Hari yang ditunggu sudah tiba, Vira bersiap menyambut Irfan dan istri barunya. Vira memakai make up natural dan menambah kecantikan alami yang dimiliki Vira. Tak lupa gaun bermotif bunga dengan panjang sedikit di bawah lutut semakin menambah kecantikan penampilan Vira saat ini.
Tak lama mobil hitam sudah sampai di halaman kediaman Vira dan Irfan. Irfan dan Sherly datang layaknya pengantin baru. Irfan bahkan tak menunjukkan rasa malu dan rasa bersalahnya ketika datang bersama Sherly ke kediamannya bersama Vira.
Vira sudah bersiap menyambut mereka berdua dengan hadiah yang tak akan mereka sadari. Vira bahkan bersiap menyambut mereka di depan pintu. Irfan dan Sherly turun dari mobil, hati memanas ketika Sherly bergelayut manja di lengan Irfan saat akan memasuki rumah.
"Halo, Mas!" Vira bahkan menunjukkan senyumnya saat mereka berdua datang. Irfan merasa aneh dengan sikap Vira saat menyambut kepulangannya dengan istri barunya. Tak ada raut wajah cemburu seperti yang sudah dibayangkan olehnya. Malah yang ada sekarang Vira semakin cantik setelah satu minggu tak bertemu.
"V, Vira. Mas mau mengatakan jika..
"Aku sudah tahu, Mas. Yuk, masuk dulu!" Sebenarnya Vira gemas sekali melihat mereka berdua yang tak tahu malu. Irfan merasa lega karena sikap Vira menunjukkan keikhlasannya di duakan olehnya.
"Mbak, panas. Bikinin es jeruk dong!" Sherly mengipas-kipaskan tasnya ke wajah dan seenaknya memerintah Vira membuatkan es jeruk untuknya.
"Ma, maafkan Sherly, Vir. Dia memang kepanasan," Vira bisa menebak jika Irfan tak akan mampu bersikap tegas. Kesempatan untuk Vira saat ini memberi pelajaran kepada mereka berdua.
"Dibuka saja bajunya, Dek Sherly! Kalau dibuka nanti tidak kepanasan lagi bahkan akan terasa nyaman sekali." Vira sengaja membuat Sherly emosi, berharap Irfan segera mengusirnya sesuai rencana mereka berdua.
"Maksudmu apa, Mbak? Kamu tidak suka karena Mas Irfan lebih memilihku dari pada kamu!" Sherly berdiri sambil berkacak pinggang namun Vira sama sekali tak gentar.
"Bukannya kamu sudah biasa menjual tubuhmu untuk merebut lelaki orang?" Mulut Sherly terkatup, karena apa yang diucapkan Vira adalah benar. Sherly terlihat seperti kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Vira terlebih lagi Irfan tak berani membentak atau mengusir Vira.
"Usir dia, Mas! Aku tak sudi serumah dengan istrimu yang dekil ini!" Sherly setengah menghardik, padahal biasanya Sherly tak pernah sama sekali berteriak atau memerintah dengan ucapan lebih kasar.
"Ja, jangan begitu Sherly. Kamu harus akur dengan Vira, dia baik kok. Kamu bahkan bisa minta tolong dia!" Vira tak habis pikir dengan jalan pikiran Irfan dengan mudahnya berkata jika Sherly boleh meminta bantuan kepada Vira.
"Aku tidak mau!" Sherly melipat tangan di dadanya merajuk bak anak kecil. Vira baru tahu ternyata istri kedua suaminya sangat pintar sekali mengambil hati suaminya.
Kini Irfan menghampiri Vira yang masih berdiri sedari tadi. Vira tahu jika Irfan akan memintanya mengalah pada Sherly.
"Kamu pasti akan membujukku kan, Mas?" Vira tetap bersikap tenang sekali, bahkan Irfan tak menyangka jika Vira akan bersikap setenang ini mengetahui kenyataan tentang dirinya.
"Vira, aku minta tolong..
"Tumben kamu minta tolong, biasanya main perintah saja!" Irfan bahkan kehabisan kata-kata untuk menghadapi kedua istrinya, terlebih lagi sikap Vira yang berubah tiba-tiba.
"Begini, Vira. Aku..
"Maaf, Mas. Jangan bujuk aku! Dan satu lagi, aku tidak masak hari ini untuk kalian berdua karena aku lagi malas. Oh ya, ada kado untuk Sherly di kamar tamu. Sudah kupersiapkan jauh-jauh hari sebelum kalian pulang," seketika wajah Sherly yang merajuk kini berubah cerah. Tanpa tau malu, Sherly segera mengambil kado yang dipersiapkan untuknya. Hanya Irfan yang bingung dengan sikap Vira yang berubah dingin padanya apalagi ucapan Vira terkesan sudah mengetahui pernikahannya lebih dulu.
"Terima kasih, Kak Vira. Kamu memang baik, deh. Nanti akan kubuatkan anak yang banyak supaya Kak Vira tak kesepian di rumah," tangan Vira terkepal kuat mendengar ucapan Sherly yang cukup membuat emosinya
Sherly tak tahu isi di balik kotak kado itu, wajah Sherly berseri saat mulai membuka kado dan seketika berubah muram setelah melihat isi kado tersebut.
"Lingerie bekas?"
"Apa maksudmu, Mbak?" Sherly geram sekali mendapat hadiah beberapa lingerie bekas.
"Itu cocok buatmu yang suka barang bekas dan tak berharga!"
"Vira, apa maksudmu?" Irfan turut tersulut emosi ketika mengetahui apa yang dilakukan dan diucapkan Vira. Irfan tak menyangka jika Vira seberani ini padanya.
"Kenapa, Mas? Mau marah?"
"Jadilah Viraku yang penurut!" Irfan meminta Vira supaya tetap menjadi istri penurut meski tak diperlakukan adil olehnya.
"Apa aku tidak salah dengar?" Vira terlihat sama sekali tak merasa takut sedikitpun.
"Oh ya, asal kamu tahu, Mas. Rumah dan semua asetmu sudah jatuh ke tanganku seiring penghianatan yang kamu lakukan padaku dan sesuai dengan perjanjian pra nikah kita yang sudah disetujui kedua belah pihak." Seketika wajah Irfan memucat mendengar kenyataan yang membayanginya saat ini. Semua yang diucapkan Vira adalah benar. Perjanjian yang dilakukan sebelum mereka menikah.
"Apa maksudnya ini, Mas?" Sherly lebih terkejut lagi ketika Irfan tak bisa mengelak dari ucapan Vira.
"Akulah pemilik semua aset milik Mas Irfan termasuk rumah ini. Jadi, jika kamu mau tinggal di sini maka kamu harus menjadi pembantu disini. Jika tidak, maka kalian berdua harus pergi dari sini!" Ucapan Vira begitu lugas dan tepat sekali untuk membalas penghianatan mereka berdua. Saat ini Vira berusaha tidak terlihat terluka di depan mereka berdua. Vira berusaha berubah menjadi kepribadian yang tegas dan tidak mudah menangis seperti saat menjadi istri Irfan.
Sherly bahkan tak menyangka jika saat ini suami yang baru menikah dengannya mendadak miskin. Sherly semakin khawatir dengan kehidupannya sekarang.
"Ja, jadi, kamu tidak punya apapun sekarang, Mas?" Sherly begitu marah ketika Irfan tidak bisa mengelak dari Vira.
"Tenang, Sherly. Aku akan membuatmu bahagia, kamu sabar dulu!"
"Sabar apanya, kamu mendadak kere begini!" Sherly sangat marah pada Irfan.
"Sudah berdebatnya?" Suara Vira membuat Irfan dan Sherly terdiam saat mereka berdebat.
"Sekarang kalian tinggal pilih, jadi pembantu di rumah ini atau keluar?" Irfan dan Sherly saling bertatapan seakan tidak setuju dengan keputusan Vira. Sherly bahkan menjadi menbenci Vira dan ingin segera menyingkirkannya.
"Vira, aku masih suamimu, jangan gitu dong!" Irfan berusaha membujuk Vira supaya tidak menjadikan mereka pembantu.
"Sebentar lagi akan menjadi mantan, Mas!" Irfan bahkan terdiam saat Vira begitu berani menyebutnya akan menjadi mantan. Itu artinya Vira tak segan-segan menceraikan Irfan kapanpun dia mau.
"Jadi gimana, pembantu atau keluar?" Wajah dan ucapan Vira terlihat tegas membuat Irfan tidak bisa mengelak sama sekali.