Sudah hampir sepuluh menit Aruna berdiri di seberang meja. Sementara di hadapannya Cantika masih asyik menerima panggilan telepon. Cantika sama sekali tidak mau pengertian dengan mempersilakan Aruna duduk di sebuah kursi berjarak lebih dari dua meter darinya, ataupun menyuruh pergi dulu kalau memang ia masih mau menghabiskan waktu menelepon seseorang nun jauh di seberang ponsel Cantika. “Terus lo maunya gimana? Jangan yang aneh-aneh, loh, ya. Bikin capek,” ujar Cantika bicara di ponselnya lalu tertawa cekikikan. Mungkin sedang bercanda dengan temannya. Pikir Aruna. “Ya, seneng. Tapi kalau keseringan encok juga, Beib…” ujar Cantika lagi. Setelah itu ia kembali tertawa. Kali ini lebih lepas dari sebelumnya. “Eh, bentar ya. Ada pembantu gue. See you besok ya, Beib! Bye…” Lalu Cantika men

