pernikahan ini bersama dengan kamu." Ada buliran air mata yang siap keluar dari kelopak mata indah itu.
"Aku juga tidak menyangka akan bisa menikah dengan kamu, Zwettaku. Aku sebenarnya ingin memberikan kamu sebuah pesta pernikahan yang megah dari ini tapi kenapa kamu menolaknya?" tanya Raymond sambil mengusap pipi wanita yang baru saja dia nikahi.
"Aku tidak perlu pernikahan yang mewah, Ray, aku sudah sangat senang dengan pernikahan kita ini."
"Kalau begitu apa kamu menginginkan bulan madu yang indah untuk kita?" usul Raymond dengan mata yang sengaja menggoda istrinya itu.
"Tentu saja, aku sangat menginginkan bulan madu yang indah untuk kita." Muka Zwetta bersemu malu dan dia memeluk suaminya itu dan tidak lupa dia mendaratkan kecupan pada bibir Raymond. Acara yang berlangsung sampai malam itu tidak membuat pasangan pengantin itu tampak lelah mereka masih dengan ramah dan senyum manisnya menyambut para sahabat dan keluarga yang datang.
"Tuan Ray," panggil Freddie pria berusia dua puluh enam tahun dan dia adalah orang kepercayaan Raymond.
"Ada apa, Fred?"
"Tuan Ray, saya baru mendapat kabar bahwa Tuan Smith meminta kita untuk membicarakan tentang kerja sama itu di San Fransisco dia juga ingin memberi Anda dan Nona Zwetta sebuah hadiah pernikahan di sana karena Tuan Smith sudah menyiapkan sebuah hadiah yang sangat indah di San Fransisco untuk Anda dan istri Anda."
"Benarkah?" tanya Ray tidak percaya, Tuan Smith memang sudah lama bekerja sama dengan Raymond dan sayangnya di hari pernikahan Raymond dia tidak bisa datang karena di harus masih berada di Kanada untuk urusan bisnis.
"Baiklah kalau begitu sampaikan padanya aku akan menemuinya di San Fransisco bersama istriku. Di sana juga nantinya aku akan mengajak Zwetta berbulan madu," terang Raymond.
"Baik kalau begitu, Tuan Raymond." Freddie berjalan pergi dari sana.
Raymond tidak sabar memberitahu berita ini pada Zweetta Istrinya yang sedang berbincang dengan Audy dan Charlie orang tua dari Raymon dan otomatis sekarang menjadi mama dan ayah mertua dari Zwetta.
"Ma, Pa. Apa aku boleh membawa istriku sebentar?" tanya Raymond.
"Tentu saja boleh, Ray. Sepertinya putra kita ini tidak bisa jauh walau sedetik dengan istrinya ini," Goda Audy- mama Ray.
"Apa kamu sudah tidak sabar ya untuk membawa istri kamu ke dalam kamar, Nak?" ayah Raymond, Charlie turut serta menggoda Rey dan Zwetta.
"Papa, Mama!" seru Zwetta dengan wajah yang bersemu malu.
Raymond memeluk istrinya dari belakang dengan erat dan dia mengecup pipi Zwetta dengan sangat lembut. "Tentu saja aku ingin segera membawanya ke dalam kamarku, Yah. Tapi aku bisa menahannya, nanti saja aku memakannya saat kita tiba di San Fransisco."
"San Fransisco?" tanya Audy heran.
Wajah cantik Zwetta menengok ke arah Raymond dia juga bingung dengan kata-kata san Fransisco. "Apa kita akan pergi ke San Fransisco, Sayang?"
"Iya, Sayang. Tuan Smith rekan bisnisku mengundang kita pergi ke sana karena hari ini dia tidak bisa menghadiri pernikahan kita jadi dia menginginkan kita ke sana selain untuk membicarakan maslaah pekerjaan dia juga ingin memberi kita hadiah pernikahan di San Fransisco."
"Wah! Kalian pasti akan sangat bahagia di sana karena di sana terkenal dengan pemandangan yang sangat indah dan pantainya juga sangat indah kalian bisa berenang romantis nantinya." Mama Audy tersenyum bahagia.
"Tentu saja, Ma. Istriku yang sangat cantik dan manis ini pasti akan sangat senang melihat Kota San Fransisco. Kalau begitu kita sudahi saja pestanya dan aku ingin Zwetta mempersiapkan semua keperluan kita yang nantinya akan di bawah ke sana."
"Kita berangkat besok, Ray?"
"Tentu saja, Sayang! karena aku tidak mau menunda lebih lama bulan madu kita." Rey malah tos dengan ayahnya, Charlie Gilbert.
"Cepat beri kita cucu ya Ray setelah kamu pulang dari bulan madunya," celetuk Charlie kemudian.
"Papa!" mata Zwetta melotot kaget.
Mereka berempat tertawa dengan senangnya, mereka tidak tahu jika dari kejauhan ada mata yang memperhatikan kebahagiaan mereka di sana dan dari mata serta raut wajahnya dia tampak tidak sedang dengan kebahagiaan yang Ray dan Zwetta rasakan.
"Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan!" ucapnya marah sambil mere-mas gelas burgundy yang di pegangnya.
Malam hari di dalam kamar Raymond yang besar dengan ranjang king size Zwetta sedang menata baju-baju dan perlengkapan lainnya yang nantinya akan dia bawa ke san Fransisco. Ada dua koper besar yang berada di atas ranjang king size itu. Wajah cantik itu tampak bahagia dan bersemangat menyiapkan segala keperluan Ray di sana. Ray yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan hanya menggunakan celana pendek itu tampak tersenyum miring dan dia mendekati perlahan istrinya itu kemudian mengecup leher jenjang milik Zwetta.
"Ray. Apa yang kamu lakukan?"
"Aku ingin menandai leher indah kamu itu, Sayang," Ray kembali mendaratkan kecupannya pada leher Zwetta.
"Hentikan, Ray." Zwetta bergeliyat ingin menghindar dari kecupan Ray. Besok kita akan pergi ke San fransisco dan aku tidak mau leherku tampak tanda merah nanti aku malu, Ray." Wanita cantik itu mengerucutkan bibirnya lucu.
"Kenapa malu, Sayang? kitakan sudah menikah dan aku ingin semua orang mengetahui jika kamu adalah milikku." Ray dengan cepat membalikkan tubuh Zwetta dan mengecupnya dengan sangat dalam. Zwetta yang menyukai hal itu membalas kecupan Ray dan dengan satu gerakan ray berhasil mengangkat tubuh Zwetta bergelayut dia tubuhnya tanpa melepaskan kecupannya.
Ray membawa tubuh Zwetta ke atas sofa panjang dengan ukiran berwarna keemasan yang ada di dalam kamar Ray. Ray menidurkan tubuh Zweeta dan dia tepat berada di atasnya.
"Ray!"
"Hemmm." Ray masih tidak mau menghentikan kecupannya pada tubuh Zwetta.
"Apa kita akan melakukannya sekarang? Lalu tentang bulan madu kita bagaimana?"
Seketika Raymond menghentikan gerakannya dan dia melihat wajah Zwetta yang ada tepat di bawahnya.
"Nanti kita akan melakukannya lagi saat kita berbulan madu, ya anggap saja ini sebagai hidangan pembuka dan nanti hidangan utamanya pada saat kita sudah berada di San Fransisco.
"Tapi aku ingin nantinya di San Fransisco aku memberimu hidangan pembuka dan utama serta kalau kamu mampu hidangan penutupnya sekalian." Zwetta tersenyum menggoda Ray.
"Aku aku menunggunya, Sayang!"