Sherina bangun dipagi yang cukup nyenyak, entahlah tidurnya kali ini terasa lebih nikmat daripada saat ia masih ditubuhnha yang lama. Sherina menatap jam dinding yang ada dikamar barunya ini.
05.30 waktu setempat
Sama seperti dulu dulu, Sherina selalu saja terbiasa bangun pagi. Memilih bangun, Sherina merapihkan kamarnya. Sadar diri bahwa kini ia berada dirumah yang bahkan lebih besar apartemennya dari pada rumah ini.
Sibuk merapihkan kamar, Sherina menangkap wangi makanan yang cukup menggugah selera. Tidak terasa, perut Sherina berbunyi, membuat sang empunya tersenyum lebar.
"Bodoh, kan gue semalem langsung tidur ya abis pulang dari rs" keluhnya sembari memukul keningnya pelan "Tapi kenapa kaga dibangunin? Kaga mungkin kan gue tidur kek mati suri?"
Mengabaikan pertanyaan pada dirinya sendiri, setelah selesai merapihkan kamarnya, Sherina memilih berjalan keluar kamar. Rumah dinas ini tidak cukup rumit. Kamarnya dengan kamar kedua orang tua sang pemilik tubuh saling berhadapan dengan adanya toilet ditengah tengah.
Kemudian, ada ruang tamu dan diberi sekat rotan untuk ruang keluarga. Disebelah ruang keluarga ada pintu untuk menuju ruangan yang isinya kulkas dan persediaan makanan instan. Lalu ada pintu mengarah ke arah belakang rumah dan kedepan rumah.
Membuka pintu yang kearah belakang rumah, Sherina menemukan dapur yang dindingnya terbuat dari kayu namun tetap terlihat rapih serta modis. Mulut Sherina terbuka lebar, takjub dengan model rumah dinas ala tentara ini. Terlihat bagaimana kitchen seat yang rapih dan sederhana, walaupun masih canggihan yang ada di apartemen Sherina sih.
Berdalih, tanpa harus membuka pintu yang arahnya kedepan rumah, Sherina sudah tahu itu apa.
Garasi.
"Udah bangun Kak?"
Sherina menyerit melihat wanita paruh baya yang menanggilnya Kak ini. Siapa ini? Mengapa Sherina tidak pernah melihatnya saat dirumah sakit?
"Maaf?" Tanya Sherina perlahan, sadar bahwa ia harus memahami isi orang orang rumah sang pemilik tubuh
"Mbak, itu si Adek kena amnesia ringan kata dokter" celetuk wanita yang sedang memasak
Mencari sumber suara, Sherina terperangah melihat wanita yang usianya sepertinya baru 40an itu. Memasak? Di era seperti ini masih ada wanita karier yang memasak?
Ohh ya lupa mengenalkan orang tua barunya yang akan Sherina panggil Bunda dan Ayah. Wanita yang tengah memasak itu, namanya Putri Ajeng, seorang wanita karier yang sekarang sudah bekerja di kemenkes, usianya sekitar 40 tahun -mungkin lebih? Entahlah Sherina juga tidak tahu pastinya-
"Iya mbak, ini si cilik harus kenalan lagi sama kita kita, masa awal awal dia lupa sama muka sendiri? Lawak kan mbak si Sherin"
Tiba tiba, sesosok laki laki dengan perawakan tinggi datang menjitak kepala Sherina pelan.
Ahh iya, ini adalah sang Ayah. Laki laki yang baru saja menjitak Sherina bernama Raden Haikal, seorang tentara berpangkat letnan satu dan menjabat sebagai komandan kompi C -dan jujur saja Sherina tidak tahu itu apa, mungkin kedepannya akan tahu-
Karena sudah dipojokan oleh Raden dan Ajeng, Sherina memilih tersenyum canggung kepada mbak dihadapannya ini dan dapat Sherina simpulkan dari pembicaraan Raden serta Ajeng, wanita paruh baya di hadapannya ini adalah ART dikeluarga ini.
Sedikit dapat bernafas lega, setidaknya Sherina tidak akan mencuci dan menggosok pakaiannya sendiri.
"Ayok ah ngapain pada berdiri disini, ini sarapan udah siap" ajak Ajeng kepada Raden dan Sherina
"Ayo dek, kita liat bunda masak apa buat sarapan. Kalo telor dadar, kita harus request buat makan siang atau gak malemnya!" Ajak Raden bersemangat kepada Sherina
✨✨✨
"Yaa ampuuun! Enak bangeeettt!" Puji Sherina tulus
Sarapan pagi itu cukup berjalan meriah, sering kali Sherina memuji masakan Ajeng yang menurut Sherina sangat pas dilidahnya. Bahkan, masakan restoran bintang 5 yang sering ia kunjungi untuk meeting pun kalah.
Memang benar, masakan rumah tidak pernah ada bandingannya!
Raden terkekeh mendengar perkataan Sherina "Dek, Dek, kaya gak pernah makan masakan rumah aja"
Uhuukk
Reflek, Sherina tersedak makanan karena kaget mendengar perkataan Raden. Sherina lupa, dirinya kini tengah berada di tubuh seorang gadis SMA yang sangat amat memiliki keluarga penyayang, tidak seperti dirinya ditubuhnya yang lama.
"Mas! Kasian loh, dia kan abis koma, terus sekarang pake amnesia segala, siapa tau dia lupa cita rasa masakan aku" bela Ajeng karena merasa suasana meja makan mendadak berubah setelah Sherina terbatuk
"Udah, jangan didengerin omongan Ayah mu, suka ngelantur emang gara gara kebanyakaan binsik" gurau Ajeng mencoba mencairkan suasana
Ajeng kembali menyendokan nasi goreng keatas piring Sherina dengan semangat "Udah, ayok makan lagi biar aja Ayah nanti ga kebagian"
Melihat wajah jenaka cemberut Raden dan wajah jenaka marahnya Ajeng membuat Sherina terkekeh, memilih mengangguk kemudian lanjut memakan sarapannya.
"Bun, Yah, Sherina boleh nanya?" Buka suara Sherina saat meja makan sudah hening
"Emang yang gak ngebolehin siapa sih dek?"
Sherina terkekeh mendengar nada gurauan dari Ayah sang pemilik tubuh ini Gila lo Sherina, nemu dimana orang tua dengan selera humor kek gini? Apa gue aja yang receh yaa
"Aku, bisa koma kenapa?"
Dentingan sendok dan piring seketika terhenti, dapur yang merangkap meja makan seketika sunyi dan hening membuat Sherina menelan salivanya susah payah, apakah dirinya salah bertanya?
"Ayah? Bunda?"
Sapa Sherina sekali lagi yang membuat Ajeng menghela nafasnya panjang. Sherina kira, Ajeng akan menjelaskannya. Ternyata pada akhirnya Raden yang membuka suara.
"Kamu, jatuh dari kamar mandi"
Kali ini, Sherina membelakkan matanya kaget. Menatap Ajeng dan Raden secara bergantian. Takut ini hanya jenakaan mereka lagi. Namun, tidak ada yang tertawa diantara keduanya membuat Sherina menarik kembali fikirannya tadi.
"Apa? Masa iyaa sih alasan aku jatoh ga kece banget!" Protes Sherina yang membuat Ajeng gemas kemudian menjitak Sherina pelan
"Matamu gak keren! Segitu aja udah buat Bunda sama Ayah kalang kabut! Makanya, kalo gak nemu sampo minta tolong sama si Mbak, adeeekkkk"
"Haaah? Aku jatoh dari kamar mandi cuma gara gara sampo?!" Pekik Sherina lagi tidak percaya
Sumpah demi apapun, Sherina tidak habis fikir.
Yaa memang sih jatuh dari kamar mandi tidak bisa disepelekan.
TAPI BISA TIDAK, ALASAN SHERINA KOMA TIDAK SELUCU ITU?
"Kali ini Ayah percaya kalo kamu beneran amnesia dek" kata Raden sembari terkekeh, tak kuasa menahan tawa melihat wajah cengo tidak habis fikirnya Sherina.
Sherina menggelengkan kepalanya takjub, tidak habis fikir sang pemilik tubuh ini kehilangan jiwanya hanya karena kejadian lucu tersebut.
"Nanti senin kalo aku sekolah ditanya aku koma kenapa masa dijawab aku jatoh dari kamar mandi sih? Malu bangeett" pasrah Sherina yang sudah membayangkan bagaimana nanti dia di sekolah si pemilik tubuh
"Hah? Adek punya temen ya ternyata di sekolah? Bunda kira gak punya"
Kali ini, Sherina membelakkan matanya kaget. Diri ini, tidak memiliki teman, disekolah?
"Aku?" Tunjuk Sherina kepada dirinya sendiri "Gak punya temen?" Tanya Sherina lagi dengan bingung
Raden yang sudah melanjutkan makannya mengangguk "Kata caraka Ayah, kamu terlalu pendiem disekolah. Bahkan kamu gak pernah bawa temen ke rumah dek"
Wah, sepertinya ada yang tidak beres dengan si pemilik tubuh.
Tapi, tunggu
Bagaimana ini? Sherina tidak memiliki teman disekolah?
Akan sesulit apa hari hari awalnya menjadi sesosok baru?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~