Lampu-lampu kristal di langit-langit aula Hotel D'Angleterre mendadak meredup, menyisakan satu sorotan cahaya putih yang tajam ke tengah panggung utama. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan para elit Zurich seketika berubah menjadi senyap yang mencekam. Marc Fischer duduk tegak, merasakan aliran udara di sekitarnya menjadi lebih berat. Dantiannya yang kosong bereaksi secara insting, sebuah denyut halus yang hanya bisa dirasakan oleh seorang praktisi tingkat tinggi. Ia tahu bahwa saat yang ia tunggu telah tiba. Seorang petugas dengan sarung tangan sutra putih melangkah maju, membawa sebuah kotak kayu cendana yang tampak kuno. Begitu tutup kotak itu dibuka, aroma kayu yang terbakar dan wangi tanah pegunungan yang lembap segera menyeruak, memenuhi setiap sudut ruangan. Di dalamnya terlet

