Bau khas rumah sakit memasuki indra penciuman seorang gadis yang tengah berbaring diatas ranjang tersebut, matanya mengerjap secara perlahan, mengesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Gadis itu merasa, bahwa ia sudah terlalu lama memejamkan matanya hingga sulit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam.
Matanya sudah terbuka sempurna, gadis tersebut menyusuri ruangan yang terbilang ada dikelas 1 tersebut. Benar, ini ruang rawat inap di rumah sakit. Tapi ini bukan ruangan rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan Arimajaya Crop. Ini terasa asing di mata gadis tersebut.
Gadis tersebut memilih bangun dari tidurnya, berjalan perlahan menyusuri ruangan tersebut dengan sebelah tangannya yang menarik tiang infusan. Melihat adanya pintu toilet, gadis tersebut memilih masuk, ingin mencuci wajahnya yang sepertinya sudah lama sekali tidak ia basuh.
"Aaaaaaaaaa" pekikan hebat meluncur dari mulut gadis tersebut ketika ia berhadapan dengan cermin, wajahnya panik. Sangat panik.
"INI SIAPA? SIAPAAAAA?" pekik Gadis itu lagi masih dengan wajah histerisnya
Mendengar teriakan dari ruangan tersebut membuat beberapa penjaga yang berjaga didepan kamar masuk kedalam kamar ruang inap tersebut bersamaan dengan dokter serta suster.
"Sherina? Anda sudah sadar?"
Merasa namanya dipanggil, gadis tersebut memutarkan tubuhnya untuk menatap sang dokter "Dokter, i--itu siapa?" Tanya gadis tersebut sembari menunjukan pantulan dirinya sendiri di cermin
Dokter tersebut menyeritkan keningnya bingung, kemudian memilih untuk menuntun gadis tersebut kembali ketempat tidur yang dibantu oleh suster.
Gadis tersebut masih memasang wajah bingungnya, tidak habis fikir dan mengira ini mimpi.
"Dokter, suntik saya!"
Mendengar permintaan pasiennya yang aneh untuk kalangan pasien yang baru sadar membuat dokter tersebut membelakkan matanya kaget.
"Kenapa? Ada yang dirasa sakit?" Tanya Dokter tersebut dengan lembut yang dibalas anggukan mantap oleh gadis tersebut
"Dimana?"
Gadis tersebut menunjuk matanya
"Kenapa dengan matamu, Sherina?"
"Masa saya melihat orang lain di cermin, dokter!" Pekiknya kembali panik
"Orang lain bagaimana maksudmu?"
Gadis tersebut kembali bangun, kemudian berjalan menuju kaca kamar mandi dan menunjuk bayangannya di cermin "Itu siapa dokteeeeeeeeer!"
✨✨✨
Sherina memijat pelipisnya pening, masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi pada dirinya. Atau jiwanya?
Ruang inap Sherina sudah sepi, gadis tersebut meminta dokter, suster dan penjaga -yang anehnya memakai seragam tentara- untuk keluar dan meninggalkan dirinya sendiri diruangan tersebut.
"Ini apa sih maksudnya?" tanya Sherina entah pada siapa untuk kesekian kalinya
Baru saja mendapatkan ketenangan selama 10 menit, pintu ruang inapnya sudah kembali terbuka, memunculkan sepasang suami istri yang menatap Sherina dengan khawatir.
Kapan terakhir gue ngerasain ini? Irinya dalam hati
"Sayaaanggg, kamu gak kenapa napa kan? Udah membaik? Katanya mata kamu sakit, apa yang sakit sayang? Bilang Bunda sini sayang" tanya wanita tersebut
"Sayang, anak Ayah, apa yang sakit sayang? Bilang ke ayah yaa" ujar yang laki laki
Sherina masih memperhatikan dua orang dihadapannya ini dengan seksama. Yang satu memakai seragam loreng tentara, dan yang wanita memakai seragam apa ini? Warnanya seperti hijau yang memudar?
Masih terdiam, membuat wanita yang menyebut dirinya sendiri Bunda memeluk Sherina dengan erat. Sherina dapat merasakan ketulusan dari pelukan ini, membuat Sherina menitikan air mata. Kembali ia pertanyakan, kapan terakhir kali ia merasakan ini semua?
Sudah lama sekali, bahkan kapannya itu Sherina tidak ingat.
"Sayang? Kamu nangis nak? Emang Bunda kalo meluk kekencengan dek kek meluk pohon" gurau laki laki yang tadi me mnyebut dirinya sendiri Ayah
Merasa sudah cukup lama untuk terdiam, Sherina memilih untuk membuka suara "Kalian, siapa?"
✨✨✨
Sherina menatap rumah yang bahkan lebih besar apartemennya dengan seksama, terpajang sebuah nametag kayu berwarna hitam di dinding dekat pintu masuk.
Komandan Kompi C
Lettu inf Raden Haikal
Cukup lumayan juga jabatan orang tua yang tubuhnya ditempati oleh Sherina. Sudah seorang tentara memiliki jabatan sebagai komandan pula. Walaupun Sherina tidak paham apa itu kompi c.
Kini, Sherina menatap kamar baru bagi jiwanya namun kamar lama bagi sang pemilik tubuh. Setelah koma selama seminggu dan ditambah tiga harj rawat inap pasca koma, Sherina mencoba memahami ini semua. Kepalanya hampir pecah, mencoba mempercayai apa yang kini ia alami.
Mau ia katakan mimpi, tapi saat disuntik sakit. Jadi mau tidak mau Sherina harus mempercayai ini, walaupun sedikit konyol dan tidak masuk akal.
Pertukaran Jiwa
Aneh, tapi nyata karena kini tengah Sherina alami sendiri.
Lelah berfikir, Sherina memilih membaringkan tubuhnya diatas kasur berwarna biru tersebut. Namun, baru sebentar Sherina langsung mencari barang yang akan membantunya.
Ponsel.
Tanpa menunggu lama, Sherina langsung menemukan ponsel milik sang pemilik tubuh ini yang tergeletak diatas meja.
Ahh ya hampir saja lupa, jiwa Sherina Arimajaya memasuki tubuh seorang gadis bernama serupa yaitu Sherina Putri Haiput, gadis yang berusia 17 tahun dan masih kelas 2 SMA. Dan kini, yang harus Sherina lakukan adalah menyamar sebagai Sherina si gadis SMA.
Sherina memperhatikan ponsel milik gadis ini, wallpapernya adalah foto gadis ini bersama kedua orang tuanya. Puas memperhatikan wallpaper, Sherina langsung beralih ke dial ponsel, siap menelfon nomor yang selalu ia hafal diluar kepala.
Tanpa menunggu lama, saat dering pertama terdengar bersamaan dengan sautan disebrang.
"Selamat Siang, dengan saya Manajer Sherina Look's. Ada yang bisa saya bantu?"
"Suryaa! Ini saya Sherinaaa" pekiknya dengan pelan namun semangat
"Mohon maaf jika ini penipuan tolong jangan menggunakan nama almarhuma CEO kami yang telah meninggal satu tahun lalu. Sungguh tidak lucu"
Sherina membeku ditempatnya, apa Surya katakan? Dirinya sudah meninggal? Tandanya, tubuh Sherina sudah berada di bawah tanah? Lalu, bagaimana ini?
Lupakan itu dulu, kini prioritas utama Sherina adalah meyakinkan Surya bahwa ini dirinya. Namun, bagaimana?
"Surya, seriuosly ini saya, bos kamu. Sherina Arimajaya"
"Sudah berapa kali saya katakan? Jangan bawa bawa nama al---"
"Surya, kamu ingat saat pertama kali kamu melajar jadi manajer saya? Kamu mengatakan bahwa kamu sangat membutuhkan pekerjaan, padahal kamu tahu bahwa saya masih merintis dari bawah dan pastinya gaji yang saya berikan kecil. Namun, kamu tetap bersikukuh mengatakan tidak apa apa. Ahh ya, bagaimana dengan Raina? Apakah kalian berdua masih suka bertengkar karena burung pipit milik Raina?" Sela Sherina, kepalanya tiba tiba terputar ke adegan novel yang pernah ia baca, bahwa cara meyakinkan orang adalah membahas masa lalunya.
Tapikan itu untuk orang yang tidak dikenal karena selepas operasi pelastik, tapi Sherina kan? Tidak
Yasudahlah, biarkan semoga cara ini mempan.
Lama tak terdengar suara dari sebrang, akhirnya Surya mengeluarkan suaranya juga dengan nada sedih "Ibu? Ibu kemana aja? Perusahaan kacau bu. Make up ibu di apartemen juga banyak yang kadaluwarsa ga dipake pake ibu soalnya sudah satu tahun tidak ada yang menggunakannya"
Mendengar nada Surya yang bergetar membuat Sherina ikut merasakan kesedihan dan kerinduan yang sama.
But, wait
Apa tadi kata Surya, satu tahun?
"Surya, memang ini tahun berapa?" Tanyanya bingung
"2020 Buk, ibu meninggal tahun 2019"
Sherina membelakkan matanya kaget, tadi dokter bahkan Bunda dan Ayah sang pemilik tubuh mengatakan Sherina koma selama seminggu saja kok. Tapi mengapa jadi setahun?
Berarti, selama ini Sherina menjadi arwah penasaran dong?
"Bu, ibu dimana? Biar saya jemput bu"
Kesadarannya kembali saat Surya menyapanya diponsel, Sherina kembali menghela nafasnya lelah. Bagaimana ia bisa kembali jika kini ia ada ditubuh orang lain yang memiliki keluarga yang cukup hangat?
"Kita ketemu besok aja, besok minggu kan? Nanti saya Shareloc"
~~~~~~~~~~~~~~~~~