5. Manager Surya

1292 Words
Selepas mendapatkan izin untuk pergi keluar, walaupun dengan syarat bahwa Sherina harus diantar oleh caraka -entah siapa itu dan apa itu Sherina juga tidak tahu, lebih baik Sherina menurut saja biar diperbolehkan- Dan disinilah Sherina, menatap baju baju Sherina versi gadis remaja. Cukup lucu, namun yang tidak Sherina suka adalah semua ukuran baju gadis ini terlalu besar untuk tubuh yang cukup kecil ini. Setelah mempertimbangkan cukup lama, Sherina mengambil baju santai yang cukup pres body. Kemeja berbahan satin namun tidak terlalu tebal maupun tipis bermotif bunga dan rok bewarna putih polos berenda diujungnya. Mata Sherina berdalih ke meja rias dikamar ini, kemudian menghela nafasnya lelah. Tidak ada makeup nih? Kembali mematut dirinya di cermin, Sherina menyentuh wajah yang kini ia tempati dengan gelengan kepala takjub. "Ya kali ini muka masih polos gue makeupin? Tapi dikasih bedak sama liptint gak apa apa kali ya?" Masih menimbang nimbang, takut tampilannya mengejutkan orang rumah. Yaa bagaimana tidak mengejutkan, jika Sherinanya mereka kini adalah jiwa seorang wanita berusia 26 tahun? Ponselnya berdering, membuat lamunan Sherina buyar dan dengan cepat mengecek ponsel. Manajer Surya : Ibu, apa kita jadi bertemu? Sherina Putri : Yaa, nanti kalau saya sudah ditempat saya shareloc yaa Sherina Putri : Ohh iya tolong bawa laporan perusahaan selama tidak ada saya Manajer Surya : Baik ibu Baiklah, tanpa ingin berlama lama, Sherina memilih tidak berdandan walaupun tipis. Takut membuat seisi rumah kaget. Setelah memakai setelan pakaian yang ia pilih tadi, Sherina mengambil tas dan ponselnya lalu berjalan keluar kamar. Ada Ajeng dan Raden yang tengah berbicara dengan sesosok laki laki diruang tamu. Sherina menghela nafasnya dengan sembunyi sembunyi, kali ini siapa lagi? Namun, setelah meneliti lebih dalam Sherina baru sadar bahwa laki laki tersebut yang menjaganya di rumah sakit. Tapi siapa dia? Tidak mungkin kan pacarnya Sherina muda? Memang sih wajahnya masih terlihat muda, namun Sherina yakin 100000% bahwa laki laki tersebut seusianya di tubuhnya yang lama. Atau, lebih? Asal menebak saja sih karena melihat auranya Aura aura tua seperti jiwa Sherina. Ups. "Dek? Udah siap? Kamu dianter om Dino yaa, caraka yang biasanya kalo kamu lupa" Ohh jadi ini maksudnya caraka carakaan itu, om om yang akan menemaninya. Tapi maksudnya apa? Sherina masih belum paham. Ahh abaikan, yang Sherina butuhkan adalah bertemu Surya. Tanpa ingin membuang buang waktu, Sherina langsung mengajak Dino untuk keluar setelah berpamitan kepada Ajeng dan juga Raden. Cukup kaget saat mereka berhenti disebuah mobil terios berwarna hijau lumut. Mobil siapa ini? Setahu Sherina, mobil Raden yang kemarin dipakai untuk pulang dari RS adalah mobil Pajero Sport pengeluaran terbaru bahkan warnanya pun putih. "Ini, mobil om?" Tanya Sherina dengan kebingungan Dino terkekeh "Ini mobil dinas mbak, ayo masuk" silahkan Dino sembari membukakan pintu untuk Sherina Mobil dinas? Badaaas! Keren sekali ayahnya Sherina muda ini. Memiliki rumah dinas, mobil dinas, semua fasilitas dari negara bukan? Memang bukan main fasilitas untuk tentara! Yang dibukakan adalah pintu belakang, namun Sherina memilih duduk didepan. Terbiasa saat bersama Surya jika mereka hanya akan pergi meeting berdua tanpa supir. "Sherina didepan aja om" putus Sherina setelah duduk dibangku sebelah kemudi Dino sempat terpaku, sempat berfikir apakah benar ini Sherina anak dari dankinya? Namun kemudian ia tepis mengingat bahwa Sherina tengah mengalami amnesia. Wajar, begitu fikirnya. Memilih mengangguk, Dino menutup pintu yang tadi ia bukakan, kemudian membantu Sherina menutup pintunya baru ia berjalan kesebrang untuk masuk dan duduk dibangku kemudi. "Jadi, kita mau kemana mbak?" Tanyanya yang siap melaju kendaraan "Caffe terdekat aja om dari sini" ✨✨✨ "Om mau nanya deh, caraka itu apa?" Kini, Sherina tengah berada dijalan bersama dengan Dino. Karena terlalu sunyi dan cukup bosan dengan suasana didalam mobil, Sherina memilih bertanya kepada sosok di sebelahnya kini "Caraka itu, tentara yang dipercaya untuk menjadi kepercayaan komandan Mbak" "Misal?" "Dipercaya untuk menjaga keluarga komandan, dipercaya untuk mengurus keperluan komandan, serta dipercaya untuk mengendalikan jadwal komandan sehari hari mbak. Namun, biasanya caraka diberikan kepada komandan yang sudah memiliki keluarga mbak" "Wahh keren, sejenis orang kepercayaan dong?" Dino mengangguk "Iya mbak, sejenis itu" Lagi, Sherina kembali takjub dengan ini semua. Keren sekali bukan isi dalamannya tentara? Mendapatkan rumah dinas, kendaraan dinas, serta orang kepercayaan untuk keluarga mereka. Pantas saja rata rata banyak pasangan seorang tentara bangga, orang fasilitas yang akan mereka dapatkan sepertu ini. Tentu saja tidak gratis sih, Sherina cukup tahu bahwa seorang tentara itu bertaruh nyawa. Sedikit setimpal dengan fasilitas yang mereka dapatkan. "Eh om, tadi caffe apa yang mau kita datengin? Aku mau shareloc ke temen ku" ingat Sherina "Caffe Solalilali mbak, di maps ada kok" Memilih mengangguk, Sherina mengambil ponselnya kemudian mengirimkan lokasi caffenya kepada Surya. "Mbak" panggil Dino yang membuat Sherina menegakkan kepalanya dalam bermain ponsel, seakan mengatakan ada apa? "Sejak kapan mbak punya temen?" Sherina menyeritkan keningnya, kemudian sadar. Tadi pagi Raden mengatakan tahu dari orang ini bahwa Sherina tidak memiliki teman disekolah. "Sejak" jedanya sebentar "Kemarin?" Jawab Sherina malah seperti bertanya balik kepada Dino Dino terkekeh, setelah berbelok, tak lama mereka sampai di caffe tujuan mereka. "Sampai mbak" Sherina mengangguk senang, kemudian matanya berpenjar melihat parkiran mobil, belum ada mobil Surya. Tandanya, manajernya itu belum sampai. Sherina akhirnya turun, lalu meninggalkan Dino setelah mengatakan bahwa Dino dapat menunggunya di mobil, namun jika bosan boleh ikut bergabung dengannya didalam. Dino memilih mengangguk, untuk sementara waktu memilih didalam mobil saja. Setelah mendengar jawaban dari Dino, Sherina berjalan masuk kedalam caffe, caffe ini memiliki dua tempat. Indoor dan outdoor. Tahu diri bahwa Surya akan sulit mengenalinya, Sherina memilih duduk di indoor dan didekat kaca sebelah pintu masuk. Baru ada 5 menit Sherina duduk, laki laki yang usianya dibawah Sherina versi tubuhnya yang lama 2 tahun itu datang dengan nafas yang terengah engah saat memasuki caffe Sherina tersenyum lebar, kemudian berdiri dari duduknya sembari melambaikan tangannya semangat "Suryaaa!" ✨✨✨ "Jadi, semacam pertukaran jiwa?" Sherina mengangguk Surya masih menatap sosok anak SMA dihadapannya ini dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Satu sisi ia senang karena dapat berbincang lagi dengan bosnya, satu sisi merasa aneh karena berbincang dengan anak SMA. "Kamu bawa yang saya suruh bawa kan?" Surya kembali mengangguk, kemudian memberikan laporan perusahaan "Ini, Bu" Makanan dan minuman pesanan mereka datang, melihat wajah gadis SMA dihadapannya ini saat menerima makanan membuat Surya yakin bahwa jiwa gadis ini adalah bosnya. "Bu, ini caffe murah, wajar dagingnya masih ada lemaknya" Sherina meringis mendengar perkataan Surya, sulit sekali melepas kebiasaan yang satu itu. "Ngeliat ibu dari cara ibu natap daging steak itu bikin saya makin yakin kalo ini ibu" Orang yang diajak berbicara sudah terkekeh dalam bacaannya, menanggapi bahwa Surya masih sempat tidak percaya tadi. "Kok bisa harga saham turun sampai segininya?" Tanya Sherina kalut saat melihat bagaimana laporan perusahaan "Iya bu, banyak pemegang saham yang langsung menjual sahamnya dengan harga rendah karena mereka berfikir sudah tidak adanya ibu dan perusahaan akan merugi jika tidak dengan cepat mereka melakukan itu" "Kupret! Kan ada kamu, masa mereka gak percaya kinerja kamu sih?" Kesal Sherina Selesai memotongkan daging steak untuk Sherina, Surya tersenyum tipis mendengar penuturan bosnya itu "Ibu terlalu percaya sama saya ah mana bisa saya menyamai ibu?" "Merendah untuk meroket, iyuh" Kembali terkekeh, sudah cukup. Surya sudah percaya saat ini bahwa dihadapannya kini adalah bosnya. Sherina yang selalu ceplas ceplos saat bersama dirinya, namun saat didepan khalayak umum akan menjadi Sherina yang cukup elegant dan kalem. "Ohh iya, abis ini antar saya ke makam saya ya. Pakai mobil itu" ujar Sherina setelah menyimpan laporan perusahaan kemudian menarik hotplate miliknya Surya mengikuti arah tunjuk Sherina, menunjuk mobil terios yang berwarna hijah lumut. Tidak salah kan? Paham dengan raut wajah Surya, Sherina mengangguk "Kamu gak salah Surya, itu mobil dinas milik orang tua si pemilik tubuh ini. Btw yaa Sur, si Sherina anak kolong!" Heboh Sherina di akhir yang membuat Surya menggelengkan kepalanya geli Bosnya baik ditubuh manapun akan tetap menjadi sifatnya sendiri. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD